
Di lain tempat
Pak Bob turun kembali ke lantai bawah, kemudian menuju dapur kering, di lihat tidak ada orang, Pak Bob bergegas mengambil cangkir kopi yang sama rupanya. Lalu membawanya ke lantai dua.
Sedangkan Emy terlihat sedang mempercantik dirinya di kamarnya dengan pakaian yang lumayan seksi serta menyemprotkan tubuhnya dengan minyak wangi sejuta umat.
“Sip...gue udah cantik plus wangi, I'm coming honey,” gumam Emy dengan mematut dirinya di depan kaca, tersenyum lebar. Wanita yang merasa cantik dan sexy itu bergegas ke mansion utama. Emy sepertinya tidak sadar diri, jika Lia dan Ningsih sedang mengintainya.
Suasana mansion terlihat sepi karena sudah menjelang tengah malam, beberapa maid sudah beristirahat di paviliun yang ada di belakang Mansion. Emy dengan langkah santainya masuk ke mansion dari pintu belakang, lalu menuju dapur kering.
Sesampainya Emy di dapur kering, wanita itu membuka lemari pendingin dan mengambil buah apel untuk di makannya.
“Emy, kamu lagi ngapain?” suara pria terdengar jelas, membuat Emy terlonjak kaget ketika dia ingin menutup pintu lemari pendingin.
“O-oh, Tuan Kavin,” Emy terkejut, dan tak menyangka pria itu ada di dapur kering, dengan membawa cangkir kopi.
“S-saya agak lapar Tuan, jadi saya ambil buah ini. Malam begini, ada yang bisa saya bantu?” tanya Emy dengan suara mendayu-dayu. Sesaat wanita itu melirik cangkir kopi yang terlihat kosong, sepertinya kopinya habis. Hati Emy terlonjak senang kegirangan.
Yesss kopinya habis, tinggal tunggu reaksinya...
Pria itu meletakkan cangkir kopinya di atas meja dapur. “Emy, nanti tolong buatkan saya teh hangat tawar, dan bawa ke ruang kerja Opa,” pinta Kavin.
Emy langsung melukiskan senyuman di wajahnya. Yess...kesempatan nih. Sepertinya Tuhan mendukung rencana gue.
“Baik Tuan Kavin, segera saya buatkan.”
Kavin menyeringai tipis ketika melihat wajah Emy yang terlihat semangat, lalu meninggalkan dapur kering.
🌻🌻
Ruang Kerja
Kavin sendirian berada di ruang kerja Opa, duduk di sofa panjang, pria itu pura-pura menyibukkan dirinya dengan kertas-kertas yang ada di tangan.
“Permisi, Tuan Kavin,” ucap Emy, dengan membawa nampan. Pintu ruang kerja memang sengaja di buka, agar Emy bisa langsung masuk tanpa mengetuk.
Emy sekilas menatap Kavin, lalu meletakkan teh hangat yang dimintanya.
“Emy, tolong suhu AC di naikkan, saya kok berasa gerah ya,” gumam Kavin. Emy menaikkan salah satu alisnya, dan tersenyum tipis. Sudah mulai bereaksi.
“Baik Tuan.”
Setelah menaikkan suhu AC, Emy melangkahkan kakinya dengan gerakan yang di buat terlihat sexy, lalu mendekati tempat Kavin duduk.
“Tuan Kavin, ada lagi yang bisa saya bantu,” ucap Emy dengan sedikit mendesah, dan jemarinya memainkan kancing blousenya sendiri. Batin Kavin sudah jijik melihat gaya Emy.
__ADS_1
“Emy, badan saya kok rasanya aneh ya, agak gerah.” Kavin mengibaskan kerah kemejanya.
“Saya tahu solusinya, Tuan...,” Emy memberanikan dirinya duduk di samping Kavin, dan memepetkan dirinya. “Kamu mau ngapain Emy, jangan lancang!” sentak Kavin.
“Hush....saya bisa memberikan kepuasan untuk Tuan,” rayu Emy, jemarinya mulai berani meraba paha Kavin. Pria itu mulai menyeringai tipis.
“Benarkah kamu bisa memuaskan saya?”
“Saya jamin bisa membuat Tuan melayang,” goda Emy.
Kavin rasanya ingin muntah. Tak lama pria itu mendekatkan wajahnya ke Emy, membuat wanita itu terkesiap sekaligus senang. “Tunjukkan kebolehanmu, tapi sebelumnya saya ingin kamu melakukan sesuatu?” bisik Kavin, hangatnya napas pria itu membuat tubuh Emy meremang. Dan tak menyangka Tuan nya meminta kepadanya.
“Apapun yang Tuan inginkan, akan saya lakukannya,” balas Emy, suaranya dibuat manja-manja manis.
Kavin segera beringsut dari duduknya, lalu keluar sebentar, dan tak lama masuk ke ruang kerja dengan membawa cangkir kopi.
Emy masih terlihat tenang dalam duduknya, dengan berani nya wanita itu membuka kancing blousenya hingga terlihat buah melon berwarna gelap itu, serta menaikkan rok sepannya agar pangkal paha berwarna gelap itu kelihatan jelas. Kavin hanya menatap datar, melihat tubuh Emy.
“Emy, saya minta kamu minum ini.” Kavin menyodorkan cangkir kopi yang dibawanya.
Sesaat Emy melirik cangkir kopi yang dia kenal. “Maaf Tuan, saya tidak bisa minum kopi karena punya maag,” tolak Emy.
Kavin membungkuk dirinya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Emy. “Katanya kamu mau melakukan apapun sebelum memuaskanku, jadi minumlah kopi yang baru kubuat!” bisik Kavin, lalu menarik wajahnya.
“O-oh tidak Tuan, saya tidak melakukan apa-apa.”
“Kalau begitu minum kopi itu, saya jarang-jarang buatkan kopi untuk seorang wanita. Jadi seharusnya kamu berbangga hati telah di buatkan kopi spesial,” tutur Kavin, sembari mengulas senyum tipis.
Emy ikutan tersenyum. “Baiklah kalau begitu saya minum kopi buatkan Tuan,” balas Emy. Wanita itu mengambil cangkir kopi yang sudah di letakkan di atas meja, lalu meneguknya perlahan-lahan.
Kavin kembali duduk di sofa single, kemudian menaikkan salah satu kakinya ke kakinya yang lain.
“Bagaimana enak rasa kopi buatan saya?”
“E-enak Tuan.”
“Kalau begitu cepat habiskan!”
Emy masih belum menyadari jika kopi yang diminumnya, adalah kopi buatan dia sendiri. Bilang punya sakit maag, tapi kopinya tandas juga.
Beberapa pria bertubuh besar yang haus akan belain wanita sudah menunggu di depan ruang kerja bersama Pak Bob.
Tidak makan waktu lama, lima menit setelah minum kopi. Badan Emy mulai terasa kepanasan, dan menggeliat.
“Bagaimana, badan kamu sudah mulai bereaksi?” tanya Kavin dengan tenangnya.
__ADS_1
“Maksud Tuan apa ya?” heran dengan pertanyaan Kavin.
“Di sangka saya bisa kamu jebak...hem...Lihat ini!” Kavin langsung memperlihatkan video Emy yang berada di dapur kering. Membuat kedua netra wanita itu terbelalak.
Tak lama Salma masuk ke ruang kerja Opa. “Sayang...,” sapa Kavin menyambut kedatangan Salma.
PLAK!
PLAK!
Tamparan sangat keras melayang dari tangan Salma ke pipi Emy.
Pria itu langsung beranjak dari duduknya, dan memeluk wanita itu dari belakang.
“Ternyata saya sudah menyimpan bibit pelakor dalam mansion ini. Sudah berani berbuat kotor di sini. Mulai hari kamu saya pecat, tapi sebelumnya nikmati yang selama ini kamu inginkan. Dan satu hal yang perlu kamu ketahui, kelakuan kamu ini akan saya laporkan ke pihak berwajib,” sentak Salma. Demi Allah Salma ingin muntah melihat tubuh Emy yang sudah terbuka.
Emy yang sedang menahan hasrat tingginya, membulatkan kedua netranya kembali.
“Itu fitnah Non, Tuan Kavin yang sudah menggoda saya. Ini aja saya di minta ke ruang kerja, untuk memuaskan Tuan Kavin, tanpa sepengetahuan Non Salma. Berani sumpah saya, lihatlah Non, kancing kemeja saya saja sudah dibuka oleh Tuan,” berkilah Emy, menyangkal perbuatannya sendiri.
“Lancang sekali kamu, Emy!”
Kavin turut melayang kan tamparan ke pipi Emy. “Bukti semua ada, jangan mengelak kamu!” bentak Kavin. Salma tidak percaya dengan ucapan Emy, karena dia melihat apa yang terjadi lewat cctv yang terhubung di handphonenya.
“Kalian yang ada diluar, masuklah...!” panggil Kavin.
Datanglah beberapa pria dengan wajah brigas, tubuh besar.
“Bawa wanita ini, keluar dari mansion sekarang juga!” perintah Kavin dengan suara meninggi.
Pria-pria itu langsung menggerek Emy. “Tolong lepaskan, mau di bawa kèmana saya!!” teriak Emy, sambil memberontak.
Urusan Emy di serahkan ke para pria yang membawanya, sedangkan Ari dan Pak Bob sudah melaporkan kejadian Emy dengan semua bukti yang sudah terkumpulkan ke pihak polisi, serta agen tenaga kerja wanita Indonesia, biar segera di proses. Dan sudah pastinya hukuman sudah menanti buat Emy.
Lia dan Ningsih dari kejauhan terlonjak kegirangan, melihat Emy yang di gerek keluar dari mansion. *Terima nasibmu Emy!
bersambung......
Kakak Readers yang cantik dan ganteng, jangan lupa mampir ke karya terbaru ya... Dijual Ayahku Dibeli Bosku, terima kasih sebelumnya.
__ADS_1