
Sementara di kantin perusahaan.
Salma, Bima, Genta dan Rizki sudah duduk di satu meja. Gadis itu di kelilingi oleh tiga pria sekaligus. Mereka teman satu kampus, satu angkatan...yang terpilih bekerja di perusahaan milik Kavin.
Suasana kantin terlihat penuh dengan karyawan yang silih berganti datang dan pergi untuk makan siang. Siapa pun bisa makan di kantin, walau sangat jarang para petinggi perusahaan makan di kantin, paling banter ya...makan di restoran. Atau memesan antar untuk dibawa ke ruangannya.
Salma yang sudah membawa bekal, kini mengeluarkan dari tasnya, sedangkan ke tiga temannya sudah memesan makanan.
“Kak Bima, seharusnya aku tidak usah di pesankan makanan, kan aku sudah bawa sendiri,” tolak Salma secara harus setelah melihat piring seporsi sate ayam dari Bima.
“Gak pa-pa buat tambahan, lagian aku yang traktir kok, jadi tolong jangan di tolak pemberianku,” ujar Bima.
“Baiklah kalau begitu, aku terima ya. Makasih banyak,” ujar Salma, sembari memasang senyum tipis di bibir ranumnya.
“Bima, berarti gue sama Rizki ikutan di traktir juga dong, sama kayak Salma.” celetuk Genta.
“Kemaren elo berdua kan udah gue traktir, sekarang giliran bagian ceweknya dong,” balas Bima.
“Kali aja loe khilaf traktir kita lagi,” sambung Rizki.
“Yang ada lama-lama kantong gue bolong kalau traktirin loe berdua, gajian masih lama, cung,” celetuk Bima.
“Ah masa anak pejabat kantongnya bolong, gak percaya gue,” balas Genta terkekeh.
“Bapak gue emang pejabat teras, lah gue yang bagian nyapu terasnya, cung,” balas guyon Bima.
Makan siang bersama ketiga temannya ternyata bisa membuat gadis cantik itu tersenyum lebar, Bima sampai terpesona melihat senyuman yang membuat wajah dingin Salma, terlihat semakin memesona.
Kavin yang baru tiba di kantin seketika itu juga melihat posisi Salma di kantin, hatinya mulai meradang, di tambah lagi melihat gadis itu tersenyum dengan ketiga pria itu.
Dan tentu saja kehadiran sang pemilik perusahaan membuat para karyawan semua yang ada di kantin tercengang di buatnya. Ada beberapa karyawan menyapa hormat, Kavin hanya tersenyum tipis namun tak membalas sapaannya. Derap langkahnya terlihat jelas jika pria arogan itu menuju meja di mana Salma berada. Hatinya mulai berkecamuk melihat betapa akrabnya gadis itu dengan ketiga pria itu, akan tetapi berusaha agar tidak meledak seketika itu juga.
Gadis cantik itu mulai menikmati makan siangnya. “Salma, maaf ya sebelumnya,” ujar Bima yang kebetulan duduknya di samping Salma, tangan pria itu menyentuh rambut panjang gadis itu yang ujungnya berada di atas piring sate ayam.
“Sepertinya rambut indah mu pengen ikutan makan,” kata Bima terkekeh, salah satu tangannya sudah menggamit rambut Salma, lalu mengambil karet gelang yang kebetulan ada di meja, lalu di ikatnya rambut gadis itu.
“Eh iya, makasih Kak Bima,” balas Salma, dan sedikit canggung ketika Bima menguncir rambutnya saat dia sedang makan.
__ADS_1
Memerah sudah kedua netra Kavin melihatnya. Akan tetapi pria itu masih berusaha menahan emosinya karena banyak karyawannya di kantin.
“Ehm.....,” deheman Kavin ketika dia sudah berdiri dekat meja mereka berempat. Sontak mereka semua menoleh, kecuali Salma.
“Pak Kavin,” sapa serempak Bima, Genta dan Rizki, mereka otomatis berdiri sebagai tanda menghormati.
Sedangkan Salma tidak menyapa, tidak menegur atau ikut berdiri, gadis itu tetap melanjutkan makannya. Pria itu melirik ke arah gadis itu.
“Pak Kavin sudah makan siang? Kalau tidak keberatan ikut bergabung makan dengan kami di sini, Pak,” ujar Bima dengan rasa hormatnya.
“Terima kasih, duduklah kalian semua,” balas Kavin, pria itu langsung duduk di samping Salma yang kebetulan masih ada bangku kosong. Gadis itu tampak mendengus kesal.
Buat apa dia ke kantin!....batin Salma.
Bima, Genta, Rizki kembali duduk di tempat semula. Pelayan kantin yang melihat Kavin berada di kantin, segera menghampiri nya
“Tuan, mau makan atau minum apa?” tanya pelayan kantin.
“Buatkan saya jus jeruk, dan kalian semua bisa pesan juga. Saya traktir makan siang kalian,” ujar Kavin.
“Salma mau pesan apa?” tanya Bima, lembut suaranya.
“Ini sudah cukup Kak Bima,” balas Salma.
Pria itu melirik isi box yang berisi makanan yang tadi pagi dia makan, dan sekilas ujung ekor mata gadis itu melihatnya.
“Pak Kavin tidak ingin pesan makanan?” tanya Genta.
“Sepertinya box makanannya belum tersentuh?” sindir Kavin pada gadis yang berada di sampingnya.
Memang belum di sentuh karena gadis itu sedang makan sate ayam pakai lontong yang di pesankan oleh Bima, dan berasa sudah penuh perutnya.
“Boleh saya coba, Salma?” tanya Kavin dengan nada suara pelan, padahal dirinya sedang geram dan menahan emosi.
Tanpa menjawab dan tidak ingin berdebat dengan pria yang ada di sampingnya, dibuka lebar tutup box tersebut. Lalu di tuangkan nasi ke atas piring begitu pula lauknya.
“Silahkan di coba Tuan Kavin, mohon maaf jika rasanya kurang enak masakan saya,” ujar Salma dingin, sembari menaruh piring di hadapan pria itu.
__ADS_1
Pria itu segera menyantap makan siang buatan Salma, sepertinya masakan Salma telah menyihir pria itu. Hingga gadis itu tampak tertegun melihatnya.
“Apakah di antara kalian bertiga ada pacarnya Salma?” tanya Kavin di sela-sela makannya, yang sedikit lagi habis, entah karena rasa laparnya yang tiba-tiba muncul, atau karena masakan Salma enak.
“Baru pdkt, Pak Kavin,” celetuk Genta sambil melirik Bima dan Salma.
Kavin menghentikan suapan yang mengunggah seleranya.
“Saya harap selama masa kerja kalian, tunjukan kinerjanya terlebih dahulu. Bukannya asik pacaran di jam kerja,” tegur Kavin dengan nada tegas sekaligus rasa tidak sukanya dengan tatapan Bima terhadap Salma.
“Baik Pak Kavin,” jawab serempak mereka bertiga.
“Salma, rapikan box makannya. Ikut saya kembali ke ruangan, sebentar lagi jam istirahat sudah selesai!!” perintah Kavin.
Tanpa bicara, gadis itu merapikan boxnya kemudian di masukan ke dalam tas. Kavin tumben agak bersabar menunggu gadis itu.
“Kak Bima, Genta, Rizki, saya duluan ya...besok kabari ya... kalau mau makan siang bareng lagi,” ujar Salma ramah.
“Ok Salma,” jawab Bima.
“Pak Kavin terima kasih untuk traktiran makan siangnya,” ujar Bima, lalu lanjut di ikuti oleh Genta dan Rizki.
“Hem....,” balas Kavin.
Selama berada di kantin hingga keluar dari kantin, Kavin dan Salma jadi pusat perhatian sekaligus pusat pembicaraan karyawan.
🌻🌻
Di antara mereka tidak ada yang berbicara, dan tentu saja gadis itu menjaga jarak langkah kakinya dengan Kavin hingga dua meter, menuju lift.
Kavin sudah berdiri di depan lift khusus petinggi perusahaan.
TING.....pintu lift sudah terbuka, lalu pria itu masuk ke dalam lift, sedangkan Salma masih menunggu lift yang biasa karyawan gunakan.
“MASUK !!” suara Kavin sudah mulai meninggi. Namun sayang perintah pria di acuhkan oleh gadis itu
“Berani sekali kamu tidak mendengar perintah saya!” geram Kavin, di raihnya lengan Salma lalu di tariknya agar masuk ke dalam lift.
*bersambung......
__ADS_1
semoga kesabaranmu masih ada Salma untuk menghadapi Kavin, nanti kalau udah gak sabar, tenang aja ada emakmu Kak Xena sama Kak Karla yang siap mengadopsimu 🤭🤭. Kak Vivi sama Kak Ayumi mau ikutan adopsi Salma gak nih, biar nanti kita kocok arisan 🤣🤣*.