
Mama Rossa kembali menatap Salma dengan tatapan sendunya, dan ada rasa khawatir jika memang benar gadis cantik itu sudah di lecehkan oleh putranya, suami gadis itu sendiri.
Mama Rossa meraih tangan Salma lalu menepuknya dengan lembut. “Maafkan Ibu jika memang ternyata kamu di lecehkan oleh Kavin,” ucap Mama Rossa penuh kelembutan.
“Bisakah saya kembali ke rumah saya dan tidak tinggal di sini, Nyonya,” pinta Salma, membalas tatapan Mama Rossa.
Mama Rossa terdiam, dan masih menatap menantu keduanya.
Bisa gagal rencanaku hanya gara-gara kelakuan Kavin, wanita ini akan pergi dari mansion ini...batin Mama Rossa.
“Bisakah kamu bertahan tinggal di sini selama dua bulan saja, setelahnya kamu bisa kembali ke rumah. Dan ibu akan menjamin Kavin tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi.”
Kalau Kavin keperkasaannya sudah kembali normal, mungkin kamu bisa kembali ke rumahmu. Dan kamu akan bebas dari pernikahan dengan putra saya. Kamu sengaja saya suruh tinggal di sini hanya untuk memancing gairah Kavin saja, tidak lebih.....batin Mama Rossa.
Gadis itu menundukkan kepala, terdiam, sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Sepertinya tidak ada yang bisa menolongnya dari jeratan Nyonya Rossa dan Kavin.
“Istirahatlah Salma, tolong kali ini maafkan putra Ibu,” pinta Mama Rossa sembari mengelus punggung tangan Salma, lalu beranjak dari duduknya.
Maaf
Semudah itukah meminta maaf lalu di maafkan setelah dirinya di lecehkan oleh seorang pria, gadis itu menatap nanar kepergian Mama Rossa dari kamarnya.
Mudah sekali Nyonya Rossa mengucapkan kata maaf, sedangkan anakmu tidak mengucapkan maaf padaku, justru mengelak dari kebenaran.
Begitu rendahkah aku di mata pria itu, hingga dia tak segan-segan merendahkan aku. Melecehkan aku seenaknya...
Ibu...bapak andaikan kalian masih hidup, mungkin aku tidak begini...
Dengan langkah kaki lunglainya di kuncinya pintu kamarnya, lalu menuju kamar mandi, di bukanya kran shower dan dia berdiri dengan pakaian yang masih melekat di tubuhnya, di atas pancuran shower yang sudah mengeluarkan airnya.
“Brengsek, kamu Kavin!!” teriak Salma di dalam kamar mandi.
“Aku benci denganmu! Semoga kamu impoten tidak pernah bisa bangun walau dengan istrimu, Yasmin!!” teriak Salma penuh kebencian.
🌻🌻
Sedangkan di kamar Kavin
Pria itu tersenyum hangat melihat istrinya sudah berada di kamar. Dan sepertinya habis mandi, karena istrinya hanya memakai bathrope.
“Jam berapa kamu pulang,” tanya Kavin, langsung mengecup pipi istrinya.
“Baru lima belas menit yang lalu, sayang,” jawab lembut Yasmin.
__ADS_1
“Tumben aku pulang Kak Kavin tidak ada di kamar, habis dari mana?”
“Tadi habis dari ruang kerja,” padahal habis dari kamar Salma, pria itu langsung memeluk Yasmin, dengan hati yang senang.
“Aku merindukanmu, istri cantikku,” ujar lembut Kavin.
“Aku juga merindukan suamiku yang tampan ini,” balas Yasmin. Wanita itu langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Kavin.
Pria itu langsung menyambar bibir tebal istrinya, lalu menyesapnya dan melummatnya, dan masih memeluk istrinya.
DEG!
Tidak ada respon dari dalam diri pria itu, sensasi itu tidak muncul.
Kavin melepas pagutannya. “Hot sekali ciumannya, sayang,” ujar Yasmin dengan tatapan yang menggoda. Wanita itu mulai mengelus rahang suaminya, kemudian mengecupnya dengan lembut, lalu bibir wanita itu turun ke bagian leher Kavin, kemudian menyesapnya dengan lembut.
Ke mana rasa yang tadi muncul dengan Salma, kenapa kembali hilang.
Kavin mendekap tubuh Yasmin agar menempel ke tubuhnya. Tapi....
Hambar...
Kenapa dia tidak bereaksi lagi...apa-apaan ini. Tadi dengan Salma...dia bangun dan tegang...kenapa ini tidak!!”
Pria itu mengurai pelukannya. “Aku mau mandi dulu, agak lengket badan rasanya,” ujar Kavin, menutupi rasa kecewanya dengan benda pusakanya.
“Mandilah, tadi aku sudah mandi,” balas Yasmin.
Pria itu kembali mencium bibir Yasmin sekilas, lalu pergi menuju kamar mandi.
“Sialan, kenapa dia tertidur lagi,” umpat Kavin ketika sudah masuk di dalam kamar mandi.
“Tadi kamu sudah berdiri, kenapa tidur lagi....eergh!” kesal Kavin, pria itu menjambak rambutnya saking frustasinya.
🌻🌻
Esok hari.
Jam 4.30 wib, Salma sudah terbangun dari tidur, lantas segera membersihkan diri dan menjalankan ibadah shubuh. Dari semalam gadis itu tidak bisa tidur setelah kejadian semalam, percuma tempat tidur nyaman, tapi banyak pikiran, tetap tidak membuat dirinya pulas.
Selesai semuanya gadis itu keluar dari kamarnya, sepertinya sang pemilik mansion masih tertidur pulas. Akan tetapi para maid sepertinya sudah mulai beraktivitas. Dengan langkah bergegas, gadis itu turun ke bawah sambil membawa nampan bekas semalam, dan mencari keberadaan dapur.
“Permisi mbak, saya mau menaruh nampan ini,” ujar Salma.
__ADS_1
Wanita yang di sapa oleh Salma, menatap sinis kepada gadis itu.
“Taruh saja di sana, jangan sok kayak Nyonya di sini,” tukas wanita itu dengan judesnya sambil menunjuk tempat cuci piring.
“Oh iya mbak, saya memang bukan Nyonya di sini, makanya saya bertanya,” balas Salma.
“Delila, kamu gak usah judes begitu. Dia asisten Nyonya Besar,” tegur Yuni yang sedang merajang sayurannya.
“Eh Yuni, yang namanya asisten, ya sama aja kayak pembantu seperti kita. Cuma dia kerjanya di kantor, sedangkan kita yang di mansion, hanya beda tempat aja,” sewot Delila.
Delila (Pinjam Rahim - Istri Ketiga) mantan istri kedua Erick dan juga mantan narapidana. Selepas menjalankan hukuman selama satu tahun di penjara, kehidupan ekonominya susah, apalagi tidak ada lagi uang bulanan dari Erick seperti saat jadi istrinya. Hanya berbekal ijazah lulusan SMU melamar ke perusahaan yang bonafit, tidak ada yang mau menerima Delila.
Dan akhirnya Yasmin teman akrab Delila ketika masih jadi istri Erick, membantunya memberikan pekerjaan, yaitu menjadi salah satu pelayan di mansion suaminya. Hal itu di terima dengan suka cita oleh Delila, apalagi wanita itu juga tertarik dengan Kavin. Tapi Yasmin tidak pernah tahu jika Delila pernah di penjara.
“Sudah Yuni, lanjutkan kerjanya. Kalau kamu malas-malasan, aku laporkan kamu biar di pecat sama Nyonya Yasmin,” ketus Delila dengan sok kuasanya, mentang-mentang teman Nyonya muda mereka.
Yuni hanya bisa mendesah lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, setiap kali Delila berkata akan mengadu, di pecatlah.
Sepintas Salma memperhatikan Delila dan Yuni, dan diam-diam mendengar percakapan mereka berdua.
“Maaf mbak Yuni mau tanya, tempat gelas dan tehnya ada di mana ya?” tanya Salma ke pelayan yang lebih ramah, ketimbang pelayan dengan wajah juteknya.
“Non mau bikin teh, biar saya saja yang buatkan,” ujar Yuni.
“Tidak perlu mbak, saya bikin sendiri saja. Mbak tinggal tunjukkan saja,” pinta Salma dengan sopannya.
“Baik Non, saya tunjukkan,” Yuni langsung menunjukkan tempatnya.
“Dan ini ada roti untuk teman ngetehnya,” ujar Yuni sopan, meletakkan beberapa roti di atas meja.
“Makasih banyak mbak Yuni.”
*bersambung......
Untuk hari ini up 3 bab ya buat Kakak Readers yang cantik dan ganteng. Dan jangan lupa tinggalin jejaknya.
Dan buat Kakak Readers yang tidak suka dan bosan dengan ceritanya, silahkan tinggalkan cerita ini, tidak perlu meninggalkan rate bintang berapa pun, langsung skip saja. Maklumlah saya hanya bisa menulis cerita biasa saja sesuai yang ada di isi kepala, belum bisa sebagus cerita author yang sudah famous 😁😁.
Jadi jika tidak suka, monggo di tinggalkan, tidak ada paksaan untuk membaca kok 😊😊. Terima kasih sebelumnya 🙏🙏🙏*.
__ADS_1