
Inntel Hotel Amsterdam Centre.
Urusan test DNA telah selesai di rumah sakit, dengan membayar biaya yang cukup besar hasil test DNA akan keluar besok pagi. Sekarang Mama Rossa dan Kavin sudah kembali ke kamarnya masing-masing..
Setelah membersihkan diri pria itu kini berdiri di sisi jendela kamar hotelnya, menatap ke arah luar, dengan tatapan yang menyedihkan.
Kavin, selama Salma ada di mansion kita...mama tahu jika Salma adalah istri kedua kamu. Awalnya mama hanya bermaksud memanfaatkan Salma apakah bisa menyembuhkan impoten kamu, biar kamu bisa segera memiliki anak dengan Yasmin. Tapi rupanya niat buruk mama terbalik, mama sudah bersalah yang ingin memanfaatkannya.
Seiring waktu mama melihat kebaikan dan ketulusannya, Salma wanita yang baik, dan rupanya dia keponakan mama.
Andaikan Salma memang masih hidup, mama ingin dia bahagia dengan pria yang dia cintai begitu juga sebaliknya. Cinta tidak bisa di paksakan, Kavin.
Mungkin kamu mencintai Salma, tapi jika Salma tidak mencintaimu, maka cari jalan yang terbaik.
Kamu sudah banyak menaruh luka di hati Salma, buat seorang wanita itu sangat menyakitkan.
Jika memang wanita itu Salma yang kamu lihat, mama bahagia dan lega ternyata Salma masih hidup, Kavin. Dan ingat kamu jangan egois, hubungan kamu dari awal karena terpaksa bukan karena saling mencintai. Dan jangan dipaksa kembali hubungan kalian berdua. Salma berhak untuk bahagia.
Hati Kavin kembali luluh lantak dengan semua wejangan Mama Rossa selama di rumah sakit. Yang tadinya semangat untuk memastikan apa yang dilihatnya, akhirnya redup bagaikan sinar lampu yang mati perlahan-lahan.
Kenangan dirinya ketika bersikap kejam dengan Salma, kembali hadir di permukaan ingatnya. Keraguan itu hadir di benak pria itu.
Mungkinkah kita tidak berjodoh lagi, Salma!
Pria itu merebahkan dirinya diatas ranjang, dan mencoba memejamkan kedua netranya, namun rupanya tak bisa. Wajah Salma masih terbayang di pelupuk matanya begitu jelas, begitu juga dengan wajah baby Rayyan. Semakin pilu hati pria itu, perasaan sakit akibat kehilangan Salma kembali menyelusup ke jiwanya. Akhirnya membuat pria itu uring-uringan.
🌻🌻
Esok hari
Kavin memaksakan diri untuk bangun di pagi hari pas jam 6 pagi, padahal pria itu baru bisa tidur jam 4 pagi, karena tidak bisa tidur seperti biasanya. Pria itu sudah tak sabar untuk segera ke rumah sakit untuk mengetahui hasil tes DNA baby Rayyan. Apapun hasilnya dia sudah menyiapkan hatinya jika tidak sesuai dengan harapannya.
“Jika baby Rayyan bukan anakku, aku sudah pasrah,” gumam Kavin sendiri, dengan menatap wajahnya di cermin.
Setelah rapi mengenakan pakaiannya yang terlihat santai hanya celana jeans dan kemeja lengan panjang, tapi tetap di balut mantel tebal, tetap terlihat tampan. Kelihatan di luar cuacanya cerah namun suhunya dingin.
__ADS_1
Pria itu menghampiri kamar Mama Rossa yang ada di sebelah kamarnya, dan mengajaknya untuk sarapan pagi terlebih dahulu sebelum mereka menuju rumah sakit.
Rupanya nafsu makan Kavin masih belum muncul juga karena masih memikirkan hasil test DNA, akan tetapi mama Rossa mengingat kan dan memaksa anaknya untuk makan walau sedikit. Mama Rossa tak ingin Kavin jatuh sakit lagi, seperti beberapa bulan lalu.
Sekitar tiga puluh menit menyelesaikan sarapan pagi, yang terasa hambar menurut Kavin. Mereka berdua bergegas menuju rumah sakit.
🌻🌻
Rumah Sakit
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Kavin terlihat tidak tenang. Dalam duduknya berulang kali pria itu mengetuk jarinya di atas pahanya, untung menghilang rasa gugup dan gelisah nya. Dan berulang kali pria itu mengatur napasnya, agar detak jantungnya tidak berlarian.
“Tenanglah nak, jangan terlalu gelisah. Apapun hasilnya kita harus menerima kenyataan nya,” ujar Mama Rossa berusaha menenangkan hati yang sedang gelisah.
“Ya mam.”
Sesampainya di rumah sakit, Kavin dan Mama Rossa masih harus menunggu dokter yang akan memberikan hasil test DNA nya, cukup lama menunggunya.
“Tuan Kavin,” sapa perawat.
“Ya,” Kavin langsung beranjak dari duduknya.
Kavin dan Mama Rossa langsung masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk sang perawat, lalu disambut oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih.
“Ini hasil test dna yang Tuan Kavin minta,” ucap sang dokter.
Kavin langsung meraih amplop yang disodorkan oleh sang Dokter. Terlihat tak sabar pria itu membukanya kemudian membacanya dari awal tulisan dengan seksama hingga akhir tulisan.
DEG!
DEG!
Probabilitas Kavin Ardana Adiputra sebagai ayah biologis dari anak Rayyan Abizar Adiputra adalah 99%. Oleh karena itu sudah dipastikan jika Kavin Ardana Adiputra mutlak ayah biologis dari anak Rayyan Abizar Adiputra.
Kedua tangan pria itu yang masih memegang berkas tersebut bergetar hebat, buliran air mata mulai terjatuh dari ujung ekor mata Kavin. Hatinya sudah tak kuasa menahan rasa bahagianya. Tak lama suara tangisannya terdengar dari pria itu, bukan tangisan kesedihan namun tangis kebahagiaan.
__ADS_1
“Ya Allah, masya Allah, alhamdulillah.....Rayyan anakku, putraku yang tampan,” ucap syukur yang di panjat kan Kavin dengan suara bergetar.
“Mam, aku punya anak mam,” ucap Kavin bergetar, pria itu langsung memeluk mama Rossa. Meluapkan kebahagiaan nya dengan tangisan. Mama Rossa pun turut menangis, akhirnya wanita tua itu memiliki cucu kandung, cucu dari anak satu-satunya. Inilah yang disebut feeling seorang ibu, dugaan awal yang terbukti benar dengan membuktikan sebuah kebenaran tanpa harus di rekayasa.
Kebahagiaan yang hakiki buat pria yang sudah akan menginjak usia 41 tahun, memiliki anak dari wanita yang sangat dicintai. Ucapan yang pernah dilontarkan di malam penyatuannya ternyata terkabulkan. Dan dia yakini jika Salma masih hidup.
Dokter ikut terharu melihat interaksi ibu dan anaknya.
Terima kasih ya Allah atas berita dan kejutan yang terindah untuk anakku dan aku sendiri....batin Mama Rossa.
Mama Rossa mengurai pelukannya dan menatap wajah putranya dengan rasa bahagia. “Sekarang waktunya kita ke mansion Opa,” kata Mama Rossa.
Kavin langsung mengiyakan, dan mereka berpamitan dengan sang Dokter.
🌻🌻
Mansion Opa Braymanto
Seperti biasa setiap pagi, para penghuni mansion terlihat sibuk masing-masing. Ada yang mau berangkat kerja, ada yang mau berangkat ke sekolah. Namun hari ini Salma agak sedikit riweh dengan baby Rayyan, yang sejak semalam tidurnya rewel...hingga Salma bersama Bibi Tia terpaksa begadang, untuk menenangi baby Rayyan secara bergantian.
“Badan Rayyan tidak demamkan?” tanya Opa Braymanto, yang mengecek cicit di kamarnya.
“Badannya gak panas, Opa. Hanya rewel aja, digendong salah, di taruh salah,” keluh Salma.
“Nanti siang kalau masih rewel sebaiknya kita panggil dokter aja, Opa takut kenapa-napa,” pinta Opa Braymanto.
“Pikirku juga begitu Opa,” jawab Salma, sambil menimang baby Rayyan.
Masih di kamar baby Rayyan, kepala pelayan menghampiri Opa Braymanto.
“Tuan Besar, di bawah ada tamu...Nyonya Rossa dan Tuan Kavin,” kata sang kepala pelayan.
Jantung Salma mulai berdebar-debar mendengar siapa yang datang. Sesaat Opa Braymanto melirik Salma dengan ujung ekor matanya.
bersambung......
__ADS_1
"Salma, bolehkan aku menemuimu walau hanya sebentar. Aku mohon....aku sangat merindukanmu, Salma," ucap lirih Kavin, dibalik pintu kamar Salma.