Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
S2 : Keributan di dapur


__ADS_3

Ningsih dan Lia, mereka maid yang lama bekerja di mansion Opa Braymanto, di banding Emy. Namun ketika hadirnya Emy, rata-rata para maid suka gosipin Emy secara diam-diam. Tapi sekarang mereka gosipin Emy secara terang-terangan, apalagi setelah mereka tahu kalau Emy pindah bagian kerjanya.


“Sombong banget yang dapat pacar seorang karyawan doang. Lihat gue nanti, suami gue pemilik perusahaan!” sewot Emy.


“Eh Emy....kalau mimpi jangan kejauhan lah. Kalau jatuh bakal sakit rasanya!” celetuk Lia.


Pak Bob tampak sudah berdiri di depan pintu dapur, kedua lengannya sudah bersidekap, lalu mengamati para maid yang ada di sana.


“Apa yang kalian lakukan, bergosip lagi...huh!” bentak Pak Bob.


Mereka bertiga langsung berhenti berargumen, Lia dan Ningsih kembali merajang sayur. Sedangkan Emy masih duduk santai dengan meneguk susu coklatnya, laga bak Nyonya.


“Emy, kamu di pindah kan, bukan untuk duduk santai di sini. Pekerjaan kamu ada di bagian belakang sana,” tunjuk Pak Bob ke pintu bagian belakang.


“Santai sebentar dong Pak Bob, lagi pula bagian laundry juga adakan, tanpa saya bantu pasti mereka sudah mengerjakannya,” jawab enteng Emy tanpa berpikir panjang, terkesan agak melawan.


“Sepertinya saya harus melaporkan tentang ini ke Non Salma!” ucap Pak Bob penuh penegasan. Pria itu langsung memutar badannya dan kembali melangkah.


“Eh...jangan Pak Bob, ini saya habiskan minum dulu, baru ke belakang.” Emy mencegah Pak Bob agar tidak di adukan, bisa berabe jika dirinya di pecat. Misi untuk menggaet Kavin bisa gagal total.


Bibi Tia dari kejauhan terlihat mendekati ruangan dapur kotor. Dengan tatapan yang tajamnya wanita paruh baya itu menelisik gaya Emy, apalagi tadi Salma dan Kavin sempat bercerita tentang gelagat Emy. Sesama wanita saja tidak suka melihat gaya wanita yang terlalu caper dengan pria, begitu juga Bibi Tia, menjadi tidak respek dengan Emy.


Pak Bob yang hendak keluar dari dapur, berhenti langkah nya.


“Tadi saya dengar Pak Bob mau melaporkan apa sama Non Salma?” tanya Bibi Tia, wanita paruh baya itu sudah melipat kedua tangannya ke dada, dengan tatapan penuh tanda tanya.


Bibi Tia selama  tinggal di Belanda, turut mengurusi masalah maid dan urusan rumah tangga di mansion.


“Saya habis menegur Emy, untuk bergegas ke ruangan laundry, tidak berlama-lama santai di dapur, menikmati cemilannya, lagi pula jam istirahat sudah lewat, Nyonya Tia,” lapor Pak Bob.


Kedua netra langsung berputar ke Emy. “Di sini peraturan kerjanya tidak lah ketat, tapi paling tidak selesaikan pekerjaan dengan baik. Kami menghargai kalian, tapi jika kalian tidak tahu diri, maka jangan salahkan jika kami memecat para maid di sini termasuk kamu, Emy!” gertak Bibi Tia, penuh penekanan khususnya ke Emy.


Emy hanya bisa menundukkan kepalanya, tapi bibirnya tampak mencebik Bibi Tia.


“Oh ya perlu kamu ketahui, jika Non Salma sudah berucap kata sumpah, biasanya akan kejadian. Jadi berhati-hatilah dalam bersikap, takutnya akan benar kejadian. Apalagi kalau sudah di sumpahin mati! Itu bisa terjadi. Jadi masih untung kalau belum kena sumpah serapahnya. Terutama untuk orang yang berniat jahat dengan Non Salma,” tukas Bibi Tia, bicara untuk semua orang, tapi matanya bertuju ke Emy.

__ADS_1


Bibi Tia maju beberapa langkah, lalu berhenti di samping Emy duduk. “Berhati-hatilah Emy!” ancam Bibi Tia. Wanita paruh baya itu paling anti dengan bau-bau pelakor.


Ck...sama-sama dari kampung aja, gaya nya sudah kayak Nyonya mansion aja....gerutu batin Emy.


Setelah menegur, Bibi Tia meminta bubur punya Rayyan kepada Ningsih, kemudian meninggalkan dapur kotor begitu saja.


“Ala...baru hanya Bibi nya Salma aja gaya nya udah kayak Nyonya, saja!” berdecak kesal Emy.


PLAK!


Lia yang berada tak jauh dari Emy langsung melayangkan tamparan nya ke pipi Emy. Membuat Emy terkejut


“Mulut kamu itu benar-benar tidak bisa di jaga ya Bibi Tia memang nyonya mansion ini! Dari pada kamu wanita murahan berkedok baby sister. Mengambil kesempatan dalam kesempitan!” sentak Lia.


Emy langsung naik pitam, wanita itu berkacak pinggang dan ingin menjambak rambut Lia namun di tahan oleh Pak Bob.“Eh Lia, enak aja loe ngatain gue wanita murahan. Gue ini wanita baik-baik ya, gue ini kerja sebagai baby sister. Bilang aja kalian iri kalau Tuan muda suka dengan gue kan!” sarkas Emy.


“Hah, loe bilang Tuan Muda suka ama loe...wey ngaca di sana...ada cermin segede gaban, loe bandingin wajah loe sama Non Salma, bagaikan tanah dan langit, beda jauh. Tuan muda juga tahu mana itu berlian mana itu batu got. Mimpi loe ke tinggian, cuy!” penuh emosi Lia berkata-kata. Sudah tidak ada kata untuk diam, buat wanita tipe Emy, walau sama-sama maid.


“Emy jika kamu mencari ribut dengan maid yang lain, maka saya tak segan menyeret kamu menghadap Non Salma, agar kamu di pecat hari ini juga!” bentak Pak Bob, sebelum Emy membalas ucapan Lia.


Emy langsung terdiam.


“Baik Pak Bob,” jawab serempak Ningsih dan Lia.


🌻🌻


Lantai 2, ruang santai


Setelah tidur sebentar dengan Rayyan, sekarang Kavin harus menyelesaikan beberapa pekerjaan nya dengan Ari. Sedangkan Salma juga turut mengecek email yang masuk, setelah tadi Retno sempat mengecek pekerjaannya ternyata ada beberapa hal yang harus di ketahui oleh Salma.


Sesekali Kavin melirik Salma yang terlihat serius di depan laptopnya. Begitu juga dengan Ari terkadang curi-curi pandang ke Retno.


“Mom,” panggil Kavin.


“Mmm,” gumam Salma tanpa melirik.

__ADS_1


“Mom, pandang aku dong kalau sedang di ajak ngomong,” pinta Kavin, agak memelas.


Salma langsung mengangkat wajahnya. “Ada apa, Kak?”


“Semua ruangan dan kamar di pasang di cctv kah?”


“Dipasang, tapi ada beberapa kamar yang tidak di pasang seperti kamarku, kamar Retno, kamar Paman Didit. Memangnya kenapa Kak?”


“Kalau kamar baby Rayyan, ada cctv-nya?” tanya Kavin.


“Kalau kamar baby Rayyan di pasang cctv, tapi tidak semua pelayan tahu.”


“Bagus, yang terpenting kamar anak kita, buat jaga-jaga dari orang yang berniat jahat.”


“Iya Kak.” Salma kembali fokus ke laptopnya.


“Mom,” Kavin kembali memanggil.


“Ada apa lagi!"


Kavin menepuk sofa yang kosong di sampingnya. “Duduk di sini dong, dekat aku, masa duduknya jauh-jauhan kayak orang musuhan aja,” pinta Kavin.


Salma heran. “Udah nanggung Kak, udah pw...posisi weenak nih.”


“Mommy, dengar gak yang aku pinta. Atau perlu aku cium dulu bibirnya biar pindah duduknya dekat aku,” ancam Kavin dengan tatapan tajamnya.


Salma langsung membekap mulutnya sendiri sambil menoleh ke Ari dan Retno, yang ada di antara mereka berdua. Dengan terpaksa wanita itu pindah duduknya.


“Kak, bisa gak kalau ngomong tuh di filter, di sini tuh ada Pak Ari dan Retno,” bisik Salma.


“Biarin aja mereka juga tahu tentang kita berdua kan,” jawab santai Kavin. “Sini jangan jauh-jauh duduknya.” Kavin menarik pinggang Salma agar lebih dekat duduknya.


 Ari dan Retno pura-pura gak lihat aja, padahal udah gak fokus sama pekerjaannya.


bersambung.........

__ADS_1


Kakak Readers buat yang ikutan Give Away Boneka, pemenangnya akan di umumkan di bab akhir ya, berbarengan pengumuman Give Away lainnya, dan yang kemarin belum sempat komen #mauboneka, bisa tinggalkan komentarnya di sini ya.


Jangan lupa ikuti terus kisah Kavin dan Salma sampai tamat. Terima Kasih


__ADS_2