Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
S2 : Retno malu


__ADS_3

Mendengar teriakan Salma dan Kavin yang berbarengan, membuat baby Rayyan yang masih tertidur pulas, akhirnya menangis kencang.


Retno langsung menjauhkan dirinya yang saat itu tiba-tiba di cium Ari, beranjak bangun dari atas tubuh pria itu, kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar baby Rayyan, dengan pipi yang memerah.


Kavin sengaja menyenggol kaki Ari karena masih terbaring di atas lantai, wajah Ari nampak sumringah. “Awas mau lewat, gara-gara kamu... Anakku nangis,” sindir Kavin, masuk ke kamar sambil menggenggam tangan Salma.


“Ye ila...Tuan, gak bisa lihat asisten senang aja,” sahut Ari, sembari bangun dari jatuhnya di lantai. Jatuh yang indah menurut Ari. Sang asisten menggigit bibir bawahnya, rasa ciuman dadakannya masih menempel sempurna di bibir tebalnya.


‘Anak ganteng daddy sudah bangun ya, mau mimi susu,” ucap Kavin mengangkat anaknya dari box bayi. Kavin langsung menenangkan baby Rayyan yang terbangun karena kaget, kemudian memberikannya ke Salma agar segera menyusuinya.


Sedangkan di kamar mandi, Retno mondar mandir sambil memegang bibirnya yang baru saja di cium Ari. “Duh jahat banget si Pak Ari, itu kan ciuman pertamaku, udah begitu pakai ciumnya di depan Salma sama Pak Kavin. Gimana ini...malu!” gumam Retno sendiri, berulang kali dia menyentak lantai kamar mandinya.


Di rasa Retno terlalu lama di kamar mandi, Salma yang sedang menyusui baby Rayyan, coba memanggil nya dari luar.


“Retno, kamu masih lama ya di kamar mandi?” sahut Salma, dari luar kamar mandi.


“Sayang, gak usah di panggil, biarkan saja, Retno itu pasti lagi menahan rasa malu mau keluar dari kamar mandi,” tegur Kavin, yang senantiasa menemani Salma.


“Tapi ini sudah dua puluh menit loh Kak, aku takut kenapa-napa dengan Retno. Apalagi habis—,” Salma jadi tersipu malu-malu, ketika Kavin kembali mengecup bibirnya.


“Karena Ari berani mencium Retno, seperti aku yang sering mencium mu.”


“Mmm...dan gara-gara kebiasaan Kak Kavin mencium ku, akhirnya asisten Kakak menirunya,” balas Salma, sambil cubit pipi Kavin.


Pria itu tersenyum hangat lalu menangkup tangan kanan wanita itu yang baru saja menyubit pipinya. “Sepertinya tadi kita melupakan sesuatu gara-gara Ari dan Retno,” ujar Kavin. Pria itu merogoh kantong kemeja nya, dan mengambil kotak cincin. Penuh rasa kehati-hatian, pria itu membuka dan mengambil cincin yang ada di dalam kotak kecil tersebut.”


Salma memasrahkan tangannya ke Kavin. “Will you merry me, Salma Hadeeqa?“


Wanita itu mengulas senyum cantiknya, “I will, Tuan Kavin Ardana Adiputra,” jawab Salma.


Pria itu mulai memasangkan cincin berlian yang sempat dia beli di Jakarta, dan ternyata pas di jari manis wanita itu.


“Thank you my love,” balas Kavin, pria itu mulai meraih dagu Salma.

__ADS_1


“Kak, tahan dulu...nanti ada yang ikutan lagi,” ujar Salma, sambil menunjuk Ari yang sudah berdiri di hadapan mereka berdua.


Kavin mendongakkan kepalanya, dan berdecak kesal melihat Ari hanya menggaruk-garuk kepalanya. “Nih asisten dari tadi ganggu bosnya pengen romantis sama istrinya aja!” gerutu Kavin.


“Gak sengaja Tuan, tapi saya ucapkan selamat rujuk kembali Tuan, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah, sampai kakek dan nenek,” balas Ari.


“Aamiin, makasih atas doanya, mending kamu urusin tuh...calon istri kamu masih ada di dalam kamar mandi,” celetuk Kavin.


“Siap Tuan.”


Salma hanya bisa terkekeh, melihat interaksi atasan dan asistennya. “Ternyata calon suamiku masih bisa marah ya,” gumam Salma.


“Marah sama Ari, sayang. Bukan sama istriku yang cantik ini,” puji Kavin.


“Ah...lebay aja nih Kak Kavin.”


“Sayang, aku mau kita menikah ulang dalam waktu dekat ini. Kamu setuju kan?” tanya Kavin.


“Aku ngikut kamu maunya di mana, kalau mommy maunya di Belanda, kita adaain di sini. Nanti aku hubungi mama buat menyusul ke Belanda, mau pernikahan yang mewah akan aku kabulkan,” jawab Kavin.


“Aku tidak butuh pernikahan yang mewah kak, kita hanya akad nikah ulang saja, cukup adaain di taman belakang. Terus kita undang keluarga besar kita yang ada di Belanda, beberapa karyawan yang ada di perusahaan aku atau kakak mau undang teman dekat nya juga boleh.”


“Yakin tidak mau pernikahan yang megah?”


“Tidak perlu, yang penting kesungguhan Kak Kavin menjadi suami yang baik untuk ku. Pernikahan megah hanya menghabiskan uang saja, lebih baik uangnya kita sedekahkan untuk orang yang membutuhkan.”


Tutur kata Salma membuat Kavin semakin mengagumi wanita itu, tidak menuntut sebuah kemewahan, padahal dari keluarga kaya. Tapi jalan hidupnya, membuat dia belajar untuk tidak bermewah-mewahan dalam hidupnya, dan tidak menghamburkan kekayaannya dengan hal yang tak ber guna. Alangkah baiknya membantu orang yang membutuhkan.


“Aku kagum dengan pemikiranmu, sayang,” puji Kavin.


“Terima kasih atas pujiannya.”


Inilah yang di ingin kan Kavin, kembali bersama dengan keluarga kecilnya. Pria itu mengelus pucuk kepala baby Rayyan dari balik kain penutup, terlihat masih anteng menyusu.

__ADS_1


“Mom, aku ke bawah sebentar masih kasih kabar ke Opa, sekalian mau bilang ke kepala pelayan untuk menyiapkan makan malam spesial buat kita semua,” ucap Kavin.


“Iya, Kak.”


Sebelum keluar kamar baby Rayyan, pria itu mengecup kening wanita itu, dan keluar dengan hati yang gembira.


Sedangkan Ari masih sibuk mengetuk pintu kamar mandi, namun Retno malah menjawab sedang mules, sakit perut. Dan meminta Ari untuk keluar dari kamar baby Rayyan.


“Sudah Pak Ari jangan ketuk pintu nya lagi, sebaiknya temuin Paman Didit, langsung lamar Retno. Lagian tadi Pak Ari udah berani cium Retno, berarti harus tanggung jawab sama saudara saya!” tegur Salma.


“Baik, Non Salma, kalau begitu saya pamit ke bawah. Tapi saya titip calon istri saya ya Non,” pinta Ari.


“Iya....sudah sana,” usir Salma, sambil mengibaskan tangannya.


🌻🌻


Ceklek!


Akhirnya selama 30 menit berada di kamar mandi, Retno keluar juga dengan tatapan celingak celingukan.


“Pak Ari sudah tidak ada di kamar,”sahut Salma, sembari membaringkan baby Rayyan di atas ranjang.


Retno mengelus dadanya, dan menghembus napas leganya. Kemudian turut duduk di tepi ranjang milik baby Rayyan.


“Salma, aku ikut bahagia, selamat ya kamu terima rujuk Pak Kavin,” ucap Retno, sembari memegang tangan Salma.


“Makasih Retno, aku juga turut bahagia akhirnya kamu menemukan jodohmu,” balas Salma.


Bibir Retno langsung mengerucut, paham siapa yang di maksud oleh Salma. Jodohnya pasti yang di duga Salma adalah Ari.


Kedua saudara sepupu ini selalu bersama sejak kecil hingga mereka beranjak dewasa, bukan sekedar saudara, tapi juga bagaikan sahabat dekat, teman seperjuangan ketika tinggal merantau di ibu kota Jakarta. Mereka sudah tahu seluk beluk kehidupan dari mereka masing-masing, tidak ada yang di tutupi dan tidak ada juga kebohongan di antara mereka berdua.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2