Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Hanya berdua di kamar baby Rayyan


__ADS_3

Tatapan merindunya tersirat di kedua netra pria itu, kemudian pria itu mulai melangkahkan kakinya...


Salma bergeming di tempatnya berdiri, wajahnya tampak datar ketika di tatap hangat oleh Kavin, pria yang wajahnya belum berubah, masih sama seperti terakhir dia lihat.


“Sa-Salma...,” suara pria itu bergetar, semakin dekat langkah kakinya, dan semakin pria itu memeluk Salma tanpa permisi.


Mama Rossa dan Opa Braymanto hanya menjadi saksi bisu, melihat perjumpaan sepasang suami istri yang masih sah secara negara, setelah sekian lama tidak bertemu, pertemuan setelah dianggap telah tiada. Merasa jika kedua orang tersebut butuh privasi, Mama Rossa dan Opa Braymanto meninggalkan kamar tanpa pamit.


Kavin masih mengendong baby Rayyan dengan salah satu tangan besarnya, namun  dia juga mendekap wanita pujaan hatinya dengan segenap hati yang merindu. Salma membiarkan pria itu memeluknya, namun tidak membalas pelukannya, kedua tangannya tidak bergerak sedikit pun.


“Aku sangat merindukanmu,” ucap lirih Kavin, dalam dekapannya. Dengan lembut nya pria itu mengecup pucuk rambut wanita itu.


“Namun aku tidak merindukan mu,” jawab pelan Salma.


Kavin hanya bisa memejamkan kedua netranya, ketika mendengar jawaban Salma. Rindunya hanya milik dia seorang, dan tak terbalas.


Baby Rayyan yang berada di tengah pelukan daddy dan mommy nya, mulai terlihat grasak grusuk, karena terhimpit.


“Eeh...maaf nak, daddy lupa ada kamu, sayang,” ucap Kavin langsung mengurai pelukannya, kemudian kembali menepuk lembut bokong baby Rayyan.


Tak lama kemudian Kavin kembali menatap wajah Salma. “Maafkan aku tadi sudah lancang memeluk mu,” ucap Kavin.


“Mmm....,” gumam Salma. “Maaf Tuan Kavin, biar aku yang mengendong Rayyan,” pinta Salma, mulai menyentuh baby Rayyan.


“Biarkan aku yang mengendongnya,” Kavin menolak.


Mendapatkan penolakan dari Kavin, Salma memilih untuk duduk di sofa single, dan menghiraukan tatapan penuh damba Kavin.


“Tadi kata dokter, Rayyan demam, kalau sampai dua hari tidak turun panasnya, sebaiknya kita cek lab...untuk lebih memastikan penyebab demamnya,” tutur Kavin, pria itu turut duduk di sofa dekat Salma.


“Mmm....,” gumam Salma, kembali memalingkan wajahnya dari tatapan Kavin, terasa risih.


“Salahkah aku jika melihat wajah mommy dari anakku,” tegur Kavin, yang melihat Salma tak nyaman ditatapnya.


Salma langsung menoleh dan membalas tatapan Kavin. “Tidak salah, karena Tuan punya mata, tapi aku tidak nyaman dengan tatapan Tuan Kavin,” jawab ketus Salma.

__ADS_1


Kavin menerbitkan senyum tipisnya di bibir tebalnya. “Ternyata galakmu masih belum hilang juga.”


“Tergantung dengan siapa aku berbicara, lagi pula aku tidak perlu ber lemah lembut dengan pria jahat!” kembali ketus Salma.


Pria itu tidak tersinggung dengan ucapan Salma, dia menerima nya dengan lapang dada. Mau menyanggah juga percuma, karena sudah faktanya dirinya jahat dengan Salma.


Kavin masih betah menatap Salma kemudian menatap baby Rayyan, secara bergantian. Bolehkan pria itu berbahagia sejenak, tenggelam dalan suasana pertemuan ini!


“Mommy nya Rayyan semakin cantik,” puji Kavin.


“Ya ... Kalau gak cantik, mana mungkin jadi Mommy nya Rayyan,” celetuk Salma, tanpa menatap wajah Kavin.


Kavin hanya tersenyum kecut, kemudian melihat wajah Baby Rayyan yang semakin pulas. Pria itu memutuskan untuk memindahkan anaknya ke dalam box nya, kemudian mengecek suhu tubuh baby Rayyan. Dan ternyata panasnya belum turun.


Dari duduknya, Salma hanya melihat sekilas ke arah Kavin, lalu kembali memalingkan wajahnya.


Pria itu kembali mendekati wanita yang masih ber status istri sah nya, kemudian menjatuhkan kedua kakinya di hadapan Salma. Pria itu kini berlutut, dan hal itu membuat Salma terkejut.


Sebelum Salma berkata, pria itu langsung meraih tangan wanita itu, dan menggenggam dengan erat, walau wanita itu berusaha menepis tangannya.


“Dari hati ku yang paling dalam, aku minta maaf atas kejadian yang lalu. Kejadian yang menyebabkan ayahmu meninggal, aku yang tidak bertanggung jawab padamu, aku yang menyia-nyiakan dirimu selama empat tahun lalu tanpa menjenguk mu, hingga aku tidak tahu...jika istriku ada di sisi ku,” ungkap Kavin penuh penyesalan. Kalau sebelumnya mereka berbicara dari balik pintu. Sekarang mereka berdua berbicara saling menatap.


Salma memberanikan diri untuk menatap pria yang sedang berlutut di hadapannya. “Penyesalan memang datangnya belakangan Tuan Kavin, jika semua sudah terjadi baru menyesal, jika belum terjadi maka tidak akan ada rasa menyesalinya,” balas Salma.


“Kata maaf itu sudah terlambat Tuan, tapi aku berusaha memaafkan semuanya, sombong rasanya jika aku tidak memaafkan kesalahan orang. Sedangkan Allah Maha Pengampun bagi umatnya. Tapi aku tidak bisa menepis rasa benciku padamu, hingga aku pernah berdoa agar pria yang menabrak ayahku turut meninggal.”


“Ya...aku hampir mati, karena kecelakaan setelah menikahimu. Dan ya ... Aku sangat membenci wanita yang aku nikahi di desa, karena wanita itu membuatku impoten,” jawab Kavin dengan nada pelan. Pria itu semakin mengerat genggamannya. Dan Salma mengernyitkan keningnya.


“Aku menerima karmaku, keperkasaan ku impoten dan tak bisa merasakan nikmatnya dunia walau memiliki istri,” ungkap Kavin dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tidak tersentuh dengan kesedihan mu,” sahut Salma, mendengus jengkel.


Kavin bisa melihat jika Salma memang begitu membenci dirinya. Salah satu tangan Kavin terlepas dari genggamannya lalu menyentuh pipi Salma, dan mengusapnya dengan lembut, serta dengan tatapan hangat.


“Aku tidak meminta kamu tersentu dengan ku, aku hanya menceritakan nya. Aku tahu kamu sangat membenciku, karena aku telah menghilangkan orang yang kamu sayangi. Aku tahu rasanya pasti sangat menyakitkan. Dan aku pernah merasakannya ketika aku kehilanganmu, aku begitu membenci mantan istriku Yasmin. Tapi apa yang kudapat dari rasa benciku dengan Yasmin, kamu tak hadir kembali padaku. Hingga aku memasrahkan segalanya jika aku kehilangan cintaku untuk selamanya,” tutur Kavin.

__ADS_1


Salma tidak menepis ketika Kavin menyentuh pipi kanannya dengan tangan besarnya, dia membiarkannya saja. Entah kenapa!


“Sekarang kamu hadir dan ternyata masih hidup, hal itu sudah membuat aku bahagia. Namun kamu hadir dengan membawa buah hati kita, aku tambah bahagia,” buliran bening mulai jatuh di pipi nya.


“Salma, sekarang aku tidak minta banyak darimu. Aku hanya minta izin  merasakan kebahagiaan ini walau sesaat, aku tahu kamu ingin sekali berpisah denganku. Tapi sebelum semuanya terjadi, aku mohon sesaat saja di samping mu dan anak kita,” ucap Kavin dengan suara yang sedikit serak.


Pria itu sedikit mencondongkan dirinya ke depan Salma, dan mengikis jarak nya dengan Salma.


“Aku akan menembus kesalahan ku, aku akan menyerah kan diri ke polisi jika hal itu membuat mu bahagia, jika hal itu membuat mu tidak membenci ku lagi,” imbuh Kavin.


Salma hanya bisa tercenung, apalagi wajah pria itu semakin dekat dengan wajahnya.


“Aku sangat mencintaimu, istriku Salma Hadeeqa,” ucap Kavin. Pria itu memajukan wajahnya lalu mengecup bibir ranum Salma, menciumnya dengan lembut. Sedangkan Salma bergeming, tak membalas.


bersambung.......menikmati kebersamaan dengan Baby Rayyan sebelum ??? silahkan diisi kelanjutannya...😁



Kakak Readers mau woro-woro sebentar ya, lagi ngerasain vertigo, tiba-tiba editor NT wa meng ACC naskah punyaku, lulus review untuk ikutan event. Jadi perkenankan saya mengenalkan MC nya ya...


Albert Elvano Yusuf, usia 35 tahun


Pemilik dan CEO perusahaan Maxindo



Tania Kanahaya, usia 22 tahun


Staff administrasi marketing perusahaan Maxindo



Jika sudah fit dan sehat, insya Allah akan terbit di bulan Januari ini. Mohon doanya serta dukungannya dari Kakak Readers. Terima kasih sebelumnya.


Nanti kan kisah mereka berdua Albert & Tania di :

__ADS_1



__ADS_2