
"Seperti biasa sajikan minuman berserta kue, dan bilang ke Didit tentang tamu yang datang. Suruh mereka menunggu, saya akan segera turun, ” titah Opa Braymanto.
“Baik Tuan,” jawab patuh kepala pelayan, sebelum keluar dari kamar baby Rayhan.
Sekarang Opa Braymanto memutar balik badannya dan menatap sendu cucunya. “Kamu sudah pasti dengan keputusan ingin berpisah dengan Kavin?”
Salma mengangguk kepalanya dengan yakin. Lagi pula surat perceraiannya dari jauh hari sudah di urus oleh pengacara Opa Braymanto, tinggal di bubuhi tanda tangan Kavin, kemudian di ajukan ke pengadilan negara.
“Opa hanya mengingatkan sekali lagi, jangan mengambil keputusan di saat emosi, jangan mengambil keputusan di saat hatimu membenci. Ambillah keputusan dalam keadaan hatimu tenang dan pikiran jernih. Karena setiap pilihan, pasti ada yang akan menjadi korbannya,” imbuh Opa Braymanto, tatapannya beralih ke baby Rayyan.
“Semuanya sudah aku pikirkan secara matang, aku tahu keputusan ini, anakku yang akan menjadi korban. Tapi aku akan tetap memberikan keleluasaan buat Tuan Kavin untuk menjenguk Rayyan,” jawab Salma dengan suara mantapnya tidak ada keraguan.
Opa Braymanto mendesah kecewa, lalu keluar dari kamar baby Rayyan untuk menemui Kavin dan Mama Rossa. Salma hanya menatap nanar ketika Opa Braymanto meninggalkan nya begitu saja tanpa berkata lagi.
🌻🌻
Ruang Tamu
Opa Braymanto dan Paman Didit jalan beriringan menuju ruang tamu, untuk menyambut ke datangan Kavin dan Mama Rossa.
Kavin yang dari kejauhan melihat kedua pria itu langsung beranjak dari duduknya dan mengucapkan salam. Seketika Kavin langsung memindai pria paruh baya yang berada di samping Opa Braymanto.
“Wah kalian berdua masih pagi sudah ada di sini?” celetuk Opa Braymanto, tak menyangka mereka akan datang di pagi hari.
Mama Rossa menyeringai tipis. “Apa salahnya datang di pagi hari Om Bray, apalagi cuacanya lagi terang, tidak mendung seperti kemarin, lagi pula kami sengaja datang pagi karena ingin memastikan sesuatu. Mungkin Om bisa membaca ini,” pinta Mama Rossa, menyodorkan amplop dari rumah sakit.
Kavin masih mengingat-ingat pria yang duduk di samping Opa Braymanto. “Kavin sepertinya kamu ingin tahu siapa yang ada di samping Opa?” tanya Opa Braymanto, sambil membuka amplop.
Hasil Test DNA
__ADS_1
Opa hanya menyunggingkan sudut bibirnya ketika membacanya. Lalu kembali memasukkan berkas tersebut ke dalam amplop, tidak ada raut wajah terkejut. Pria tua itu sudah menyangka jika Rossa dan putranya pasti akan segera menyelidiki nya, namun tak menyangka secepat ini.
“Ya aku ingin tahu, siapa yang ada di samping opa?” tanya Kavin, yang masih belum mengingat.
“Didit, dia adik ayahnya Salma, wali nikah Salma, ketika kamu menikahinya,” jawab Opa Braymanto.
Kavin masih menatap Paman Didit, dan baru teringat. “Rupanya Paman ada di sini, beberapa tahun yang lalu aku ke desa tapi tak ada orang. Ternyata Paman ada disini,” tukas Kavin. Paman Didit masih diam.
“Baiklah, Rossa, Kavin sepertinya percuma jika Opa berbohong lagi,” Opa Braymanto menaruh amplop tersebut ke atas meja.
“Cucuku Salma, masih hidup ... Anak buahku menyelamatkan Salma yang hampir saja mati tenggelam, terseret ombak. Opa meminta mereka dan Keanu segera membawa Salma ke Belanda. Namun setelah kejadian itu Salma kena gangguan mental, dan Opa memutuskan keluarga Didit untuk segera menyusul ke Belanda, karena merekalah keluarga yang dekat dengan Salma.”
Kavin dan Mama Rossa bergeming...
“Perjuangan kami memulihkan kesehatan mental Salma, dan Opa membiarkan berita yang berhembus di Bali jika Salma telah meninggal. Saat itu biarlah kalian berdua menganggap Salma telah tiada, itu lebih baik. Karena pikir Opa, antara Kavin dan Salma tidak akan pernah bertemu,” Opa Braymanto masih melanjutkan ceritanya.
“Sekedar kamu tahu Kavin, mental Salma begitu terguncang setelah kejadian yang menimpa nya, kami di sini berupaya agar Salma tidak mengakhiri hidup nya. Namun ternyata Allah menghadirkan seseorang di rahim nya, ya dia anakmu Rayyan Abizar Adiputra, putra kandung mu. Penyemangat hidup Salma,” ucap Opa Braymanto.
Di benak hati Mama Rossa, wanita tua itu juga tidak menyalahkan keputusan yang telah di ambil oleh Om nya sendiri, walau bagaimanapun seorang kakek pasti ingin melindungi cucunya.
Sementara di kamar baby Rayyan...
“Ooeee......oooeee.....ooooeeee,” suara tangisan baby Rayyan sangat memekak telinga siapa yang mendengar, wajah baby Rayyan sudah memerah akibat menangis kejer. Salma masih berusaha menenangi putranya, menyusui, menimang nya, namun tetap semakin menangis.
“Non Salma, di bawah ada Tuan muda yang kemarin datang. Waktu Baby Rayyan menangis seperti ini, di gendong tuan muda langsung terdiam, boleh saya bawa ke bawah. Kasihan mukanya sudah memerah begini,” pinta Emi dengan sopan dan lembut, takut nona muda nya tersinggung.
Mungkin kah ini yang namanya ikatan batin antara ayah dan anak, pikiran Salma yang kalut dari semalam, serta badan yang letih karena belum tidur semalam, rasanya kepalanya ingin pecah, tapi wanita berusaha untuk mengatasinya. Ingin rasanya wanita itu ikut menangis seperti putranya, akan tetapi di tahannya sekuat tenaga...
“Salma, sebaiknya coba saran Emy, kasihan Rayyan dari semalam rewel, anakmu lama-lama akan sakit. Coba untuk sekali ini buang egomu sejenak,” tutur Bibi Tia yang ada di kamar baby Rayyan.
__ADS_1
Nak, mungkinkah kamu tahu daddy mu datang?
Dengan rasa terpaksa nya baby Rayyan di berikan ke Emy, “Bawalah ke bawah, tapi jika baby Rayyan masih menangis, segera bawa ke sini,” pinta Salma, dengan tutur lembutnya.
“Baik, Non Salma,” Emy langsung membawa baby Rayyan ke ruang tamu.
Sedangkan di ruang tamu masih terasa hening, walau hati Kavin galau mendengar tangisan baby Rayyan dari lantai dua. Ingin rasanya naik ke lantai dua, menghampiri putra ... Namun agak segan.
“Ooee......ooooee...,” suara tangisan baby Rayyan semakin terasa dekat. Kavin langsung mengangkat kepalanya, kedua netranya berbinar-binar melihat Emy mengendong baby Rayyan.
“Anakku...,” pria itu beranjak dari duduknya, dan segera menghampiri Emy lalu mengambil baby Rayyan.
“Rayyan...ini daddy,” ucap lirih Kavin, pria itu langsung mendekap putranya, lalu mencium pipi baby Rayyan yang masih menangis, pria itu pun turut menangis, hati bahagia itu membuncah...sangat-sangat bahagia.
Dan tanpa di sadari Opa Braymanto, Paman Didit dan Mama Rossa larut dengan kebahagian Kavin, tak terasa ikutan meneteskan air mata.
Lama kelamaan tangisan kejer Rayyan semakin pelan, tinggal tersedu-sedu di gendongan Kavin, serta kedua bola mata baby Rayyan menatap sendu wajah daddy-nya yang masih menatap hangat dirinya. Si baby tampan itu seakan tahu siapa yang mengendongnya.
“Sudah menangisnya nak, ini daddy sayang....maafkan daddy,” ucap Kavin, kemudian mengecup kembali kening putra tampannya, lalu melap air mata putranya yan penuh kelembutan.
Dari balik pintu, Salma ikut meneteskan air mata...melihat baby Rayyan yang berhenti menangis di gendongan Kavin.
Maafkan mommy, nak...
bersambung.....
Kakak Readers yang cantik dan ganteng jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Dan buat yang masih punya vote mau dong dilemparin buat Salma dan Kavin 😊. Terima kasih sebelumnya 🙏🏻
__ADS_1
Love you sekebon 🌻🌻🌻🌻