
Kadang merindukan seseorang bisa membuat raga seseorang sakit karena menahan rindu? Benarkah? Tak bisa di pungkiri, efek memikirkan dan menahan rasa yang bergejolak terlalu lama menjadi beban jiwa, hingga menggerogoti raga, dan akhirnya raga tak bisa lagi menahan beban tingkat stres menjadi pemicu penyakit.
Kebanyakan setiap ke dokter pasti yang sering ditanyakan ke pasien, habis makan apa? Lalu sedang banyak pikiran kah? Dan kadang di celetukin jangan pikirkan apa yang belum terjadi, bisa menjadi beban pikiran.
Ah...pasti di batin akan bertentangan dengan pertanyaan si dokter. Enggak pikirin apa-apa kok, cuma badan berasa tidak enak, udah itu aja.
Apa iya Salma sakit merindukan sang mantan suami, hingga akhirnya tumbang? Antara iya dan tidak! Tak salah jika wanita merasa gengsi mengakui perasaannya. Bisa saja wanita itu belum yakin akan dirinya sendiri, dan belum berani mengambil resiko untuk melangkah ke depan.
Setiap wanita pasti menginginkan keluarga yang sempurna, memiliki suami penyayang istri dan anak-anaknya, suami tempat berbagi keluh kesahnya, suami yang bisa menjadi sandaran hidupnya, bukan hanya sekedar pasangan hidup saja, bukan juga sebagai tempat pelampiasan hasrat semata.
Dan pernikahan bukanlah permainan, mudah menikah kemudian mudah juga bercerai. Pernikahan adalah hal yang sakral, ibadah panjang, sepanjang hayat selama masih ada jiwa di raga.
Wanita itu menatap teduh sang mantan suami yang sedang bermain dengan anak mereka di atas ranjang, dan sesekali pria itu kembali menyuapi makan ke sang mantan istri. Hatinya berdesir melihatnya, namun wanita itu pandai sekali menutupi perasaannya.
“No...sayang, makanan mommy jangan di acak-acak dong, nak,” tegur Kavin dengan lembutnya, mengangkat baby Rayyan yang ikutan menyendok nasi dari piring mommynya.
Baby Rayyan yang di angkat daddy-nya langsung nyengir menunjukkan gigi bawahnya yang baru saja tumbuh.
“Mom, ayo buka mulutnya. Lihatlah anak kita udah ngotorin ranjang mommy,” ucap Kavin kembali menyodorkan sendok ke mulut Salma, dan wanita itu langsung melahapnya.
“Kak, makannya sudah cukup. Perutku kembali mual rasanya,” tolak Salma.
Sambil mengendong baby Rayyan, salah satu tangan pria itu mengangkat piring bekas makan Salma, tapi sebelumnya membersihkan nasi yang sudah bertebaran di atas spreai ranjang, berkat ulah baby Rayyan.
“Mmm...anak daddy ini pintar ya...ngerjain daddy ya,” ucap Kavin, yang masih berbenah, sedangkan baby Rayyan yang masih di gendong, memainkan ludahnya kemudian menyemburnya di wajah daddy Kavin.
Salma jadi terkekeh melihat Kavin kerepotan sendiri, udah kayak emak-emak rempong.
“Sudah Kak, biar pelayan aja yang merapikan ranjangnya.”
“Mom, jorok kalau gak cepat di bersihin,” jawab Kavin. Setelah agak bersih dan telah meletakkan piring. Kavin mendekati Salma yang masih menyandar di headboard.
“Mom, rangkul leher aku,” pinta Kavin.
__ADS_1
Salma langsung terbelalak. “Mau ngapain Kak?” tanya Salma, heran dengan permintaan Kavin.
Tanpa menjawab Kavin langsung menyelipkan tangan besarnya ke belakang punggung Salma, kemudian mengangkatnya. Tangan kiri mengendong baby Rayyan, tangan kanan mengendong Salma.
“Kak...,” jerit kaget Salma, ketika tubuhnya ke angkat. Baby Rayyan tertawa renyah melihat wajah kaget mommy nya. Kavin membawa mereka berdua ke kamar baby Rayyan, dan merebahkan nya di ranjang kecil yang ada di sana.
“Seprai ranjang harus di ganti dulu, jadi mommy sama Rayyan di sini dulu,” ucap Kavin memberikan penjelasan.
“Ooh...dikirain ada apa,” balas Salma, dengan jantung yang rasanya mau copot.
Salma seketika meraih pergelangan tangan Kavin, ketika pria itu sudah berdiri. “Kak Kavin, makan malam dulu. Dari tadi aku lihat belum makan, dan jangan lupa mandi, aku lupa kalau kakak habis perjalanan jauh. Pasti banyak virus yang menempel, kasihan kalau ke sini malah jadi ikutan sakit,” imbuh Salma.
Hati Kavin menghangat, baru kali ini ada sedikit perhatian dari wanita yang di cintai nya, ternyata bisa membuat pria klepek-klepek.
“Makasih mom, aku ke bawah dulu sebentar, sekalian mau bilangin pelayan untuk menggantikan seprai ranjang kamu, sekalian ambil koperku yang ada di bawah,” ujar Kavin.
“Iya. Kak,” jawab Salma, sambil menganggukkan kepalanya.
🌻🌻
Tinggal boleh di Belanda, tapi tetap menu makanan khas Indonesia, walau sesekali ada menu makanan western.
Ari tampak malu-malu menyantap makanannya, apalagi duduknya berhadapan dengan Retno.
“Pak Ari, sudah menikah kah?” tanya Paman Didit, setelah berulang kali melihat Ari menatap wajah anak gadisnya.
“Maaf Pak Didit, panggil saya Ari saja. Saya belum menikah.” Jawab Ari.
Retno menurunkan pandangannya yang tak sengaja bersitatap dengan Ari.
“Oh dikiraiin sudah menikah,” balas Paman Didit.
“Bagaimana mau menikah Pak Didit, kehidupan saya hampir tiap hari mendampingi Tuan Kavin.”
“Jadi kamu belum punya kekasih juga?”
__ADS_1
Ari menggelengkan kepalanya, “belum Pak Didit.”
“Padahal di perusahaan Kavin pasti banyak wanita cantik-cantik. Masa tidak ada yang kecantol sama kamu. Atau jangan-jangan kamu ada kelainan?” tanya Paman Didit, membuat Ari terkesiap.
“Maaf Pak Didit, saya masih perjaka tulen dan normal. Kalau masalah wanita memang banyak yang cantik di perusahaan Tuan Kavin, tapi belum ada yang sreg di hati,” jawab Ari tenang.
“Oh...syukurlah kamu tidak impoten seperti bosmu,” pungkas Paman Didit.
Ari hanya bisa tersenyum kecut dengan dugaan Paman Didit, kemudian memberanikan diri menatap anak pertama Pak Didit. Jantungnya masih berdebar-debar, apalagi kalau Retno sudah memberikan senyum manisnya ke pria itu.
“Maaf Pak Didit, kalau boleh saya tahu...Retno sudah menikah?” akhirnya Ari memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada ayahnya.
Paman Didit langsung melirik Retno, yang seketika itu juga kembali menundukkan pandangannya.
“Tanya saja sama Retno langsung, kenapa harus tanya ke saya,” jawab ketus Paman Didit, sok agak galak.
Retno merematkan jemarinya, saling bertautan. Jujur di hati wanita itu terpesona dengan wajah Ari yang lumayan ganteng, untuk pertama kali bertemu. Apalagi melihat postur tubuhnya yang tinggi dan gagah, membuat dirinya semakin terpukau.
“Hemmm.....,” sebelum bertanya Ari berdehem dulu, pedoman Ari malu bertanya sesaat di jalan. Sebenarnya pria itu grogi di hadapan Paman Didit. Biasa negosiasi, berargumen dengan klien Kavin, sekarang kemampuannya lagi terjun bebas ke kurang.
“Retno sudah menikah belum?” tanya Ari dengan nada pelan.
“Saya belum menikah Pak Ari, kalau sudah nikah, pasti ada suami ku yang duduk di samping atau di hadapan ku,” jawab pelan Retno, agak malu-malu.
“Alhamdulillah....wah syukurillah, ternyata belum menikah. Makasih Ya Allah,” ucap syukur Ari agak tinggi suara nya. Membuat orang yang ada di ruang makan terkejut seketika. Apalagi Retno, wajahnya semakin memerah.
Ya ampun...apakah Ari menyukai anakku, Retno??
bersambung....
Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya like, komentarnya....😉😉
__ADS_1