
Wanita itu cepat sayang
Wanita itu cepat rindu
Wanita itu cepat cemburu
Wanita itu cepat tersenyum
Tapi wanita itu tidak cepat melupakan sesuatu yang membuat nya kecewa.
🌻🌻
Hari demi hari berlalu sesuai janji seorang ayah kepada anaknya, dan dapat izin dari Opa Braymanto. Kavin bersama mama Rossa menginap di mansion Braymanto. Menghabiskan waktu dalam seminggu dengan baby Rayyan sampai benar-benar sehat.
Selama seminggu itu juga interaksi Kavin dengan Salma semakin membaik, walau cenderung Salma lebih banyak menghindari Kavin dan banyak diam jika mereka pas bertiga dengan baby Rayyan.
Kavin sebagai seorang suami sudah semaksimal mungkin untuk memperhatikan Salma dan putranya, walau terkadang hatinya terasa getir melihat sikap dingin Salma. Waktunya di Belanda tidak lah lama, karena pria itu harus kembali ke Indonesia, perusahaan dan tanggung jawab besarnya ada di Indonesia. Namun terasa berat hati karena wanita pujaan hati dan anak tercintanya ada di Belanda.
🌻🌻
Ruang Kerja Opa Braymanto
Mama Rossa dan Opa Braymanto, kedua orang tua itu duduk berhadapan di depan Kavin. Posisi pria itu bagaikan sedang di sidak.
“Segala sesuatu memang tidak bisa di paksakan, kamu sudah berusaha walau hal itu belum seberapa Kavin. Jika kamu memang benar-benar mencintai Salma, biarkan dia bahagia dengan caranya terlebih dahulu,” imbuh Opa Brayamanto.
Kavin bukanlah Fajar sang sad boy yang menangis terus karena putus dengan pacarnya. Tapi Kavin seorang pria yang telah memiliki istri dan anak, akan tetapi sekarang hatinya sangat sensitif jika sudah menyangkut Salma dan baby Rayyan, hingga mudah menitikkan air mata. Lalu ke mana sikap arogannya selama ini, yang tak pernah menitikkan air mata walau untuk Yasmin ketika masih menjadi istrinya. Arogannya lenyap tenggelam ketika Salma menghilang di Bali.
__ADS_1
“Kavin bukan maksudnya mama tidak mendukungmu nak. Mama juga tidak mau sebenarnya hal itu terjadi. Tapi hargailah keputusan yang di minta Salma. Jika kamu memang benar-benar mencintai Salma dan anakmu, turutilah lalu kamu perbaiki semuanya dari awal. Jodoh tidak akan ke mana kalau memang dia jodohmu,” ucap Mama Rossa.
Kavin masih menundukkan kepalanya, menatap lantai marmer dengan tatapan berkaca-kaca, sungguh hatinya terasa sesak. Tapi mau bagaimana lagi...dia memang sudah berusaha namun masih nihil hasilnya, mungkin waktu seminggu masih waktu yang sebentar untuk berjuang.
Ini bukan menyangkut si gogon yang hanya bisa berdiri dengan Salma, tapi ini masalah hati yang sudah di penuhi oleh wanita itu, di tambah dengan kehadiran buah hatinya. Jika pria lain mungkin tidak akan ambil pusing, walau impoten tetap bisa jatuh cinta dengan wanita lain...dan menikmatinya dengan menyodorkan kekayaan kepada wanita lain agar bisa menerima kekurangannya. Simpel bukan! Tapi itu tidak berlaku dengan Kavin, karena dia bukanlah casanova.
🌻🌻
Sedangkan di tepi danau, belakang mansion Opa Braymanto, terlihat Salma dan Paman Didit duduk bersama menikmati indahnya pemandangan.
“Salma, paman dan ayahmu selain saudara kandung. Ayahmu juga pengganti ayah kami yang telah tiada. Paman juga sama sedihnya ketika kehilangan kakak yang begitu baik. Tapi sudah suratan takdir, mau berkata apa! takdir seorang meninggal ada berbagai cara. Mungkin takdir kakak paman melalui Kavin yang tak di sengaja, dan bisa saja jika bukan dengan Kavin, bisa saja dengan orang lain.”
Salma masih menatap ke arah luasnya danau, sembari kedua telinganya mendengar tutur kata Paman Didit.
“Kavin akan pulang ke Belanda, dia cerita ke paman...akan menyerahkan dirinya ke polisian untuk bertanggung jawab,” kata Paman Didit, menghela napas panjang.
“Salma, ayahmu dan ibumu pasti sedih melihat anaknya yang terlalu membenci seseorang. Kamu tidak ingat bagaimana ibu mu semasa hidupnya, ada yang menyakitinya tapi tidak membenci nya. Ibu mu selalu mengajarkan segala kebaikan padamu, ingat lah nak! Membenci seseorang tidak akan membuat hidup mu tenang. Cukup rasa kamu tidak menyukainya, tapi hilang kan rasa benci mu,” tukas Paman Didit.
Kedua netra wanita itu berembun dan mulai memerah, menahan rasa sedih karena buliran bening mendesak untuk di keluarkan.
Paman Didit merangkul bahu keponakannya. “Maafkan paman nak, paman juga punya salah denganmu hingga kamu tersiksa dengan pernikahan paksa ini.”
Dirangkul paman Didit bagaikan di rangkul ayahnya, bayangan ayahnya seakan ada di samping nya, sedang menemani hatinya yang sedang sedih. Luruh sudah air matanya jatuh tak terkendali, menangis tersedu-sedu di rangkulan paman Didit. Paman Didit membiarkan keponakannya menangis, biar hati keponakannya nya lega dan lepas.
🌻🌻
Menjelang sore hari, penerbangan Mama Rossa dan Kavin terjadwalkan di malam hari ini. Sekarang mereka sedang duduk bersama di ruang tengah.
__ADS_1
Mama Rossa, Kavin, Opa Braymanto, Paman Didit, Bibi Tia, Retno serta Salma yang memangku baby Rayyan. Suasana di ruang tengah terasa dingin dan senyap seketika itu juga. Dari tempat duduknya Kavin menatap teduh wajah Salma dan baby Rayyan. Sedangkan Salma hanya menatap wajah baby Rayyan, dirinya sudah tak kuasa menatap wajah Kavin walau sesaat.
“Salma, Rossa dan Kavin malam ini akan kembali ke Indonesia. Sebelum Kavin kembali, ada yang ingin di bicarakan padamu terlebih dahulu,” ucap Opa Braymanto.
Salma menganggukkan kepalanya pelan, namun dia menatap map yang tergeletak di meja.
Kavin mengeluarkan kartu debit dan meletakkan dekat map tersebut. “Salma mohon di terima kartu atm ini, di sini ada uang 30 milyar sebagai nafkahku untuk putraku dan dirimu. Nanti paswordnya akan aku kirim lewat wa.”
Salma langsung menaikkan wajahnya. “Kak Kavin, aku tidak membutuhkan nya. Tolong ambil lah kembali,” tolak Salma.
“Salma tolong di terima nafkah Kavin untuk putranya, ini sudah kewajiban seorang ayah terhadap anaknya,” ujar Mama Rossa, agar Salma mau menerimanya. Mama Rossa mengambil kartu atm yang di letakkan di atas meja, dan langsung memberikan ke tangan Salma. Hingga wanita itu tidak bisa menolaknya.
“Tiap bulan, aku akan mengirim nafkah untuk anakku Rayyan,” lanjut Kavin.
Pria itu menarik map yang ada di meja agar lebih dekat dengan dirinya, kemudian membukanya.
“Salma, sebelumnya aku minta maaf jika tidak bisa menjadi suami yang baik, justru banyak melukai hatimu...,” jeda sejenak, pria itu menatap isi map tersebut. Sedangkan Salma juga menatap ke arah Kavin.
“Hari ini aku akan kembali ke Indonesia, aku hanya berharap izinkan aku berkomunikasi denganmu, untuk mengetahui perkembangan Rayyan. Bolehkah Salma, aku minta bisa menghubungimu setiap saat?” tanya Kavin.
“Iya boleh Kak, silahkan Kak Kavin menghubungiku jika ada waktu senggang,” jawab Salma.
Kavin tersenyum tipis, lalu menolehkan pandangannya ke Paman Didit lalu ke Opa Braymanto.
bersambung.......selanjutnya ada apa?
Baby Rayyan sama daddy Kavin
__ADS_1