Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Ungkapan hati Salma dan Kavin


__ADS_3

Kavin masih bersandar di daun pintu kamar bagian luar, sedangkan Salma menyandarkan tubuhnya di daun pintu bagian dalam. Sayup sayup terdengar suara pria yang sedikit teriak di luar kamarnya.


“Aku tahu selama ini, aku banyak salah nya padamu, Salma,” ucap lirih Kavin, sembari menyeka air matanya.


“Aku pantas mendapatkan segala hukuman, mendapatkan karma, karena telah menyakiti istriku sendiri secara sadar,” dada Kavin terasa sesak, namun pria itu berkuat hati mengungkapkan segala rasanya.


Di balik pintu, salah satu tangan wanita itu menyentuh daun pintu kamarnya. “Tuan Kavin...,” Salma mulai membuka suaranya.


“Salma...,” hati Kavin sedikit terharu mendengar suara Salma, setelah sekian lama tak mendengarnya.


“Bukalah pintu kamar mu Salma, mari kita bicara berdua,” pinta Kavin dengan nada suara lembut nya.


“Tidak perlu, aku belum siap menemui Tuan Kavin, cukup seperti ini saja,” Salma menolak untuk bertemu dengan daddynya Baby Rayyan.


Kavin hanya bisa mendesah kecewa, mendengar penolakan mommy dari putranya. Sebenarnya bisa saja dia mendobrak pintu kamar Salma, tapi pastinya Salma malah akan menjauh darinya.


Sebelum melanjutkan pembicaraan, Salma menarik napasnya dalam-dalam, “Aku sangat membenci mu Tuan Kavin, aku membenci mu karena telah menghilangkan nyawa Ayahku. Seharusnya Tuan menembus kesalahan itu dan menerima hukuman, tapi Tuan justru menyuap kami dengan uang. Dan Paman ku memaksa aku menikah denganmu. Tuan tahu rasanya saat itu, sakit Tuan!”


“Tolong maafkan aku sekali lagi, Salma,” balas Kavin.


Salma menggelengkan kepalanya.


“Salma, tolong jangan panggil aku Tuan, aku suami mu,” pinta Kavin.


Salma berdecak kesal, “Tuan bilang suami aku, suami yang meninggalkan aku saat acara akad nikah!  Saat itu Tuan malukan memiliki istri dari desa bukan! Istri dari desa yang identik berwajah buruk rupa, kulit gelap! Tapi aku tidak peduli Tuan Kavin, karena aku tidak pernah menginginkan pernikahan itu.”


“Lalu sekarang Tuan mengaku-ngaku suami aku, dan itu semuanya karena wajah dan rupa aku kan! Coba kalau wajah ku jelek pasti Tuan tidak akan mengakui sebagai suami ku,” ujar Salma penuh emosi.


Di balik pintu Kavin menyugarkan rambutnya lalu meraup wajahnya dengan kasar.


“Salma tidak seperti itu, aku tidak melihat dari wajahmu, aku terima kamu walau wajahmu buruk rupa,” balas Kavin dengan suara merendah.


“Bullshit!!” balas Salma dengan suara meninggi.

__ADS_1


“Aku sangat membenci Tuan yang selalu berkata kasar dan bertindak kejam padaku, aku sangat membencimu dan Tuan bukan suamiku. Pergilah dari sini!” geram Salma, mencoba mengusir Kavin.


“Marahlah kepadaku, caci maki lah aku, pukul lah diriku. Tapi tolong jangan usir aku dari sini. Aku yang selama ini tersiksa kehilanganmu, aku yang telat menyadari semuanya. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” ujar Kavin memohon.


“Tuan Kavin sudah terlambat untuk memperbaiki semua keadaan, segala kata kasar, hinaan, perlakuan kasar masih membekas di hatiku. Selama ini aku sudah mencoba melupakan nya, namun nyatanya selalu terbayang,” balas Salma.


“Bagaimana cara untuk aku mengobati lukamu, Salma?”


“Berpisah, tanda tangani lah surat gugatan cerai ku. Itu yang aku inginkan,” pinta Salma.


Kepala Kavin menyandar di daun pintu, lalu menengadah ke atas...menatap langit-langit. Sedangkan Salma hanya menatap daun pintu kamarnya yang berwarna putih.


Mereka berdua sama-sama terdiam sejenak dalam beberapa menit. Dan kembali mengingat masa lalu mereka berdua.


“Salma....”


Wanita itu masih mendengarkannya dari balik pintu.


“Aku tak menyangka sebencinya dirimu padaku, kamu rela mengandung anakku, dari suami yang kamu benci. Seharusnya kamu bisa saja menggugurkan anak kita saat itu,” tutur Kavin.


“Tuan Kavin, aku tidak sekejam dirimu. Baby Rayyan darah dagingku, aku tidak mau menjadi pembunuh seperti Tuan Kavin,” jawab ketus Salma.


Kavin dan Salma kembali terdiam sejenak, memikirkan apalagi yang harus di ucapkan.


“Aku tidak tahu harus berkata apa lagi denganmu, sepertinya dimatamu aku pria yang sangat buruk. Aku memaklumi dan menyadarinya. Jujur permintaan untuk kita berpisah, aku tidak bisa mengabulkannya untuk saat ini. Berikan aku waktu untuk berpikir sejenak, begitu juga dengan dirimu pikirkanlah permintaan mu kembali,” tutur Kavin.


“Aku tidak akan menjadikan anak kita sebagai tameng tentang rumah tangga kita. Tapi lebih dari itu Salma, karena...aku sangat mencintaimu,” ungkap Kavin.


DEG!


Salma terkejut.


“Aku sangat mencintaimu, dan aku menyadarinya setelah kehilanganmu,” pengakuan Kavin.

__ADS_1


“Aku tidak berharap kamu mempercayai semua ucapan ku ini, dan tak berharap kamu membalas rasa cintaku ini tapi aku akan menunjukkan semua yang ada di hatiku untuk istriku, Salma Hadeeqa.”


Salma hanya bisa tersenyum kecut dan menundukkan wajahnya sejenak, setelah mendengar pengakuan cinta Kavin bagaikan mendengar pengakuan cinta kebanyakan pria yang datang kepadanya saat masih bekerja jadi SPG, semua berawal karena wajah cantik nya...miris menurut wanita itu.


Mungkin karena sering begitu banyaknya pria menyatakan cintanya, ungkapkan hati Kavin terasa hambar, tidak ada desiran di lubuk hatinya.


Tapi dibalik itu semua, mungkin Kavin pria yang pertama menyentuh raganya, pria yang pertama kali mengecup bibir ranum nya, dan pria yang pertama kali mengambil kegadisannya. Walau di bawah pengaruh obat, Salma masih bisa mengingat bagaimana lembut nya Kavin mencumbui dirinya hingga dirinya pun mengakui menikmati setiap sensasi yang Kavin berikan.


Pria mungkin saja bisa melakukan hubungan intim tanpa rasa cinta,  hanya nafsu semata. Lalu bagaimana dengan wanita? Banyak wanita mau melakukan nya karena ada rasa suka dengan pasangannya? Mungkinkah Salma ada rasa saat itu? Entahlah kata orang...benci dan cinta beda tipis.


Dalam keheningan mereka berdua, terdengar suara tangisan baby Rayyan yang semakin mendekati ke lantai dua. Ternyata Mama Rossa yang mengendong Baby Rayyan, serta Opa Braymanto datang ke lantai dua dengan wajah cemas nya.


Kavin yang melihat dan mendengar tangisan baby Rayyan, langsung berdiri dan mendekati Mama Rossa.


“Baby Rayyan muntah, dan tiba-tiba badannya panas,” ucap Mama Rossa.


Kavin langsung mengambil alih baby Rayyan dan membawa nya ke kamar baby Rayyan.


“Om Bray cepat telepon dokter anak, suruh datang ke sini,” pinta Mama Rossa yang sudah kelihatan panik.


“Iya, sudah dihubungi Dokter nya sama Didit,” jawab Opa Braymanto.


“Sayang....ini sama daddy, cup jangan menangis nak,” ucap Kavin berusaha menenangi anaknya yang masih menangis, pria itu bergegas merebahkan baby Kavin di atas ranjang, kemudian membuka baju yang sudah kotor kena muntahannya sendiri.


Salma yang mendengar baby Rayyan sakit, hanya bisa mondar mandir di dalam kamarnya, hatinya masih ragu untuk ke kamar baby Rayyan. Hatinya masih belum sanggup melihat wajah Kavin, suaminya sendiri.


 *bersambung....


Kakak Readers mohon maaf hari ini tidak maksimal buat upnya, badan lagi kurang fit, kepala pusing dan vertigo. jadi buat menulis pandangannya berputar. Mohon doanya biar bisa menulis lagi 🙏🏻. Terima kasih


 


__ADS_1


__ADS_2