Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Ada apa di dalam lift?


__ADS_3

“Akh.....apa apaan ini Tuan Kavin lepaskan tangan saya!” Salma berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman tangan besar pria itu.


“Melepaskan, kamu minta di lepaskan....oh sungguh jual mahal sekali kamu. Sedangkan tadi kamu biasa saja ketika rambutmu di sentuh oleh Bima....hem!” sudah muncul rasa geram yang sedari tadi di tahannya, kini sorot mata tajamnya mulai terbit, sudut bibirnya pun mulai naik.


“Kalau iya memangnya kenapa! Tuan tidak berhak melarang saya dekat dengan siapa pun!” balas Salma, tak gentar pula gadis itu menatap tajam pria itu.


Entah nasib sial apa lagi yang terjadi siang ini, berada di dalam lift dan hanya berdua dengan pria yang di bencinya.


“Cih.....dasar wanita munafik kamu, sok menolak dengan saya. Saya mampu membayar kamu berapa pun!” dengan sombongnya pria itu berkata. Tak lama tidak hanya  tangan yang di cengkeramnya tapi di raihnya pinggang gadis itu, hingga menempel ke tubuh pria itu.


“Dasar baji-ngan, masih kurang cukupkah Tuan melecehkan saya tadi malam!” teriak Salma,  gadis itu mulai memberontak di dalam dekapan pria itu.


“Diam kamu, apa perlu saya berbuat kasar dengan kamu di sini agar diam!” balas Kavin yang masih berusaha memeluk tubuh gadis itu.


Gadis itu mendongakkan wajahnya, menatap tajam lawannya sendiri.


Raga Kavin dan raga Salma sudah tidak ada jarak lagi, sentuhan kulit yang dibalut kain mulai terasa. Wangi tubuh mereka berdua yang menguar pun mulai menyatu, deru napas mereka yang masih naik turun karena saling memberontak, irama napasnya beriringan. Tak butuh waktu lama tubuh pria itu kembali meremang, ada gejolak yang muncul di hati pria itu...dan sudah pasti ada yang mulai bangkit di dalam celana panjangnya. Sesaat pria itu menundukkan wajahnya agar lebih dekat dengan gadis itu, lalu menghirup aroma wangi yang menguar dari sekitar ceruk gadis itu, sungguh menggoda hasratnya.


“AAUUWW....,” jerit kesakitan Kavin, rupanya Salma menggigit leher pria itu dengan sekuat tenaga, dan kedua tangan pria itu refleks melepas dekapannya lalu mendorong tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga hingga...


BUG


Tubuh serta kepala Salma terbentur dinding lift dengan kerasnya, gadis itu terhenyak seketika, kemudian rasa sakit mulai menjalar ke bagian belakang tubuhnya, bagaikan di hantam besi tubuh gadis itu.


Kavin dan Salma saling bersitatap, dan diam tanpa berkata. Gadis itu diam, berusaha menjaga kestabilan tubuhnya yang mendadak sakit, dan kepalanya seakan-akan ada burung yang terbang di matanya.


TING.....pintu lift sudah terbuka di lantai 12. Namun tak ada satu pun yang keluar dari lift, masih terdiam.


Salah satu tangan Kavin masih memegang lehernya yang telah di gigit Salma.


“Keluarlah,” titah Kavin.


Namun Salma bergeming, tatapannya kosong. Pria itu jelas tak suka di diamkan, diraihnya kembali tangan Salma.


Lalu...


BRUK!!


Tubuh gadis itu sudah jatuh di lantai, tak sadarkan diri, dan pria itu telat meraih tubuh Salma, yang tiba-tiba terkulai lemas, tak berdaya.


“Salma....,” panik mendera pria itu, lalu membungkukkan dirinya, lalu mencoba mengangkat Salma.


“Jangan pura-pura pingsan kamu!!” ujar Kavin masih dalam keadaan cemasnya.


“Astaga...Kavin!” seru Mama Rossa yang bertepatan mau masuk lift dengan Ari dan Romi.

__ADS_1


Kavin mendongakkan wajahnya.


“Mam.....”


Mama Rossa mendesah kecewa melihatnya.


“Ari, Romi ambil alih Salma dari Kavin, Dan Kavin keluar dari lift ini, jangan sampai karyawan melihat ini!!” perintah Mama Rossa.


Perasaan pria itu gamang, setelah di minta oleh Mama nya meninggalkan Salma yang sudah tidak sadarkan diri, dan Mama Rossa tidak bertanya ada apa.


Ari dan Romi langsung mengambil alih Salma dari tangan Kavin.


“Keluarlah Kavin!” perintah Mama Rossa dengan tegasnya. Kavin dengan tatapan nanarnya melihat Salma yang sudah di angkat Ari dan Romi.


Dengan terpaksa Kavin keluar dari lift, dan pintu lift pun tertutup.


Mama Rossa menyentuh wajah Salma yang terlihat pucat. “Ari nanti bawa ke ruang kesehatan, setelah itu nanti antar Salma ke mansion, dan suruh Yuni mengurus dan menemaninya,” perintah Mama Rossa.


Apalagi yang terjadi dengan kalian berdua.....batin Mama Rossa.


“Baik Nyonya.”


Setelah pintu lobby terbuka di lantai dua, Ari dan Romi membopong Salma menuju ruang kesehatan, untuk dilakukan pemeriksaan oleh dokter. Mama Rossa juga turut ke ruang kesehatan untuk memastikan keadaan Salma.


“Romi, kamu ke ruang CCTV minta rekaman yang ada di dalam lift, sekarang juga,” titah Mama Rossa.


“Segera cek asisten saya!” perintah Nyonya Rossa.


Dokter jaga langsung mengecek keadaan Salma.


“Maaf Nyonya, apakah asistennya ini habis terjatuh atau terbentur?” hanya Dokter.


“Mungkin, karena saya tidak lihat kejadiannya,” jawab Mama Rossa.


“Tekanan darahnya normal, dan tidak ada luka. Tapi bisa saja terbentur sesuatu, hingga mengakibatkan tidak sadarkan diri,” ujar sang Dokter.


“Kalau begitu tolong lihat kondisinya, karena saya ada meeting,” pinta Mama Rossa.


Kelopak mata Salma mulai mengerjap-ngerjap, tanda gadis itu sudah sadarkan diri, sebelum Mama Rossa kembali ke ruangannya.


“Salma...,”


“Nyonya...,”


“Mbaknya apa yang di rasakan sekarang?” hanya sang Dokter.

__ADS_1


“Kepala saya berasa berputar tiba-tiba Dokter dan badan bagian belakang agak sakit,” keluh Salma.


“Baiklah kalau begitu istirahat sebentar, nanti saya kasih obatnya,” jawab sang Dokter.


Mama Rossa menyentuh lengan Salma. “Setelah ini kamu akan di antar Ari pulang ke mansion, istirahatlah,” pinta Mama Rossa.


“Tapi Nyonya—,”


“Jangan membantah, Ibu sudah pesan ke Ari minta Yuni agar menemani dan mengurusi kamu. Dan ingat tidak boleh pulang ke rumah,” perintah Mama Rossa, yang terkesan tak ingin di bantah.


Ibu sama anak, sama-sama tidak bisa di bantah....kesal batin Salma.


Gadis itu sudah malas menjawabnya lagi, hanya bisa memijat keningnya saja. Dan tanpa menunggu jawaban Salma, Mama Rossa meninggalkan begitu saja.


🌻🌻


Bukan Kavin namanya jika tidak kembali masuk ke dalam lift menuju lobby, pikiran pria itu tidak tenang. Ada rasa cemas, ada rasa kesal ketika melihat Ari dan Romi lah yang mengangkat tubuh Salma yang tak berdaya saat itu.


Sepertinya pria itu telat mengejar Ari pikirnya, namun ketika pria itu berbalik badan dan kembali menuju lift terlihat Ari dan salah satu perawat sedang memapah Salma, yang baru saja keluar dari lift. Langkah kaki pria itu langsung bergegas menghampirinya.


Ari yang melihat kedatangan Kavin langsung menegurnya.


“Tolong Tuan Kavin jangan mencari masalah lagi, Salma sedang sakit!” tegur Ari. Lalu tetap berjalan melewati Kavin.


“Salma....,” ucap Kavin, ingin sekali pria itu meraih lengan Salma atau mengangkat gadis itu menuju mobilnya, tapi melihat sorot mata kesakitan gadis itu, meleburkan niat pria itu.


Tidak ada jawaban dari Salma...


Aku akan membalas semuanya....batin Salma.


Diam bukan berarti dia lemah, tapi ada waktu nya dia membalaskan semuanya.


bersambung.....



 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2