
Rayyan Abizar, nama yang di perkenalkan Opa Bryamanto ke Mama Rossa dan Kavin, dan sengaja tidak menyebutkan nama Adiputra nya.
Opa Braymanto berusaha terlihat tenang di depan Mama Rossa dan Kavin, dengan segala dusta nya mengenai baby Rayyan. Namun alam semesta sudah tidak mau terlalu lama menyembunyikan baby Rayyan dari orang yang mempunyai hubungan darah dengannya.
Semakin lama ditimang Mama Rossa, baby Rayyan mulai agak tenang, sepertinya terbuai dalam gendongan Mama Rossa.
Sedangkan tatapan Kavin tidak lepas dari wajah tampan baby Rayyan, seperti ada magnet dalam dirinya menuju baby Rayyan.
“Mam, boleh aku coba mengendong nya?” pinta Kavin, dengan bernada pelan.
Mama Rossa mengernyitkan keningnya.“Memangnya kamu bisa gendong baby?” tanya Mama Rossa, agak tidak yakin...karena seumur hidup belum pernah melihat Kavin mengendong baby atau anak kecil.
“InsyaAllah bisa,” jawab sangat yakin Kavin, pria itu benar benar ingin mengendong baby Rayyan, hatinya sangat penasaran.
Sebelum di gendong Kavin, kedua tangan baby Rayyan sudah terulur ke Kavin, seakan di minta di ambil oleh pria itu. Dengan mengulas senyum hangatnya untuk pertama kalinya pria itu tergugah untuk mengendong seorang baby, dan itu baby Rayyan, bukan ingin lagi...tapi sangat ingin.
Dengan hati-hati pria itu mengendong baby Rayyan. “Halo baby Rayyan,” sapa Kavin dengan sang baby berparas tampan, pria yang biasanya bersikap arogan, tiba-tiba terlihat berbeda.
Baby Rayyan menerbitkan senyum di wajah berpipi tembem nya, dan memainkan bibirnya seakan ingin menjawab sapaan Kavin. Kedua netra Kavin mulai berbinar-binar, hatinya merasa hangat melihat baby Rayyan, apalagi baby Rayyan tidak menangis di gendongannya, justru baby Rayyan ingin berceloteh riang, dan menatap kegirangan di gendongan Kavin.
“Om Braymanto, baby dari keluarga besannya wajahnya bisa mirip dengan Kavin,” ujar Mama Rossa, bernada santai.
DEG!
Opa Braymanto yang awalnya sedang melihat Kavin langsung menoleh Mama Rossa. “Setiap orang punya tujuh kembaran di dunia ini, mungkin kebetulan saja baby Rayyan mirip sama Kavin,” jawab tenang Opa Braymanto.
“Iya juga sih Om...mungkin kebetulan saja,” balas Mama Rossa.
Opa Braymanto sengaja membiarkan Kavin berinteraksi dengan anaknya sendiri. Menurut pandangan Opa, hubungan antara ayah dan anak ada ikatan batin. Mungkin mereka berdua memang minta ingin bertemu secara langsung.
Masih mengendong baby Rayyan, Kavin menatap lekat-lekat wajah si baby.
Matamu mengapa mengingatkan aku dengan Salma, nak...mungkinkah?...batin Kavin.
Di benak pria itu mulai sedikit curiga dengan wajah baby Rayyan, yang begitu mirip dengan dirinya dan sekilas ada perpaduan wajah Salma.
__ADS_1
Pria itu mengecup pipi tembam baby Rayyan, tangan si mungil masih menggenggam jari telunjuk Kavin dan begitu erat. Perasaan pria itu seketika membuncah bahagia.
Begini kah rasanya jika memiliki seorang anak, bahagia menjadi seorang daddy.
Setelah puas mengendong baby Rayyan, pria itu memberikannya kembali ke baby sisternya.
Tapi yang terjadi baby Rayyan kembali menangis kencang ketika di gendong Emy, membuat yang berada di ruang tamu agak heran. Dan hal ini aneh buat Opa, karena Rayyan biasanya tidak rewel dengan baby sitter nya.
“Kavin sepertinya baby Rayyan masih mau di gendong sama kamu,” celetuk Mama Rossa. Kavin tidak tega mendengar tangisan baby Rayyan yang begitu memekak ditelinga, pria itu langsung kembali mengambil baby Rayyan dari Emy. Dan benar saja baby Rayyan langsung berhenti menangis, dan kepalanya mengusel ke dada Kavin, dada sang daddy-nya sendiri.
Opa Braymanto hanya bisa pasrah melihatnya, cicitnya sepertinya tahu siapa yang mengendong, hingga tak rela untuk jauh dari Kavin. Naluri seorang bayi, ikatan darah tak akan bisa di bohongi.
“Sepertinya kamu memang cocok jadi daddy, Kavin! Kenapa kamu tidak mencari istri kembali, istri baru?” tanya Opa Braymanto.
Sambil mengelus punggung baby Rayyan, Kavin tersenyum kecut. “Aku tidak akan menikah lagi Opa, cukup Salma istriku yang terakhir, walau telah tiada, tapi dia selalu ada di hatiku,” jawab Kavin, dari hati yang paling dalam, tidak berdusta.
Opa Braymanto hanya mengangguk pelan, seakan paham. Bagaimana Kavin mau menikah lagi dengan wanita lain, si gogon hanya bisa berdiri dengan Salma. Dan pria itu juga sudah pasrah menerima akhir takdirnya, jika sampai akhir hayatnya akan hidup sendiri, dan hanya berdua dengan Mama Rossa.
“Ya tampan sekali, mommy juga sangat cantik sekali,” jawab Opa Braymanto.
“Aku jadi ingin bertemu dengan orang tua baby Rayyan,” ujar Kavin, penasaran dengan orang tuanya, karena melihat wajah baby Rayyan sangat mirip dengannya.
DEG!
Opa Braymanto terkesiap.....
“Mungkin mereka pulangnya malam,” kembali lagi menjawab dengan tenang.
Mama Rossa mencoel pipi baby Rayyan, yang sudah tertidur pulas di dekapan Kavin. Pria itu terasa senang ada baby yang tertidur pulas di dekapannya, berasa seperti punya anak.
“Emy, bisa tunjukkan kamar baby Rayyan, saya akan pindahkan ke kamarnya,” pinta Kavin.
“Biar saya saja Tuan muda,” tolak Emy, sembari ingin mengambil baby Rayyan dari gendongan Kavin.
__ADS_1
“Emy biarkan Kavin yang mengantarkan ke kamar Rayyan, dari pada dia menangis lagi,” ujar Opa Braymanto.
“Baik Tuan Besar, silahkan ikuti saya Tuan muda...,” pinta Emy. Kavin mengikuti langkah kaki sang baby sitter.
🌻🌻
Dan sekarang tinggallah Mama Rossa dengan Opa Braymanto di ruang tamu, mereka sama-sama sedang menyesap teh hangat yang baru saja di tuang oleh salah satu maid, ketika Kavin meninggalkan ruang tamu.
Tatapan mama Rossa penuh kecurigaan dengan Opa Braymanto, dan Opa Braymanto sangat menyadari itu.
“Om Braymanto, tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari aku kan?” tanya Mama Rossa dengan lembutnya.
“Menyembunyikan apa?” balik bertanya.
“Entahlah aku hanya merasa ada sesuatu yang Om sembunyikan dariku!” tebak Mama Rossa.
“Om Braymanto adalah pemilik perusahaan Wall Mart, entah kenapa sebelum kejadian Salma telah tiada. Tiba-tiba ada perusahaan Wall Mart cabang Indonesia datang menawari Salma untuk jadi bintang iklan di Bali, Keanu....ya yang datang Keanu...wajahnya sangat mirip dengan Steve, apakah dia anak Steve kakak Chintya?” tanya Mama Rossa.
“Heumm.....,” Opa Braymanto berdeham, seakan tenggorokannya tercekat.
“Apakah Om sudah tahu jika Salma cucu Om? Tidak bisa di pungkiri jika Om banyak anak buah dan bisa menyebarnya ke penjuru dunia, dan tahu jika Salma sedang ada di Bali,” tutur Mama Rossa dengan gaya santainya.
Sudah beberapa bulan terakhir Mama Rossa merunut semua kejadian, dan mengingat kembali yang terjadi di Bali, kedatangannya ke Belanda sebenarnya ingin memecahkan teka teki dan keanehan yang mengganjal. Terutama kehadiran Keanu yang mewakilkan Perusahaan Wall Mart.
“Jika Salma memang telah tiada, aku sudah mengikhlaskannya. Tapi ketika aku melihat baby Rayyan, aku mulai tidak ikhlas. Sebagai seorang ibu, aku tidak termakan dengan ucapan OM yang hanya sekedar bilang mirip. Bagaimana kalau aku mengetes DNA baby Rayyan dengan putraku Kavin, untuk lebih memastikannya kembali,” imbuh Mama Rossa dengan mengulas senyum tipis.
Walau telah lama tidak bertemu dengan Opa Braymanto, Mama Rossa hapal dengan sikap licik dan kekuasaan Opa Braymanto.
“Rossa, sepertinya dirimu terlalu banyak berkhayal, jangan terlalu menuduh. Tunggulah kamu di sini sampai sore atau malam. Nanti kamu akan mengetahui siapa mommy nya Rayyan,” jawab tenang Opa Braymanto.
“Baiklah, aku akan menunggu dan ingin tahu siapa mommy nya baby Rayyan,” Mama Rossa menyunggingkan sudut bibirnya.
bersambung.......mungkinkah Opa Braymanto akan memperkenalkan mommy nya baby Rayhan??
__ADS_1