Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Ketika menantu kedua masak


__ADS_3

“Yuni...Yuni....cuma asisten aja kamu layani dengan baik...cih!” celetuk Delila tidak suka melihatnya.


 “Eh asisten...kamu selama tinggal di sini harus tahu diri ya, jangan suka memerintah kita di sini. Udah kamarnya di lantai dua, harusnya kamar kamu tuh sama dengan kita yang ada di belakang, bukan di sebelah kamar Tuan Kavin!!” cerosos Delila.


Ya Allah berikan aku kesabaran buat menghadapi kenyataan hidup ini....batin Salma.


“Jangan di dengarkan omongan Delila ya Non, orangnya agak judes dan jutek, tapi kerjanya gak becus,” balas ketus Yuni, yang memang tidak suka dengan Delila, Pelayannya Yasmin.


Gadis itu menyesap teh hangat yang telah di buatnya pelan-pelan, sembari memindai wanita yang sering berkata tidak mengenakkan ke dirinya. Belum kenal tapi sudah nyinyir.


Di rasa perutnya sudah cukup hangat dan terisi dengan roti manis, gadis itu beranjak dari duduknya lalu menghampiri Yuni dan salah satu chef sepertinya.


“Boleh saya bantuin masak?’ Salma menawarkan bantuan.


“Tidak usah Non, ini sudah pekerjaan kami. Non Salma tinggal duduk saja,’ jawab Yuni.


“Udah biarkan saja kalau dia mau bantu, ingat dia pembantu juga di mansion ini!” ketus Delila.


Yuni merasa tidak enak dengan ucapan Delila, wanita itu melirik ke arah Salma, lalu gadis itu mengulas senyum tipisnya.


“Gak pa-pa kok mbak Yuni, sini saya bantu masak sebentar sebelum berangkat kantor, saya juga sekalian mau bikin bekal makan siang,” pinta Salma.


“Ya sudah jika Non Salma memaksa, bahan-bahannya ada di lemari pendingin. Terserah Non Salma mau masak apa, ini sebagian sudah saya siapkan bahannya,” ujar Yuni.


“Makasih mbak Yuni,” dengan cekatan gadis itu melihat apa yang sudah di siapkan oleh Chef, lalu mengecek isi lemari kulkas yang terlihat penuh isinya.


Tangan mungilnya mulai mengolah bahan-bahan di bantu Yuni dan salah satu chef, sedangkan Delila hanya bersedekap, laganya sudah seperti mandor, tidak membantu sedikit pun, malah duduk manis sambil menyesap kopi hangat.


Selama satu jam gadis itu berkutat di dapur mansion, menu masakkan yang sudah di buatnya ada sop kimlo, udang saos asam manis, daging cah brokoli dan sapo tahu.


“Mbak Yuni simpan wadah makanan kah? Kalau ada saya mau pinjam?” tanya Salma.


“Ada Non, saya ambilkan dulu,” balas Yuni langsung menuju laci penyimpanan, dan mengambilkan box makanan.


“Ini non Salma,” menyodorkan box tersebut.


“Makasih mbak Yuni,” Salma langsung menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri.


“Ternyata Non Salam jago masak juga, ternyata enak masakannya,” puji Yuni yang sempat mencicipi masakan Salma.


“Ah biasa saja kok mbak Yuni,” Salma merendahkan dirinya.


“Salma jangan di puji Yuni, nanti bisa besar kepalanya,” sahut Delila.


“Eeh ini benar kok tanya mbak Kiki dari pada kamu gak bisa masak. Hanya bisa main perintah aja mentang mentang kamu bawaan Nyonya Yasmin, mau kerja yang enak aja,” jawab ketus Yuni, dengan menarik sudut bibirnya ketika membalas tatapan menjijikkan Delila.


“Memang iya kok, masakannya enak,” sahut Kiki salah satu chef di mansion.


“Ck...kalian berdua benar-benar menyebalkan!!” gerutu Delila, lalu pergi begitu saja keluar dari dapur.

__ADS_1


“Heran orang gak bisa kerja, kok bisa di terima. Hanya karena dekat dengan Nyonya Yasmin, kenapa gak kerja di perusahaannya aja, bikin ribet aja di mansion ini,” imbuh Yuni kesal, sambil merapikan perkakas.


Salma sudah rapi mengemaskan bekal makan siangnya, dan sudah mengisi perutnya sedikit. “Mbak Yuni, mbak Kiki terima kasih ya, saya tinggal dulu,” pamit Salma.


“O-oh iya Non Salma, terima kasih sudah bantuin masak,” balas Yuni.


Gadis itu kembali mengulas senyum tipisnya, lalu kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.


“Gadis itu cantik sekali ya Yuni, udah begitu ramah orangnya dan ternyata jago masak,” puji Kiki.


“Iya sempurna banget jadi wanita, Nyonya Yasmin justru kalah, boro-boro pernah masak atau datang ke dapur,” tukas Yuni.


“Namanya juga Nyonya, orang kaya. Nanti kalau ke dapur tangannya bisa kasar dan lecet, Yuni. Beda sama tangan kita, memang cari uangnya pakai kedua tangan kita, ya masaklah, ya berbenah lah,” balas Kiki.


“Iya..ya..memang beda,” Yuni terkekeh.


🌻🌻


Jam 8.00 wib.


Ruang makan


Wajah Kavin terlihat lesu pagi ini, berbeda dengan Yasmin yang terlihat segar dan ceria.


“Pagi, Mam,” sapa Yasmin ketika wanita itu masuk ke ruang makan bersama Kavin.


“Pagi, Yasmin, Kavin,” balas sapa Mama Rossa.


“Tumben kamu kelihatan lesu, kayak gak bersemangat?” tanya Mama Rossa.


Bagaimana tidak lesu, semalaman pria itu tidak bisa tidur, selain memikirkan benda pusakanya, pria itu juga bermimpi buruk, mimpi kecelakaan empat tahun lalu yang tiba-tiba saja muncul.


“Katanya kepalanya agak pusing, Mam. Mungkin akibat luka di kening Kak Kavin,” jawab Yasmin.


“Oh...ya sudah sekarang makan dulu. Lalu minum obat sakit kepalanya," kata Mama Rossa, sambil menyendok beberapa lauk ke piringnya.


“Ya...mam,” jawab singkat Kavin, dengan malasnya menyendok beberapa lauk ke piringnya juga. Sebenarnya tidak ada nafsu makan pagi ini, tapi setelah melihat sajian yang ada di meja sepertinya menggugah selera pria itu.


“Mam, asisten mama gak turun ke bawah, ikut sarapan bersama?” tanya Yasmin.


“Aduh mama kok sampai lupa. Pak Ridwan tolong ingatkan Salma untuk sarapan,” pinta Mama Rossa.


“Maaf Nyonya Rossa, tadi jam 7 pagi. Non Salma sudah berangkat dengan motornya,” lapor Ridwan.


“Loh kok sudah berangkat, harusnya barengan dengan saya ke kantornya,” ujar Mama Rossa.


Apa karena kejadian semalam, Salma jadi menghindar.....batin Mama Rossa.


Kavin acuh dengan tidak kehadiran gadis itu. Pria itu mulai menyantap makanannya, sesendok, lalu sesendok lagi, lagi...dan lagi.

__ADS_1


Enak....


“Mam, chefnya di ganti yang baru ya?” tanya Kavin.


“Enggak mama gak mengganti chef-nya, masih sama,” Mama Rossa mulai makan.


Tumben rasanya berbeda, lebih enak....batin Mama Rossa.


Wanita tua itu kembali mengambil lauk, dan mencicipinya lagi.


Iya ini kok enak banget...


“Memangnya ada apa dengan makanannya, Kavin?” tanya Mama Rossa.


“Ini enak Mam, masakannya beda dari yang biasanya,” balas Kavin, pria itu minta di tuangkan sop kimlo ke dalam mangkok oleh Pak Ridwan.


“Yuni, Kiki sudah banyak kemajuan ini masaknya, di pertahankan ya,” ujar Mama Rossa.


Yuni dan Kiki main lirik-lirikan.


“Maaf Nyonya Rossa, pagi ini yang masak Non Salma,” jawab jujur Yuni.


“Uhuk...uhuk....uhuk,” Kavin langsung ke selak makanan nya sendiri. Sedangkan Mama Rossa terdiam ketika ingin kembali menyendokkan makanan ke mulutnya.


Menantu keduaku bisa masak, makanan seenak ini...batin Mama Rossa.


Wanita tua itu langsung melirik menantu pertama yang hampir empat tahun  belum pernah masak untuk dirinya dan Kavin.


“Lumayan enak mam, masakan Salma, berarti bolehlah mam asisten mama tambah tugas ke dapur,” ujar Yasmin dengan santainya.


Mendengar perkataan Yasmin barusan, entah kenapa Mama Rossa sedikit tersinggung.


“Kalau kamu kapan Yasmin, masakin buat mama sama suami kamu, sesekali,” sindir Mama Rossa.


“Kak Kavin melarangku untuk ke dapur mam, Kak Kavin takut nanti wajah atau tanganku kena cipratan minyak goreng, ya kan sayang,” tukas Yasmin, sambil menoleh ke arah suaminya.


Kavin hanya diam, tidak menjawab.


 bersambung.....


Halo Kakak Readers jangan lupa tinggalin jejaknya ya. Yang masih punya vote mau dong di lempar ke Salma dan Kavin 🙂. Makasih sebelumnya.


Yasmin, istri pertama Kavin tercinta



Kavin, pria arogan


__ADS_1


Salma, istri kedua Kavin yang belum di ketahuinya*.



__ADS_2