
Kamar Baby Rayyan
Kavin mengikuti langkah kaki Emy menuju lantai dua, pria itu kemudian masuk ke ruangan yang bernuansa biru dan putih. Kavin melihat kamar itu yang memang di dekor untuk kamar baby, ada box baby dan semua perabotan serta keperluan baby.
Kata Opa, baby Rayyan hanya tamu yang berkunjung dari Indonesia, kenapa ada kamar baby. Dan ini jelas ada foto yang terpajang di kamar baby ini. Sangat mencurigakan, ada sesuatu kah?
Kalau memang hanya tamu, bisa menginap di kamar tamu, tidak perlu di siapkan kamar baby.
“Baby Rayyan bisa di taruh di box nya saja, Tuan muda,” pinta Emi, yang melihat Kavin masih mengendong baby Rayyan.
“Mmm....saya masih mau mengendong nya, boleh saya minta tolong sesuatu?” pinta Kavin.
“Apa yang bisa saya bantu Tuan?” tanya Emi.
“Tenggorokan saya agak kering, tadi belum sempat minum. Bisa ambilkan saya minum?” pinta Kavin.
“Ooh...bisa Tuan, akan saya ambilkan sebentar,” jawab Emy, bergegas ke dapur yang ada di lantai bawah.
“Terima kasih,” balas Kavin, sebelum Emi meninggalkan kamar baby Rayyan.
Kavin kembali menatap wajah baby Rayyan, lalu mengecup kedua pipi baby Rayyan. “Aku ingin tahu kamu anak siapa, nak,” gumam Kavin bermonolog.
Penuh kehati-hatian, pria itu merebahkan baby Rayyan di dalam boxnya. Kemudian pria itu menelisik ke semua sudut ruangan, dan mengambil selembar tisu.
“Maaf ya nak, aku hanya ingin memastikan sesuatu karena wajahmu mirip aku dan istriku Salma,” gumam Kavin sendiri. Pria itu mencabut beberapa helai rambut baby Rayyan, dan menaruhnya di atas tisu kemudian di bungkusnya dan di masukkan ke dalam saku jasnya. Selanjutnya Kavin penasaran dengan pintu penghubung, di bukanya pintu kamar penghubung, berharap ada jawaban buat pria itu.
Kamar yang terlihat rapi dan cukup mewah, elegan. Kavin menapaki kamar tersebut tanpa beban berharap dia menemukan sesuatu. Kedua netra Kavin memindai seluruh sudut ruangan, tidak ada foto sang pemilik yang terpajang di kamar tersebut, yang ada hanya foto baby Rayyan, kemudian Kavin menelurusi ruang walk in closet, membuka semua lemari dan rak....yang di temuinya hanya pakaian wanita tidak ada pakaian pria.
Kenapa hanya ada pakaian wanita? Tidak ada pakaian laki-laki...
Kini pria itu sudah berdiri di depan meja rias, dan melirik parfum yang ada di meja rias. Tangan pria itu langsung meraih botol parfum tersebut, dan membuka tutupnya.
DEG
“Sepertinya pernah mencium wangi ini! Tapi di mana?” gumam Kavin sendiri, sambil mengingat-ingat.
Untuk lebih memastikan aroma parfum tersebut, Kavin menyemprotkan parfumnya ke udara...dan wanginya lebih menyeruak.
DEG!
Salah satu tangan pria itu langsung bertumpu di atas meja rias, baru teringat pernah mencium wangi tersebut.
__ADS_1
“Salma!”
“I-ini wa-wangi Salma...,” duga Kavin, tubuh pria itu tiba-tiba gemetar, ingatannya langsung teringat waktu malam indahnya dengan Salma, di saat pria itu mencumbui raga istrinya sendiri, wangi yang menguar dari tubuh istrinya sangat melekat di indra penciumannya kala itu.
“Ti-tidak...tidak mungkin, ini hanya kebetulan saja,” Kavin berusaha menyanggahnya, walau hatinya langsung menuju ke Salma. Bolehkah saat ini dia berpikir jika Salma masih hidup.
Kavin menggeleng kan kepalanya, meragukan jika Salma masih hidup. Semua orang bisa membeli parfum yang sama seperti yang Salma pakai, pria itu langsung berpikir seperti itu. Pria itu kembali meletakkan botol parfum ke atas meja rias, dan segera keluar dari walk in closet.
Kemudian pria itu kembali bergegas ke kamar baby Rayyan sebelum Emy kembali. Kavin kembali menatap wajah baby Rayyan yang masih tertidur pulas.
“Permisa Tuan, ini minumnya,” ujar Emi yang baru saja kembali membawakan secangkir teh hangat. Kavin langsung menoleh, dan mengambil cangkir tersebut.
“Terima kasih, Emy,” balas Kavin, lalu menyesap teh hangatnya.
“Emy, kalau boleh tahu Rayyan usianya berapa bulan?”
“Rayyan baru menginjak usia enam bulan sepuluh hari, Tuan,” jawab Emy jujur.
Kavin sekilas menatap wajah Emy yang nampaknya bisa di korek informasinya. “Emy sudah berapa lama mengasuh Rayyan?”
“Saya mengasuh Rayyan semenjak Nona muda melahirkan, Tuan,” masih menjawab jujur.
“Oh...saya lupa nama lengkapnya Rayyan apa ya?”
JEDER! Bagaikan petir di siang bolong, mendengar nama Adiputra nama keluarganya, tangan Kavin yang masih memegang cangkir teh agak bergetar.
“A-Adiputra!” tergagap Kavin berucap.
“Tuan muda tidak apa-apa?” tanya Emi yang seketika melihat wajah Kavin pucat pasi.
Adiputra.....benarkah Adiputra...
“Emi, kamu tidak salahkan menyebutkan nama Rayyan Abizar Adiputra?” agak keluh lidah Kavin menyebutnya.
Emy menganggukkan kepalanya, “benar Tuan, nama lengkapnya Rayyan Abizar Adiputra, kata nona muda ada nama daddy-nya Rayyan, kalau tidak salah Adiputra,” sungguh polos sekali Emy.
Kavin langsung menoleh ke box bayi, dan menatap baby Rayyan, lalu mengangkat dan mengendongnya.
Adiputra? Mungkinkah kamu anakku sayang, istriku Salma masih hidup kah?...batin Kavin penuh tanda tanya.
Kavin mengecup kening baby Rayyan dengan lembutnya dan lama, bagaikan seorang ayah mengecup anaknya.
__ADS_1
Aku harus mencari tahu semuanya ini, aku harus tahu siapa Rayyan ini, baby yang mirip denganku.
Pria itu kembali merebahkan baby Reyhan di boxnya, kemudian pamitan ke Emy untuk kembali ke lantai bawah.
🌻🌻
Ruang Tamu
Kavin kembali bergabung dengan Mama Rossa dan Opa Braymanto, suasana terkesan berbeda sebelum dia pergi ke kamar baby Rayyan.
“Nak, kita akan makan malam di sini. Sekalian kita akan berkenalan dengan orang tuanya Rayyan,” ucap Mama Rossa.
“Kebetulan sekali mam, aku juga ingin bertemu dengan orang tua Rayyan,” sahut Kavin, sembari menatap Opa Braymanto penuh rasa curiga.
“Baiklah Rossa, kalian bisa bersantai dulu, Om mau ke ruang kerja dulu,” pamit Opa Braymanto, namun...
“Assallammualaikum, Opa,” suara wanita terdengar jelas masuk ke ruang tamu.
“Waalaikumsalam,” jawab serempak mereka bertiga.
Mama Rossa dan Kavin langsung menatap wanita muda yang memiliki wajah ayu tidak ada bulenya dan warna kulit sedikit gelap.
“Oh maaf sedang ada tamu ya,” ujar wanita yang baru datang.
“Kamu sudah balik Retno, anakmu dari tadi menangis,” ucap Opa Braymanto.
“Pantasan dari tadi hati saya tidak tenang, Opa,” jawab Retno.
Mama Rossa dan Kavin tiba-tiba menegang.
“Oh iya Rossa kenalkan ini Retno mommy nya Rayyan,” Opa Braymanto memperkenalkannya. Retno mengulurkan tangannya ke Mama Rossa dan Kavin, sembari mengulas senyum manisnya.
Mama Rossa memaksa untuk membalas senyuman Retno, begitu juga Kavin. Hati mereka berdua tidak percaya jika Retno mommy nya Rayyan, jelas jauh berbeda. Mama Rossa sudah bisa memastikan jika Opa Braymanto sedang mengelabui dirinya, sungguh licik.
“Baby-nya sangat tampan dan rupawan persis dengan wajah putra saya, mungkinkah kamu dengan anak saya punya hubungan serius, sampai memiliki anak?” tanya Mama Rossa, sedikit menyindir.
Retno terlihat gelagapan, lalu kemudian menatap pria tampan itu.
Jadi inikah daddy-nya Rayyan, wajah persis banget... batin Retno.
bersambung.......
__ADS_1
Kakak Readers yang ganteng dan cantik jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, vote, di kasih poin juga boleh.