Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Amarah Mama Rossa


__ADS_3

Jam 23.00 wita


Mama Rossa raut wajahnya luar biasa emosi setelah dapat laporan dari karyawan resortnya, jika anaknya berkelahi di restoran, dan membawa seorang wanita dengan ciri-ciri yang sama dengan Salma.


Pantas saja perasaan Mama Rossa tidak enak, dan resah ketika menunggu Salma yang belum juga kembali ke villa.


“Tuan Kavin ada di kamar ini Nyonya,” tunjuk karyawan tersebut.


Ari yang ikut menemani Mama Rossa meraup wajah kasarnya, pikirannya sudah kemana-mana. Apalagi di depan pintu kamar tersebut ada yang menjaga.


“Kalian berdua kenapa berdiri di depan pintu, menyingkirlah!” perintah Mama Rossa.


“Maaf Nyonya, kami di suruh menjaga dan melarang siapapun untuk mengganggunya,” jawab Tomi.


Mama Rossa berdecak kesal,”ck...patuh sekali kalian dengan Kavin. Kalau begitu malam ini kalian berdua di pecat jika menghalangi saya untuk masuk!” ancam Mama Rossa.


Ari turut maju ke depan, “menyingkirlah Tomi dari sini, sebelum saya menghajarmu tanpa ampun!” ikutan mengancam sang asisten, Ari mulai menunjukkan kedua tangannya yang mulai terkepal.


Kedua bahu Tomi bergedik dengan ancaman Ari, karena Tomi sangat tahu sekali jika sang asisten Kavin jago karate dan setiap pukulannya sangat mematikan. Sungguh ini posisi yang sangat tidak mengenakkan buat Tomi. Dari pada berakhir di rumah sakit selama sebulan, lebih baik dia menyingkir dari depan pintu kamar, sambil mencolek salah satu teman nya agar turut menyingkir.


Karyawan yang mengantar Mama Rossa langsung menempelkan kartu access kamar.


Klek!....pintu kamar terbuka.


Mama Rossa duluan masuk ke dalam kamar.


“KAVIN!” pekik Mama Rossa, kedua netra wanita tua itu langsung melotot melihat putranya berada diatas tubuh Salma, dan sedang mencium bibir gadis itu.


Salma memang istrimu, tapi bukan begini cara mengaulinya....geram batin Mama Rossa.


GLEK!!


Ari yang berada di posisi belakang Mama Rossa, tenggorokannya tersendat, salivanya susah meluncur ke bawah. Sungguh pemandangan yang membuat dirinya gerah sendiri.


“Mama.....,” Kavin sangat terkejut dengan kehadiran Mama Rossa, apa lagi dalam kondisi dirinya hanya menggunakan boxernya, sedangkan Salma masih utuh menggunakan dress tapi bagian bawah nya sudah tersingkap sampai pangkal paha.


Mama Rossa melangkahkan kakinya dengan cepat. “Kurang ajar kamu ya, Kavin!” teriak Mama Rossa sambil menarik rambut anaknya sekuat mungkin.


“Kamu sudah gila, mau di apakan Salma!!” kembali berteriak Mama Rossa bagaikan orang gila, dan masih menjambak  rambut anaknya, wanita tua itu sangat tidak terima dengan tindakan anaknya sendiri.

__ADS_1


Ari pun juga turut kesal, walau sebenarnya Kavin berhak atas diri Salma, tapi setelah melihat keadaan Salma yang sudah memejamkan matanya berarti gadis itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, amatlah geram hati Ari.


“Salma, bangun!” pinta Mama Rossa, masih menarik lengan anaknya agar menjauh dari ranjang.


Kavin sudah tidak bisa berkutik lagi, membela dirinya saja sedang tak sanggup.


“Nyonya, sepertinya Salma pingsan,” ujar Ari.


“Dasar anak kurang ajar!” geram Mama Rossa, salah satu kaki wanita tua itu menendang si gogon sekuat mungkin.


“Auuw....,”ringis kesakitan Kavin, ketika si gogon masih berdiri sempurna di balik boxernya, di tendang telak oleh mama nya sendiri.


Mama Rossa langsung ke ranjang melihat kondisi Salma, lalu menepuk wajah gadis itu namun tidak ada reaksi apa pun dan menyelimutinya. Kemudian menghampirinya Kavin kembali


PLAK!


PLAK!


“Mama sungguh kecewa denganmu Kavin! Untuk kedua kalinya kamu telah melecehkan Salma, memangnya burung kamu bisa berdiri untuk memperkoas Salma, huh!!” maki Mama Rossa, setelah melayangkan tangannya ke wajah pipi Kavin.


“Ari, angkat Salma...bawa kembali ke villa!”


“Mam, Kavin akan bertanggung jawab dengan Salma. Kavin akan menikahi Salma,” memohon Kavin.


Salma berhak bahagia dengan pilihan nya sendiri....batin Mama Rossa.


“Ayo Ari bawa Salma kembali ke villa,” perintah Mama Rossa.


Tubuh Salma yang sudah di selimuti, langsung di angkat oleh Ari seorang diri.


Kavin sudah tak berdaya lagi, apa lagi si gogon sedang kesakitan, tapi lebih sakit hatinya ketika melihat Ari dengan leluasa membopong gadis yang habis di cumbuinya.


Brengsek kamu, Ari!...umpat batin Kavin.


Sungguh anda tak punya hati Tuan Kavin, berani melecehkan ketika gadis ini tak berdaya...kesal batin Ari.


Kavin dan Ari saling bersitatap, tatapan mereka berdua sangatlah tajam dan tak mau mengalah, bagaikan tatapan musuh, padahal mereka bukanlah musuh!


“ARRGH!!” teriak frustasi Kavin setelah Salma di bawa pergi oleh Ari, pria itu mengacak-ngacak rambutnya dan sesekali menariknya.

__ADS_1


“SALMA!!”


🌻🌻


“Bawa ke kamarnya,” pinta Mama Rossa kepada Ari. Dan Ari mengangguk patuh, merebahkan gadis itu ke ranjangnya lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya.


“Mbak tolong bawakan baskom isi air hangat dan handuk kecil,” pinta Mama Rossa kepada salah satu pelayannya.


Mama Rossa segera mencari baju ganti milik Salma dari lemari. Setelah itu wanita tua itu di bantu oleh sang pelayan menyeka tubuh Salma.


“Maafkan mama, nak,” air mata berjatuhan ketika melihat bagian leher dan bagian atas dada Salma penuh warna kemerah-merahan alias jejak cumbu milik Kavin. Dengan lembutnya Mama Rossa menyeka tubuh gadis itu, lalu mengolesi minyak angin dan memakaikan bajunya.


Pikiran Mama Rossa berkecamuk melihat keadaan Salma, dan berharap ketika gadis itu bangun tidak membenci dirinya sebagai mamanya Kavin. Malam pun mulai semakin larut, Mama Rossa malam ini tidur di kamar Salma, menjaganya agar Kavin tidak menyelinap ke kamar gadis itu. Sedangkan Kavin uring-uringan di kamar resortnya, dan mengabaikan dering handphonenya, siapa lagi kalau bukan Yasmin yang meneleponnya, mencari keberadaan suaminya.


🌻🌻


Esok hari...


Jam 05.30 wita


Salma mulai menggeliat di balik selimutnya, kedua bola matanya terlihat mulai bergerak-gerak dari balik kelopak matanya. Namun seketika dia teringat sesuatu, yang sedang terjadi pada dirinya. Gadis itu memaksakan kedua netranya terbuka, dan membulatkan kedua matanya.


“Mama...,” gumam Salma pelan, melihat ada sosok Mama Rossa di sisi ranjang nya, masih tertidur pulas. Kemudian gadis itu memindai ke sudut ruangan, dan langsung mengenali tempat nya sekarang berada.


“Huft....,” helaan napas leganya terdengar jelas. Jika dirinya tidak berada di kamar resort bersama Kavin tapi berada di kamarnya dan bersama mama Rossa. Tapi agak heran kenapa dia bisa ada di kamarnya.


“Kamu sudah bangun, nak?” Mama Rossa merasa ada pergerakan, membuat dirinya terbangun.


“Mmm....baru aja melek, Mam,” jawab gadis itu sambil memiringkan posisi tubuhnya.


“Badanmu ada yang terasa sakit gak?”


Sesaat gadis itu memegang seluruh bagian tubuhnya, kemudian tengkuknya, terasa sedikit sakit seperti habis di pukul. Ya memang habis di pukul sama Kavin.


“Tengkuk aku agak sakit, mam,” jawab Salma, sembari mengusap tengkuknya.


“Nanti mama obati, maafin mama ya nak tidak menjaga dirimu nak, ” ujar Mama Rossa penuh rasa sesal, kedua matanya mulai berembun.


bersambung......

__ADS_1



 


__ADS_2