
Sepuluh bulan kemudian....
Perusahaan Indo Prakarsa
Waktu, hari, dan bulan semakin bertambah, dan semuanya terasa berat untuk di jalani bagi sang CEO Perusahaan Indo Prakarsa, setelah kehilangan Salma, nyawa pria itu seperti tidak ada di dirinya.
Mama Rossa dan Ari selalu memberikan semangat untuk kembali bangkit dari rasa penyesalan nya. Pria itu harus kembali menjalani kehidupannya karena masih mempunyai tanggung jawab besar di pundaknya sebagai seorang pemilik perusahaan retail. Jika dia semakin terpuruk maka perusahaan miliknya akan mudah tergoyangkan oleh para pesaing bisnisnya.
Bukan berarti Mama Rossa tidak bersedih, wanita tua itu tetap merasakan kehilangan, tapi tetap harus menjalani hidup, dan menerima ketentuan takdir.
Perceraian dengan Yasmin bukan hal yang menyedihkan buat Kavin, padahal mereka sudah berumah tangga selama empat tahun, tapi kehilangan Salma lah yang menjadi beban yang paling berat buat dirinya.
Pria itu kini sedang berdiri di ruang kerjanya, menatap bingkai foto yang terpajang begitu besarnya di ruangannya. Foto wanita yang pernah di bencinya sekaligus wanita yang sangat di cintainya, Salma Hadeeqa.
Pria itu menghembuskan napas panjangnya, menatap penuh damba, merasakan kembali debaran jantungnya, teringat akan malam indah bersama Salma.
“Istriku andaikan kamu masih hidup, Mungkinkah kamu telah melahirkan anak kita?” gumam Kavin, bertanya pada foto yang tak bernyawa.
“Sepertinya aku terlalu banyak berkhayal, sayang,” dirinya tiba-tiba tersenyum pilu. Harapan yang tidak pernah terwujud di hati pria itu.
Pria itu masih berdiri dan mematung, semenjak kembali ke Jakarta beberapa bulan yang lalu, Kavin lebih banyak diam mematung, menatap bingkai foto Salma baik itu di kantornya maupun di mansionnya.
TOK....TOK...TOK
Ceklek!
“Permisi Tuan Kavin, waktunya Tuan meeting,” ujar Ari, mengingatkan jadwal.
Pria itu menoleh dan hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Sampai kapan Tuan Kavin akan bersedih terus....batin Ari kasihan melihat Tuannya yang setiap hari tidak ada semangat menjalankan rutinitasnya.
Ari hanya bisa mengasihi Tuannya, yang semakin terlihat tidak terawat, baik dari penampilannya, sampai ke tubuhnya yang terlihat kurus.
🌻🌻
Siapa yang di tidak tahu dengan negara yang terkenal dengan kincir angin, serta bunga tulip yang begitu cantik. Ya negara Belanda, lebih tepatnya di Netherland.
__ADS_1
Tampak bangunan yang sangat megah indentik dengan bangunan kolosal ciri khas mansion di sana, di tambah lagi pekarangan yang begitu luas.
Beberapa pelayan yang menggunakan seragam berwarna hitam, terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Ada wanita paruh baya sibuk menyiapkan kebutuhan sekolah kedua anaknya yang sudah beranjak dewasa, yang akan berangkat ke sekolah.
Sedangkan wanita yang terlihat muda sepertinya lagi kerepotan membawa barang-barang yang baru saja tiba di mansion.
“Oek.....oek....oek..,” suara tangisan bayi begitu kencang terdengar dari salah satu kamar yang berada di mansion yang begitu megah.
“Bu cepetan ke kamar baby Rayyan! Aku masih repot sama barang-barang ini!” pinta Retno, sembari membawa barangnya.
“Iya nak sebentar, ibu masukkan bekal adikmu dulu ke dalam tas,” balas Bibi Tia, buru-buru merapikan bekal. Dan langsung ke lantai dua.
Bayi laki-laki yang begitu tampan baru saja hadir di dunia, dua minggu yang lalu dari rahim wanita cantik, Salma Hadeeqa.
Keanu membawa Salma ke Belanda, tempat tinggal Opa Braymanto. Kemudian hari esoknya Paman Didit , Bibi Tia dan ketiga anaknya di minta menyusul ke Belanda, karena hanya keluarga Paman Didit saja yang dekat dengan Salma, adik ayahnya.
Mereka sekeluarga berjuang keras mengatasi kondisi mental Salma yang sangat terguncang kala itu, dan tak lupa Opa Braymanto minta pendampingan dokter dalam penanganan kasus Salma.
Terguncang bukan karena berhubungan intim dengan Kavin, tapi terguncang hebat karena pelecehan dari Dimas serta Yasmin dan Merry. Sedangkan serpihan ingatan akan malamnya dengan Kavin, dia sangat mengingatnya....dan dia tidak bisa menyesalinya, karena semua terjadi karena keadaan.
Setelah semuanya terjadi, dari waktu ke waktu keadaan Salma mulai membaik, lalu mulai mengenal Opa Braymanto sebagai kakek dari ibunya. Perjalanan kisah hidup Chintya pun di ceritakan oleh Opa Braymanto serta Paman Didit sebagai salah satu saksi dari kisah kakaknya sendiri.
Malam indah buat Kavin, ternyata meninggalkan benih di rahim wanita itu. Dengan penuh keikhlasan Salma menerima takdir mengandung benih dari suami sahnya sendiri. Anak ini tidak berdosa, tidak bersalah...kata Salma di saat dirinya melihat garis dua di testpacknya.
Opa Braymanto juga sudah menjelaskan jika suaminya Kavin ternyata masih kerabatnya. Wanita itu hanya mengulas senyum tipisnya, sudah tidak memikirkan Kavin. Lebih baik Kavin mengetahui dirinya telah tiada.
Rayyan Abizar Adiputra nama baby tampan itu, berhubung mommy dan daddynya ada garis keturunan orang Belanda, baby Rayyan wajahnya bule belanda. Walau Salma masih membenci Kavin, dia tetap menyematkan nama keluarga Kavin atas permintaan Opa Braymanto. Benci dengan daddynya tapi tidak dengan baby-nya, wanita itu sangat mencintai baby Rayyan dari awal dia mengandung hingga sang buah hati hadir ke dunia.
“Oek.....oek....oek,” tangisan baby Rayyan masih menggema di kamar yang sangat nyaman buat si baby.
“Ulu..ulu..cah ganteng....ini nenek datang,” ujar Bibi Tia, masuk ke kamar dan langsung mengangkat baby Rayyan dari boxnya.
__ADS_1
Bibi Tia sangat bahagia semenjak tinggal di Belanda, orang kampung bisa ke Belanda...siapa yang tak menyangka, dan itupun sekeluarga berangkat ke Belanda. Bibi Tia terharu dengan kebaikan Opa Braymanto, yang telah mengangkat derajat mereka. Suaminya sekarang bekerja di perusahaan Opa Braymanto, sedangkan kedua anaknya yang mulai beranjak dewasa di sekolahkan di Belanda. Sedangkan Retno bekerja menjadi asisten pribadi Salma. Sedangkan Bibi Tia membantu urusan di mansion.
Untuk usaha toko sembako di kampung, dititipkan ke saudara Bibi Tia. Andaikan dulu Bibi Tia tidak cepat sadar diri dengan keserakahannya, mungkin hidupnya tidak akan semakin membaik.
“Cah ganteng....haus ya...mau mimi susu ya,” ujar Bibi Tia sambil memandang gemas baby Rayyan, yang mulai ngusel-ngusel di gendongan bibi Tia.
Bibi Tia langsung membuka pintu penghubung ke kamar Salma.
“Mommy Salma, baby Rayyan...haus nih,” ujar Bibi Tia.
Salma baru saja keluar dari kamar mandi. “Sebentar Bik, aku pakai baju dulu,” sahut Salma, sembari ke ruangan walk closet.
“Cepat mommy.....dede haus nih,” Bibi Tia meniru suara anak kecil.
Setelah selesai berpakaian, Salma langsung mengambil baby Rayyan dari gendongan Bibi Tia.
“Duh anak mommy haus ya,” ujar Salma sembari mencolek hidung mancung baby Rayyan, lalu membuka kancing kemeja nya, mengeluarkan sumber asi untuk si baby tampan. Dan baby Rayyan langsung lahap menyedotnya.
Jika di Indonesia, Kavin dan Mama Rossa beranggapan Salma telah tiada dan masih di selimuti kesedihan. Berbanding terbalik dengan keadaan di Belanda, keluarga besar Opa Braymanto dan Paman Didit sedang berbahagia, dengan Salma yang sudah kembali beraktivitas, di tambah kehadiran Baby Rayyan...baby yang sangat tampan.
*bersambung........
Lega sudah tahu kondisi Salma.....😁
Kakak Readers yang cantik dan ganteng, jangan lupa tinggal kan jejaknya ya, like, komen, vote, dikasih hadiah juga terima kok 🥰🥰*
__ADS_1