Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Masih di kamar


__ADS_3

Pria arogan itu mulai mengikis jarak antara mereka berdua. “Kamu harus saya hukum setelah berani-berani melempar sepatu ke kepala saya!!” ucap Kavin dengan lantangnya.


Semakin maju langkah Kavin, semakin mundurlah langkah kaki Salma, namun berusaha tidak menunjukkan rasa takutnya.


“Apa yang ingin Tuan lakukan?” tanya Salma.


“Melakukan yang seperti pria lakukan dengan dirimu, ya mungkin melepaskan pakaianmu dan menyentuh semuanya,” ujar Kavin menyeringai dengan tatapan nakalnya.


Kedua netra Salma semakin terbelalak, hatinya mulai was-was, apalagi jarak mereka berdua mulai dekat.


“Kenapa kamu takut, bukannya sudah terbiasa.....huh!” pria itu masih tersinggung dengan ucapan Salma, yang mengatai dirinya sudah terlalu tua, walau kenyataannya benar adanya.


“Jangan coba-coba Tuan melakukan hal yang buruk, saya sangat menghormati Nyonya Rossa dan Nyonya Yasmin,” Gadis itu mengulur kedua tangannya agar Kavin tidak semakin mendekat.


Ini tidak bisa di biarkan....batin Salma.


“Alasan aja kamu, sebelum kamu menggoda pria lain. Maka tunjukkan pesonamu padaku!” tukas Kavin. Dari apa yang dilakukan oleh pria itu sebenarnya hanya untuk menakuti gadis itu semata, karena pria itu sudah memastikan jika dirinya tidak bisa berhasrat dengan gadis yang ada di hadapannya....percuma.


PLAK!!


PLAK!!


Tangan Salma meluncur di kedua pipi pria itu.


“Dasar brengsek!!” umpat Salma.


Tangan pria itu sesaat memegang pipinya, lalu menoleh dengan tatapan tajamnya.


“Dasar wanita murahan!!” geram Kavin.


Kavin langsung mengangkat tubuh Salma dan melemparnya dengan kasar ke atas ranjang.


BUG


“AAAKHH......” teriak Salma, ketika raganya terlempar.


“BRENGSEK!!!” teriak kembali Salma, dengan kedua kakinya gadis itu menendang selang-kangan Kavin yang baru saja mau mengungkungnya.


BUG


“AAKKH....,” Kavin terjatuh tersungkur di atas lantai, kedua tangannya langsung memegang benda keramatnya. Kedua telornya berasa berdenyut, sangat menyakitkan.


Gadis itu langsung beranjak dari atas ranjang, lalu berlari menuju pintu.


“TOLONG SIAPA PUN YANG ADA DI LUAR, BUKAKAN PINTUNYA!!” teriak Salma sambil menggedor pintu kamarnya.

__ADS_1


“Sialan,” umpat Kavin yang masih meringkuk kesakitan.


“Oh...iya telepon pelayan,” gumam Salma sendiri, lalu langsung menelepon lewat interkom, yang ada di atas nakas.


“Pak, tolong bukakan pintu kamar saya pakai kunci cadangan,” pinta Salma melalui line telepone nya.


“Baik di tunggu sebentar, Non Salma,” jawab Pak Ridwan si kepala pelayan.


Salma menutup teleponnya, lalu  menatap Kavin yang masih meringkuk di atas lantai. Pria itu masih mendesis kesakitan, agak ngilu Salma melihatnya. Untuk bangun saja, pria itu tak bisa.


“Saya tidak akan melakukan hal buruk, jika Tuan tidak memulainya,” ujar Salma dari kejauhan.


Pria itu mendongakkan wajahnya. “Dasar wanita munafik, dengan Andri...kamu mau di peluknya. Sedangkan dengan saya,  kamu sok menolak!" seru Kavin.


Gadis itu mulai mendekati pria itu  lalu berjongkok. “Kalau Kak Andri masih jomblo dan sangat tampan. Sedangkan Tuan Kavin sudah beristri dan sudah berumur. Jadi wajarkan jika saya mendekati Kak Andri,” ucap Salma, pelan.


Melihat posisi berjongkok Salma begitu dekat dengan pria, di tariknya lengan gadis itu, hingga tubuh gadis itu sudah berada di atas tubuh pria itu.


“Aakkhh......,” kaget Salma, seharusnya dia tidak mendekati pria itu. Dan kini tubuhnya sudah menindih tubuh kekar Kavin.


Kavin yang semula tangannya memegang benda pusakanya, sekarang sudah melingkar sempurna di pinggang ramping gadis itu.


“Lepaskan....akhh,” rintih Salma di balik daun telinga Kavin.


Seketika tubuh Kavin meremang, deru napas Salma yang ada pas di daun telinganya, seperti suara de sahan yang sangat merdu buat pria itu.


DEG


Jantung pria itu berdegup kencang, wangi tubuh gadis itu menguar dan tercium di hidung pria itu, wajah gadis itu yang terjatuh di sebelah ceruk lehernya, bagaikan sedang mengecup lembut leher pria itu.


Tak kuasa pria itu makin mendekap tubuh gadis yang sedang meronta-ronta. Pria itu mendesis, dan sedikit mengangkat pinggulnya.


“Tuan lepaskan tangannya!!” pinta Salma dalam rontanya. Namun pria itu menghiraukannya.


“Iish.....,” desis Kavin, sambil menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba saja pria itu merasakan hal yang selama ini di nantinya. Gairah datang ketika suara memohon Salma terdengar jelas di daun telinganya, hangatnya napas gadis itu terasa di pipinya, dan tubuh gadis itu begitu pas dalam dekapan pria yang memiliki postur tubuh besar dan tinggi.


Lalu di saat yang bersamaan, denyut sakit akibat kena tendangan kaki Salma, berubah menjadi rasa nikmat akibat tertindih bagian feminim gadis itu.


“Aah...,” tak terasa bibir pria itu mendesah nikmat, sudah hampir empat tahun berlalu pria itu tak pernah mengeluarkan suara de sahan nikmatnya.


Dia.....dia....menegang.....batin Kavin kaget.


Merasa keperkasaannya menegang dan mulai membesar, di re matnya kedua bokong gadis itu agar lebih menekan benda pusakanya yang sudah lama tidur.


“Kurang ajar....brengsek!!” naik pitam Salma, ketika kedua bokongnya di re mas oleh tangan Kavin.

__ADS_1


“AAAUUUWWW,” teriak Kavin kesakitan, lehernya sedang di gigit sekuat mungkin oleh Salma.


Kedua tangan Kavin terlepas dari bokong gadis itu, lalu Salma dengan bertumpu dengan kedua tangannya menegakkan punggungnya, dengan masih duduk di atas tubuh pria itu, posisi women on top...kedua tangan gadis itu kembali melayangkan tamparan di wajah tampan pria itu.


“Dasar pria messum, brengsek, kurang ajar. Pelecehan!!” umpat caci maki Salma, wajahnya penuh amarah.


PLAK!!   PLAK!!


Kavin membiarkan pipinya di tampar habis-habisan oleh gadis itu....rela karena hatinya sedang senang...keperkasaannya berdiri tegak di bawah bagian feminin gadis itu.


“KAVIN......SALMA!!” teriak Mama Rossa.


Mama Rossa yang datang dengan Pak Ridwan untuk membuka pintu kamar gadis itu, terbelalak melihat adegan mereka berdua.


“Nyonya.......” gadis itu menghentikan tangannya. Sedangkan wajah Kavin terlihat biasa saja.


Mama Rossa mendesah melihatnya, lalu langsung membantu Salma beranjak dari atas tubuh putranya. Sedangkan Pak Ridwan membantu Tuannya untuk beranjak dari atas lantai.


Mama Rossa melihat kedua pipi anaknya memerah, sedangkan ketika melihat Salma, kedua netra gadis itu sudah mulai berembun. Sekarang mereka bertiga sudah duduk di sofa yang ada di dalam kamar Salma.


“Katakan pada ibu, apa yang terjadi?” tanya Mama Rossa.


Salma dengan rasa bencinya menatap tajam Kavin. “Tuan Kavin telah melecehkan saya, Nyonya Rossa.”


“Bohong dia yang menggodaku Mam, dia memintaku untuk masuk ke kamarnya. Dan yang seperti mama lihat tadi...dia berada di atas tubuhku ini,” dusta Kavin, dengan menyeringai penuh kemenangan.


“Bohong Nyonya, Tuan Kavin telah berbohong. Saya tidak pernah memintanya untuk datang, Tuan Kavin yang tiba-tiba masuk ke kamar lalu mengunci pintunya. Lalu Tuan Kavin melecehkan saya. Dan saya juga yang menelepon ke pelayan untuk dibukakan pintu kamar ini,” jujur Salma.


“Betul begitu Kavin, apa yang di katakan Salma?” Mama Rossa langsung menoleh ke arah Kavin.


“Dia telah berbohong Mam, mama kan tahu kalau aku--,” sanggah Kavin, pria itu lalu beranjak dari duduknya.


“Mau ke mana kamu, Kavin,” teriak Mama Rossa melihat putranya berlalu begitu saja.


“Tidur,” sahut Kavin sambil lalu.


Akhirnya kamu bangun juga dari tidurmu, berarti aku bisa menggumuli Yasmin kembali...batin senang Kavin.


bersambung.....


"Yasmin, aku akan memberikan kebahagiaan untukmu," ujar Kavin



"Aku benar-benar membencimu Tuan Kavin!!"

__ADS_1



__ADS_2