Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
S2 : Namamu selalu ku sebut dalam tiap doaku


__ADS_3

"Tuan Kavin, kira-kira kapan kita kembali ke Indonesia. Karena ini ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan kehadiran Tuan Kavin, segera?” tanya Ari, yang sedang mengecek jadwal kerja Tuannya.


Kavin yang baru saja fokus dengan pekerjaannya, langsung menoleh ke wanita yang duduk di samping nya. Inilah hal yang paling tidak di sukainya, jika akan ada saatnya dia harus kembali ke Indonesia.


Pria itu menggeserkan laptopnya, begitu juga laptop milik Salma, kemudian pria itu jongkok di hadapan Salma yang masih duduk di sofa.


“Kak Kavin,” Salma terlihat bingung. Sejenak pria itu menatap wajah Salma yang sudah mulai terlihat segar, tidak sepucat kemarin waktu dia datang.


“Ari tolong ambil tas kecil saya yang ada di kamar Rayyan,” pinta Kavin, masih menatap wajah Salma.


Tanpa menjawab, Ari langsung ke kamar baby Rayyan untuk mengambil tas milik Tuannya, lalu memberikannya ke pria itu. Kemudian Ari menarik tangan Retno, agar tidak berada di antara Kavin dan Salma, dan mengajaknya ke kamar baby Rayyan. Retno yang baru pertama kali tangannya di gandeng Ari, jantungnya langsung berdegup kencang.


Sekarang di ruang santai hanya ada Kavin dan Salma, suasana terasa hening tak ada suara, hanya hembusan angin sejuk yang masuk dari jendela yang sengaja di buka oleh Salma. Sinar matahari di sore hari pun masuk tanpa permisi lewat jendela, memantulkan cahaya berwarna kuning ke wajah Salma yang tak bermake up, hanya polesan tipis perona berwarna merah menempel di bibir ranum wanita itu. Cantik natural itu yang terlukiskan di mata Kavin, tentang wajah Salma.


Kavin meraih tangan Salma dan menggenggamnya dengan erat. Salma jadi salah tingkah dibuatnya, apalagi tatapannya itu membuat jantungnya jadi dag dig dug, tak menentu.


“Mom.”


“I-iya...”


“Sebenarnya aku tahu diri jika aku bukan pria yang masih muda, ya...seperti yang mommy bilang kalau aku si bapak tua.” Kavin sesaat menundukkan kepalanya, kemudian kembali mendongakkan kepalanya.


Kavin tersenyum tipis, lalu mengecup punggung tangan Salma. “Hampa...selama mommy dinyatakan telah tiada, hatiku benar-benar hampa, seperti tidak ada nyawa lagi di tubuhku. Kadang aku ingin mengakhiri hidupku, ingin menyusul dirimu, tapi mama dan Ari selalu mengingat kan jika aku harus ikhlas menerima berita ketiadaanmu.”


“Pernahkah dirimu merasa hampa, seperti tidak semangat, seperti ada yang kurang darimu, seperti ada yang hilang dari sisimu?” tanya Kavin, raut wajahnya tersirat.

__ADS_1


Wanita yang ditanya membuang pandangannya ke arah lain, apa yang di tanya oleh Kavin, sebenarnya pernah dia rasakan dan baru saja rasa hampa itu menghampiri jiwanya tiba-tiba dan tak di duganya.


Kavin meraih dagu Salma, agar wanita itu kembali menatapnya.


“Pernahkah, mom?”


Salma mengangguk pelan.


“Karena hatiku hampa, beberapa kali aku jatuh sakit karena kehilangan dirimu. Apakah mommy, sakit juga saat itu?”


Kepala Salma kembali mengangguk pelan. Semuanya memang terjadi seperti itu, dirinya tiba-tiba saja sakit, setelah sebulan tak mendengar kabar Kavin, walau hatinya sering menampik, dan malu untuk mengakuinya.


“Aku banyak belajar setelah kehilanganmu, belajar untuk tidak lagi menyia-nyiakan orang yang sangat aku cintai baik ke mama ke dirimu dan anak kita, belajar memperbaiki diri, lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa. Sungguh bodohnya aku, sungguh sombongnya aku dari dulu tidak mau mengenalmu, aku seorang pria yang menyia-nyiakan berlian yang telah aku nikahi, justru menganggapnya batu yang mudah aku buang jauh. Maafkan aku, mom,” tutur Kavin, suaranya mulai terdengar serak.


Kavin menyentuh jemari lentik Salma yang sedang menyapu air matanya, kemudian di kecup jemari wanita itu satu persatu. Sesaat rasa menggelitik hinggap di tubuh wanita itu.


Di luar sana masih banyak pria yang tak mau mengakui kesalahan dan kekurangannya, di luar sana juga jarang seorang pria menitikkan air mata di hadapan seorang wanita, menurut mereka itu harga dirinya. Tapi buat wanita, itu hal yang sangat menyentuh hati...merasa jika pria itu memiliki perasaan yang halus namun terbungkus dengan sikap kelakiannya, yang tak mudah meneteskan air mata.


“Mommy, kita baru sebulan bercerai...sekarang mommy dalam masa iddah.” Kavin langsung merogoh tas kecilnya, keluarlah sebuah kotak kecil.


“Aku tidak tahu isi hatimu, mom. Tapi dari hatiku yang paling dalam, aku sangat mencintaimu, Salma Hadeeqa,” Kavin diam sejenak, melihat reaksi Salma. Wanita itu mulai terlihat gugup dalam duduknya.


“Izinkan aku masuk ke relung hatimu, mom, mommy dari anakku Rayyan. Berikan aku kesempatan untuk membina rumah tangga denganmu, berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu sepanjang hidupku. Aku sudah tak sanggup lagi kehilanganmu, berjauhan, aku juga tidak sanggup jika kamu dimiliki oleh pria lain, karena kamulah yang selalu kusebut dalam doaku, wanita yang ingin kuperistri sampai nyawaku telah tiada nantinya,” ucapan Kavin penuh rasa memohon.


Pria itu langsung membuka kotak kecil itu, terlihatlah cincin berlian di dalamnya, terlihat sederhana tapi terkesan mewah.

__ADS_1


Hati Salma kembali bergetar dibuatnya. Ini bukanlah pertama kali ada pria yang mencoba melamarnya dan biasanya akan di tanggapi biasa saja, tapi entah kenapa dengan pria yang sedang berlutut di depan nya, hatinya tak karuan, susah untuk dijelaskan rasanya.


“Salma Hadeeqa, maukah kamu menjadi istriku kembali, kita kembali rujuk?” tanya Kavin, sambil menyodorkan kotak cincin berliannya.


Salma bertahan untuk menatap wajah pria itu, lidahnya agak keluh ketika ingin menjawabnya. Kavin masih sabar menunggu jawabannya.


Sang mantan suami sedang mencoba untuk melamar mantan istrinya, kalau bisa dikatakan, ini adalah pertama kali nya dia melamar Salma dalam keadaan yang benar, karena ketika dulu mereka menikah, Kavin tidak melamar Salma.


Penuh harapan yang tersirat di tatapan Kavin agar Salma mau menerima nya kembali, namun tak bisa di pungkiri jika harapan yang diinginkan nya tak terkabulkan. Karena ini pasti terlalu cepat buat Salma untuk menerimanya kembali, akan tetapi kalau menurut Kavin ini sudah terlalu lama buat dirinya, karena dia sudah menunggu selama 1,5 tahun.


Kavin juga menyadari jika dirinya juga belum mengetahui perasaan Salma terhadap dirinya, masih benci kah! Atau mulai menyukainya!


Tapi jika membaca bahasa tubuh Salma, wanita itu tidak menolak jika di genggam tangannya, tak menolak jika pipi nya, keningnya, bibirnya di kecup oleh dirinya, bolehkah hati pria itu menduga jika wanita itu mulai menyukai dirinya, walau belum ada rasa cinta.


Semua masih abu-abu, belum jelas tentang isi hati wanita itu.


Salma menatap dalam-dalam wajah ganteng Kavin walau sudah berumur 41 tahun tapi semakin hot jika di pandang, pantas saja si Emy terobsesi ingin memiliki pria itu. Wanita itu menyadari ketika mereka di pertemukan kembali oleh Allah...pertemuan yang tak diduga. Dalam waktu seminggu banyak hal  yang berubah di diri pria arogan itu, pria yang dulu sangat di bencinya. Tiba-tiba terlihat sangat penyayang, menjelma menjadi daddy yang siap siaga untuk putra nya, sedangkan buat dirinya selalu ada perhatian yang membuat wanita itu berdesir hatinya. Dan hal itu masih melekat hingga akhirnya mereka berpisah karena perceraian yang di ingin kan oleh wanita itu.


bersambung.....kira-kira Salma mau di ajak rujuk gak ya ?



 Kakak Readers yang cantik dan ganteng ada cerita bagus nih kisah Louise dan Evelyn, jangan lupa mampir ya di karya author Novi Niajohan. Terima Kasih 🙏🏻🙏🏻🌻🌻🌻


__ADS_1


__ADS_2