Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Mengukir kenangan indah


__ADS_3

Sentuhan lembut dari bibir Kavin, tanpa tuntutan, hanya sekedar mengecup bibir ranum wanita itu dan melumaatnya sejenak. Sebagai tanda seberapa besar pria itu mencintainya tapi tidak menuntut untuk di balas oleh sang wanita.


Salma bisa merasakan betapa lembut dan hangatnya sentuhan itu, serta rasa basah di bibir ranumnya. Hidung mereka berdua pun ber sentuhan dan berbagi napas, saling merebut oksigen. Wanita itu tak membalas sentuhan itu, hanya diam tapi tak menolak. Entahlah kenapa dirinya tiba-tiba seperti itu.


Kavin tiba-tiba menarik wajahnya, melepaskan kecupannya, kemudian ibu jarinya mengusap bibir Salma yang terlihat basah karena ulahnya sendiri.


“Maafkan aku kembali lancang,” ujar Kavin. Tidak bisa di pungkiri, pria itu telah merindukan wanita itu selama 1,5 tahun, dan hatinya ingin mengungkapkan rasa rindunya itu, kalau bisa pria itu ingin memeluknya sepanjang malam. Namun apa daya hal itu tidak mungkin terjadi.


Tangan kanan Salma mulai melayang ke udara dengan tatapan menyalak, Kavin yang melihatnya langsung memejamkan kedua netranya, dia pasrah jika Salma ingin menamparnya, karena telah lancang mencium wanita itu. Melihat Kavin memejamkan matanya dan sikap pasrah begitu saja, Salma mengepalkan tangannya yang sudah melayang di udara, mengurungkan niat untuk menampar pria itu.


Kavin masih menunggu tamparan dari Salma, namun belum juga terjadi. Pria itu lalu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. “Loh kenapa tidak jadi?” tanya Kavin agak heran.


“Ayo lakukan saja, aku tahu...aku salah,” pria itu meraih tangan kanannya Salma, dan membantu Salma untuk menampar pipi nya beberapa kali.


Salma mendesis ketika tangannya dibuat untuk menampar wajah Kavin beberapa kali. “Stop, tangan ku sakit,” ringis Salma.


Kavin langsung melihat telapak tangan Salma yang mulai memerah, dan meniupnya kemudian mengusap nya pelan. “Masih sakit kah?” tanya Kavin, cemas.


Salma menganggukkan kepalanya, “Terbuat apakah pipi Tuan Kavin, rasanya seperti menampar tembok saja,” gerutu Salma, kesal.


Kavin terkekeh, “Justru tamparanmu yang sangat kuat, tidak lihat kah kedua pipi ku mulai memerah?”


Salma langsung menatap wajah Kavin, yang awalnya putih sekarang memerah bagaikan habis pakai blush on. Siapa suruh Kavin membimbing tangan Salma untuk menampar wajah tampan nya sampai berulang kali, bolak balik ke kiri dan ke kanan.


Kavin menarik paksa tubuh Salma yang masih duduk, dan mengajak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar baby Rayyan. Sesampainya di dalam kamar mandi, Kavin langsung menuntun tangan Salma ke wastafel lalu mengucurkan air hangat di atas tangan Salma.


“Biar reda rasa sakitnya,” ucap Kavin sembari mengulas senyum hangatnya. Salma hanya menatap datar, memang benar tangannya sedikit reda sakitnya ketika di aliri air hangat.


Di saat itu Kavin kembali menatap wajah Salma bagaikan remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, dilihatnya rambut panjang Salma menutupi wajah cantik nya, pria itu menyentuh rambut dan menyelipkannya ke bagian belakang telinga wanita itu, tak ayalnya tiba-tiba sentuhan Kavin membuat wanita itu terasa geli.


“Sudah...sudah cukup,” kata Salma, ingin buru-buru mengakhiri suasana itu.


Kavin buru-buru mengambil handuk kecil yang tersedia di kamar mandi, kemudian meraih kembali tangan Salma yang basah, dengan telaten pria itu mengusap dan mengeringkan tangan Salma.


“Oooe.....oooe.....,” suara tangisan baby Rayyan terdengar.

__ADS_1


Salma bergegas keluar duluan dari kamar mandi, di susul Kavin.


“Anak mommy ... ini Mommy sayang,” ujar Salma, baby Rayyan langsung di angkat dari boxnya.


“Rayyan haus ya, mau mimi susu?” tanya Salma sambil menatap baby Rayyan. Wanita itu langsung mengambil kain penutup karena ini menyusui, kemudian duduk di sofa single, lalu memberikan asi untuk putranya dari sumber nya.


“Permisi Nona, Tuan,” sapa maid yang membawa troly makanan.


“Non Salma, saya bawakan makan siang buat Non dan Tuan,” ucap sang maid.


“Terima kasih ya,” balas Salma.


“Sama-sama Non, kalau begitu saya permisi, “ pamit sang maid.


“Tuan Kavin silahkan makan dulu,” Salma mempersilahkan.


“Bisakah jangan memanggil ku Tuan, aku bukan majikanmu atau atasanmu,” sahut Kavin.


“Lalu harus panggil apa, gak mungkin aku panggil suami ku atau sayang ku,” ejek Salma.


“Panggil aja Kak, mas atau abang...tapi jangan panggil aku Om terkesan tua!” seru Kavin.


“Auww....auww...sakit nak!” ringis Salma.


“Apa yang sakit, Salma?” mulai panik Kavin.


Kedua netra wanita itu mendelik, “Pu tingku di gigit Rayyan,” jawab frontal Salma tanpa rasa malu.


“Ha...ha...ha....sepertinya anakku kesal jika Mommy nya panggil daddynya Om,” Kavin tertawa geli, tapi berulang kali menelan salivanya, ketika mendengar kata pu ting. Jadi ingat jika dia juga pernah menggigit gemas milik istrinya, ketika mereka melakukan penyatuan untuk pertama kalinya.


“Sudah tidak usah pakai ketawa, mending makan sana,” pinta Salma, mendesah kesal.


Masih geli dengan Salma, pria itu mendekati troly makanan ke meja sofa. Kemudian memilih beberapa menu makanan dan mengambil nya dalam porsi banyak, lalu duduk di sofa samping Salma duduk.


“Ayo...buka mulutmu,” pinta Kavin, sambil menyodorkan sendok makan ke mulut Salma.

__ADS_1


Salma menautkan kedua alisnya hingga tampak menyatu. “Tidak perlu sok perhatian padaku Om Kavin,” gerutu Salma.


“Aauw.....sakit nak...kenapa di gigit lagi,” sungut Salma.


Kavin kembali tertawa geli. “Berhentilah memanggilku Om, yang ada punyamu lecet oleh anak kita, di gigit terus,” sahut Kavin. “Sekarang buka mulutmu, kamu pasti lapar dan anak kita masih minum asi...ayo,” pinta Kavin dengan tersenyum hangat.


Memang benar yang dikatakan Kavin, kalau sedang atau habis menyusui baby Rayyan pasti perutnya cepat lapar. Dengan terpaksa wanita itu menerima suapan dari daddynya Rayyan.


“Om Kavin jangan ke geeran kalau aku menerima suapannya,” celetuk Salma, tak lama mendesis kesakitan, rupanya baby Rayyan kembali lagi menggigit pu tingnya.


“Aku tidak akan geer kok, aku hanya ingin membantu mommynya Rayyan. Lagi pula ini tidak seberapa, ketimbang kamu mengandung baby Rayyan tanpa ada aku di sisimu,” balas Kavin, pria itu kembali menyuapi Salma, bergantian dengan dirinya, satu piring berdua.


Sejenak Salma tertegun, dan kembali mengingat masa dia hamil baby Rayyan. Ada benarnya ucapan Kavin, hamil tidak di dampingi suami terasa berat, walau di kelilingi oleh keluarga nya. Karena hormon ibu hamil, kadang menginginkan belaian dan sentuhan seorang suami.


Di rasa baby Rayyan sudah kenyang minum asi nya, Salma mengubah posisi anaknya ke bahu, lalu menepuk lembut punggung anaknya biar tahak.


“Kamu sudah kenyang belum makannya?” tanya Kavin, melihat isi piringnya sudah kosong.


“Sudah cukup, nanti kalau aku lapar, akan ambil sendiri.”


Kavin meletakkan piring kosong nya, lalu mengambil minum dan memberikannya ke Salma.


“Terima kasih.”


Kavin kembali duduk, kemudian menatap istri dan anaknya...yang tampak sempurna sebenarnya, keluarga kecil. Tapi apakah mungkin Kavin bisa memperjuangkan keutuhan rumah tangga nya? Masih tanda tanya besar.


Salma merebahkan baby Rayyan di ranjang dekat box bayi, agar baby Rayyan leluasa bergerak.


“Salma...”


“Mmm...”


“Kita sholat dzuhur berjamaah yuk,” ajak Kavin. Wanita itu langsung terperangah.


“Aku ambil wudhu duluan, nanti baru kamu yang ambil wudhu,” lanjut Kavin, wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, namun merasa heran.

__ADS_1


Izin kan aku sejenak mengukir kenangan indah bersama mu...istriku Salma dan anakku Rayyan.


bersambung..........


__ADS_2