
Apa rasanya ketika bertemu seseorang yang kamu anggap telah tiada, nyata nya kini hadir di depan matamu!
Seseorang yang masih kamu simpan di hati yang paling dalam, seseorang yang sangat spesial di hati mu selama ini. Seseorang yang kamu cintai segenap hati mu.
Bibir tidak sanggup untuk memanggil atau menghampirinya, kaki tak sanggup untuk melangkah...sangat terasa berat.
Awal datang dengan perut terasa lapar, tiba-tiba hilang begitu saja, perut terasa kenyang.
Buliran bening pun mulai membasahi pipi pria itu, seketika hati terasa sesak ketika melihat senyuman indah yang selama ini tak pernah dilihatnya, hampir 1,5 tahun.
“Salma Hadeeqa, istriku!” hatinya membuncah bahagia, namun tak kuasa untuk mengapainya. Kavin hanya menatap dari balik kaca restoran dengan deraian air matanya.
Mungkin ketika orang lain melihat Kavin yang menangis akan di bilang cengeng, biarlah. Hanya air mata yang mampu melukiskan isi hatinya, walau sejujurnya ingin memeluknya. Mengungkapkan rasa rindunya selama ini.
Jangan bertindak gegabah...tahan Kavin.....batin Kavin.
Puas menatap istrinya yang sedang berbincang dengan seorang pria tampan dari balik kaca restoran, Kavin segera memanggil waitress untuk membayar pesanannya. Kemudian keluar dari restoran dengan mengendap-endap agar tidak diketahui oleh Salma. Lalu menatap Salma dengan sempurna nya.
Ternyata memang kamu, Salma. Kamu masih hidup!
Melihat ada mobil yang menghampiri Salma, pria itu bergegas ke mobil yang di sewanya. Dan meminta sang sopir mengikuti mobil yang ditumpangi wanita itu.
Hati yang risau ketika datang ke restoran, ternyata inilah jawabannya, dia mendapatkan kejutan yang tak terduga. Melihat istrinya yang telah dianggap telah tiada.
Sabar Kavin...
Sang sopir mulai mengikuti mobil yang di tunjuk Kavin, dari parkiran restoran. Tak terasa sekitar tiga puluh menit perjalanan, mobil yang membawa Salma sampai di mansion yang baru saja di tinggalkan oleh Kavin. Mobil tersebut masuk ke gerbang mansion Braymanto, dan terbitlah senyum tipis di bibir Kavin.
Mungkinkah Opa Braymanto yang telah menyembunyikan istriku selama ini?
Aku akan datang kembali menjemput istriku.
“Kembali ke rumah sakit,” perintah Kavin pada sang sopir. Pria itu sudah memastikan di mana tempat tinggal Salma.
🌻🌻
__ADS_1
Mansion Braymanto
Malam hari...
Seluruh keluarga tampak hadir di ruang makan, termasuk keluarga Paman Didit. Berkumpul untuk makan malam seperti biasanya. Salma yang baru saja tiba di mansion langsung membersihkan dirinya, kemudian menengok baby Rayyan di kamarnya, dan membawanya ke bawa untuk bergabung makan malam.
Para maid turut sibuk menyiapkan dan menghidangkan makan malam untuk seluruh anggota keluarga.
“Opa...,” sapa Salma.
Opa Braymanto yang sudah duduk, melirik sebentar ke cucunya. “Duduklah Salma, kita nikmati makan malam dulu,” pinta Opa Braymanto.
“Ya Opa,” ucap patuh Salma, langsung duduk sembari memangku baby Rayyan.
Paman Didit, Bibi Tia, Retno berserta kedua adiknya menikmati makan malam dengan tenang, sedangkan Keanu tidak ikut makan malam karena masih berada di kantor.
Selama Salma makan, Baby Rayyan menikmati biskuit yang ada di tangannya, sesekali menyembur makanannya, membuat suasana ruang makan terasa hangat.
Menu makanan utama telah habis di santap, sekarang tersaji makanan penutup.
“Iya Opa, aku di kasih tahu oleh Kak Keanu waktu di kantor,” jawab Salma.
“Apa yang terjadi, Opa?” tanya Salma, penuh rasa penasaran.
Opa menceritakan maksud kedatangan Kavin bersama mamanya juga segala pengakuan kesalahan Kavin terhadap Salma, serta permohonan maaf dari Kavin, dan memberitahukan jika Salma telah tiada di Bali.
“Tapi Kavin dan mamanya tidak sengaja sudah bertemu dengan baby Rayyan,” ungkap Opa Braymanto.
“Lalu?” jantung Salma mulai berdebar-debar.
“Mereka penasaran dengan orang tua Rayyan, dan Opa perkenalkan Retno sebagai mommy Rayyan. Sepertinya mereka berdua tidak percaya,” kata Opa Braymanto.
“Iya Salma, Ibu Rossa malah menyindir kalau aku ada main dengan daddy-nya Rayyan,” sambung Retno.
Salma menatap wajah baby Rayyan, pastilah mereka tidak akan percaya dengan Retno, wong tidak ada kemiripannya.
__ADS_1
“Dan sepertinya anakmu tahu jika daddy-nya datang, entah kenapa saat ada Kavin, baby Rayyan tidak mau sama pengasuhnya. Justru maunya digendong Kavin,” kata Opa jujur.
Salma hanya tersenyum kecut. Disela melihat senyum kecut cucunya, Opa Braymanto teringat akan kata Mama Rossa sebelum pulang.
Umurku sudah tak muda lagi, dan tak mungkin aku mengulangi kesalahanku di masa lalu. Cukup putri bungsuku yang merasakan sikap egois ku, jangan di ulang kembali ke cucuku Salma. Aku harus menebus kesalahan di masa laluku.
“Salma, mungkin ini sudah suratan takdir kamu bertemu dengan pria yang menjadi suami sahmu. Opa tidak tahu permasalahan yang lebih dalam dengan kamu dan Kavin. Tapi alangkah baiknya kamu menghadapinya dengan baik. Mau apapun keputusan yang kamu ambil, Opa tidak akan ikut campur, Nak. Cukup Opa melakukan kesalahan di saat ibumu masih muda, Opa sangat menyesal,” tutur Opa Braymanto dengan mata yang berkaca-kaca.
Paman Didit dan Bibi Tia menjadi pendengar saja, disaat Opa Braymanto berkata.
Salma menatap wajah baby Rayyan, lalu mengecup kedua pipinya dengan gemas.
“Kita tidak bisa selamanya menyembunyikan baby Rayyan dari Kavin. Suatu hari nanti jika Rayyan sudah besar pasti akan menanyakan siapa daddy-nya,” lanjut kata Opa Braymanto.
Hati Salma semakin gelisah tak menentu, di satu sisi dia sangat membenci Kavin tapi di satu sisi ada baby Rayyan di antara mereka berdua, buah hati yang hadir tanpa di sengaja. Betul kata Opa, suatu saat anaknya akan bertanya siapa daddy-nya, dan tak mungkin dia sembunyikan terus.
“Jika kamu ingin berpisah dengan Kavin maka inilah saatnya, mumpung Kavin ada di Belanda,” ujar Opa kembali.
Salma langsung menatap Opa Braymanto. “Opa, sebenarnya aku belum siap menemui Tuan Kavin dan Mama Rossa. Tapi aku memang ingin bercerai resmi dengannya. Bisakah Opa membantuku?” tanya Salma, lalu beralih menatap Paman Didit.
“Paman Didit, aku juga minta tolong dengan paman. Semua berawal dari paksaan paman Didit. Jadi aku minta paman Didit membantuku menghadapi Tuan Kavin, bantu aku bercerai dengan Kavin,” pinta Salma.
Paman Didit dan Opa Braymanto saling bersitatap, dan menganggukkan kepalanya.
“Lalu bagaimana dengan baby Rayyan, apakah kamu akan memberitahukan ke Kavin jika Rayyan anaknya?” tanya Opa Braymanto.
“Aku tidak ingin menemui Tuan Kavin, Opa. Opa saja yang memberitahukan jika baby Rayyan anak Tuan Kavin. Hanya memberitahukan bukan untuk memilikinya, karena baby Rayyan hanya milikku seorang.”
Salma terlihat bersikeras untuk berpisah dengan Kavin, atas dasar kesalahan Kavin di masa lalu. Dan tidak ada niatan untuk melanjutkan rumah tangga dengan Kavin. Sepertinya kesalahan Kavin di masa lalu begitu membekas di hati wanita itu, ketimbang mengingat Kavin yang telah menolong dirinya saat dilecehkan oleh Dimas.
Luka yang tergoreskan di hatinya masih membekas, walau waktu terus berjalan.
bersambung.....
"Hai nak, akhirnya kamu hari ini tak disangka sudah bertemu dengan daddymu. Maafkan mommy jika tidak bisa memberikan keluarga yang utuh," gumam Salma sendiri, sembari mengelus pipi baby Rayyan yang sudah tertidur pulas di pangkuannya setelah habis minum asi dari sumbernya.
__ADS_1