
Opa Braymanto yang ada di kamar Baby Rayyan, melihat Kavin yang begitu telaten mengurus baby Rayyan mulai dari membukakan baju lalu menggantikan baju sampai menenangi baby Rayyan.
Dokter spesialis anak yang dipanggil Opa Braymanto, sudah memeriksa kondisi baby Rayyan, dan memberikan beberapa obat yang harus diminum, dan itu pun Kavin terlihat kritis ketika dokter memeriksa kondisi putranya, semuanya di tanyakan secara mendetail. Wajar namanya juga seorang ayah yang baru memiliki anak, jadi rasa ingin tahunya begitu tinggi.
Melihat sikap Kavin, mengingat kan sang Opa di saat mudanya, begitu antusias ketika putra pertamanya lahir, Steve. Semua perhatian serta kasih sayang tercurahkan untuk Steve, inilah yang Opa Braymanto lihat dari gestur tubuh dan sikap Kavin yang tulus menyayangi baby Rayyan, tanpa ada maksud sekedar mencari perhatian dari orang lain.
“Kavin biar Emy yang mengurus baby Rayyan,” pinta Opa Braymanto sembari menepuk bahu Kavin.
“Selagi aku ada di sini, aku ingin mengurusnya. Apalagi Rayyan badannya sedang demam,” jawab Kavin sambil memangku baby Rayyan, dan memberikan asi dari botol susu yang di bawa mama Rossa. Salahkah Kavin jika ikut ambil andil untuk mengurus baby Rayyan, putranya sendiri! Tentu tidak lah salah, jiwa seorang ayah sudah mulai melekat di hati pria itu, semenjak tahu baby Rayyan putra kandungnya sendiri.
“Ya sudah terserah kamu. Salma ke mana ya, anaknya lagi sakit?” tanya Opa Braymanto.
Kavin menatap pintu penghubung, “Salma ada di kamarnya, sepertinya enggan keluar karena ada aku di sini, Opa,” jawab Kavin pelan.
Pantas saja tadi mama Rossa menelisik ke sudut kamar baby Rayyan, tapi tidak ada kehadiran Salma.
Opa Braymanto hanya bisa mendesah panjang, dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Om Bray, aku mau menemui Salma, bisa tolong sampaikan,” pinta Mama Rossa, yang sudah kangen dengan Salma.
“Sebentar,” jawab Opa Braymanto. Pria tua itu keluar dari kamar baby Rayyan, dan menelepon Salma dengan handphonenya. Entah apa yang di bicarakan oleh Opa, akhirnya pintu kamar Salma sedikit terbuka.
“Rossa...,” panggil Opa Braymanto dari luar kamar. Mama Rossa segera menghampiri nya.
“Masuklah,” pinta Opa Braymanto, sambil menunjukkan pintu kamar Salma. Mama Rossa mengangguk, dengan senang hati masuk ke kamar Salma.
Salma sudah berdiri di depan kamarnya dan menatap pintu kamar yang sudah di bukanya tadi.
Salma hormatilah orang tua, kamu boleh tidak menyukai Kavin, tapi jangan kamu membenci mamanya, Rossa bukan hanya mertua mu, tapi tantemu juga, Rossa juga teman baik mama mu. Tolong lah nak, rendahkan dulu egomu sejenak...ucap Opa Braymanto saat menelepon Salma.
__ADS_1
Wanita itu membukakan pintu kamarnya yang terkunci setelah mendapat telepon dari Opa, kemudian menatap kedatangan Mama Rossa.
“Salma...”
“Mama...”
Tak bisa di elakkan lagi kedua wanita yang berbeda usia tersebut langsung berpelukan. Mama Rossa penuh rasa bersyukur dan haru melihat anak menantu nya masih hidup.
“Masya Allah, alhamdulillah...kamu masih hidup nak,” ucap syukur Mama Rossa, ketika mengurai pelukannya, kemudian menangkup wajah Salma dengan kedua tangannya.
Salma bisa melihat kedua netra Mama Rossa sudah berembun, begitu pula dengan dirinya.
“Mama kangen denganmu nak, alhamdulillah kamu dalam keadaan sehat,” ucap Mama Rossa.
“Aku juga merindukan Mama,” balas Salma, lalu kembali memeluk Mama Rossa.
Cukup lama Mama Rossa dan Salma mengungkapkan rasa rindunya dengan pelukan hangat. Kemudian mereka pun duduk bersama di sofa yang ada di dalam kamar Salma.
“Mam, maafkan aku juga yang menyembunyikan nya selama ini.”
“Tidak apa-apa, mama sudah mengetahui semuanya dari opa kamu. Mama tidak bisa berbuat apa-apa, lagi pula ini mama mengetahui nya juga hal yang tidak di sengaja. Mama dan Kavin sengaja datang ke Belanda untuk jalan-jalan, reflesing. Tapi tak di sangka di saat mampir ke sini, kami mendapat kejutan indah,” tutur Mama Rossa.
Mama Rossa menatap penuh kehangatan kepada menantunya yang semakin cantik dan bisa di juluki sebagai hot mommy. Salma membalasnya dengan senyum tipisnya.
“Sepeninggalnya kamu di Bali, memang mama dan Kavin benar benar kehilanganmu. Terutama Kavin yang masih belum menerima kamu telah tiada, dia sudah beberapa kali jatuh sakit hingga badannya kurus kering, mungkin ini balasan buat anak mama yang selalu bersikap kasar dengan anak mama yang cantik ini. Makanya dari itu mama mengajaknya jalan-jalan ke Belanda, ketika keadaan fisiknya lebih baik dari sebelumnya,” ungkap Mama Rossa.
Salma hanya mendengarnya saja, mau bertanya juga enggan, karena yang dibahas tentang Kavin.
“Orang-orang yang sudah melecehkan kamu sudah mendapat kan hukuman termasuk mantan istri Kavin, mereka bertiga masih mendekap di penjara,” lanjut Mama Rossa.
__ADS_1
“Ya...mam, alhamdulillah kalau mereka dapat ganjarannya,” jawab singkat Salma.
“Mama juga terima kasih, kamu sudah memberikan mama seorang cucu yang begitu tampan...,” ucap Mama Rossa dengan suara yang sedikit tercekat.
“Iya mam...itu hal yang tak di duga. Baby Rayyan hadir sebagai obat untuk ku mam, penyemangat hidup ku,” ujar Salma.
“Mmm....,” gumam Mama Rossa.
Begitu banyak mama Rossa dan Salma berbagi cerita, terutama tentang tumbuh kembangnya baby Rayyan, moment yang terlewati oleh Mama Rossa.
“Salma, bukan maksud mama ikut campur masalah kamu dengan Kavin. Kamu berhak bahagia, jika memang kamu bahagia dengan keputusan mu, tapi mama berharap kalian berdua bisa membesarkan Rayyan bersama-sama dengan keputusan apa pun yang di pilih. Ingat anak adalah tanggung jawab kedua orang tuanya,” tutur Mama Rossa.
“Ya...mam, aku paham.”
“Sekarang baby Rayyan sakit, temuilah...jika kamu tidak suka dengan Kavin...hiraukanlah. Tapi kamu harus ingat tanpa andil Kavin, Rayyan tidak akan hadir ke dunia, cukup kamu menghargainya sebagai daddynya Rayyan. Dan jangan gara-gara Kavin ada di sini, kamu mengabaikan anakmu sendiri yang sedang sakit,” imbuh Mama Rossa.
Salma sesaat termenung, dan merematkan jemari tangannya, masih ada rasa bingung di hatinya sendiri. Sedari tadi dia sudah menolak untuk menemui Kavin, tapi sekarang anaknya sedang dalam keadaan demam, tidak mungkin dia mengabaikan baby Rayyan gara gara kehadiran Kavin.
Mama Rossa bisa menangkap guratan wajah Salma yang tak mau ke kamar babynya. “Mengalahlah untuk saat ini, kamu dibutuhkan oleh anakmu,” tutur Mama Rossa dengan lembutnya. Salma menatap wajah Mama Rossa lalu menyetujui permintaannya.
Selanjutnya Salma membuka pintu kamar penghubungnya dengan kamar baby Rayyan. Terlihat Kavin sedang menimang baby Rayyan.
DEG!
Kavin dan Salma saling bersitatap sejenak, Kavin tidak bisa di pungkiri hatinya sangat merindu dengan wanita yang sudah berada di kamar yang sama dengannya.
bersambung......
__ADS_1
Masih slow up ya Kakak readers, semoga bisa di usahaiin up walau hanya 1 bab dan terima kasih banyak atas doanya 🙏🏻🙏🏻, doa yang sama buat Kakak Readers yang sakit semoga cepat sehat kembali.
Love you sekebon 🌻🌻🌻🌻🌻