
Suasana makan malam tiba-tiba terasa dingin, setelah percakapan Kavin dan Herman tidak membuahkan hasil yang baik buat di posisi Herman. Melihat keadaan seperti itu Yasmin segera berbasa-basi dengan suami dan mertuanya serta kedua orang tuanya, agar suasana kembali menghangat dan cair.
“Yasmin, Kavin kalian berdua sudah mau empat tahun berumah tangga tidak ada keinginan untuk memiliki anak. Seorang anak sebagai pewaris perusahaan besar kamu?” tegur Herman.
Kavin dan Mama Rossa langsung berhenti mengunyah makanannya.
Sesaat Yasmin melirik suaminya.“Pah, aku masih menikmati hidup bersama dengan Kak Kavin. Kami berdua masih menunda memiliki momongan, ya kan sayang,” Yasmin segera membuka suaranya, lalu mengucapkan kata dustanya.
Kavin bergeming...
Kedua orang tua Yasmin tidak tahu jika menantunya impoten karena kecelakaan, dan Yasmine tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Dan sebenarnya Yasmin menerima kekurangan Kavin, karena wanita itu juga punya kekurangan pada dirinya, dan hanya dia yang tahu, kedua orang tuanya pun juga tidak tahu.
“Tapi keburu tua jika kalian tidak segera memiliki anak, paling tidak punya satu dulu lah,” sambung Susi.
Jika sudah membicarakan masalah anak, pria itu sudah merasa harga dirinya jatuh ke jurang, mengingat kelemahan dirinya, inilah kenapa dia menerima jika Yasmin ingin bercerai dengannya, dia akan membebaskan dari pernikahannya agar Yasmin memiliki keturunan dari pria lain.
“Yasmin, jika kamu takut tubuh kamu rusak karena hamil. Jaman sekarang sudah ada istilah Ibu pengganti, coba lewat cara itu,” usul Susi.
Bagaimana mau cari Ibu pengganti, si gogon putraku tidak beraksi, dan tidak bisa mengeluarkan benih calon anak nya sendiri ...sedih batin Mama Rossa.
“Nanti akan aku bicarakan dengan Kak Kavin, mam,” balas Yasmin, sembari menggenggam tangan Kavin yang berada di atas meja, seakan menguatkan dan menjaga perasaan suaminya. Wajah Kavin terlihat datar dan dingin, ketika menerima sentuhan tangan Yasmin.
“Kalau kalian belum punya anak juga, berarti Kavin....pewaris kamu adalah Yasmin...istrimu sendiri,” ujar Herman sambil menaikkan salah satu alisnya.
Kavin dan Mama Rossa saling bertatapan aneh, sedangkan Herman mengulas senyum tipisnya, setelah berkata.
Di relung hati yang paling dalam entah kenapa pria itu tidak suka dengan perkataan ‘pewaris kamu adalah Yasmin...istrimu sendiri'. Haruskah semua kekayaannya akan terlimpahkan ke istrinya, walau dia mencintainya. Seharusnya jika tulus mencintainya, hati pria itu tak akan meragu. Namun tak disadarinya, sekarang dia sedang meragukannya.
Anak....ya aku belum memiliki anak...
Mama Rossa hanya bisa meratapi keadaan putranya, dari semua harta yang mereka miliki akhirnya kelak akan jatuh ke tangan orang lain, walau dia masih menantunya, pilu rasa hati seorang ibu. Lelahnya merintis perusahaan suaminya, lalu membantu perusahaan anaknya, akhirnya perjalanannya berujung di tangan Yasmin, cucu pun mungkin tidak akan pernah memiliki. Garis keturunan keluarga Adiputra berhenti di Kavin.
Andaikan tidak ada besannya, boleh jadi wanita tua itu akan menitikkan air matanya. Hatinya juga sakit melihat keadaan anaknya, kehidupan yang hampir sempurna, namun garis takdir menghentikan garis keturunan Adiputra. Namun sepintas wanita tua itu teringat dengan istri kedua Kavin yang statusnya sah 'Salma Hadeeqa'.
Di lubuk hati Herman, rasanya ingin bertepuk tangan, walau tidak menang dalam bernegosiasi, paling tidak pria tua itu bisa menyinggung masalah pewaris kekayaannya, ya itu Yasmin, putrinya sendiri.
__ADS_1
“Kavin ada baiknya mulai sekarang berikan beberapa saham perusahaan Indo Prakarsa ke Yasmin, sebagai salah satu pemilik perusahaan kamu juga, lagi pula dia istrimu kan. Berhak atas perusahaan dan kekayaanmu,” pungkas Herman.
Kavin sudah mulai tidak suka dengan tujuan pembicaraan di meja makan bersama mertuanya.
“Sepertinya pembicaraan malam ini sudah terlalu berlebihan, saya permisi dulu, Pah, Mam, ada hal yang harus di kerjakan malam ini,” alasan Kavin menghentikan pembicaraan yang ujung-ujungnya masalah perusahaan milik dia, lebih baik pergi dari ruang makan.
Raut wajahnya Herman dan Susi terlihat kecewa atas sikap Kavin, belum selesai pembicaraan tapi sudah di tinggal kan.
“Jeng Susi, Herman...bukan saya tidak sopan dalam menjamu tamu. Badan saya agak kurang enak, ingin istirahat lebih cepat, jadi silahkan lanjutkan makan malam nya dengan Yasmin,” pamit Mama Rossa.
“Ooh...iya Jeng Rossa, silahkan jika mau istirahat. Saya dengan suami masih ingin mengobrol dengan Yasmin,” balas Susi.
“Silahkan,” ujar Mama Rossa, kemudian meninggal kan ruang makan.
Yasmin yang melihat suami lalu mama mertuanya meninggalkan ruang makan hanya bisa mendesah saja.
“Sepertinya suamimu dan mertuamu menghindari papa?” tanya Herman.
“Seharusnya papa tidak membahasnya dengan cepat, akhirnya kita juga yang gagal,” balas Yasmin.
“Papa juga seharusnya tidak membahas masalah pewaris segala, Kak Kavin dan Mama Rossa pasti sensitif,” gerutu Yasmin.
“Tetap saja Yasmin, suatu saat harus di bahas...apalagi di antara kalian berdua tidak anak. Tidak ada salahnya kami orang tua kamu, mengingatkan. Toh itu juga buat kamu, memangnya kamu bisa hidup di miskin, sejak kecil kamu sudah bergelimang harta dari mama dan papa,” imbuh Susi.
“Rayu suami kamu, biar beberapa saham perusahaan jadi milik kamu, paling tidak bisa membantu perusahaan kita untuk menarik investor baru. Saham Perusahaan Indo Prakasa itu bisa buat jaminan mereka ketika mereka menyuntikkan dana segar ke perusahaan kita,” kata Herman.
“Ya..nanti aku coba merayunya,” jawab Yasmin.
Yasmin yang sudah terlahir menjadi anak konglomerat, pasti tidak mau lah hidup tanpa harta dan kemewahan, itu lah mengapa saat akan di jodohkan dengan Kavin sang pemilik retail terbesar, langsung di iya kan, dan langsung mencoba mencari perhatian Kavin. Selain jatuh cinta dengan orangnya, Yasmin tidak munafik jika dia juga cinta dengan kekayaan suaminya.
🌻🌻
Ruang kerja
Wajah tampan pria itu tampak kusut, terdiam dalam duduknya, dan kepala nya bersandar di sandaran sofa.
__ADS_1
Meninggalkan ruang makan, pria itu langsung masuk ke ruang kerjanya bukan ke kamar nya. Rasanya sangat malas ke kamar dia bersama istrinya.
Anak...pewaris...Yasmin
Ketiga kata itu mulai memenuhi isi kepala nya, anak...pria itu sangat mendambakan seorang atau dua orang anak, tapi dirinya sudah tak ada daya.
Pewaris...Yasmin
Entah kenapa hati kecil pria itu memberontak, tidak menyetujui jika istrinya Yasmin yang akan menjadi pewaris semua kekayaannya, padahal pria itu sering berkata cinta dengan istrinya Yasmin.
Sudah lelah bekerja seharian di kantor, malam bertemu mertua di mansionnya, membahas yang tidak enak di hati. Tak lama pria itu memilih memejamkan kedua mata nya.
“Salma...,” Kavin tersentak sendiri ketika teringat akan gadis itu, lalu mengerjapkan matanya.
“Benarkah kamu bisa bangun, jika dengan Salma,” gumam Kavin sambil menyentuh si gogon. Namun seketika itu juga Kavin terlihat putus asa, mengingat kejadian tadi siang.
“Ah mungkin kamu hanya bisa bangun sesaat ketika dekat dengannya, tapi loyo kembali ketika mau bertempur. Lagi pula dia juga bukan wanita baik-baik. Tidak pantas hamil calon anakku,” gumam Kavin sendiri, sambil tersenyum sinis.
Sementara di kamar Salma...
Yuni terlihat sibuk merapikan bekas makan miliknya dan milik Salma.
“Mbak Yuni, nanti setelah taruh piring kotornya, balik ke sini lagi. Malam ini Mbak Yuni temani saya tidur di sini,” pinta Salma sambil menepuk ranjang.
“Non Salma, saya gak enak kalau tidur di sini. Takut Nyonya Rossa menegur saya,” tolak Yuni.
bersambung......
"Lebih baik waspada sebelum terjadi, mencegah yang tidak di inginkan di malam hari. Jujur aku takut jika tengah malam orang gila itu menyelinap ke kamar," gumam Salma
"Salma, aku ingin—," Kavin tak mampu berkata lagi.
__ADS_1