Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Dia telah tiada


__ADS_3

Dua kali penyatuan, akhirnya hasrat Salma sudah bisa ditenangkan. Dan kini gadis itu berada di dekapan Kavin, tertidur pulas.


Kavin mengulas senyum bahagia dan masih terbayang pergulatan yang penuh sensasi dengan gadis itu. “Maafkan aku selama ini yang telah menuduh mu yang tidak benar, Salma,” gumam Kavin sembari mengusap pipi gadis itu, lalu mengecup nya.


“Aku bahagia sayang, besok kita akan menikah...kamu milikku selamanya,” gumam Kavin, yang belum bosan menatap wajah Salma.


Salah satu tangan Kavin menyentuh perut rata Salma, lalu tersenyum tipis sambil mengingat bagaimana si gogon memuntahkan larvanya sebanyak dua kali di dalam perut bawah gadis itu.


“Semoga gara gara malam ini kamu hamil anak kita ya sayang,” gumam Kavin sambil mesem-mesem sendiri. Lalu kembali mengeratkan tubuh Salma. Tak memakan waktu lama pria itu masuk ke dalam alam tidurnya.


🌻🌻


Jam 05.00 wita


Deburan ombak di pantai terlihat begitu tenang, langit masih terlihat gelap namun terlihat semburat cahaya matahari mulai ingin menampakkan dirinya.


Jejak kaki seorang wanita meninggalkan bekas di pasir pantai itu, langkah kaki yang nampak berat seperti beban hidupnya, namun berjuang untuk terus melangkah.


Tidak ada ekspresi yang tersirat dalam wajah gadis itu, hanya tatapan kosong dan lurus menatap luas pantai. Sejenak dia menghirup udara pantai yang terasa sejuk di pagi ini, kemudian memejamkan kedua matanya, lalu menjatuhkan handphone yang ada di tangannya begitu saja.


Di rasa sudah cukup menikmati udara paginya, dilepasnya sandal yang di pakainya, dan memaksakan untuk melangkahkan kakinya yang terasa sakit jika berjalan. Namun akhirnya kedua kakinya bisa menyentuh air laut yang terasa dingin.


“Selamat tinggal dunia,” ujar lirih gadis itu, kembali berjalan menuju ke tengah laut ..dan akhirnya pandangannya gelap.


Jam 8.15 wita


Kavin masih memejamkan matanya, tapi terlihat pria itu sangat gelisah dalam tidurnya, keningnya serta tubuhnya yang belum menggunakan baju sudah banjir berkeringat, padahal suhu AC di kamar terasa dingin.


“Enggak...enggak...mungkin,” racau Kavin dalam tidurnya, deru napasnya terlihat naik turun.


“GAK...SALMA!!” racau teriak Kavin, kedua netranya langsung terbuka, degup jantungnya mulai berdebar-debar.


Kedua netra pria itu melihat ke samping kanannya dan kirinya. Tak ada Salma dalam dekapannya, yang ada hanya lah bantal dan noda darah yang ada di spreai berwarna putih.


“Salma....,” panggil Kavin,  sambil menelisik ke semua arah. Tak lama pria itu menyibak selimutnya, dan memakai boxernya.


“Salma...,” Kavin kembali memanggil sambil mengecek ke kamar mandi, lalu ke ruang tamu.


“Salma...kamu di mana sayang?” mulai cemas Kavin.


Dilihatnya baju milik Salma tidak ada di meja, begitu pula dengan handphonenya. Tanpa membersihkan dirinya, pria itu langsung menggunakan pakaiannya. Pikirannya sudah mulai ke mana-mana.

__ADS_1


Baru saja mau keluar kamar.


TING...TONG


Bel kamar berbunyi. Pria itu membukakan pintu kamarnya.


“Pagi, Tuan Kavin,” sapa Ari dan Tomi bergantian.


“Pagi Ari, Tomi,” balas Kavin.


Ari menyodorkan handphone, sweater dan sandal milik Salma. “Tadi di front office ada ibu-ibu yang mengantarkan ini, katanya dia menemukan ini di pinggir pantai. Dan setelah lihat wallpaper handphonenya, ada foto Salma. Sepertinya Salma meninggalkannya,” lapor Ari.


DEG!


“Takutnya Salma benar benar ketinggalan barang nya, Tuan,” sambung Tomi.


“ A-Ari...Salma tidak ada di kamar dengan saya,” bergetar suara Kavin.


Ari dan Tomi langsung bersitatap......


“Pinggir pantai, jangan-jangan...!” langsung terbelalak kedua netra mereka bertiga.


“Panggil team Rescue, cek CCTV resort!!” teriak Kavin, pria itu sudah terlebih dahulu berlarian menuju santai yang ada di belakang resortnya. Ari dan Tomi juga turut menyusul sambil mengontak team rescue.


Kavin berlarian secepat mungkin menuju pantai, dadanya mulai terasa sesak. Kedua netranya pun mulai berembun.


“SALMA....!” teriak Kavin dengan suara menggema, pria itu berlari-larian di pinggir pantai.


“SALMA...SAYANG!” Kavin masuk ke air pantai, sambil menjambak rambutnya.


Tak lama...


“Tuan Kavin,” teriak beberapa team penyelamat, lalu menghampiri pria itu yang mulai masuk ke air laut, dan menarik tubuh pria itu.


“Sabar Tuan, kami akan mencari keberadaan Nona Salma,” ujar salah satu orang.


“Cari calon istri saya, hari ini kami akan menikah,” balas Kavin dengan wajah sedihnya, dan paniknya.


Setelah urusan cek cctv selesai, Ari dan Tomi sudah menyusul Kavin, yang sudah di tarik kembali oleh team penyelamat ke pinggir pantai.


Hosh....hosh....Ari mengatur napas terlebih dahulu sebelum berbicara.

__ADS_1


“T-Tuan Kavin....,” panggil Ari.


Kavin yang sedang terduduk di pasir pantai sedikit mendongakkan wajahnya, tak lama Ari pun turut duduk di samping tuannya.


“Saya ingin menunjukkan ini,” Ari menyodorkan handphonenya, dan memplay video rekaman cctv-nya. Kembali lagi dada Kavin terasa sesak.


Dalam video tersebut Salma dengan langkah kaki yang agak pelan, keluar dari kamar dan menuju pantai di waktu shubuh. Namun sayang di sekitar pantai tidak terpasang cctv, jadi tidak tahu ada kejadian apa.


Dan sampai detik ini di cctv resort tidak menunjukkan Salma kembali ke resort, maupun keluar dari lobby resort.


 “Gak mungkin ini Salma, Ari. Gak mungkin Salma menuju pantai...!” seru Kavin, napasnya terasa sesak. Lalu pria itu menatap hampa ke arah pantai, dan melihat team penyelamat sedang melakukan penyisiran.


“Tapi Tuan menurut ibu yang menitipkan barang ke front office, benar-benar menemukannya di pinggir pantai sekitar jam 6. Saya sudah menanyakannya,” ujar Ari. Buat Ari juga ini sangat berat, menerima kenyataannya.


Pria itu bangkit dari duduknya, lalu menarik kerah baju Ari. “Jangan bilang, kalau Salma menenggelamkan dirinya, Ari!” teriak Kavin, antara sesak dan murka menjadi satu.


“T-Tuan.....,” tak sanggup Ari melanjutkan kalimatnya.


“Jangan bilang Salma benar-benar melakukan hal bodoh lagi,” Kavin masih menarik kerah kemeja Ari, dan Ari membiarkannya. Air mata mulai mengalir di kedua netra Kavin, sudah tak sanggup menahan rasa sesaknya.


Tubuh pria itu kemudian melorot ke bawah, dengan bertumpu kedua lututnya, pria itu menenggelamkan kepalanya, dan terdengarlah isak tangis pria itu.


Ya Allah....benarkah Salma melakukannya?...batin Ari juga sedih.


Ari meminta Tomi dan teamnya mengecek cctv resort kembali untuk memastikan keberadaan Salma, apakah benar-benar tidak ada di resort dan menuju ke pantai, agar tidak berasumsi buruk. Sedangkan dia sendiri tetap menemani Tuannya yang terlihat rapuh.


Ibu yang menemukan barang Salma juga turut hadir di pinggir pantai, dan menjelaskan kronologi penemuannya, semakin hancurlah Kavin mendengarnya. Pria itu tak sanggup lagi menerima kenyataan, ingin rasanya dia menenggelamkan dirinya ke laut untuk mencari gadis itu.


“Sebegitukah kamu membenciku, hingga kembali melakukan hal yang bodoh lagi,” gumam Kavin dalam isak tangisnya.


Dengan wajah sembabnya Kavin menatap Ari. “Jangan bilang dia telah tiada, cari dia sampai ketemu,” ucap lirih Kavin, mulai tak berdaya.


Ari tak bisa menjawabnya, hanya bisa merengkuh bahu Tuannya, memberikan ketenangan sesaat. Dan sama-sama sedang menatap team penyelamat, yang sudah berada di laut.


bersambung....



Kakak Readers yang cantik dan ganteng jangan lupa tinggal kan jejaknya. Yang masih punya Vote mau dong di lemparin ke Salma dan Kavin, makasih sebelumnya.


Love You sekebon 🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


 


__ADS_2