Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Salma Hadeeqa Istri yang dibenci


__ADS_3

Masih di hari yang sama, tapi sudah menjelang petang. Kavin masih termenung di pendopo pinggir pantai, sedangkan Mama Rossa pun turut termenung, setelah wanita tua itu lelah menangis akibat mendapat kabar Salma menghilang di pinggir pantai.


“Tuan Kavin, Nyonya Rossa sebaiknya kita kembali ke villa, hari sudah menjelang petang. Sedangkan team penyelamat menghentikan pencariannya, akan dilanjutkan esok hari lagi,” ujar Ari pelan.


Kavin dan Mama Rossa hanya bisa mengangguk pelan, menyetujui permintaan Ari. Kavin langsung beranjak dari duduknya, dan langsung memapah Mama Rossa, sama-sama terlihat lesu berjalan  menuju villa.


Tomi tadi siang sudah melaporkan ke Kavin hasil mengecek cctv, tidak ada tanda-tanda Salma keluar dari lobby resort milik Adiputra, semua menunjukkan jika Salma mengarah ke pantai, dan tak kembali ke resort.


Keadaan Kavin terlihat tidak baik-baik saja, pria itu sedari pagi hanya berada di pinggir pantai, dirinya juga terlihat frustasi. Berulang kali Ari membawakan makanan untuk tuannya, itu pun harus di paksa makannya walau alhasil hanya beberapa suap makannya.


Setibanya di villa, pelayan langsung menyiapkan makan malam untuk tuan dan nyonya, beserta Ari, yang kini sedang duduk di ruang tengah. Suasana tampak hening, belum ada yang memulai berbicara.


Ari selaku asisten Kavin, meletakkan handphone milik Salma yang sedari pagi tersimpan di sakunya. Sesaat sang asisten menatap wajah Mama Rossa, dan Mama Rossa mencoba memahami maksud dari tatapan Ari.


“Kavin...,” Mama Rossa membuka pembicaraan.


“Ya...,” jawab tak semangat Kavin.


“Kejadian yang menimpa Salma, kita harus mengabari keluarganya,” pinta Mama Rossa.


“Salma sudah tidak memiliki keluarga lagi mam, ibu dan ayahnya sudah meninggal,” jawab Kavin pelan.


“Salma, masih punya paman dan bibi,” balas Mama Rossa.


Ari kembali mengambil handphone milik Salma, dan membuka galerinya, kemudian memberikan handphone nya ke Mama Rossa.


Mama Rossa menatap foto tersebut, kemudian memberikannya ke Kavin.


“Mungkin kamu pernah bertemu dengan pria ini,” Mama Rossa menunjukkan foto tersebut.


Kavin menatap foto pria tersebut yang bersama dua wanita muda, salah satunya Salma. Pria itu nampak berusaha mengingat-ingat.


DEG!


Selepas Kavin teringat, pria itu langsung menatap Ari.


“Apakah Tuan Kavin, sudah mengingat nya?” selidik Ari.


“I-ini...pria yang ada di desa kan? Adik korban?” Kavin agak tergagap berbicara, mengingat tragedi tabrakan.

__ADS_1


“Didit, paman Salma Hadeeqa,” Ari menegaskan.


Tangan Kavin yang memegang handphone milik Salma, langsung gemetar dan menatap nanar ke arah Ari.


“Ja-jangan...b-bilang...ka-kalau Salma itu,” tak sanggup lagi Kavin berkata, malah kedua netranya kembali berembun...langsung terjatuh air matanya.


“Salma Hadeeqa, anak korban kecelakaan tabrakan empat tahun silam Tuan. Anak korban yang Tuan nikahi, istri dari desa, istri yang Tuan benci, istri yang ingin Tuan ceraikan,” imbuh Ari, dengan tatapan datarnya.


Tubuh Kavin langsung lemas seketika, isak tangisnya mulai terdengar.


“Sa-Salma istri ke-kedua saya!” pria itu menunjukkan dirinya sendiri, dengan perasaan gamang.


“Ya,” jawab Ari sangat meyakinkan.


“AARGH....,” pekik Kavin frustasi, pria itu langsung beranjak dari duduknya, lalu masuk ke dalam kamarnya.


PRANK!


PRANK!


“GAK MUNGKIN DIA ISTRI YANG KUBENCI...ITU GAK MUNGKIN...SALMA!” teriak Kavin sekencang mungkin di dalam kamarnya.


Kavin kembali membabi buta menghancurkan barang yang ada di dalam kamarnya bagaikan orang gila.


 Bagaimana bisa dia tidak tahu dan ingat nama wanita yang di nikahi nya di desa! bagaimana bisa dia tidak mau tahu wajah istrinya yang di desa selama ini, yang ada hanyalah kebencian karena beranggapan wanita itu telah membawa sial, karena dia impoten gara-gara menikah dengan Salma.


Namun kenyataannya istri kedua sudah hadir dan berada di sampingnya selama ini, tapi lagi-lagi dia tidak menyadarinya. Justru wanita itu ingin diceraikannya dalam waktu dekat.


Wanita yang ingin di ceraikan dan ingin di nikahi oleh Kavin adalah wanita yang sama. Dan sekarang dia telah tiada, menghilang begitu saja.


Dada Kavin sudah semakin terasa sesak, hatinya hancur-sehancurnya. “TIIIIDAAAKK....!” Kavin masih belum menerima kenyataan yang baru saja diketahuinya.


“KEMBALILAH SALMA!” jerit Kavin kesakitan, sakit dengan dirinya sendiri, pria itu memukul-mukul dadanya sendiri, hatinya terasa nyeri bagaikan di sayat belati tajam. Sakit tapi tak berdarah. Luluh lantah hatinya tak bisa lagi di ungkapkan.


🌻🌻


Mama Rossa juga menangis kembali, hatinya tambah sedih dan pilu mendengar teriakan putranya sendiri. Dan masih belum bisa menerima kenyataan jika Salma nekat mengakhiri hidupnya di pantai.


Entah kenapa wanita tua itu kembali mengambil handphone milik Salma, dan membuka galerinya. Satu persatu Mama Rossa melihat foto selfi milik Salma, menantu kedua yang sangat cantik, ketika melihat satu persatu melihat galeri foto Salma, tiba-tiba Mama Rossa tampak tercengang, jemarinya menyentuh layar handphone, melihat foto wanita dan pria yang mengapit Salma yang masih terlihat muda, seperti anak berusia 12 tahun.

__ADS_1


“Chintyia....Yudo,” ucap lirih Mama Rossa, tak percaya dengan yang di lihatnya. Hatinya mulai bergemuruh, kemudian Mama Rossa langsung menatap Ari.


“Ari, apakah ini pria yang di tabrak Kavin, namanya Yudo?” mulai berdebar jantung Mama Rossa, sambil menunjukkan foto tersebut.


Ari langsung melihat handphone, dan langsung mengenalinya karena melihat wajah pria itu ketika mengalami kecelakaan.


“Ini Ayah Salma, benar namanya Yudo,” jawab Ari yakin.


“Ya Allah...Kavin,” tubuh Mama Rossa gemetar hebat. Ari langsung memegang tubuh Mama Rossa.


“Nyonya....baik-baik sajakan,” Ari mulai ketakutan lihat keadaan Mama Rossa.


“A-Ari....Yudo itu, suami sepupu saya Chintya. Ja-jadi Salma itu—,” sudah tak kuasa lagi akhirnya Mama Rossa, tumbang tak sadarkan diri.


“Astaga....kenapa kenyataannya seperti ini,” ikut terkejut Ari.


“Kalian semua tolong bantu angkat Nyonya, pindahkan ke kamar,” pinta Ari, memanggil para pelayan villa.


Jati diri Salma Hadeeqa terungkap semuanya. Kavin baru tahu jika Salma istrinya, Mama Rossa baru tahu jika Salma anak dari saudara sepupunya, yang sudah lama menghilang. Ibu dan anak keadaannya sama-sama hancur seketika.


**


Esok Hari...


Pagi hari di villa.


Hati Mama Rossa masih terguncang, hasil dari pemeriksaan Dokter semalam dan pagi ini masih berbaring di ranjang karena tensi rendah, untungnya pelayan villa sigap memenuhi kebutuhan Mama Rossa.


Sedangkan Kavin juga masih terguncang, di tambah lagi semalam pria itu melukai kedua tangannya dengan memukul cermin di kamarnya, alhasil pagi ini dokter mengobati luka di kedua tangannya.


Tatapan Kavin terlihat kosong, tubuhnya seperti tak berdaya. Untuk bertanya dengan Ari saja, lidahnya terasa keluh. Hatinya sudah semakin terpuruk, kepingan-kepingan masa lalu bagaikan hantu untuk dirinya. Begitu kejamnya, begitu menyakitkan perbuatan dia terhadap Salma, dan begitu dirinya sangat menginginkan Salma. Inikah karma untuk dirinya sendiri, membenci dan mencintai wanita yang sama.


Ari dan Tomi masih bersinergi dengan team penyelamat mencari keberadaan Salma. Sedangkan Yasmin, Merry dan Dimas masih di kurung di markas. Menanti keputusan Kavin.


 bersambung.....


"Bagaimana Kavin rasanya? Sakit kah?" tanya mommy Ghina. "Selamat menikmati rasa sakit mu!"


__ADS_1


"Benarkah kamu telah tiada, Salma?" gumam Kavin.



__ADS_2