
Wanita tua itu menatap menantu keduanya lekat-lekat, dan mendengarkan baik-baik apa yang di bicarakan dan apa yang di minta oleh gadis itu. Bolehkah wanita tua itu egois untuk menolak permintaan gadis itu, atas nama kasih sayang nya kepada Salma? Rasanya tidak akan bisa...kejadian semalam kejadian yang memilukan untuk menantu kedua. Lalu kenapa Mama Rossa tidak membongkar saja tentang pernikahan Kavin dan Salma saat ini juga? Jawaban nya lebih baik gadis itu tidak tahu, setelah melihat betapa besarnya kebencian gadis itu terhadap putranya. Alangkah lebih baik mereka berpisah, dan wanita tua itu nanti akan memaksa Kavin untuk segera menceraikan istri keduanya dengan berbagai alasan, tanpa memberitahukannya jika Salma adalah istri keduanya.
“Aku harap mama mengabulkan permintaanku mam, sudah waktunya aku berhenti kerja di perusahaan Indo Prakarsa,” pinta Salma dengan tatapan teduhnya.
Mama Rossa masih mengamit jemari Salma, perasaannya gundah dan pilu kembali. Baru saja merasakan memiliki anak perempuan, sekarang harus berjauhan, semua akibat kelakuan Kavin.
“Hiks...hiks...hiks...,” tak kuasa lagi Mama Rossa menahan air matanya, yang sudah memaksa dirinya untuk menumpahkan begitu saja di hadapan Salma. Gadis itu pun merasakan betapa tulus kasih sayang wanita tua itu yang meminta di panggil oleh gadis itu dengan sebutan ‘mama'.
Jemari lentik gadis itu mengusap lembut Mama Rossa, dan menatap teduh. “Sepertinya mama tidak sanggup jika harus berpisah denganmu...hiks...hiks..,” tutur Mama Rossa.
“Mama nanti kita masih bisa bertemu di luar kantor, masih bisa komunikasi lewat telepon,” jawab lembut Salma, wanita tua itu menganggukkan pelan.
“Mama juga tidak bisa menahan dirimu lagi, mama tahu rasa sakit yang kamu rasakan...andaikan Kavin tidak berbuat seperti itu lagi...,” rasa kesal melanda Mama Rossa.
“Dan karena hal itu sebaiknya aku berhenti kerja mam, ini tidak baik untuk diriku sendiri juga keluarga mama dan Kavin.”
“Iya nak...nanti mama akan urus masalah pinalti kamu. Tapi untuk saat ini kita selesaikan pekerjaan di Bali, setelah di Jakarta baru mama urus semuanya,” pinta Mama Rossa.
“Baik mam, aku akan tetap bertanggung jawab membantu mama di sini,” balas Salma.
Permintaan Salma yang sangat sulit buat Mama Rossa, tapi wanita itu sudah pernah berjanji untuk memenuhinya.
🌻🌻
Yasmin dan Merry berada di ruang tengah seperti menunggu seseorang dengan wajah yang penuh emosi sepertinya.
Salma dan Mama Rossa keluar kamar berbarengan, dan terlihat sudah rapi dengan setelan baju kerjanya. Melihat mereka datang, Yasmin langsung beranjak dari duduknya dan segera mendekati Salma dan Mama Rossa.
PLAK!
Salah satu pipi Salma, di tampar oleh Yasmin, membuat gadis itu terkesiap.
__ADS_1
“Sepertinya mama telah memilih asisten tipe Pelakor, ya mam!” ujar Yasmin, dengan suara lembutnya.
“Tangan kamu sangat ringan sekali untuk menampar, serta mulutmu menuduh Salma sebagai Pelakor!” seru Mama Rossa, sambil melindungi Salma dari menantu pertamanya.
“Mama tidak usah melindungi Salma, dia itu Pelakor, berani menggoda suamiku. Aku punya buktinya!!” tutur Yasmin dengan tatapan menyalak menatap Salma yang berada dibalik tubuh Mama Rossa.
Salma bukan Pelakor, tapi istri yang dibenci Kavin...batin Mama Rossa.
Merry beranjak dari duduknya lalu menghampiri mereka bertiga. “Ini Nyonya Rossa bukti kalau Salma seorang Pelakor yang sengaja menggoda Tuan Kavin, secara terang-terangan Salma dan Tuan Kavin masuk ke dalam kamar resort, coba Nyonya bayangkan apa yang di lakukan di dalam kamar kalau hanya berdua, pasti mereka telah berhubungan intim kan,” tuduh sinis Merry sambil menunjukkan foto dalam handphonenya, foto ketika tubuh Salma diangkat Kavin ketika masuk dalam kamar.
Mampus loe Salma, ternyata benar dugaan gue ternyata loe hanya wanita murahan! Sebentar lagi loe bakal di depak dari perusahaan!..batin Merry terasa senang.
Mama Rossa yang melihat foto itu hanya bisa tersenyum kecut, kemudian menatap balik ke Yasmin dan Merry.
“Memangnya kenapa kalau Kavin dan Salma berada di dalam kamar? bukannya kamu tahu kalau suami kamu —?” tanya balik Mama Rossa, tanpa melanjuti bagian akhirnya, cukup Yasmin yang tahu.
“Tapi tetap saja Salma telah menggoda suamiku mam, tidak usah membelanya!” tidak terima Yasmin.
“Salma patut mama bela, karena mama tahu kejadian nya, ketimbang kamu yang tidak melihat dengan mata sendiri. Dan termakan dengan hasutan temanmu sendiri. Jangan lupa Yasmin, mama pikir kamu juga bukan wanita yang setia dengan suami kamu. Mama yakin kamu paham karena hanya kamu sendiri yang tahu. Mungkin bisa saja kamu seorang Pelakor di luar sana atau tante-tante gatal...how know's...jangan sok suci...sok lembut!!” imbuh Mama Rossa dengan nada yang sedikit mengejek.
DEG!
“Sebelum kamu menuduh orang lain sebagai Pelakor sebaiknya cari bukti yang lebih akurat, jangan hanya sepintas saja. Dan kamu Merry, berhati-hatilah dengan hasutan yang kamu buat, bisa jadi bumerang buat kamu sendiri!” ujar Mama Rossa, tatapan tidak sukanya dengan Yasmin dan Merry terlhat jelas.
“Sepertinya mama sudah kena guna-guna sama Salma, sampai aku di tuduh sebagai Pelakor dan tante-tante gatal. Aku menantumu mam, yang telah menikah dengan Kak Kavin selama empat tahun....hiks...hiks..,” ujar lembut Yasmin dengan berderai air mata, sepertinya air mata buaya yang meluncur dari kedua netra Yasmin, yang sedang mencari simpati Mama Rossa.
Mama Rossa menyeringai tipis. “Empat tahun kamu menikah dengan anak saya, dan selama empat tahun mama sangat mempercayai kesetiaanmu pada putraku....tapi sayang mama sudah tak yakin lagi setelah ada yang melihat dirimu cek-in di hotel dengan seorang laki-laki. Haruskah mama termakan hasutan dengan orang yang memberitahukan ke mama, kalau kamu tak jauh beda seperti Pelakor atau wanita murahan,” balas Mama Rossa dengan tegasnya dan tak sedikit pun memalingkan tatapannya kepada menantunya.
DEG!!
Jantung Yasmin berdegup kencang, semakin basahlah kedua tangan wanita itu dengan keringat yang keluar tanpa permisi, akan tetapi Yasmin berusaha menunjukkan wajah biasa saja.
__ADS_1
“Itu bohong mam! Mama jangan termakan dengan hasutan orang itu. Aku tidak pernah cek-in di hotel dengan pria siapapun kecuali dengan Kak Kavin. Mungkin dia salah orang, bisa saja hanya mirip,” Yasmin berusaha menyanggahnya, dan menutupi rasa gugupnya.
“Mmm...ya semoga saja hanya mirip!” balas Mama Rossa, tapi tatapannya tidak memercayai sanggahan Yasmin.
Sejenak hening...
“Bagaimana Yasmin tidak enakkan rasanya di tuduh sebagai pelakor! Sama seperti Salma, yang tiba-tiba di tuduh sebagai Pelakor, menggoda suami kamu. Minta maaflah sama Salma sekarang juga, karena kamu sudah menuduh dan menamparnya!” titah Mama Rossa.
Sialan kenapa aku harus minta maaf sama karyawan rendahan itu....ogah banget.
Belum ada respon dari Yasmin....
“Sudah mam, jangan di paksakan. Sepertinya Nyonya Yasmin enggan untuk meminta maaf,” sambung Salma, sembari mengapit lengan Mama Rossa.
“Ya sudah sebaiknya kita berdua sarapan di pinggir pantai saja, biar mood mama jadi baik,” ajak Mama Rossa. Mereka berdua pun menyingkir dari hadapan Yasmin dan Merry, berlalu begitu saja.
Batin Yasmin mengeram, dan terkepal kedua tangannya, serta tatapan tajam melihat mama mertuanya pergi dengan Salma.
Tunggu pembalasanku Salma, gara-gara kamu, mama mertuaku berpaling dariku. Akan aku buktikan jika kamu wanita murahan!!
*bersambung....
Kakak Readers mohon maaf ya aplikasi NT milikku khusus menulisnya agak error, setiap mau tambah bab baru, tulisannya langsung hilang berulang kali sampai kesal sendiri. Sekarang sedang cari solusinya dulu, semoga bab yang ini tidak hilang, bisa muncul 😞😞*
Di dalam kamar resort, Kavin dan Ari sedang baku hantam
__ADS_1
"Lebih baik berhenti bekerja dari perusahaan Indo Prakarsa."