Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Rahasia Kavin


__ADS_3

Keesokan Hari.


BALI


Hari kedua berada di Bali, dari pagi gadis itu sudah terlihat rapi dengan setelan baju kerjanya yang sedikit membentuk tubuh mungilnya. Sesuai perintah Mama Rossa, gadis itu mengecek kesiapan room meeting yang ada di dalam resort, serta koordinasi dengan karyawan resort.


Untuk hari ini jadwal Salma dan Mama Rossa sangat padat, pagi hari mulai dari jam 9.00 WITA mereka akan meeting tahunan dengan pihak manajemen Mall milik Kavin.


Dirasa sudah oke persiapannya, Salma kembali ke villa privat untuk menjemput mama Rossa.


“Semuanya sudah siap, nak?” tanya Mama Rossa, yang masih menyantap sarapan paginya.


“Room meeting, serta pihak restoran sudah siap semua mam,” lapor Salma.


“Duduklah jangan berdiri saja, ayo sarapan biar kita ada tenaga untuk meeting seharian,” pinta mama Rossa.



Sebenarnya tadi pagi gadis itu sudah makan roti sobek plus teh hangat, tapi melihat hidangan yang ada di meja jadi mengunggah seleranya, akhirnya gadis itu duduk bersama Mama Rossa dan ikutan menikmati makanan.


“Tumben nak, kamu pakai baju kerjanya agak seksi?” tanya Mama Rossa.


“Kenapa Mah, gak cocok yang di badan aku. Atau mama gak suka ya?”


“Cocok kok, bukan mama tidak suka, hanya tumben saja.”


“Ganti suasana mam, siapa tahu bisa bikin mood kerja tambah semangat,” balas Salma sambil tersenyum tipis, sesungguhnya dia sengaja karena ada seseorang yang mengawasinya, alias suruhan Kavin.


Derrt....Derrt...Derrt


Orang gila calling......


Baru saja muncul di pikiran kepalanya ternyata pria itu langsung menelepon.


“Telepon dari siapa nak? Kenapa tidak di angkat aja?” tanya Mama Rossa.


“Tuan Kavin, Mam.”


“Ya sudah terima aja,” ucap Mama Rossa.


“Ya Mam.”


Tanpa beranjak dari duduknya, gadis itu menerima panggilan telepon dari Kavin.


“Hallo...,” gadis itu berusaha bersikap sopan menjawab telepon dari Kavin, karena ada Mama Rossa.


“Memangnya kalau pakai baju kerja itu harus seksi ya, memangnya perlu itu dada kecil kamu di perlihatkan, memangnya perlu itu roknya belahannya setinggi itu!” Kavin langsung mencerocos udah kayak emak-emak.


“Salma, dengar gak saya ngomong, memangnya kamu gak bawa baju kerja yang lebih tertutup....hah!!” geram Kavin setelah dapat foto terbaru Salma yang berada di room meeting.


Dari balik telepon ada senyuman lebar dari bibir Salma, setelah mendengar Kavin sudah tarik urat di pagi hari.


“Tuan Kavin, coba ambil minum dulu yuk..,” pinta Salma dengan suara yang terdengar lembut.

__ADS_1


Refleks mendengar permintaan Salma, pria itu langsung mengambil gelasnya yang ada di sebelah kanannya.


“Sekarang di minum dulu airnya ya,” pinta Salma kembali.


Pria itu menuruti perintah Salma.


“Sudah minum kah?”


“Sudah,” jawab Kavin.


“Sudah legaan dadanya?" tanya Salma dengan lembut nya.


“Sudah.”


“Duh pintar anaknya Mama Rossa.” Ucap Salma sambil terkekeh kecil.


Kedua netra Kavin membulat, baru sadar dirinya sedang di kerjaaiin oleh Salma.


“SALMA!!” suara Kavin dalam telepon agak meninggi.


“Iish gak usah pakai teriak lagi, ingat marah-marah terus jadi cepat tua loh. Kalau pagi hari itu gak usah ngomel-ngomel, nanti ganteng nya Tuan Kavin jadi berkurang. Nanti Nyonya Yasmin bisa berpaling kalau suaminya cepat tua. Sudah ya jangan marah terus ya, sekarang Tuan lanjut sarapannya lagi. Biar ada tenaga untuk melihat foto selanjutnya, selamat bekerja ya, bye,” ujar lembut Salma, kemudian memutuskan teleponnya.


Kavin hanya bisa terhenyak mendengar suara Salma yang begitu menggoda dan lembut, dunia nya sepertinya sedang di jungkir balik kan oleh Salma.


Seseorang yang sedang marah, jangan terlalu sering di balas dengan emosi juga. Ini lah yang dilakukan oleh Salma membalas perlakuan Kavin dengan kelembutannya, walau hati nya sangat membenci pria itu.


Mama Rossa diam-diam tersenyum mendengar percakapan Kavin dan Salma, karena gadis itu sengaja meloudspkear handphonenya.


“Iya mah, tapi paling tidak semoga anak mama berkurang emosinya, nanti semakin tua wajahnya,” balas Salma.


“Kavin memang sudah tua kok, usianya sudah 39 tahun.”


“Ooh sudah banyak ya mah umurnya. Tapi maaf nih mah, kenapa Tuan Kavin belum punya anak?”


Sejenak Mama Rossa menghentikan suapannya kemudian menoleh ke arah Salma.


Harus kah aku berkata jujur pada Salma, mengenai Kavin yang impoten.


Melihat raut wajah Mama Rossa berubah sedih, membuat Salma merasa tidak enak. “Maaf mah, kalau pertanyaan tadi jadi membuat mama tersinggung.”


“Tidak...mama tidak tersinggung dengan pertanyaan kamu. Andaikan mama berkata jujur padamu, bisa kah kamu menyimpan rahasia ini kepada siapa pun?”


“Insya Allah, aku bisa menjaga rahasia mah,” sangat menyakinkan jawaban Salma.


“Kamu mungkin sudah tahu jika empat tahun yang lalu Kavin pernah kecelakaan.”


Salma menganggukkan kepalanya, sudah tahu tentang hal itu karena Salma melihat sendiri di rumah sakit dengan tidak kesengajaan.


“Karena kecelakaan itu, Kavin mengalami impoten hingga saat ini,” lanjut Mama Rossa.


“Im-impoten!” terbelalak kedua netra Salma, kaget dan tak percaya. Salma langsung menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


“Ya....karena impoten itu, Kavin tidak bisa memiliki anak,” nada Mama Rossa terdengar sedih.

__ADS_1


“Maaf ya mah, aku turut prihatin dengan apa yang menimpa Tuan Kavin, tentang rahasia ini akan aku jaga rapat-rapat,” tutur Salma, agak menyesal telah menanyakan tentang anak. Pantas saja kemarin sore Kavin juga menegurnya agar menjaga ucapannya. Sudah pasti pria itu tersinggung.


“Sebaiknya kita selesaikan sarapannya, sebentar lagi jam 9,meeting segera di mulai,” pinta Mama Rossa mengalihkan pembicaraan mereka berdua tentang Kavin, namun setelah tahu tentang Kavin impoten, gadis itu sedikit lega hatinya dan menurutnya dirinya aman jika Kavin mencoba mendekati dirinya, wong si gogon gak bisa berdiri...anggapan Salma.


🌻🌻


Jakarta


Perusahaan Indo Prakarsa


Jam 13.00 wib


Ari dan Merry sudah kalang kabut siang ini, Tuan mereka minta semua jadwal pertemuan nya di majukan, harus di tuntaskan sebelum jam tiga sore.


Kepala pria itu sudah ngebul dan cenat cenut setelah si Tomi mengirim foto Salma dengan laki-laki bule di restoran resort, bagaimana bisa si Salma tersenyum ramah dengan laki-laki bule itu.


“Pokoknya semua scedule yang penting majukan sebelum jam tiga sore. Dan kamu...Ari siapkan jet pribadi jam 4 sore ini juga. Kita akan ke Bali!” perintah Kavin dengan wajah murkanya kepada Ari dan Merry.


Ari hanya bisa tepok jidat mendengar perintah Kavin yang tidak masuk akal ini. Tapi harus di turuti.


“Tuan Kavin, saya di ajak ke Bali kah?” tanya Merry.


“Buat apa kamu ikut ke Bali!” seru Kavin.


“Siapa yang akan ke Bali?” tiba-tiba saja Yasmin masuk ke ruangan Kavin.


Semua yang ada di ruangan CEO, langsung menatap Yasmin yang baru saja datang.


“Tuan Kavin sore ini akan ke Bali, Nyonya Yasmin,” lapor Merry.


“Ke Bali....sayang kok semalam tidak kasih tahu kalau hari ini mau ke Bali?” tanya Yasmin.


Kavin mendesah. “Ini mendadak karena mama membutuhkan bantuan saya di Bali,” dusta Kavin, padahal pria itu ke sana hanya gara-gara foto Salma dengan pria bule.


Yasmin mendekati suaminya lalu mengapit lengannya, “Sayang, aku kok gak di ajak?”


“Memangnya kamu mau ikut, biasanya suka tidak mau menemani, “ tanda tanya dan heran buat Kavin.


“Aku lagi ada waktu luang, jadi kali ini aku temeni kamu di Bali, sekalian aku mau healing.”


Semakin pusing lah kepala Kavin, sebenarnya untuk kali ini hanya dia dan Ari saja yang ke Bali, dan memang sengaja tidak mau mengajak istrinya, tapi karena sudah terlanjur terdengar oleh Yasmin, terpaksa di ajak.


“Ya sudah kamu siap-siap saja, pesawatnya jam 4 sore.”


“Makasih sayang...,” Yasmin mengulas senyum tipisnya.


 bersambung......semakin riweh di Bali


 



 

__ADS_1


__ADS_2