Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Takkan menceraikan Salma


__ADS_3

Pertemuan kedua kali antara ayah dan anak yang penuh emosional, jika kemarin pria itu melihat Baby Rayyan tanpa tahu siapa baby Rayyan. Sekarang dia tahu jika Rayyan putranya sendiri dari Salma. Tidak bisa di elakkan jika sejak awal menikah dengan Yasmin, pria itu menginginkan anak, namun takdir berkehendak lain, pria itu tidak memiliki anak dari Yasmin.


Dan sekarang pria itu masih mengendong dan mendekap putranya dengan segenap hatinya, penuh rasa kasih sayang dan cinta kepada putranya.


Terima kasih Salma istriku, telah mengandung dan melahirkan buah hati kita yang begitu tampan....ingin sekali kata itu di ucapan oleh pria itu, namun apa daya hanya bisa berkata di hati saja.


Jika di ingat masa lalu nya, begitu membenci Kavin dengan istri keduanya tanpa mau tahu wujudnya, dan begitu kejam nya perlakuan kepada Salma tanpa dia ketahui jika wanita itu istri keduanya. Istri yang di bencinya ternyata memberikannya dia seorang putra, sekarang pria itu sudah resmi menjadi ayah.


Baby Rayyan mulai menggusel-gusel ke dada Kavin, mencari posisi nyaman. Kavin tersenyum hangat melihatnya, merasakan hal yang tak pernah di rasakan. Mama Rossa sebagai oma baru ingin mengendong cucunya, tapi melihat kebahagiaan putranya, rasanya tak ingin mengganggu moment tersebut.


Naluri seorang ayah akan hadir dengan sendirinya tanpa perlu diajarkan, tepukan hangat di bokong baby Rayyan, serta timangan Kavin membuat baby Rayyan semakin nyaman dan kedua bola mata bulatnya mulai sayu, terbuai dengan timangan sang daddy. Kavin kembali duduk, kemudian menyenderkan punggungnya di sandaran sofa, lalu menidurkan baby Rayyan di dadanya.


 Emy si baby sister yang ingin mengambil alih baby Rayyan, di tolak oleh Kavin, dengan mengibaskan salah satu tangannya.


“Emy biarkan baby Rayyan dengan daddy-nya, kamu bisa kembali mengerjakan yang lain,” pinta Opa Braymanto. Sesaat Emy agak kaget dengan ucapan Opa, daddy Rayyan, kemudian melirik kembali  wajah Kavin.


Lumayan ganteng...batin Emy.


“Baik Tuan Besar,” jawab Emy, kembali ke kamar baby Rayyan, untuk merapikan kamar.


Tak selang berapa lama kepala pelayan datang membawa map yang di minta oleh Opa Braymanto. Pria tua itu sesaat mengecek isi map-nya kemudian menaruhnya di meja, pas di samping dokumen hasil tes DNA Rayyan.


“Kavin, sebelumnya saya minta maaf atas kejadian hampir enam tahun yang lalu. Memaksa kamu untuk menikah dengan keponakan saya. Saya sangat menyesalinya,” akhirnya Paman Didit membuka suaranya.


“Sama sama Paman, saya sebenarnya juga minta maaf, seharusnya saya tidak meninggalkan tempat saat acara akad nikah selesai. Dan meminta maaf dengan cara baik ke Salma, atas kesalahan saya yang telah menabrak ayahnya,” jawab Kavin penuh penyesalan.


Paman Didit terlihat mencondongkan dirinya ke depan, lalu menautkan kedua tangannya.


“Kavin, saya selaku paman Salma yang menjadi wali nikah saat itu. Hari ini saya sebagai wakil dari keponakannya saya_” terjeda sesaat, paman Didit membuka map yang ada di atas meja. “Salma ingin mengajukan perceraian resmi dengan kamu,” lanjut kata paman Didit, sembari menunjukkan surat gugatan cerai.


Pria itu langsung membungkam mulutnya dengan salah satu tangan, sedih hatinya seketika. Kemudian tangannya turun mengelus punggung anaknya.


“Kavin, sebenarnya pernikahan kamu dengan Salma sudah jatuh talak satu, karena Salma tidak ridho dengan pernikahan kalian. Selama ini kamu hanya mengirim uang saja untuk nya tapi tidak memberikan nafkah batin, betulkan? Dan tidak menjalankan tugas sebagai suami” ujar Opa Braymanto.

__ADS_1


Kavin hanya bisa mengangguk lemah, sudah tak bisa menyanggahnya. Karena kenyataan nya memang hanya nafkah lahir yang tiap bulan di kirim nya, namun berhenti ketika Salma telah tiada.


Mama Rossa hanya bisa mendesah dan meminta baby Rayyan dari pangkuan Kavin, dan pria itu memindahkannya ke pangkuan Mama Rossa. Setelahnya Kavin mengambil map tersebut dan membacanya.


 “Salma sudah memutuskan untuk bercerai denganmu, Kavin. Untuk masalah baby Rayyan, tetap pengasuhannya dengan mommy nya. Dan Salma memberikan keleluasan buat kamu menjenguk baby Rayyan,” tutur Paman Didit.


Kavin menaruh kembali surat tersebut. “Aku tidak ingin bercerai dengan Salma, Paman, Opa. Justru aku ingin memperbaiki rumah tanggaku dengan Salma,” ucap Kavin.


“Jangan egois Kavin,” balas Paman Didit.


“Aku tidak egois Paman, tapi Salma lah yang egois ingin bercerai. Ke mana hati nuraninya, sudah ada baby Rayyan di antara kami berdua,” sahut Kavin, suaranya mulai meninggi.


Mama Rossa mengelus lembut punggung Kavin. “Jangan emosi Kavin, ingatlah pesan mama. Salma berhak bahagia, “ tukas Mama Rossa.


“Gak bisa mam, aku tidak akan menceraikan Salma,” jawab Kavin.


“Opa, Paman, aku ingin bertemu dengan Salma,” pinta Kavin.


“Salma tidak mau menemui mu,” jawab Opa Braymanto.


“Opa tidak perlu menyembunyikan istriku lagi. Aku akan cari sendiri!” seru Kavin, kemudian berlalu dari ruang tamu menuju lantai dua.


Opa Braymanto hanya bisa mengedikkan kedua bahunya, tidak bisa menahan keinginan Kavin.


Sementara di kamar, Salma telah mengunci pintu kamarnya dari dalam. Wanita itu tampak berbaring di atas ranjang, dengan wajah yang sudah sembab. Sesekali di pandangnya foto baby Rayyan di layar handphone nya.


Kenop pintu kamar Salma tampak bergerak, dan sepertinya ada orang yang berusaha membuka pintu nya.


TOK....TOK...TOK..


Pintu kamarnya terketuk.


“Siapa.....,” sahut Salma dari dalam kamarnya, masih di pembaringannya.

__ADS_1


“Salma...,” jawab dari luar.


Salma langsung beringsut dari pembaringannya dan duduk di atas ranjang ketika mendengar suara pria yang sangat di kenal nya, wanita itu tak lagi menyahut.


“Salma...ini aku Kavin,” ucap pria yang berada di luar kamar, berdiri di depan daun pintu.


Wanita itu membeku, tak menyahut dan tak bergerak.


"Salma, bolehkan aku menemuimu walau hanya sebentar. Aku mohon....aku sangat merindukanmu, Salma," ucap lirih Kavin, dibalik pintu kamar Salma.


“Aku sangat merindukanmu Salma, aku bahagia ternyata kamu masih hidup,” lanjut kata Kavin.


Tapi aku tak merindukanmu...


Pria itu kembali menggerakkan kenop pintu, dan mengetuk kembali.


“Salma, sebegitu benci kah kamu denganku hingga tidak mau menemui suami kejam mu ini! Aku akui aku banyak salah pada mu, tolong maafkan aku. Aku minta maaf pada mu!” kata Kavin dari hati yang paling dalam.


Salma mulai beranjak dari ranjang lalu mendekati pintu kamarnya.


“Kamu tahu aku sangat menyesali semuanya, aku benar-benar sangat menyesal. Aku yang selama ini berbuat kasar denganmu, aku yang baru tahu kalau kamu istriku yang ada di desa ketika kamu menghilang. Tolong maafkan aku, Salma,” Kavin masih berbicara di depan pintu dengan menitik air mata kembali, dan berharap Salma mendengarnya.


“Kamu berhasil menyiksaku, Salma. Kamu berhasil memporak-porandakan hatiku ini!” kata Kavin dengan suara bergetar.


“Bukalah pintu ini Salma, izinkan aku melihat wajahmu sebentar, aku sangat merindukanmu,” pinta Kavin kembali, tubuh pria itu tiba-tiba melorot ke bawah, dan bersandar di daun pintu dengan kedua netra memerah menahan tangisannya.


 bersambung....



Kakak Readers jangan lupa tinggalin jejaknya ya, like, komen, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, yang masih punya Vote.....mau dong. Dan terima kasih buat Kakak Readers yang sudah kasih vote nya 🙏🏻🙏🏻


 

__ADS_1


Love you sekebon 🌻🌻🌻🌻


 


__ADS_2