
Pria itu langsung meraih dan merengkuh gadis yang tak berdaya itu, semakin jadilah gadis itu menangis dalam pelukan Kavin. Kemudian pria itu mengelus lembut punggung gadis itu, hal itu membuat gadis itu semakin meremang dibalik isak tangisannya, menginginkan hal yang lebih.
“Maafkan aku, datang terlambat. Dan tak bisa menjagamu,” ucap Kavin penuh penyesalan, kedua netra pria itu mulai berembun. Hatinya pun mulai takut jika Salma akan bertindak bodoh.
Sesaat mereka berdua menikmati pelukan yang terasa hangat dan nyaman.
“Panas...Tuan,” ujar lirih Salma, di balik dekapan Kavin.
“Panas...” Kavin langsung mengurai pelukannya, di lihat wajah Salma berbeda, serta gerakan tubuhnya agak menggeliat.
Siapa pun, dan sekuat apapun orang, jika sudah minum yang memabukkan di tambah obat perang-sang, maka kewarasannya sudah di kuasa oleh hasrat, inilah yang terjadi oleh Salma saat ini. Gadis itu hampir saja di perkaos oleh Dimas dan dia berusaha menolaknya, namun sekarang bersentuhan dengan Kavin yang notabene suaminya sendiri, dia sudah tak bisa menguasai untuk menekan sesuatu yang menggelora di tubuhnya. Dirinya berasa ingin gila, jika tidak bisa di keluarkan, tidak bisa di lampiaskan.
Aku sudah tak kuat lagi....batin Salma.
Dengan tatapan nanarnya.“Tuan...tolong se-sentuh saya,” Salma sudah tak kuasa menahan hasratnya.
“Kamu tadi habis minum apa?” dengan tatapan menyelidik.
“Orange juice.”
“Damn! mereka memberimu obat perang sang!” praduga Kavin.
“Kita pulang ke resort,” pinta Kavin, di rapi kan dulu tubuh bagian atas gadis itu dengan jasnya, lalu membopongnya. Salma hanya bisa mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu.
Ari sudah kembali untuk menghampir Tuannya, setelah mengantar team Tomi membawa tiga orang yang telah berbuat jahat dengan Salma.
“Kita kembali ke resort, Ari. Mereka telah memberikan Salma obat perang-sang!” pria itu sedikit berlari sambil mengendong Salma.
Ari hanya bisa tercengang.
🌻🌻
Sepanjang perjalanan menuju resort, tubuh Salma kembali menggeliat di atas pangkuan Kavin. Pria itu memang sengaja memangku Salma di dalam mobilnya.
Melihat bibir Kavin, gadis itu ingin sekali menyentuhnya.“T-uan....sa-saya udah gak kuat, tolong saya tuan,” pinta Salma dengan suara terbata-bata, tatapan nya sudah penuh hasrat yang ingin di tuntaskan.
__ADS_1
Begitu pula Kavin yang sudah menahan gejolaknya karena memangku gadis itu. Kavin mulai meraih tengkuk gadis itu, kemudian mencium bibir gadis itu dengan lembutnya.
Ari hanya bisa melirik dari balik kaca spion bagian tengah, ikutan panas melihat ciuman yang begitu hot. Sang asisten mengendarai mobilnya secepat kilat dari Beach Club menuju resort Adiputra memakan waktu 30 menit, rekor tercepat, walau hampir saja menyerempet mobil lain.
Setibanya di lobby resort, Ari buru-buru membukakan pintu untuk Tuannya. Kavin kembali mengendong Salma dan langsung membawanya ke kamar pribadinya.
Seperti nya akan terjadi sesuatu antara Tuan Kavin dan Salma...batin Ari.
Terlepas dari praduga Ari, selama perjalanan Kavin telah menghubungi salah satu dokter pribadinya, dan berkonsultasi tentang keadaan Salma yang sekarang di bawah pengaruh minuman dan obat perangsang. Intinya jika dari semua solusi yang di sarankan tidak berhasil, maka sebaiknya di tuntaskan melalui hubungan intim, karena efeknya agak berbahaya untuk Salma.
“Ari, nanti antarkan baju Salma ke kamar. Dan ceritakanlah semua yang terjadi sama Mama, berikan pemahaman buat Mama, kalau besok aku akan menikahi Salma,” pinta Kavin.
“Baik Tuan.”
Sesampainya di dalam kamar, Kavin merebahkan Salma di atas ranjang, lalu berlari ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Salma.
Salma yang sudah berada di atas ranjang, tubuhnya mulai menggeliat tak karuan, lalu membuka jas milik Kavin yang di pakainya, kemudian lanjut membuka celana panjangnya. Tinggallah cd dan bra yang masih menempel. Sudah tidak ada rasa malunya lagi. Ya...harap maklum namanya orang mabuk, antara sadar dan tidak sadar.
Kavin yang melihat Salma hampir telanjang menelan salivanya dengan kasar.
“Tu-tuan....,” mendesah Salma, ketika tubuhnya kembali di gendong Kavin, dan membawanya ke dalam kamar mandi. Tanpa melepas CD dan Bra nya, gadis itu di masukkan ke dalam bathup yang sudah terisi air hangat.
“Aku keluar dulu,” pamit Kavin, setelah mendengar bunyi bel kamar.
Salma hanya bisa mengangguk pelan, lalu menikmati berendam air hangat, tapi sayang tidak ada efeknya mungkin karena dosis obatnya yang tinggi. Baru lima belas menit gadis itu berendam, dia memilih untuk keluar dari bathup, akan tetapi tubuhnya sempoyongan. Untungnya Kavin sudah masuk kembali ke kamar mandi untuk mengecek keadaan Salma, dan langsung menangkap tubuh Salma yang hampir terjatuh.
"Salma..."
Salma sudah tak bisa mengontrol dirinya, ketika Kavin sudah meraih tubuhnya, gadis itu menjinjit dan mulai mencium bibir Kavin penuh nafsu. Kavin membalas ciuman gadis itu, yang sejujurnya dirinya pun sangat menginginkan.
Tanpa melepaskan pagutannya Kavin mengangkat tubuh Salma yang masih basah, dan merebahkan tubuh Salma di atas ranjang.
Sesaat Kavin melepaskan pagutannya, dan menatap penuh damba dengan gadis yang ada di bawah kungkungannya.
“Kamu menginginkan nya?” tanya Kavin dengan lembut nya
__ADS_1
Apa yang terjadi pada tubuhku, aku menginginkan yang lebih....frustasi batin Salma, ketika menatap wajah Kavin.
Salma tidak menjawabnya, tapi dari bahasa tubuh dan wajahnya, dia menginginkan nya.
“Jujur aku sangat menginginkanmu Salma, besok aku akan menikahi mu, aku akan bertanggung jawab,” ujar Kavin. Gadis itu hanya bisa menatap wajah pria itu, dan salah satu tangannya menyentuh wajah pria yang berada di atas raganya, kemudian menyentuh bibir pria itu.
“Jadilah istri ku, Salma,” pinta Kavin, kemudian mengecup jemari Salma yang menyentuh bibirnya, lalu kembali mencium bibir ranum gadis itu. Secara naluri dan efek obat, gadis itu membalas ciuman Kavin walau terasa kaku buat Kavin.
Mereka pun hanyut dalam gairah yang datang, Kavin tak peduli lagi jika hal ini adalah salah. Seharusnya menikah dulu baru berhubungan intim, pikir pria itu.
Pasangan yang empat tahun lalu menikah, untuk pertama kalinya malam ini mereka sedang berbagi saliva, suara mendesah lolos keluar dari mulut Salma begitu pun juga Kavin suara erangan selalu terdengar dari bibirnya. Tak lama...Kavin dan Salma sekarang sudah dalam keadaan sama-sama polos.
Salma begitu menikmati sentuhan lidah Pria itu, suami sahnya, hingga suara merdu berulang kali keluar dari mulutnya. Begitu pula Kavin tak ayal pria itu menikmati hasrat yang sudah lama hilang dari dirinya, selama empat tahun, dan kini kembali hadir, ketika memadu kasih dengan gadis yang baru di kenalnya.
“Salma...aku masuk ya,” izin Kavin dengan tatapan berkabut asmara, menatap sang pujaan hati.
Berhubung di bawah pengaruh obat, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pelan.
“AAKKHH...,” teriak Salma, merasa sakit ketika ujung si gogon mulai masuk bagian intinya.
“Salma...!” agak kaget Kavin, ketika si gogon coba menembus, terasa sangat susah dan sangat sempit.
“Ka-kamu masih perawan!...maafkan aku,” pinta Kavin, si gogon belum sempurna masuk ke rumah nya. Kata hinaan sebagai wanita murahan yang pernah terucapkan oleh Kavin, langsung terpatahkan.
“Cepat Tuan...saya udah gak tahan...sakit,” Salma menyentuh punggung pria itu, dan kuku jarinya mencakar sekuat tenaganya, melampiaskan rasa sakit, sekaligus rasa ingin di puaskan.
“Maafkan aku, Salma,” pria itu kembali mencium bibir gadis itu dengan lembut, sembari mendorong dan menghentakan pinggulnya. Sempurna sudah si gogon masuk ke rumah baru nya, hati pria itu membuncah bahagia, si gogon tidak layu ketika masuk ke rumah baru nya. Walau Salma berteriak sekencang mungkin, dan punggung pria itu habis di cakar Salma.
Darah segar pun keluar dari bagian feminim Salma, berbarengan dengan hentakan-hentakan si gogon.
Pria itu melakukan nya dengan lembut ketika mengumuli Salma, dan sangat menikmati malam indahnya dengan gadis itu, yang tanpa di ketahuinya, Salma Hadeeqa adalah istri keduanya, istri yang di bencinya.
bersambung......dia telah tiada!
Yang tidak suka, monggo di skip aja ya....
__ADS_1