
Dua tahun kemudian...
Jakarta, Mansion Adiputra
Hari Sabtu...
Suasana ruang keluarga tampak riuh dengan suara-suara celotehan anak-anak. Mainan boneka, mobil-mobilan berserakan di lantai, kalau di lihat bikin kepala pecahan dan mumet.
“Daddy....,” teriak Rayyan, balita ganteng mirip daddynya, yang kini sudah berusia tiga tahun.
Rayyan masih saja berteriak memanggil daddynya, sambil berlari-larian menuju ruang tamu.
Hup
Kavin langsung menangkap tubuh kecil Rayyan. “Daddy, Bella sama Bian berantem di sana,” adu Rayyan, sambil menunjukkan ke ruang keluarga.
“Kakak Rayyan harusnya temani adiknya main dong,” balas Kavin, sambil mengendong Rayyan, mereka berdua menuju ruang keluarga.
Si kembar Bella dan Bian yang masih berusia satu tahun dua bulan, bibirnya mulai mencebik, ingin menangis melihat Daddynya menghampiri mereka berdua.
“HUA ... HUA ... da ... da ... da..,” tangisan si kembar pecah membuat Kavin tepuk jidat sendiri. “Kakak Rayyan turun dulu ya, daddy mau gendong adik kakak Rayyan dulu ya,” ucap lembut Kavin, sambil menuruni putra pertamanya, kemudian mengendong si kembar dengan kedua tangannya.
“Cantiknya daddy, ganteng nya daddy kenapa menangis, sayang, cup...cup...cup.”
Pria yang semakin matang usia nya, semakin hot di lihat nya, sedang menimang anaknya yang kedua, si kembar cewek cowok.
Dari kejauhan Salma tersenyum melihat kerepotan suaminya yang menimang anak mereka si kembar, sedangkan si sulung lagi sibuk dengan mainannya sendiri.
“Anak mommy kenapa, kok pada nangis?”
Wanita itu menghampiri suaminya, lalu mereka saling mengecup bibir sesaat. “Biasa mom, Bella dan Bian berebutan mainan,” jawab Kavin.
“Bella, di gendong sama mommy aja ya, kasihan daddy masa gendong dua-duanya,” pinta Salma, sambil mengulurkan tangannya.
Namun rupanya baby Bella menggelengkan kepalanya, tidak mau di gendong mommy, mau nya di gendong daddynya.
“Gak pa-pa sayang, biar aku aja yang gendong mereka berdua,” balas Kavin.
“Maaf ya Kak, kalau bikin kakak capek gendong si kembar.”
“Hush....mereka anakku, tidak ada kata capek mengurusi mereka. Justru aku yang berterima kasih, mommy telah mengandung dan melahirkan si kembar. Mereka harta ku yang paling berharga. Aku malu jika bilang capek sama mommy.”
Wanita itu mengulas senyum tipisnya, selama dua tahun rujuk dengan suaminya, banyak hal yang dilalui bersama. Semakin lama mereka semakin mesra walau kadang ada keributan kecil, Kavin benar-benar menunjukkan perubahan besar, suami yang bertanggung jawab, sayang keluarga, dan keluarga nomor satu ketimbang perusahaan besarnya.
Setelah sebulan menikah kembali, Salma langsung positif hamil, dan hal itu membuat Kavin terharu dan bahagia, di beri kepercayaan untuk memiliki anak kembali. Walau selama kehamilan Salma, Kavin mengalami hamil simpatik selama enam bulan. Seberat apapun yang di rasakan Kavin, pria itu tetap menikmatinya. Lagi pula hal itu menjadi penembus rasa bersalahnya tidak menemani istrinya ketika hamil Rayyan.
“I love you, Kak Kavin,” bisik Salma.
“I Love you too, Salma,” jawab Kavin, sambil mengendong si kembar.
Ungkapan cinta selalu ada di antara Salma dan Kavin, menambah keromantisan mereka berdua walau sudah punya tiga anak, usia boleh berbeda jauh tapi mereka saling mengisi dan mengasihi.
Dua tahun ini Salma kembali tinggal di Jakarta mengikuti keberadaan suaminya. Kavin kembali mengurus perusahaannya, sedangkan Salma memegang perusahaan Wall Mart milik Opa Braymanto yang ada di Indonesia – Jakarta.
“Assalamualaikum,” suara wanita muda begitu menggema.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” balas serempak Kavin dan Salma.
“Eeh...ada Zia datang,” ucap Salma, menyambut kedatangan Retno yang membawa putri kecilnya dalam gendongannya.
“Retno, Ari nya mana?” tanya Kavin.
“Mas Ari lagi bantuin ibu sama ayah keluarin barang di mobil, Kak Kavin,” balas Retno.
“Ooh...,” bibir Kavin membulat.
Kavin menuruni si kembar yang mulai tenang ke atas karpet, agar bisa bermain dengan saudara nya Zia, yang usia nya sama seperti si kembar. Rayyan sebagai anak yang tertua ikutan bermain dengan si kembar dan Zia.
Paman Didit dan Bibi Tia sekarang sudah menetap di Belanda menemani Opa Braymanto, dan kebetulan kedua adik Retno telah bekerja di sana. Beberapa hari ini Paman Didit dan Bibi Tia mudik ke Indonesia, karena Salma mengajak mereka semua untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya sekaligus mengunjungi rumah mereka di Surabaya.
Mansion Adiputra hari ini sangat ramai sekali, keluarga Salma berkumpul dan tentunya ada mama Rossa. Celotehan dan tangisan empat balita sungguh membuat mansion yang besar terasa lebih hidup. Paman Didit, Bibi Tia, Retno dan Ari, malam ini berkumpul dan menginap di mansion Adiputra.
🌻🌻
Esok hari
Waktu sudah menunjukkan jam delapan pagi semua keluarga sudah terlihat sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke Surabaya.
Para baby sitter yang mengasuh si kembar dan Rayyan juga sedang mempersiapkan anak majikannya. Oh iya Kavin sangat tegas dan keras dengan para pelayan wanita atau baby sitter yang banyak tingkah. Kavin hanya menerima pelayan yang serius ingin bekerja, tidak dengan embel-embel yang lain, jika sudah tercium gelagat yang aneh, maka langsung di pecat. Termasuk Delila yang sempat membuat ulah di kamar utama ketika Salma tak ada, berani menggoda dirinya, dan akhirnya wanita itu kembali di jebloskan ke penjara karena berani memasukkan obat perangsang ke makanan dan telanjang di kamar milik Kavin dan Salma, seolah-olah dirinya akan diperkosa.
Salma seperti biasanya akan membantu memakaikan pakaian suaminya, jika sudah rapi maka wanita itu akan mengecek ke tiga anaknya.
“Morning kiss, sayang,” pinta Kavin, yang sudah merangkul pinggang istrinya.
Salma langsung mengalungkan kedua tangan ke leher suaminya. Dan Kavin pun menerjang bibir ranum istrinya, sepertinya mereka berdua tak bosan-bosannya saling melummat di pagi hari. Rutinitas yang membuat mood booster mereka baik di pagi hari.
🌻🌻
Lima jam perjalanan, dimulai dari perjalanan ke bandara lalu terbang dengan jet pribadi Kavin, kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju desa.
Sekarang mereka semua sudah tiba di rumah masa kecil Salma dan Retno. Para tetangga yang melihat iringan mobil mewah, segera mendekati dengan rasa ingin tahunya.
“Salma.”
“Retno.”
“Bu Tia.”
“Pak Didit.”
Para tetangga terbelalak melihat siapa yang turun dari mobil tersebut, dan berteriak memanggil nama mereka yang di kenalnya.
Warga kampung jadi heboh, Bibi Tia dan Paman Didit langsung di sambut dengan pelukan hangat, begitu juga dengan Retno dan Salma. Ada rasa haru biru di tengah-tengah suasana seperti itu.
Salma meneteskan air matanya, teringat akan masa lalu nya. “Jangan menangis, sayang,” bisik Kavin, kemudian jemarinya mengusap pipi istrinya.
“Aku hanya terharu, Kak.”
“Yuk....senyum lagi.”
Salma mengangguk kepalanya, lalu mengambil Bella dari gendongan baby sitternya.
__ADS_1
Wanita itu mulai menyapa para tetangga yang masih mengenalinya.
Saudara Bibi Tia yang mengurusi rumah Salma dan Paman Didit, bergegas membuka pintu rumah, untungnya kedatangan mereka sudah di beritahukan terlebih dahulu, jadi saudara Bibi Tia sudah mempersiapkan beberapa hidangan.
Kavin mengendong Bian, Salma mengendong Bella, sedangkan Rayyan jalan sendiri. Wanita itu mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumahnya, sudah terlalu lama dia tak menginjak rumahnya. Rasa rindunya pun terobati.
“Ayah, ibu...anakmu datang,” ucap lirih Salma, ketika menatap bingkai foto kecil yang terpajang di dinding, foto mereka bertiga.
Dengan salah satu tangannya, Kavin merangkul pinggang istrinya dari samping dan ikut menatap foto tersebut. Jika Salma mengingat kenangannya bersama kedua orang tuanya, sedangkan Kavin mengingat kejadian waktu dia datang untuk menikahi Salma.
Kedua netra Salma dan Kavin mulai berembun, ternyata mereka sama-sama teringat kejadian delapan tahun silam. Di rumah ini lah, kisah Salma dan Kavin di mulai...
“Ayah Yudo, Ibu Chintya, aku datang dengan anakmu Salma yang sekarang sudah menjadi istriku. Terima kasih sudah melahirkan jodohku yang cantik dan baik ini, terima kasih.”
“Aku akan selalu mencintai Salma Hadeeqa sampai akhir hayatku.”
Salma menatap hangat suaminya. “Terima kasih telah mencintaiku, terima kasih sudah menjadi suami dan daddy yang baik. Aku mencintaimu, Kak Kavin.”
...TAMAT...
Alhamdulillah kisah Salma Hadeeqa dan Kavin Ardana Adiputra sudah di penghujung cerita, kisah ini hanyalah hiburan semata, yang baik diambil, yang buruk dibuang saja.
Terima kasih yang tak terhingga buat Kakak Readers yang sudah menemani kisah ini dan mensupport dari awal sampai akhir, apalah arti karya recehan ini tanpa kakak readers semuanya.
Mohon maaf jika dalam menulis masih banyak kurangnya, masih proses belajar terus dan masih pemula 😊.
Dan sebagai salah satu bentuk terima kasih buat kakak readers, ada sedikit rezeki buat kakak readers sesuai peringkat rangking ya. Mohon jangan dilihat nilainya yang tidak terlalu besar 😊.
Give away berupa pulsa/shopee pay/OVO, peringkat :
Karla 50K
Wardah 25K
Xena 25K
Maya Sonita 20K
Nur Janah 20K
Mohon langsung chat ya Kak
Pemenang Give Away Boneka Rajut
Terima kasih semuanya Kakak Readers, jangan lupa mampir di karya saya yang lainnya ya. Plus follow saya biar dapat info terbaru jika ada karya terbaru.
__ADS_1
Love You sekebon 🌻🌻🌻🌻🌻