
Resort
Dengan hati yang tidak senang, pria itu turut kembali ke resort dengan Yasmin, begitu pun Ari. Harus kembali ke resort, di mana Tuannya berada, dia juga harus berada di dekat nya, walau mereka tadi pagi sudah berkelahi gara-gara Salma tentunya.
Sepanjang jalan dari rumah sakit sampai tiba di resort hanya ada keheningan, Yasmin mendiami Kavin karena merasa kecewa, akan tetapi wanita itu semakin kecewa karena suaminya pun tidak mengajak nya berbicara. Sedangkan Kavin hanya raganya saja berada di samping Yasmin, tapi pikirannya tertinggal di rumah sakit.
Setibanya mobil yang mengantarkan mereka bertiga, Kavin turun duluan dan jalan nya terlihat terburu-buru, Yasmin dengan wajah masamnya mengejar langkah kaki suaminya.
“Kak Kavin mau ke mana?” seru Yasmin dari kejauhan.
“Ke kamar.”
Yasmin melihat arah yang di tuju Kavin berbeda. “Kak, kamar kita berada di villa bukan di resort ini,” balas Yasmin.
Pria itu menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke belakang. “Yasmin, aku sudah menuruti kamu untuk kembali ke resort, apa sekarang aku harus menuruti kamu lagi...hah!” jengkel Kavin.
Yasmin langsung menatap sendu pria itu. “Aku hanya bertanya saja Kak, salahkah aku jika bertanya? suami ku hendak ke mana? Apalagi kondisimu sedang tidak sehat seperti ini, aku ingin mengurusimu kak,” ucap lembut Yasmin.
Kavin menunjukkan wajah tidak suka nya. “Aku ingin kembali ke kamar ku, untuk berganti pakaian.”
“Aku ikut kakak ke kamar, atau kalau perlu aku pindah kamar ke tempat kakak,” balas Yasmin.
Pria itu hanya bisa menyugarkan rambutnya, maksud hati dia ingin menjauh dari Yasmin, namun istrinya malah mengikutinya. Kavin kembali melanjutkan tujuannya, dan Yasmin tanpa melihat rasa kesal yang tersirat di wajah suaminya, dia langsung bergelayut manja di lengan Kavin.
Akhirnya mereka berdua masuk ke kamar, Kavin tanpa berbicara langsung mengambil baju dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Yasmin merebahkan dirinya di atas ranjang.
Tak lama pria itu keluar dari kamar, sudah berganti pakaian. Lagi dan lagi pria itu menatap tidak suka melihat Yasmin berbaring di atas ranjang, bekas dia dan Salma di sana.
“Jika kamu ingin istirahat sebaiknya kamu kembali ke villa, atau aku bukakan kamar untukmu,” usir Kavin secara harus.
__ADS_1
Yasmin yang tadinya berbaring langsung beringsut, duduk di atas ranjang. “Sayang, mengusir aku dari kamar ini?”
“Bukan maksudnya mengusir, aku juga butuh istirahat dan aku ingin sendiri saat ini,” jawab Kavin.
Yasmin yang awalnya duduk, kini bangkit dan menghampirinya suaminya yang masih berdiri dekat sofa. “Kakak sekarang kenapa berubah denganku? Aku punya salah kah?” tanya Yasmin dengan suara yang mendayu-dayu serta tatapan menggoda, jemari lentiknya mulai memainkan dada bidang Kavin.
Sesaat Kavin membiarkan wanita itu menyentuh dadanya, lalu merasakan sentuhan bibir Yasmin yang sudah mendarat ke daun telinganya, seakan sedang memberikan sensasi gairah untuk pria itu. Kemudian turun ke bagian leher pria itu. Lidah wanita itu mulai menjilatinya penuh hasrat, lalu menyesapnya. Namun sayangnya, tidak ada hasrat yang muncul di diri pria itu, apalagi si gogon...tidak ada reaksi apapun...si gogon tidur nyenyak. Berbeda ketika bersama Salma, baru berpelukan saja pria itu sudah terangsang gairahnya.
“Hentikan, Yasmin, aku sedang tidak ingin!” pria itu langsung menjauhkan dirinya dari wanita itu.
Wajah wanita itu kembali masam. ”Ada apa dengan Kak Kavin, kenapa sekarang jadi berubah! Biasanya Kak Kavin tidak pernah menolak jika aku mencium kakak?”
Kavin menatap wajah Yasmin dengan tatapan dinginnya. “Ya....aku merasa sudah berubah Yasmin!” jawab tegas Kavin, mengakui apa yang di rasakan pria itu.
“Apa salah aku hingga kakak berubah, aku selama ini sudah menerima segala kekuranganmu, kak?” Yasmin tidak terima atas pengakuan pria itu.
“Stop Kak Kavin!...jangan bahas itu, sudah aku bilang...aku bahagia menikah dengan Kak Kavin, aku tidak memikirkan tentang anak,” Yasmin sudah mulai mencemaskan sesuatu hal yang akan di bahas Kavin.
Kedua netra Yasmin mulai berkaca-kaca ketika menatap wajah tampan suaminya. ”Kakak jangan pernah berpikir akan menceraikanku, sampai kapanpun aku tidak mau, aku mencintaimu kak. Justru aku ingin kakak menceraikan istrimu yang ada di kampung. Cukup aku saja istrimu satu-satunya Kak Kavin....hiks!” wanita itu mengguncang tubuh gagah pria itu.
Yasmin kembali menunjukkan air matanya, yang mulai mengalir deras di pipi wanita itu. Namun anehnya pria itu tidak tergugah untuk menghapus air matanya, dan hatinya biasa saja. Beda ketika mendengar jeritan tangis Salma, yang ingin dia dekap erat dan sangat menyayat hatinya.
Yasmin menangis, pria itu malah duduk di sofa tanpa mengajak wanita itu untuk duduk.
“Sebaiknya kita memikirkan rumah tangga kita, aku tidak mau egois Yasmin,” ujar pelan Kavin.
“Gak...Kak Kavin jangan di bicarakan lagi, aku mohon....tidak ada perceraian antara kita,” jawab tolak Yasmin sambil menggelengkan kepalanya, tidak rela kata itu terucap oleh mulut suaminya. Jika sampai terucap, gagal lah pertahannya selama ini.
Kavin masih terlihat menatap wajah istrinya. “Kalau kamu tidak ingin bercerai, maka aku akan menceraikan wanita yang berada di kampung tapi..,”
__ADS_1
Agak lega hati Yasmin mendengarnya namun sedikit cemas. “Tapi apa kak?”
“Kamu harus menerima aku menikah kembali!” ujar Kavin.
“A-apa!” terkejut Yasmin.
BRUK
Tubuh Yasmin langsung lemas jatuh ke lantai.
“Hufh.....,” Kavin menghela napas panjang nya ketika melihat istrinya jatuh tak sadarkan diri. Tanpa ada rasa cemas atau panik, pria itu mengangkat tubuh Yasmin dari lantai ke atas ranjang. Lalu menghubungi Merry untuk datang dengan salah satu pelayan untuk mengurusi Yasmin.
Semakin lama pria itu mulai menyadari perasaannya antara Yasmin dengan Salma. Hal itu sangatlah berbeda, selama ini dia baru menyadari jika hatinya hanya menghargai wanita yang mau menerima dirinya atas kekurangannya dan selalu berusaha menuruti kemauan wanita itu, dan berusaha keras untuk mencintai wanita itu. Dan sekarang pria itu merasa lelah harus memberikan kepuasan pada wanita itu atas dasar kekurangannya, bukan karena tulus mencintai Yasmin.
Berbeda ketika bersama Salma, entahlah matanya selalu tertuju pada gadis itu, dan selalu saja membuat emosinya bergejolak tak menentu. Ada saja kemelut hati yang harus di lawan oleh dirinya sendiri.
Pria itu bukan anak muda lagi, tapi sudah cukup dewasa namun tidak bisa di pungkiri kadang usia bukan patokan seseorang bisa berpikir dewasa juga. Tapi semakin lama pria itu mulai menyadari jika hatinya sudah tertuju ke gadis itu, rasa yang tak pernah dia rasakan ketika saat pertama kali bertemu dengan Yasmin. Rasa yang tak bisa di gambarkan tapi sangat membuncah di hati pria itu. Mungkinkah itu Cinta??
bersambung....
*Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya. Dan terima kasih yang telah meninggalkan jejaknya....like, komennya 🙏🏻😘😘
Love you sekebon 🌻🌻🌻🌻🌻*
__ADS_1