
BALI
Rumah Sakit
Sesampainya di rumah sakit, Salma langsung di tangani oleh Dokter, apalagi keadaan nya sudah darurat.
Sedangkan untuk Kavin begitu juga, langsung di bawa ke ruang UGD untuk segera di tangani juga.
Mama Rossa yang turut ikut ke rumah sakit masih terlihat terisak dalam tangisnya. Ari pun sibuk menenangi Mama Rossa, saat ini mereka berdua duduk di ruang tunggu dekat ruang UGD.
“Ari, sepertinya Salma sudah mengetahui jika Kavin yang menikahinya....hiks,” tutur Mama Rossa dalam isak tangisnya.
“B-benarkah Nyonya? Nyonya tahu dari mana kalau Salma sudah tahu?” tanya Ari, sedikit terkejut.
“Sebelum pingsan tadi pagi, sepertinya Salma habis membaca pesan dari Bibi Tia, saya lihat dari handphone yang terjatuh dan masih menyala,” jawab Mama Rossa.
Ari menenggaknya punggungnya kemudian menghembuskan napas panjangnya. Semua satu persatu rahasia akhirnya terkuak juga pikir sang asisten Kavin.
“Salma sangat membenci orang yang telah menabrak bapaknya, Nyonya. Andaikan Nyonya melihat kejadian empat tahun lalu, bagaimana Salma yang saat itu baru pulang sekolah... sangat shock melihat bapaknya telah meninggal. Dan di saat itulah dia membenci dan mengucapkan sumpah serapah buat yang menabrak bapaknya, yaitu Tuan Kavin,” Ari langsung membuka memorinya, dan masih teringat jelas teriakan dan tangisan gadis cantik itu, sangat memilukan hati Ari kala itu.
Mama Rossa hanya bisa membeku mendengar kisah tragis Salma.
“Tuan Kavin tidak datang untuk bertakziah dan meminta maaf kepada Salma. Dan sekarang ini mungkin dia sedang menunjukkan amarahnya itu ke Tuan Kavin setelah sudah tahu siapa Tuan Kavin, Nyonya,” sambung Ari.
Mama Rossa hanya bisa menganggukkan kepalanya, pikirannya juga seperti itu.
“Tapi kenapa Salma dan Kavin jadi terluka begini..,” lirih Mama Rossa.
“Hanya mereka berdua yang tahu Nyonya.”
Mama Rossa langsung menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu kembali terisak.
🌻🌻
Ruang UGD
Penanganan luka di bagian perut Kavin tidak memakan banyak waktu lama, karena luka nya tidak terlalu dalam, dan hanya mendapat jahitan luar sebanyak dua jahitan, pria itu masih terlihat cemas karena belum dapat informasi tentang Salma sebab mereka berbeda ruangan.
Saat ini pria itu sudah duduk di atas brankar dan masih menggunakan kemeja nya yang sudah ternoda dengan darahnya sendiri.
“Bapak, tidak perlu di rawat karena luka nya tidak terlalu parah,” ujar Dokter yang sedang melepas sarung tangannya.
“Bagaimana dengan istri saya, Dokter?” Kavin masih dengan entengnya menyebut kata istri untuk Salma.
“Istri bapak, masih dalam penanganan di ruangan sebelah. Sekarang sedang di transfusi darah satu kantong.”
__ADS_1
“Bisa saya menemaninya,” pinta Kavin.
“Untuk sementara belum bisa di temani, mungkin nanti setelah di pindahkan ke ruang rawat inap,” jawab Dokter.
Kecewa hati Kavin tidak bisa menemani Salma, mau memaksakan kehendaknya di rumah sakit tersebut, juga tidak enak hati. Serba salah jadinya pria itu.
Tak lama...
“Suster, tolong saya mau bertemu dengan suami saya. Namanya Kavin,” suara wanita yang sangat di kenal oleh Kavin, terdengar jelas dari balik tirai biru itu.
Dokter yang merawat Kavin tersenyum tipis mendengar suara wanita yang mencari suaminya.
SREK!!
Tirai biru itu di geser oleh Dokter, kemudian sang Dokter melihat wanita yang mencari suaminya. ”Bapak ini kah yang ibu cari?” tanya Dokter.
“Ya Allah....Kak Kavin...,” Yasmin langsung memeluk suaminya. Melihat kedatangan Yasmin, pria itu tidak terlihat terkejut.
Wow rupanya bapak ini ternyata istrinya dua ya....batin Dokter.
Kavin langsung mengurai pelukan Yasmin yang di rasa sangat tidak nyaman.
“Dari mana kamu tahu aku ada di sini?”
“Aku mencarimu dan mencemasimu dari semalam Kak Kavin, lalu tadi aku dengar dari karyawan resort katanya kamu terluka dan di bawa ke rumah sakit ini,” ujar Yasmin sambil memindai tubuh suaminya.
“Kak perutmu terlukakah? Kenapa bisa sampai begini?” rentetan pertanyaan dan menunjukkan rasa cemas berlebihannya Yasmin ke Kavin.
“Kamu tidak perlu cemas, sudah di tangani dan di obati oleh dokternya,” jawab Kavin tenang.
“Bagaimana aku tidak cemas kak, semalaman aku menelepon mu tapi tidak di jawab, lalu sekarang aku melihat bajumu banyak darah, aku ini istrimu, wajar Kak...aku mencemasimu,” tukas Yasmin.
Lebay sekali kamu, Yasmin....batin Mama Rossa.
“Ari sepertinya keberadaan kita tidak di butuhkan oleh Kavin. Sebaiknya kita mengurusi yang lebih parah lukanya.” Mama Rossa menarik lengan Ari, mengajaknya keluar dari ruang UGD, namun sebelumnya ke meja Dokter untuk menanyakan keadaan Salma.
Yasmin agar heran dengan perkataan mama Rossa akan tetapi Kavin paham maksud sindiran dari mama nya.
“Sayang, bisa terluka karena apa?” selidik Yasmin, dengan nada lembut nya.
“Kamu tidak perlu tahu!” jawab acuh Kavin, pria itu beranjak dari duduk di atas brankarnya.
“Tapi Kak—,”
“Kalau aku bilang tidak perlu tahu, ya tidak perlu tahu!” tegas Kavin, namun nadanya terlihat kesal.
__ADS_1
“Sebaiknya kamu pulang ke resort, aku masih ada yang harus di urusi di sini,” titah Kavin.
“Kalau aku pulang, berarti Kak Kavin juga turut pulang ke resort. Lagi pula ada urusan apa Kak Kavin di sini?...Kakak juga tidak di rawat kan,” balas Yasmin, tidak suka dengan perintah suaminya. Yasmin sangat yakin jika suaminya tidak di rawat, karena tidak ada infusan di lengan suaminya.
“Dengarkan baik-baik Yasmin, kita tidak pernah bertengkar, dan aku sedang tidak mau bertengkar dengan kamu. Aku hanya minta kamu kembali ke resort dan juga jangan mengurusi aku, sudah itu saja!” pelan ucapan Kavin.
Yasmin terlihat sedang mendesah kecewa, dirinya di tolak untuk berada di samping suaminya, dia merasakan ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya.
“Baiklah sepertinya kamu tidak suka aku berada di samping kamu,” lirih Yasmin dengan tatapan sendunya.
Kavin menyugarkan rambutnya dengan jemarinya.”Bukan aku tidak suka kamu di sini, aku harus mengurusi sesuatu setelah selesai aku akan kembali ke resort, sudah itu saja. Tolong pahami itu!” jawab Kavin.
Yasmin masih menatap wajah suaminya, yang terlihat sedang mencemaskan sesuatu tapi tidak tahu apa yang sedang di cemaskan. “Ya sudah aku pulang ke resort, tapi Kakak harus janji urusannya selesai hari ini, setelahnya kakak harus meluangkan waktu buat aku selama kita di Bali. Aku merindukanmu, Kak,” ujar lembut Yasmin sambil mengusap rahang Kavin.
“Ya...,” jawab singkat Kavin dengan terpaksa.
CUP
Dikecupnya pipi Kavin. “Aku pulang, kak,” pamit Yasmin.
“Mmm....,” gumam Kavin.
Apa yang di sembunyikan oleh Kak Kavin, tadi aku juga sempat mendengar dari karyawan resort jika Kak Kavin mengendong seorang wanita yang terluka juga. Aku harus tahu siapa wanita itu.....geram batin Yasmin.
Merasa Kavin menyembunyikan sesuatu dari dirinya, Yasmin hanya berpura-pura menyetujui permintaan pulang ke resort. Apalagi ketika kedatangan nya ke rumah sakit, mama Rossa tatapan nya tampak tak bersahabat dengan dirinya. Kehadiran dirinya terasa tidak diinginkan oleh Kavin dan Mama Rossa, ini sangat mencurigakan.
Yasmin memilih untuk tetap di rumah sakit dan menyelidiki apa yang sedang terjadi.
bersambung....
*Kakak Readers terima kasih banyak atas supportnya 🙏🏻🙏🏻🤗🤗🤗😘😘😘. Jangan lupa tinggal kan jejaknya ya.....like, komen, VOTE nya
Love You sekebon 🌻🌻🌻🌻*
Simpan di sini buat kenangan di awal Januari 2023
__ADS_1