Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Hati Kavin yang meragu


__ADS_3

“Tenang aja Mbak Yuni, nanti saya yang kasih tahu ke Nyonya Rossa, kalau saya yang minta Mbak Yuni menemani saya,” balas Salma.


“Baik Non, nanti saya ke sini lagi,” pamit Yuni.


Yuni baru saja keluar dari kamar, Ari sudah nonggol di depan pintu kamar Salma.


“Salma, boleh saya masuk?” tanya Ari, kebetulan pintu kamar gadis itu terbuka lebar.


Salma sedikit melirik dari tempat duduknya. “Masuk aja Pak Ari,” jawabnya ketika tahu siapa yang datang.


Setelah dapat izin, Ari masuk ke kamar gadis itu dan duduk di sofa.


“Salma, sebelumnya saya minta maaf. Rekaman CCTV yang kamu minta ternyata sudah tidak tersimpan di ruang sentral keamanan,” ucap Ari.


Raut wajah kecewa, dan helaan napas panjang muncul di diri Salma, rencananya sudah bisa di pastikan gagal total.


“Ternyata Tuhan tidak berpihak padaku,” mendesah Salma, salah satu tangannya memijat pelipisnya.


“Sepertinya bagian keamanan sudah di perintah kan untuk menghapus rekaman nya,” tutur Ari.


“Mmm...saya kalah cepat rupanya dengan sang pemilik perusahaan, “ sudut bibir Salma terangkat, tersenyum kecut.


“Kalau begitu terima kasih atas usahanya, Pak Ari.”


“Sama-sama, kalau begitu saya kembali ke kamar. Selamat beristirahat,” pamit Ari.


“Ya...Pak Ari.”


Sekarang apa yang harus aku lakukan, jika rekaman CCTV nya tidak ada!


🌻🌻


Jam 23.00 wib.


Pria arongan itu sudah berdiri di depan pintu kamar yang di tempat Salma. Salah satu tangannya sudah mulai memegang kenop pintu, namun sebelum membuka pintu, tangan pria itu menariknya. Ada rasa ragu untuk masuk ke dalam. Tapi hati nya ingin masuk ke dalam, ingin melihat keadaan gadis itu.


“Ck...kenapa juga ingin tahu keadaan dia!” kesal sendiri pria itu, lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Salma.


Sedangkan gadis yang ingin di lihat oleh pria itu, sudah tertidur pulas dan merasa nyaman karena Yuni menemani nya di kamar, dan meminta Yuni untuk tidur di sisi ranjang yang lainnya, serta tak lupa mengunci pintu kamar dan membiarkan kuncinya menggantung di pintu.

__ADS_1


Pria itu berniat untuk kembali ke ruang kerja, padahal dia melewati kamarnya namun terlihat tidak ingin tidur di kamarnya bersama Yasmin, pria itu hanya menatap sendu ketika melewati kamarnya.


Malam ini gadis itu aman...


🌻🌻


Yasmin terlihat gelisah menunggu suaminya yang belum juga datang ke kamar.


“Sudah jam sebelas malam lewat, kenapa Kak Kavin belum masuk ke kamar juga,” gumam Yasmin sendiri, sambil menatap pintu kamar, berharap suami yang di tunggu akan datang.


“Apa Kak Kavin lagi banyak kerjaan, sampai lupa untuk beristirahat. Sebaiknya aku ke ruangan kerjanya saja,” gumamnya kembali, wanita itu beringsut dari pembaringannya, lalu segera memakai kimononya untuk menutupi tubuhnya yang sudah mengenakan lingerie berwarna merah membara, sangat menggoda jika melihatnya. Kemudian wanita itu bergegas keluar kamar dan menuju ruang kerja Kavin.


Ceklek!


“Sayang...”


Kavin sudah berbaring di sofa panjang, dengan kedua tangannya terlipat di dada, dan kedua netra nya sudah terpejamkan. Mendengar ada suara wanita, pria itu yang baru saja memejamkan matanya langsung mengerjap-ngerjap, dan melihat siapa yang masuk.


“Kamu belum tidur?” tanya Kavin.


“Sayang, aku tuh nungguin kamu ternyata malah tiduran di sini,” ujar Yasmin, wanita itu mendekati suaminya. Lalu melebarkan kedua pahanya kemudian duduk di atas tubuh suaminya, setelahnya mencondongkan dirinya agar lebih dekat wajahnya dengan wajah Kavin.


“Apakah Kak Kavin tersinggung dengan papa?” tanya Yasmin, tangan wanita itu mengusap rahang suaminya, gayanya bak wanita penggoda.


“Yasmin, bangunlah dari tubuhku, aku sedang lelah,”  pinta Kavin dengan halusnya.


“Biasanya walau lelah, Kak Kavin tidak menolak jika aku duduk atau berbaring di atas tubuh Kak Kavin,” sahut Yasmin, wanita itu mulai mengecup leher Kavin dan menyesapnya. Namun tangan Kavin segera memegang kepala Yasmin agar menjauh dari lehernya, entah mengapa Kavin sedang tidak suka, dan yang jelas menolak di cumbui.


“Bangunlah, sebelum aku bertindak kasar kepadamu!” seru Kavin.


Yasmin langsung berwajah masam, kemudian bangkit dari atas tubuh suaminya, dengan perasaan kesal.


“Kak, kamu sedang marah denganku kah?”


Kavin mendesah, lalu mengganti posisi tidurnya menjadi duduk. “Bukan marah Yasmin, tapi.....sebaiknya kita kembali mengingat ucapan papa kamu, alangkah baiknya jika kita berpisah. Aku kasihan denganmu, seharusnya kamu dapat suami yang bisa membahagiakan dirimu lahir batin, dan sudah waktunya kamu memiliki anak. Sedangkan denganku, terus terang aku tidak bisa membahagiakanmu secara batin.”


Apa berpisah.....tidak...aku tidak mau berpisah denganmu, Kak.


Kedua netra Yasmin mulai berkaca-kaca mendengarnya. “Kak, aku bahagia hidup denganmu, bukankah sejak kejadian kamu kecelakaan aku menerima kekuranganmu, lagi pula kakak juga sudah membahagiakan batinku dengan cara lain. Sedangkan untuk masalah anak, aku tidak memikirkannya. Kita berumah tangga, harus bersama-sama dalam keadaan suka dan duka, Kak,” imbuh Yasmin, dengan air mata yang sudah mulai mengalir.

__ADS_1


Kavin sejenak tersentuh dengan kata-kata Yasmin yang begitu lembut, merasa dirinya sangat di cintai Yasmin.


“Tetap saja aku merasa bersalah, sebagai pria yang tak sempurna,” balas Kavin.


“Kak...,” wanita itu langsung mendekap suaminya dari samping, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kavin.


“Kak, jangan bicarakan masalah perpisahan, di antara kita tidak akan ada perceraian. Aku sangat mencintaimu, Kak....hiks...hiks..,” wanita itu mulai tersedu-sedu. Pria itu tidak membalas dekapan istrinya.


“Aku hanya ingin kamu bahagia, Yasmin.”


“Aku sudah bahagia denganmu, Kak Kavin...hiks...hiks.”


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, pikirannya semakin bertambah, tapi melihat Yasmin menangis tersedu-sedu, hati pria itu malah tidak tersentuh, justru biasa saja.


“Apa karena papa membahas masalah pewaris, kakak ingin berpisah denganku? Tapi apa yang di kata kan papa memang benar Kak, aku lah pewarismu jika kakak telah tiada,” ujar Yasmin pelan, namun ada penekanan di kalimat terakhirnya.


Ck...pewaris lagi...batin Kavin.


Dalam hati pria itu mulai kembali malas menanggapi wanita itu, sudah betul dia menghindar tidak masuk ke dalam kamarnya, akan tetapi wanita itu yang menghampirinya. Sebenarnya tidak salah juga, sudah sewajarnya istri mencari keberadaan suaminya.


“Yasmin, istirahatlah,” Pria itu melepaskan kedua tangan istrinya, tanpa menjawab pertanyaan wanita itu. Kemudian mengusap air mata yang sudah jatuh pipi Yasmin dengan lembut nya. “Aku antar ke kamar,” ujar Kavin.


Pria itu merangkul bahu istrinya, lalu mengantarnya ke kamar untuk beristirahat.


“Malam ini aku tidur di ruang kerja, aku butuh waktu untuk diri sendiri, sekarang kita jangan bahas dulu tentang pembicaraan tadi,” ujar Kavin, setelah merebahkan tubuh Yasmin di atas ranjang, lalu menyelimutinya. Yasmin hanya bisa menangis tersedu-sedu, lalu mencoba memejamkan kedua mata nya.


Jangan pernah berpikir untuk menceraikanku, aku akan berusaha agar tidak pernah terjadi perceraian Kak Kavin...sampai kapan pun!


Tanpa ada rasa keinginan untuk menemani istrinya yang masih menangis di atas ranjang, pria itu tetap teguh keluar dari kamar dan tidur di ruang kerjanya.


 bersambung....


Kakak Readers jangan lupa tinggal kan jejaknya 🚶🏼‍♀️🚶🏼👣👣, like, komen, poin, vote, klik subscribe nya....biar tambah seumangat. Terima kasih.


Love you sekebon 🌻🌻🌻🌻🌻


 


__ADS_1


 


 


__ADS_2