
Semua anggota keluarga yang tinggal di mansion Opa Braymanto terlihat berbahagia menerima kedatangan tamu, saling menyapa, lalu beramah tamah. Kavin dan Salma bersama anak mereka selalu berdampingan ketika berbincang dengan sanak saudara di ruang keluarga.
Tak lama mereka semua di ajak untuk ke acara inti, makan malam bersama. Para maid langsung menghidangkan semua menu makanan di ruang makan, dan sudah pastinya ada Emy yang turut membantu menyajikan makanan untuk keluarga serta tamu. Emy sengaja menyiapkan makanan di celah sisi Kavin duduk sebelum keduluan para maid yang lain. Mantan baby sister itu menghiraukan tatapan Salma yang sangat memperhatikan gerak gerik Emy.
Kavin, pria yang waspada....sebelum dia dan Salma makan, pria itu meminta Pak Bob mencicipinya terlebih dahulu, jika sekiranya dalam hitungan beberapa menit Pak Bob terlihat baik-baik saja, makan dia mengizinkan Salma untuk menikmati hidangannya.
Sebenarnya makanan yang akan di sajikan, sudah di cicipi oleh Pak Bob, Lia dan Ningsih demi keselamatan keluarga mansion beserta tamu undangan. Namun tidak menampik bisa saja ada orang yang iseng, melakukan hal yang tak di duga oleh mereka semua.
Salma sangat tersentuh dengan pria yang duduk di sampingnya, sampai makanannya saja di perhatikan ... Kavin benar-benar waspada, apalagi masih ada orang yang sangat di curigai oleh Kavin. Wanita itu tersenyum hangat melihat Kavin. “Makasih Kak,” ucap Salma.
“Sama-sama, sekarang mommy bisa makan dengan tenang,” balas Kavin. Wanita itu menganggukkan kepalanya.
Dari ujung ruang makan, Emy terlihat gondok...panas melihat kemesraan Salma dan Kavin.
Jangan harap Non Salma mau kembali denganmu setelah apa yang akan terjadi nanti Tuan Kavin!....batin Emy geram. Terulas senyum sinis di wajah Emy.
Selama makan malam berlangsung Opa Braymanto mengumumkan maksud undangan acara makan malam dadakan kepada sanak saudara, yaitu dalam waktu dekat akan ada acara pernikahan cucu cantiknya. Kabar baik tersebut di sambut dengan gembira oleh semua orang yang hadir.
Lia dan Ningsih langsung melirik ke arah Emy. “Lihatlah si Emy, mukanya gak jelas begitu,” celetuk Ningsih.
“Maklum hatinya lagi panas mendidih,” balas Lia, dengan bibirnya yang mencebik.
Wajah Emy semakin memerah, rahangnya mengetat, kedua tangannya terkepal ketika satu ruangan bertepuk tangan ketika Kavin mengecup pipi Salma di depan semua orang. Hati Emy sudah mengumpat tak jelas, dirinya bagaikan seorang istri yang sedang memergoki kemesraan suaminya dengan wanita lain. Cemburu! Siapa dirimu Emy!
“Selain kabar baik tentang Salma, ada satu kabar baik dari saudara sepupu Salma. Bagaimana Didit, boleh Opa umumkan kabar baiknya?” tanya Opa Braymanto sambil melirik ke Paman Didit.
__ADS_1
Hati Retno mulai berdebar-debar, tanda tanya? Hal apa yang mau di sampaikan Opa Braymanto. Sedangkan Ari yang tak jauh dari keberadaan Retno duduk terlihat tenang, tidak ada ketegangan sama sekali.
“Silahkan Opa,” jawab Didit dengan mantapnya. Paman Didit sudah menganggap Opa Braymanto sebagai orang tuanya, ketika ada hal atau masalah yang sekiranya tidak bisa diselesaikan sendiri, maka Paman Didit akan berdiskusi dengan Opa Braymanto, mencari solusi yang terbaik.
Bibi Tia yang duduk di samping Paman Didit, menggenggam tangan suaminya, berharap apa yang telah di bicarakan bersama menjadi keputusan yang terbaik buat keluarganya sendiri.
“Ari,” panggil Opa Braymanto, sembari mengedipkan salah satu matanya.
Pria yang di panggil namanya langsung berdiri, kemudian mendekati tempat Retno duduk, dan tiba-tiba saja Ari mulai berlutut di samping Retno.
Wanita itu langsung berjingkat dan bangkit dari duduknya. Sedangkan para tamu hening seketika.
“P-Pak A-Ari mau ngapain?" tanya Retno terbata-bata, wanita itu mulai gugup dan jantungnya berdebar-debar.
“Retno, kita memang belum saling mengenal. Tapi saya ingin mengenal mu lebih dalam lagi. Aku sudah jatuh hati sejak pandangan pertama kita bertemu.” Pria itu menghentikan ucapannya sesaat, lalu merogoh kantong kemejanya.
Benar kah Pak Ari serius denganku?
“Retno, dengan segenap hati saya, serta di depan orang tuamu, bolehkah saya mengenalmu lebih dekat, mencintaimu sampai akhir hayatmu, serta membahagiakanmu dalam sebuah ikatan pernikahan?” Ari membuka kotak hitam kecil tersebut, terlihat cincin cemas yang sederhana. Rupanya Ari setelah menyampaikan maksud lamaran dadakannya ke Paman Didit, pria itu segera membeli cincin untuk melamar Retno, semua serba dadakan.
Pria itu masih dalam keadaan berlutut, Ningsih dari kejauhan membawa buket bunga yang sederhana dan memberikannya ke Ari.
Retno semakin tambah terkejut, tapi sesaat wanita itu menoleh dan menatap kedua orang tuanya. Paman Didit dan Bibi Tia mengulas senyum dan menganggukkan kepalanya, sebagai tanda jika kedua orang tua Retno menyetujuinya.
“Retno,” kembali memanggil Ari. Pria itu memberikan buket bunga tersebut, Retno menerimanya dengan hatinya sudah campur aduk.
__ADS_1
“Retno Wahyuningtyas, mau kah kamu menikah dengan saya, menjadi istri dan teman hidup ku,” ucap Ari, dengan menyodorkan kotak hitam yang sudah terbuka.
Retno menatap sesaat wajah Ari, kemudian memalingkan wajahnya ke arah Salma, saudara nya tersenyum lebar, lalu salah satu tangannya membentuk Love-nya Korea.
“Bersediakah kamu?” Ari kembali bertanya, dan masih setia menunggu jawabnya.
Retno terlihat gugup. “Bismillah...s-saya bersedia, Pak Ari,” jawab lirih Retno, sambil menyodorkan tangan kanannya.
Kedua netra Ari mulai berbinar-binar, keseriusan hati pria itu membuahkan hasil. Ari beranjak dari berlutut nya kemudian memasang kan cincin yang Dibeli nya secara dadakan, hasil reka-rekanya ternyata cincin nya pas di jari manis Retno. “Alhamdulillah, terima kasih calon istriku. Saya berjanji akan membahagiakan dan mencintaimu, “ ucap Ari, kemudian mengecup punggung tangan Retno, padahal pria itu mau nya mencium bibir Retno, tapi takut! ada bapaknya. Pipi Retno mulai merona, hatinya bahagia telah dilamar oleh pria yang sangat menunjukkan keseriusannya.
Tepuk tangan riuh bergema di ruang makan. Paman Didit dan Bibi Tia segera beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri putri pertama nya.
“Tolong sayangi dan jaga anak saya baik-baik,” ucap Paman Didit, ketika memeluk Ari.
“Saya berjanji Pak, akan menjaga anak bapak. Dan terima kasih Bapak merestui saya dengan putri Bapak,” jawab Ari. Paman Didit menepuk punggung Ari sebagai jawabannya.
“Selamat ya nak, ibu sekarang sudah mau punya bantu,” ucap Bibi Tia, Retno memeluk Ibunya. “Doaiin Retno ya, bu,” balas Retno.
Seluruh tamu turut mengucapkan selamat, begitu juga Kavin dan Salma.
“Ari, selamat bergabung di keluarga Braymanto dan Adiputra. Awas jangan mainin hatinya Retno, kalau gak mau di potong burung perkututnya sama istriku,” ancam Kavin, menunjukkan wajah seriusnya.
Refleks Ari menutup burung di balik celana panjangnya dengan kedua tangannya. “Siap Pak Bos, Bu Bos...saya berjanji tidak akan menyakiti calon istri saya,” balas Ari.
Retno dan Salma udah cekikikan, melihat Ari yang agak ketakutan.
__ADS_1
bersambung......