
Bab 49. Terbongkar
Elisa mencoba menenangkan jantungnya yang hampir copot mendengar teriakan putra tunggalnya.
"Kapan kau sampai?" tanya Elisa cuek dengan gerakan tangan Vino yang menyuruhnya pergi.
"Tidak lama, oh please mom, beri kami privasi," sungut Vino.
"Kenapa kau datang, kami belum selesai liburan."
"Aku dan Viona akan bulan madu sendiri,"" tegas Vino.
"Tidak bisa, rencana kami masih banyak yang belum dilakukan." Elisa pura-pura protes, padahal dia senang, Vino mulai perhatian dengan Viona. Artinya dia akan segera memiliki cucu.
"Mom, please, aku mau istirahat dulu dan Viona juga harus memulihkan dirinya."
"15 menit lagi, mommy akan mengantarkan Darrel, dia tidur bersama Viona," ucap Elisa
"No mom, Darrel tidur bersama mommy, aku akan membawa Viona untuk bulan madu," putus Vino.
__ADS_1
"Vin, Via belum ketemu," sela Viona masih mencemaskan Via, dia khawatir terjadi sesuatu kepada Via.
"Tenang saja, aku akan minta tolong temanku." Vino mengusap puncak kepala Viona untuk menenangkannya.
"Ya sudah mommy akan membawa Darrel, kau membuat rencana kami berantakan." Kesal Elisa, membawa Darrel bersamanya. Namun dia kembali masuk. "Apakah kalian sudah makan malam?"
"Mommy makan malam dengan Darrel saja, tidak usah menunggu kami, dan cardnya letakan disana saja mom, jangan dibawa, aku yang akan pegang satu lagi."
"Viona besok kita spa ya dan kau cukup sekali dulu, biarkan Viona memulihkan dirinya, jangan terlalu memaksa, ini pengalaman pertamanya." Elisa meninggalkan mereka.
Vino heran mengapa ibunya tau kalau ini pengalaman pertama Viona? Dia ingin bertanya kepada Viona, namun tidak tega, mungkin gadis eh wanita ini perlu istirahat.
"Vin, sebaiknya berpakaian dulu." tegur Viona. "dan aku tak perlu dokter, hanya butuh memulihkan saja."
"Baiklah." Vino mencari boxernya dan memakainya. "Apakah kamu mau mandi sayang, aku akan membantu menggendongmu?" Vino lembali mendekati Viona, mencium bib*r Viona, Viona masih kaku membalasnya. kemudian Vino melepaskan ciumannya, dia khawatir akan memakan Viona kembali, sedangkan ini pengalaman pertama Viona.
"Ya, aku mau mandi, biar lebih segar dan tidak lengket."
Vino kemudian menggendong Viona ke kamar mandi dengan selimut yang menutupi tubuh polos Viona. Dia meletakan Viona di bathtub, menarik selimut, Viona mencoba menutupi tubuhnya, Vino hanya tersenyum sambil mengusap puncak kepala Viona, mengisi air bathtub dan menuangkan sabun. Viona mencoba merilekan dirinya, namun dibawah sana terasa perih, spontan Viona meringis menahan perih. Vino kasihan melihat kondisi Viona.
__ADS_1
"Yakin? tidak perlu dokter Vi." tanya Vino memeluk kepala Viona. Viona hanya menggelengkan kepalanya.
"Keluarlah, aku bisa mandi sendiri." cicit Viona, takut Vino tersinggung.
"Baiklah, jika ada apa - apa, panggil saja aku." meninggalkan Viona di kamar mandi.
Vino memesan makanan untuk diantar ke kamar saja, agar Viona tidak capek harus ke restoran hotel. Vino masih bertanya-tanya, apa kisah Viona, bagaimana mungkin dia masih virg*n, padahal dia seorang ibu? Apa Darrel anak adopsi? Vino teringat informasi dari Angga yang mengatakan bahwa Darrel ada setelah Viona menikah 2 minggu? Itu berarti bukan Viona yang melahirkan Darrel? ah daripada menduga-duga sebaiknya saat makan dia akan menanyakannya saja kepada Viona.
"Vin." panggil Viona dari dalam kamar mandi. Vino langsung menuju kamar mandi dan membukanya. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Viona.
"Kenapa?" Dia melihat Viona sudah memakai handuk ditubuh dan kepalanya.
"Aku hanya lupa membawa pakaian." balas Viona malu, serta perasaan tidak enak.
"Apa kamu bisa berjalan Vi?"
"Aku rasa bisa." Viona keluar dengan pelan-pelan karena merasa perih. Vino kemudian mengangkat tub*h Viona dan membawanya keluar dari kamar mandi. Tadinya Viona memanggil Vino hanya untuk mengambilkan pakaiannya karena dia segan harus berganti pakaian didepan Vino, namun sekarang sama saja, dia tetap malu, namun senang dengan perlakuan Vino. Jantung Viona berdegup sangat kencang. Vino mendudukan Viona diatas kasur dan mengambilkan pakaian untuknya.
"Aku akan mandi, kamu gantilah baju." Vino melangkah ke dalam kamar mandi, dia merasa senang karena masih bisa bereaksi dan mendapatkan perawan, harusnya aku melakukannya dari sebulan yang lalu.
__ADS_1