Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Rencana ke Bali


__ADS_3

Banyak orang yang memiliki harta lebih, dan terkadang suka sekali menyelesaikan masalahnya dengan uang. Mungkin untuk kasus yang lain bisa di selesaikan dengan uang, namun ada pula masalah yang tidak bisa di selesaikan dengan uang.


Keputusan Mama Rossa menyelesaikan masalah dengan uang untuk menutupi mulut Salma, ternyata membuat wanita tua itu tersudutkan, saat itu juga.


Pelukan mereka terurai ketika Yuni datang membawakan teh hangat beserta kue basah, sesuai pesanan Mama Rossa sebelum masuk ke kamar Salma.


“Silahkan di minum Nyonya, non Salma,” ujar Yuni, setelah meletakkan bawaannya di atas meja.


“Terima kasih mbak Yuni.”


Mereka berdua langsung menyesap teh hangat yang sudah di siapkan oleh Yuni.


“Jika Ibu boleh meminta padamu, dengan kejadian kemarin, ibu berharap kamu tidak ada niatan untuk berhenti  bekerja,” ujar Mama Rossa.


Setelah melihat hasil pekerjaan Salma di kantor, tidak bisa di pungkiri jika Salma memiliki kinerja yang baik, serta cepat belajar. Kemampuan gadis itu masuk perhitungan Mama Rossa.


Gadis itu meletakkan cangkir teh, dan terlihat sedang memikirkan jawabannya. Namun di lubuk hatinya gadis itu ingin sekali membalas pria itu, Kavin.


“Tapi Ibu tidak bisa memaksamu,” pasrah Mama Rossa jika gadis itu akan mengundurkan diri.


“Jika saya mengundurkan diri, saya akan kena pinalti sebesar 500 juta. Saya tidak memiliki uang sebanyak itu. Dan sebenarnya saya juga bisa mengambil keuntungan dengan kejadian kemarin untuk mengundurkan diri, dengan mengancam melaporkan Tuan Kavin atas tindakannya, betulkan Nyonya.”


“Iya Salma, Ibu paham. Jadi apa yang akan kamu putus kan?"


“Untuk saat ini saya akan tetap bekerja sebagai asisten Nyonya, sampai saya mendapatkan pekerjaan yang baru. Dan jika saya sudah mendapatkan pekerjaan yang baru, saya harap Nyonya bisa membantu saya untuk membatalkan pinalti yang di tentukan Tuan Kavin itu,” pinta Salma, otak harus berjalan mencari jalan keluar, cek 100 juta di tolak tapi ada yang harus di gantikan untuk kedepannya.


“Baiklah, ibu berjanji akan membantumu, agar pinalti itu gugur. Sekarang bagaimana kondisi kamu, sudah sehatkah?”


“Sudah lebih baik dari pada kemarin, Nyonya.”


“Jika memang sudah lebih baik, bersiaplah, jam 10 nanti kita akan ke Bali, kita akan mengunjungi cabang retail Indo Prakarsa di sana.”


“Ke Bali...,” agak kaget Salma mendengarnya, apa lagi dia tidak memiliki stock pakaiannya yang banyak karena hanya membawa beberapa lembar baju, ketika datang ke mansion Adiputra.


“Kenapa kamu tampak bingung? “


“Begini Nyonya berapa lama kita di Bali?”


“Rencana tiga hari atau bisa saja seminggu, sekalian liburan kita di sana,” ujar Mama Rossa.


“Nyonya, bisakah saya pulang ke rumah sebentar untuk mengambil pakaian. Karena saya hanya membawa baju beberapa lembar saja,” pinta Salma.


Pikir Mama Rossa gadis itu menolak untuk pergi ke Bali, ternyata hanya masalah baju saja.

__ADS_1


“Tidak ada waktu kamu pulang ke rumah, sudah tidak usah di pikirkan masalah pakaian. Nanti sesampainya di Bali, Ibu akan membelikan kamu baju.”


Justru membeli baju lagi suatu pemborosan buat Salma, gadis itu sudah menghemat uangnya tapi justru harus mengeluarkan dana yang tak terduga hanya untuk membeli pakaian, sedangkan gadis itu sudah memiliki baju dalam jumlah yang banyak dan masih layak pakai.


“Kamu pasti memikirkan uang untuk membeli bajukan. Tidak usah di pikirkan Ibu yang membelinya dan tidak akan di potong gaji kamu,” tebak Mama Rossa, setelah melihat kedua bola mata Salma tampak ber putar-putar.


“Terima kasih Nyonya sebelumnya.” Lega rasanya, bukannya pelit untuk diri sendiri, tapi gadis itu memperhitungkan budgetnya sendiri.


“Ya sudah siapkan barang kamu yang akan di bawa, jika sudah rapih segera turun ke bawah,” pinta Mama Rossa, lalu beranjak dari duduknya.


“Baik Nyonya.”


Setelah Mama Rossa keluar kamarnya, gadis itu segera menyiapkan pakaian yang bisa di bawanya. Sambil menyiapkan, terbit senyum riang di bibirnya...mendengar kata Bali, otaknya langsung traveling. Kota Bali, kota yang ingin sekali dia kunjungi jika ada waktu, namun nyatanya dia sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya, impian tinggal angan-angan. Namun kini angan-angannya menjadi nyata seketika.


Di balik kesedihan ada secuil kebahagiaan yang akan tercipta, walau kaki belum menyentuh kota Bali.


🌻🌻


Perusahaan Indo Prakarsa


Pagi sekali, Kavin sudah berangkat ke kantor sekitar jam 7 pagi tanpa sarapan, tanpa berpamitan dengan istrinya Yasmin dan menemui Salma.


“Tuan Kavin, silahkan ini sarapan paginya,” Ari sudah menyiapkan sarapan pagi berupa nasi uduk beserta lauknya, pesan online.


“Pagi ini agenda saya apa?” tanya Kavin di sela makannya.


“Jam 9 ada pertemuan dengan utusan PT. Wings, membahas masalah produk.”


“Ok, kamu sarapan dulu, lalu bawakan bahan yang akan di bahas nanti, biar saya bisa mempelajarinya dulu,” perintah Kavin.


“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Ari.


Pria arongan itu sepertinya sedang berusaha menyibukkan dirinya, tidak ingin memikirkan masalah nya dengan Yasmin, tentang masalah rumah tangganya yang hendak  mau di bawa ke depan nya.


Tenggelam dalam pekerjaan, dan berharap pikirannya bisa teralihkan. Pagi hingga menjelang siang pria itu benar-benar sibuk, hingga lupa jika Mama Rossa dan Salma tidak datang ke perusahaan.


🌻🌻


Siang hari..


Jam 11.45 wib.


Pertemuan Kavin dengan PT. Wings sudah selesai, pria itu kembali ke ruangan kerjanya, akan tetapi belum sampai ke ruangannya, pria itu menghentikan langkah kakinya ketika melewati ruang Direksi, dan berniat untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


“Maaf Tuan Kavin, hari ini Nyonya Rossa tidak datang ke kantor,” ujar Romi, ketika melihat Kavin memegang handel pintu.


“Tidak ke kantor, kok mama tidak kasih tahu saya kalau hari ini tidak ke kantor, kamu tahu kenapa mama tidak datang?”  tanya Kavin.


“Agenda Nyonya Rossa selama 3 hari di Bali, Tuan...mengunjungi retail cabang di sana,” jawab Romi.


“Ke Bali, kenapa kamu tidak ikut?”


“Nyonya Rossa di dampingi Salma selama di Bali, jadi saya stay di kantor, Tuan Kavin...,”


“Salma...,” entah kenapa pria itu merasa geram, mendengar Salma turut ikut ke Bali tanpa seizin dirinya.


“Jam berapa mereka berangkat?”


“Jam 10 tadi, Tuan.”


Dengan wajah geramnya, pria itu kembali ke ruangannya.


“Kenapa mama tidak bilang akan ke Bali!” gumam Kavin sendiri, ketika sudah duduk di kursi kebesarannya.


“ARI...,” panggil Kavin dari dalam ruangannya dengan teriakan kencangnya. Dan untungnya pria yang di panggil namanya masih berada di luar ruangan CEO, jadi terdengar jelas teriakan Kavin.


“Ya Tuan...,” sahut Ari ketika masuk ke dalam ruangan CEO.


“Agenda saya selama 3 hari ke depan, apakah penting semua?”


“Sebentar Tuan, saya lihat catatannya dulu,” pria itu langsung melihat ipad-nya.


“Tiga hari ke depan, agenda Tuan sangat padat, ada pertemuan penting dengan Tuan Galbert dari Singapura, Tuan Bronson dari Australia, dan ini tidak bisa di rescedule ulang, karena mereka berdua sangat sibuk,” lapor Ari.


Pria itu hanya bisa memijat keningnya, dan menghembuskan napas kasarnya ke udara. Rupanya agenda dia sangatlah penting. Pupus harapan dia untuk bisa menyusul ke Bali.


“Ari, minta salah satu orang ke Bali dan awasi kegiatan mama dan Salma, laporkan setiap jam ke saya!” perintah Kavin dengan nada putus asanya.


“Baik, Tuan.”


bersambung.....



 


 

__ADS_1


__ADS_2