Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Kesedihan Salma


__ADS_3

Salma sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP sesuai permintaan Mama Rossa setelah mengetahui terlebih dahulu sebelum Kavin, kepada pihak rumah sakitnya.


Saat ini wanita tua itu sudah menemani Salma di kamarnya, tatapan sedih dan pilu tersirat dari kedua netra Mama Rossa, di belainya dengan lembut rambut gadis itu.


Kenapa kamu sampai terluka seperti ini, nak?


Kini tangan kiri Salma pas di posisi pergelangan tangannya sudah di perban begitu juga dengan tangan kanannya gadis itu, bagian telapak tangannya sudah di perban juga. Andaikan saja Mama Rossa tidak terguncang dan menghentikan langkah kakinya ketika tahu penyebab Salma pingsan, mungkin tidak akan terjadi hal ini...pikir Mama Rossa.


Sudah hampir satu jam gadis itu terlelap karena obat bius, pelan namun pasti gadis itu mulai mengerjap-ngerjapkan kedua netranya, sedikit memicingkan matanya lalu melihat ke sekitar ruangan dari pembaringannya.


“Mam...,” ucap Salma, masih terdengar lemah.


“Ya nak, alhamdulillah kamu sudah sadar, mama panggilkan Dokter dulu ya,” jawab Mama Rossa sambil memencet tombol.


Salma hanya diam, lalu sedikit melirik kedua tangannya yang sudah di perban. Lalu kembali mengingat apa yang telah di lakukannya, perbuatan bodoh yang terlintas seketika.


Kenyataan yang harus di hadapi, namun tak sanggup di hadapi gadis itu. Tidak bisa di pungkiri hati gadis itu sedang menangis, menahan rasa yang kembali menghampirinya selain sakit badan tapi juga sakit di relung hatinya paling dalam.


Dokter yang di panggil Mama Rossa sudah datang ke kamar, langsung mengecek pasiennya yang sudah sadar dari obat bius.


“Untuk sementara sekitar satu jam, jangan di paksakan untuk duduk atau berdiri, karena efek dari obat biusnya masih ada, agak sedikit pusing,” ujar Dokter.


“Ya...Dokter,” jawab pelan Salma.


“Kondisi anak saya bagaimana dokter?” tanya Mama Rossa.


“Untuk sementara biarkan anak ibu istirahat dulu karena habis transfusi darah, besok saya akan cek kembali untuk melihat perkembangannya,” balas sang Dokter.


Sebenarnya melihat luka yang ada di pergelangan tangan Salma, sang dokter memprediksikan jika pasiennya ini mencoba melakukan bu nuh diri, ingin sekali menyarankan agar ada dokter psikiater untuk mendampingi pasiennya, tapi melihat kondisi pasiennya yang tampak tenang ketika sudah siuman. Sepertinya saran tersebut akan di tunda dulu. Sebaiknya dia yang akan membantu nya terlebih dahulu, pikir sang Dokter.


Sang dokter pria itu yang sempat datang ke resort untuk mengecek gadis itu, tersenyum tipis kepada pasiennya. “Jangan pikirkan hal yang berat-berat nona cantik, hidup di dunia hanya sekali, hidup itu adalah anugerah, buanglah pikiran pendek itu. Nikmati saja alur kehidupan ini, jika sudah jenuh beristirahat lah sebentar, selanjutnya baru kamu hadapi lagi,” nasehat kecil Dokter tampan itu, sambil mengusap punggung pasiennya.


Kedua netra gadis itu mulai berkaca-kaca, ketika mendengar ucapan sang dokter. “Jika hatimu sudah tak sanggup menahan, menangislah...” pinta Dokter Usman, itulah nama yang tertera di bagian jas putih yang dikenakan dokter tampan itu.


Mama Rossa yang berdiri di sisi ranjang lainnya, langsung mengambil tisu kemudian mengusap air mata lalu mulai menyentuh kedua pipi gadis itu.

__ADS_1


“Menangislah, nona cantik....jangan kamu siksa batin-hatimu sendiri, menyimpan semua beban di hatimu. Hatimu tak akan sanggup memikulnya ,” ujar lembut Dokter Usman, sengaja memancing emosi gadis itu. Luka di tubuh mungkin bisa saja di obati, tapi beban di hati jika tidak di pancing untuk di keluarkan, maka akan ada luka baru di tubuhnya.


Tidak perlu bercerita jika tak sanggup berbicara, tapi jika hati sedih...keluarkanlah kesedihan itu. Menangis bukan tanda cengeng, tapi salah satu ungkapan perasaan yang terkadang membuat hati lega. Dan sesuatu yang lama di pendam di hati akan menjadi penyakit untuk diri sendiri, baik secara fisik maupun mental.


Dada gadis itu mulai terasa sesak, seperti ada yang mau keluar dari hatinya, batinnya sendiri ingin teriak namun bisikannya minta untuk di tahannya.


Mama Rossa turut mengelus lembut lengan Salma, seraya menenangkan. Sesaat Salma menatap Mama Rossa...


Mama Rossa....mamanya Kavin...berarti mama mertua ku? Tahukah jika aku menantu dia yang lain....semakin berat batin Salma, menerima kenyataan.


 “Eeeuugh.....,”dada Salma mulai sedikit naik, dan wajahnya mulai menengadah ke atas, menatap langit-langit kamar.


Dokter Usman mulai sigap melihat Salma yang mulai beraksi.


“AAAKKKHHH......”jerit gadis itu, kemudian tangisannya pun meledak, sejadi-jadinya.


Kavin yang baru saja masuk ke ruang rawat Salma, tersentak mendengar jeritan Salma yang begitu melengking. Dada pria itu pun terasa sesak mendengar jeritan, dan tangisan gadis itu.


Kedua netra Mama Rossa ikutan berlinang air mata, tangisan Salma sangatlah menyayat hati siapapun. Dokter Usman sengaja duduk di tepi ranjang, dan membiarkan pasiennya menangis sejadi-jadinya sambil menggenggam tangan kanan gadis itu dengan lembutnya.


“Bapak.....,” gadis itu mengingat kembali ketika dirinya menemui bapaknya sudah tak bernyawa lagi.


🌻🌻


Yasmin mengendap-endap ketika mengikuti Kavin menuju lantai tiga, biar tidak diketahui oleh suaminya.


“Kak Kavin mau menjenguk siapa?” gumam Yasmin melihat pria itu masuk ke ruang rawat VVIP.


“Sebaiknya aku turut masuk ke dalam, biar pergoki sekalian jika Kak Kavin menyembunyikan sesuatu,” gumam Yasmin sendiri, wanita itu melangkahkan kakinya dengan cepat, lalu turut masuk ke dalam ruang rawat tersebut.


Kavin berdiri tak jauh dari ranjang Salma, pria itu belum berani untuk mendekati Salma. Pria itu hanya sedang melihat penanganan Dokter Usman bersama Mama Rossa, terlihat sekarang Salma sudah mulai agak tenangan setelah menangis kejer.


Yasmin yang melihat Salma yang sedang di pandang oleh Kavin, suaminya. Wanita itu cemburu dan memanas.


“Jadi wanita itu yang ingin Kak Kavin urusi!!” geram Yasmin, berkata lantang. Membuat Pria yang berada di depannya menoleh ke belakang.

__ADS_1


“Yasmin!” seru Kavin.


Mama Rossa, Salma begitu juga Dokter Usman menoleh ke arah suara tersebut.


Yasmin menatap sinis ke arah Salma yang masih berada di ranjangnya. “Wow hebat sekali akting kamu Salma...sedang pura-pura terluka, atau sengaja melukai diri sendiri biar dapat perhatian dari suamiku!” wanita itu menghampiri ranjang gadis itu dengan langkah angkuhnya, dan melihat kedua tangan gadis itu.


Kavin langsung meraih lengan Yasmin. “Keluarlah Yasmin!” pinta Kavin.


Salma menatap nanar ke arah pasangan suami istri itu.


“Kavin, Yasmin sebaiknya kalian berdua keluar. Salma sedang sakit dan butuh istirahat,” pinta Mama Rossa secara baik-baik.


“Wah... sepertinya mama mertuaku sudah berpaling dengan menantu yang sebenarnya. Aku jadi heran kenapa mama mertuaku sepertinya sangat melindungi asistennya ya!” ujar sinis Yasmin. Mama Rossa tidak menjawabnya.


“Ayo Yasmin, keluar dari sini!” ditariknya kembali lengan Yasmin oleh Kavin.


“Kalau aku keluar, Kak Kavin juga harus keluar dari kamar ini. Dan jangan bilang urusan Kak Kavin yaitu ingin mengurusi wanita murahan itu!” geram Yasmin, menunjukkan emosinya. Sungguh kali ini Kavin sangat kecewa.


Salma yang mendengar kata wanita murahan kembali memuncak emosinya. ”KELUAR KALIAN BERDUA DARI SINI!” teriak Salma.


Kavin sedikit tersentak...


“Eh...tidak perlu pakai teriak segala...wanita mur!” seru Yasmin.


“Ibu...bapak tolong segera keluar, pasien baru saja siuman,” ujar Dokter Usman sambil menunjukkan pintu kamar.


Yasmin hanya bisa mendengus kesal, sedangkan Kavin hanya bisa menatap sedih ke gadis itu, ingin rasanya dirinya berada di sampingnya. Tapi rupanya keberuntungan tidak menghampirinya pria itu.


Gadis itu memalingkan wajahnya, sudah muak melihat wajah pria itu bersama Yasmin.


bersambung....



Kakak Readers jangan lupa tinggal kan jejaknya ya, like, komen, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, vote nya. Terima kasih sebelumnya.

__ADS_1


Love You sekebon 🌻🌻🌻🌻


__ADS_2