
Sudah berulang kali Mama Rossa melampiaskan emosi dan sedihnya yang luar biasa, dengan berkali-kali menampar pipi Kavin, pria itu hanya terdiam dalam simpuhannya, menerima dengan pasrahnya perlakuan kasar mamanya.
“Kamu tahu, kamu telah membunuh suami sepupu mama, kamu telah membunuhnya!” Mama Rossa tampak mengebu-ngebu.
Kavin bergeming...
“Salma bukan hanya istrimu, tapi Salma anak dari sepupu mama, Kavin!!” teriak Mama Rossa.
Fakta ini baru saja Kavin ketahui, ber kali lipat sudah rasa sakitnya. Salma bukanlah wanita sembarangan, ternyata masih kerabat keluarga dekatnya, yang memang selama ini tidak di ketahui nya. Hanya Mama Rossa yang tahu nasib tragis Chintya ibu Salma, cinta yang tak di restui Opa Braymanto.
Ari yang berada di ruang tengah, hanya bisa terpaku menyaksikan amarah seorang ibu kepada anaknya. Bagaimana seorang anak meminta maaf atas kesalahan nya selama ini. Ari hanya tahu jika Salma istri kedua Kavin, dan tak menyangka jika Salma masih saudara Kavin, sungguh kenyataan yang sangat mengejutkan.
“Pantas saja mama merasa Salma mirip seseorang, ternyata dia anak sepupu mama yang telah lama menghilang. Tega kamu telah berbuat kejam selama ini, kamu menyakitinya selama ini, kamu pula yang telah melenyapkan ayahnya....hiks,” Mama Rossa masih tidak terima kenyataan.
“Ma-maafkan Kavin, mam,” ucap Kavin penuh penyesalan, dalam bersimpuh di bawah kaki Mama Rossa, Kavin hanya bisa tertunduk, dan sesekali menyeka air matanya.
“Kamu bilang maaf Kavin! Sudah tak berlaku lagi. Kini Salma telah tiada.....ke mana lagi harus mencari nya!!” terasa sesak dada Mama Rossa.
Hati yang sedih kembali membuncah di dada pria itu. “Please, Mam....jangan bilang Salma telah tiada....tolong Mam, Salma masih hidup....hiks...hiks,” Kavin kembali menjambak rambutnya, terlihat frustasi yang tak bisa di gambarkan lagi.
“Gak mungkin Salma telah tiada!” teriak histeris Kavin.
“Gak mungkin!” pria itu beranjak dari bersimpuhnya, lalu...
PRANG!
Vas bunga yang ada di meja menjadi pelampiasan rasa sedih dan sakitnya Kavin.
Melihat gelagat Kavin, Ari langsung menahan Kavin untuk tidak memecahkan barang yang ada di ruang tengah. Mama Rossa hanya bisa menangkup kedua wajahnya.
“Ari jangan bilang Salma telah tiada...saya sudah bersalah, saya kejam, saya jahat dengannya selama ini. Saya tak sanggup kehilangannya, saya belum siap menghadapinya!" air mata lolos begitu saja di kedua netra pria itu, sembari menepis tangan Ari.
“Saya mencintainya,” teriak Kavin sembari memukul-mukul dadanya, rasanya sudah tak sanggup menerima Salma telah tiada.
“Aku mencintainya, Mam, aku mencintai Salma!” Kavin histeris. Pria itu langsung membenturkan kepalanya ke dinding.
“Tuan....!” pekik Ari.
“Kavin...!” seru Mama Rossa.
Ari langsung menarik tubuh pria itu dan menahannya agar tidak membenturkan kepalanya ke dinding. Kavin mengulas senyum tipisnya, dan menatap Ari. “Salma begitu membenci ku, Ari. Dia pernah bilang, lebih baik mati dari pada menikah denganku, Ari. Miriskan Ari, Salma tidak suka denganku,” ucap lirih Kavin, kening pria itu sudah terluka.
“Jangan bertindak konyol Tuan, semuanya harus dihadapi dengan segala kewarasan. Dan masih banyak hal yang harus Tuan selesaikan. Dari awal saya sudah wanti-wanti, jangan sampai menyesal,” balas Ari, agak kesal lihat Tuannya.
“Team masih mencari hari ini, kita tunggu kabarnya, dan kita juga harus menyiapkan hati untuk—,”
__ADS_1
“Stop Ari, saya tidak mau mendengarnya!” seru Kavin sembari menutup telinganya, dan menyesal tidak mengindahkan semua ucapan asistennya.
Berat! Hari yang sangat berat dan memilukan, kadang diri sendiri akan menyadari perasaan nya ketika orangnya telah tiada. Tapi saat orangnya ada dia tidak menyadari akan perasaannya sendiri.
Cinta dan sayang, baru disadari oleh Kavin...namun terlambat untuk kata-kata itu.
🌻🌻
Suasana di ruang tengah sudah terkendali dalam waktu beberapa jam, Kavin dan Mama Rossa sama-sama mengendalikan emosi dan perasaannya.
Ari kembali memanggil Dokter untuk mengobati luka yang ada di kening Kavin.
Di saat keadaan semua mulai sedikit tenang, Tomi yang baru saja datang ke villa segera menceritakan kronologi yang menimpa Salma di Beach Club ke Mama Rossa, agar tidak terlalu menyalahkan Kavin sepenuhnya. Sedangkan Kavin hanya menceritakan tentang obat perangsang.
“Keterlaluan Yasmin, Merry...dan siapa pria itu?” geram Mama Rossa.
Tomi dan Ari berbarengan menatap Kavin. “Tuan sebenarnya saya memiliki sesuatu. Sebenarnya dalam keadaan ini kita sedang fokus dengan pencarian Salma, tapi Tuan juga harus tahu tentang ini secepat mungkin,” ucap Ari.
Kavin mendesah, dan berpikir kehilangan Salma saja sudah berat, sekarang akan di tambah lagi dengan hal ya baru!
“Apa yang harus saya ketahui Ari,” suara Kavin terdengar tak semangat.
Ari menyodorkan handphonenya ke Tuannya. “Silahkan di play videonya Tuan.”
Kavin langsung memplay video tersebut, dan tak lama kedua netranya terbelalak, bola matanya membulat sempurna.
“Tolong Tuan, jangan di banting handphone saya,” Ari langsung menahan lengan Kavin yang masih memegang handphonenya.
“Kenapa kamu baru kasih tahu tentang ini?” geram Kavin kepada asisten nya.
“Saya menunggu waktu yang tepat,” jawab Ari. Kavin berdecak kesal.
“Video apa yang kamu lihat, Kavin?” selidik Mama Rossa.
Kavin langsung memberikan handphone Ari ke Mama Rossa tanpa memberikan penjelasan. Mama Rossa segera melihat videonya, lalu hanya bisa tersenyum kecut.
“Ternyata benar dugaan Mama, Yasmin sangat pintar mengelabui kita semua selama ini,” ucap Mama Rossa, dan menstop video tak senonoh tersebut.
“Semua keputusanmu ada di tanganmu, Kavin,” lanjut kata Mama Rossa.
Kavin beranjak dari duduknya. “Kita ke markas, sekarang!” titah Kavin.
🌻🌻
Markas
__ADS_1
Pria arogan itu memasang tampak garang di hadapan wanita yang masih menjadi istrinya. Berdiri dengan gagahnya, dan berkacak pinggang. Wanita yang di tatap terlihat sedikit takut melihatnya.
“Sayang, Kak Kavin,” ucap Yasmin dengan lembutnya.
“Stop, berhenti ucapkan kata sayang padaku!” balas Kavin.
“Kak, keluarkan aku dari ruang pengap ini,” pinta Yasmin dengan nada memelas.
Kavin melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam ke arah istrinya Yasmin. “Kau tidak mau aku ceraikan tapi kau ternyata sering berzina dengan pria lain!”
DEG!
“Maksud Kak apa, menuduhku seperti itu?”
“Kau tuduh Salma seorang wanita murahan, ternyata kau yang lebih murahan, Yasmin,” nadanya terdengar sinis.
“Kak...”
“Kau bilang cukup nafkah batin dariku...ck! Sudah berapa tahun kau mencari kenikmatan diluar sana? Sudah berapa pria yang telah meniduri tubuhmu?”
“Kak, jangan asal menuduh ya. Aku tidak pernah tidur dengan pria mana pun, aku setia denganmu, Kak!” seru Yasmin, mengelak dengan tuduhan Kavin.
Pria itu menyeringai tipis. “Ari...,” tangan Kavin menengadah ke arah Ari. Ari memberikan handphone.
“Kau tak perlu mengelak lagi, cukup lihat ini saja,” Kavin langsung memplay videonya.
Suara mendesah dan suara erangan sangat terdengar dari handphone, Yasmin langsung terkulai lemas melihat video syurnya dengan Dimas.
“Bagaimana baguskan videonya, terutama bintang utamanya begitu hot,” ejek Kavin dengan tatapan sinisnya.
“Kak...itu bukan aku,” Yasmin berusaha untuk membela dirinya.
Kavin berdecak kesal. “Tidak perlu mengelak Yasmin, Ari sangat jelas melihat adegan syuur mu itu!”
Ari hanya menatap datar wajah Yasmin. Yasmin kelihatan kebingungan dan cemas.
bersambung........kira-kira tindakan apa yang di ambil Kavin untuk Yasmin??
__ADS_1