
Akhirnya mereka berdua keluar juga dari sini...batin Emy.
Emy meninggalkan cucian piringnya yang belum selesai, lalu mendekati mesin kopi. Air kopi sudah mengucur ke cangkir kopi, sesaat Emy terlihat melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang, hanya dia sendiri tidak ada orang lain.
Di rasa keadaan aman, Emy mengeluarkan sesuatu dari balik celemeknya, sebuah botol kecil. Kemudian menaburinya di atas kopi yang ada di dalam cangkir itu, dan langsung mengaduk dengan sendok yang ada di dekat cangkir kopi itu.
Emy tersenyum jahat ketika sudah selesai menaburkan bubuk tersebut. Maafkan saya Non Salma, saya tak akan membiarkan Non memiliki Tuan Kavin!
Lia dan Pak Bob sama sama menyeringai tipis, melihat kelakuan Emy.
“Benar dugaanmu Lia,” ucap lirih Pak Bob. Lia menganggukkan kepalanya.
“Kirimkan videonya ke handphone saya, hal ini harus segera di tindak,” pinta Pak Bob.
Sekarang Pak Bob jadi paham kenapa di saat makan malam dia di minta untuk mencicipi makanan yang sudah tersaji. Ternyata ada orang yang ingin melakukan sesuatu.
Lia langsung mengirim video yang di rekamnya ke handphone Pak Bob. Selanjutnya mereka berdua menunggu beberapa menit, baru kembali ke dapur bersih, dan seolah-olah tidak tahu apa-apa.
Emy kembali melanjutkan mencuci piring kotornya dengan hati yang bergemuruh senang.
Setelah ini saya harus menyiapkan diri, tunggu saya...Tuan Kavin. Saya akan memuaskan mu...tunggu sebentar lagi.
“Emy, kopinya sudah siap ya?” tanya Pak Bob, mendekatinya.
“Sudah Pak Bob, saya letakkan dekat mesin kopi,” jawab Emy tanpa menoleh, dengan tenangnya wanita itu menyelesaikan cuci piringnya.
Pak Bob segera meletakkan cangkir kopinya di atas nampan.
“Cium aroma kopi, jadi pengen bikin kopi juga ah,” celetuk Lia, ikutan membuat kopi menggunakan mesin kopi sambil melirik Emy. Batin Lia sudah mengumpat kata-kata kasar untuk Emy.
Siap-siap Emy, loe kena getahnya sebentar lagi!
🌻🌻
Lantai 2, ruang santai...
Pak Bob tetap mengantarkan kopi espresso yang di minta Kavin ke lantai dua. Sesampainya Pak Bob meletakkan nampan yang berisi dua cangkir kopi espresso di atas meja panjang itu.
Kavin dan Ari terlihat tak sabaran untuk menyesap kopi yang mereka pinta, akan tetapi Pak Bob menahan kedua cangkir kopi tersebut.
“Maaf Tuan Kavin, kopi ini sepertinya tidak layak untuk diminum,” kata Pak Bob.
__ADS_1
“Kalau tidak layak diminum kenapa di bawa ke sini?” tanya Kavin, agak heran.
Pak Bob mengeluarkan handphonenya, “saya ingin menunjukkan video ini ketika saya sengaja meninggalkan dapur kening.” Pak Bob menunjukkan video rekaman tersebut.
Kavin dan Ari sama-sama menontonnya tanpa ekspresi.
“Saya tidak tahu bubuk apa yang di campurkan dalam kopi ini. Tapi sengaja saya bawa ke sini, karena ingin melaporkan perihal Emy,” lanjut kata Pak Bob.
“Kerja yang bagus Pak Bob,” puji Kavin.
“Ini ide Lia, Tuan Kavin, dia menaruh curiga kepada Emy. Dan saya hanya mengikutinya saja.”
“Baiklah terima kasih atas kejujuran Pak Bob dan Lia, saya akan memberikan bonus buat kalian berdua.”
Sejenak Kavin memikirkan apa yang harus di lakukannya, yang jelas kopi ini tidak boleh diminum. Bisa banyak kemungkinan yang terjadi, siapa tahu bubuk yang dicampur ke dalam kopi itu sianida, obat tidur, atau obat perangsang.
“Sekarang Emy ada di mana Pak Bob?” tanya Kavin.
“Terakhir saya lihat masih ada di dapur kering.”
Kavin langsung membicarakan rencana ke Ari dan Pak Bob, setelahnya mereka segera menjalankan tugasnya masing-masing.
Selesai bersinergi Kavin masuk ke kamar Salma, terlihat wanita itu masih menepuk lembut bokong putranya.
Salma menolehkan wajahnya. “Ya Kak.”
Kavin duduk di tepi ranjang. “Ada yang ingin aku bicarakan sebentar, sayang.”
Dengan gerakan pelan, Salma bangun dari pembaringannya agar baby Rayyan tidak terbangun, lalu duduk di tepi ranjang di samping Kavin.
“Ada apa Kak.”
Kavin langsung menunjukkan video Emy yang ada di dalam handphonenya, lalu menceritakan rencana yang akan di lakukannya.
“Aku minta izin ya sayang, ini bukan aji mumpung. Kamu akan tahu, burung perkututku hanya bisa on sama mommy,” ucap Kavin.
Salma ikutan geram melihat kelakuan Emy, dan ini waktu yang tepat untuk memberinya jera. Peringatan atau teguran yang sudah dia lontarkan ternyata tidak anggap, malah semakin jadi.
Kavin masih menatap dalam wajah istrinya (jika sudah rujuk dalam masa iddah maka sebenarnya mereka sah kembali menjadi suami istri, tapi akan lebih afdol akan akad nikah ulang) dan menanti jawabnya.
“Sayang, percayakan sama aku?”
__ADS_1
Tangan kanan Salma terulur ke wajah tampan Kavin. “Bukannya tidak percaya, aku sangat percaya Kak. Tapi bolehkan jika aku sedikit cemburu, melihat wanita lain akan berdekatan dengan pria tampanku ini,” tutur Salma begitu lembutnya.
Hati Kavin sangat tersanjung dengan kejujuran Salma. “Ini karena kita tidak berani mencoba minum kopinya, sayang, jangan sampai ada korban dari kopi. Dan ini asumsi kita bertiga ke sana, jadi di sini aku hanya memancingnya saja, tidak lebih,” jawab Kavin berusaha memberikan keyakinan kepada istrinya.
“Ya sudah lakukanlah, Kak,” jawab Salma, menyetujuinya.
“Terima kasih atas pengertianmu, sayang, tapi aku boleh minta sesuatu gak?” tatapannya semakin dalam.
“Minta apa, Kak?”
Pria itu tersenyum hangat, lalu tangannya meraih tengkuk Salma. Kemudian bibir tebalnya sudah mendarat di bibir ranum Salma dengan sempurnanya. Sentuhan hangat mulai membasahi bibir ranum wanita itu, sesapan demi sesapan mengalir membawa sensasi buat kedua insan tersebut.
Ciuman yang lembut tanpa tuntutan namun mampu membakar gejolak hasrat Kavin dan Salma, hingga tak sadar mereka bertukar saliva begitu lamanya.
Deru napas berat mereka masih terdengar, ketika sudah melepaskan pagutan mereka berdua.
“Kamu membuatku bergairah, sayang. Duh jangan lama-lama acara akad nikahnya, tersiksa rasanya,” ungkap Kavin, sambil mengatur napasnya, dan berusaha menidurkan si gogon yang mulai bangun.
Wanita itu hanya bisa tersenyum tipis. Lalu mencondongkan dirinya dekat daun telinga Kavin. “Sabar Kak Kavin, aku milikmu seorang,” bisik Salma, kemudian menggigit daun telinga pria itu.
“Aaakh....” pria itu mendesah panjang, setelah mendapat godaan dari Salma.
“Sayang...aku sudah tidak tahan,” rengek Kavin, dengan wajah memelasnya.
“Kalau masih berdiri, selesaikan di kamar mandi dulu... Bukankah sudah lama tidak merasakannya. Tiduri dulu, sebelum Kak Kavin keluar dari kamar ya,” pinta Salma dengan lembutnya, wanita itu tersenyum tipis sembari mengusap rahang pria itu.
Bibir Kavin hanya bisa manyun, lalu menuruti perintah Salma, jarang-jarang si gogon bangun dan kali ini sepertinya harus di tuntaskan sendiri dulu...mumpung bisa berdiri, dan sudah lama tidak merasakan nikmatnya surga dunia. “Jangan manyun dong Kak, nanti ada saatnya setelah akad nikah ulang lagi ya,” sambung Salma.
“Ya, mom...”
Salma kembali merebahkan dirinya di samping baby Rayyan ketika Kavin sudah masuk ke kamar mandi. Samar-samar Salma mendengar suara erangan di kamar mandi, teriakan namanya, wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu menutup telinganya dengan bantal agar suara laknat itu tak terdengar.
Di balik bantal, Salma hatinya menghangat, mengingat bagaimana Kavin meminta izin kepada dirinya, menjaga hatinya agar tidak terluka dan salah paham atas segala tindakan yang akan di ambilnya. Hal kecil tapi sangat menyentuh hati seorang wanita.
bersambung.....
Sekilas info Kisah Tania Kanahaya dan Albert Elvaro Yusuf sudah rilis hari ini, judulnya Dijual Ayahku Dibeli Bosku. Mohon dukungannya ya Kakak Readers yang cantik dan ganteng.
Jika belum ada di pencariannya, klik profil Mommy Ghina ya. Terima kasih sebelumnya.
Love you sekebon 🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1