
TOK
TOK
TOK
“Masuk...,” sahut Kavin dari dalam ruangannya.
“Permisi Tuan Kavin,” ujar Merry sang sekretaris, melangkahkan kaki dengan anggunnya, masuk ke ruangan CEO.
“Ada apa, Merry?” tanya pria itu tanpa menatap wanita itu.
“Saya mau mengantarkan dokumen yang harus di tanda tangani, Tuan,” ujar Merry dengan suara sedikit mendesahnya.
“Letakkan saja di meja, nanti akan saya cek,” titah Kavin, masih belum menatap sekretaris nya, fokus dengan layar komputernya
“Mmm....baik Tuan, perlu saya tunggu kah, Tuan?” Tanya Merry sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Kavin, agar belahan dadanya sedikit kelihatan di mata atasannya. Namun tak jua Kavin mengalihkan perhatiannya dari layar komputer.
“Kalau kamu sudah selesai silahkan keluar, dan sekalian panggilkan Ari, suruh dia ke sini,” perintah Kavin.
“Baik Tuan Kavin,” nada kecewanya terdengar, gagal sudah wanita itu mencari perhatian Kavin.
“Hampir saja saya lupa, nanti siang akan ada rapat divisi, Tuan,” lanjut Merry, sebelum keluar dari ruangan.
“Ya...segeralah panggilkan Ari!” seru Kavin sambil mengibaskan salah satu tangannya ke Merry, dan hanya sekilas menatap sekretaris nya.
“Baik Tuan.”
Ck... susah banget sih cari perhatian Kavin, padahal aku sama cantiknya dengan Yasmin, body aku juga yahud begini gak kalah sama Yasmin....batin Merry agak kesal.
Tak lama kemudian....
“Permisi Tuan...,” ujar Ari, yang baru saja masuk ke ruangan CEO.
“Kamu sudah dapat data-data Salma?” langsung bertanya Kavin tanpa basa basi lagi.
“Baru sekilas info saja Tuan, seperti yang Tuan ketahui kalau Salma kuliah di universitas negeri. Salma berasal dari desa tempat pabrik Tuan berada, dan memang betul bapaknya sudah meninggal karena kecelakaan di desa,” untuk yang data ini Ari berkata jujur.
“Lalu tentang ibunya?”
“Yang saya tahu ibunya juga sudah meninggal,” jawab Ari jujur.
Kavin manggut-manggut mendengarnya. “Di sini dia tinggal dengan siapa?”
“Kalau tidak salah dengan saudaranya.”
“Yatim piatu, jadi kalau terjadi dengan dia tidak akan ada yang mencemasinya,” tukas Kavin.
“Maksud Tuan!”
__ADS_1
“Maksud saya, berarti dia wanita bebas yang bisa melakukan hal tanpa ada yang melarangnya dan tidak ada yang mengawasinya. Dan bisa saja selama dia kuliah sekalian menjadi ayam kampus untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kamu pikir aja dengan kepalamu sendiri, dia tanpa memiliki orang tua, uang dari mana dia membayar uang kuliah dan hidupnya sehari-harinya di Jakarta,” tukas Kavin.
Astaga Tuan, kejam sekali anda menuduh Salma menjadi ayam kampus....batin Ari tidak suka.
Salah satu tangan Ari terkepal, sungguh tidak suka dengan tudingan Tuannya.
“Betulkan dugaan saya!”
“Kalau saya tidak bisa menduga jika tidak ada buktinya,” balas Ari.
“Ya makanya dari itu kamu harus mencari tahu tentang Salma, sudah berapa pria yang di layaninya, atau jangan-jangan dia wanita simpanan,” kembali menuding mulut Kavin.
Astaga Tuan, terbuat dari apakah mulutnya....hingga banyak sekali tudingan untuk istrimu sendiri, jika memang terbukti, saya juga tidak akan membelanya tapi ini belumlah terbukti.
Ingin sekali Ari berkata seperti itu, tapi lagi lagi hanya bisa membatin.
“Kenapa kamu jadi bengong. Kamu kaget kalau ternyata benar si Salma wanita simpanan!” celetuk Kavin.
“Bukan bengong Tuan, hanya sedang berpikir, dan yang saya rasa tidak mungkin Salma seperti itu, kecuali sudah ada buktinya,” balas Ari.
“Suruh orang lebih cepat mencari tahu tentang Salma,” pinta Kavin.
“Baik Tuan, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya,” pamit Ari.
“Mmm.....,” gumam Kavin.
Belum lama Ari keluar dari ruangan CEO.
Dilemparnya cangkir bekas kopinya ke pintu.
“Aduh apa lagi dengan Tuan Kavin,” gumam Ari sendiri yang baru saja keluar dari ruangan CEO.
“Sudah berapa banyak kamu melayani pria, Salma!” emosi sendiri pria itu. Pikiran Kavin langsung negatif kembali mengenai Salma, setelah tahu jika Salma sudah lama tidak memiliki orang tua, lantas bagaimana dia mendapatkan uang untuk bisa tinggal di Jakarta dan kuliah.
Pikirin negatif dan pendek mulai menyelusup ke otak pria itu. Bayangan ketika Salma menggoda para pria berhidung belang tiba-tiba muncul, membuat pria itu semakin murka.
‘Cih...dengan saya, kamu sok jual mahal, tidak mau di sentuh,” geram Kavin, mengingat kejadian semalam di kamar Salma.
🌻🌻
Jam 12.00 wib
Sesaat Salma melirik jam tangannya, ternyata sudah jam istirahat, gadis itu mengambil tasnya lalu beranjak dari duduknya.
“Nyonya, saya pamit untuk beristirahat,” pamit Salma.
“Ayuk kita makan di luar,” ujar Mama Rossa, mau mulai bangkit dari duduknya.
“Maaf Nyonya, saya sudah ada janji dengan teman saya untuk makan siang bareng,” balas Salma.
__ADS_1
“Oh...kamu sudah ada janji dengan teman, ya sudah silahkan istirahat. Nanti tolong suruh Romi masuk. Dan jangan sampai telat untuk balik ke ruangan. Jam satu siang nanti kamu harus temani Ibu rapat,” imbuh Mama Rossa.
“Baik, saya permisi dulu Nyonya,” pamit Salma.
“Ya...”
Sedangkan di ruangan CEO...
Kavin yang masih berada di ruangan terlihat mondar mandir seperti setrikaan, otak sama hatinya sedang tidak sinkron.
Ceklek!
“Sayang...,” seperti biasa jam istirahat, jamnya Yasmin mengunjungi suaminya.
“Eh....,”
“Aku bawakan makan siang dari restoran favorit kita berdua, sayang,” ujar Yasmin sambil menunjukkan paper bag nya. Lalu wanita itu langsung duduk di sofa, dan mengeluarkan isinya.
“Sayang, aku hanya bisa temanin makan sebentar ya, soalnya aku ada janji dengan rekan bisnisku,” kata Yasmin.
“Ya gak pa-pa,” jawab pelan Kavin, kalau boleh jujur waktu yang tepat bagi pria itu, istrinya tidak lama-lama di ruangannya. Kakinya sedari tadi sebenarnya sudah gatal untuk datang ke ruangan Mama Rossa. Tapi tertahan dengan permintaan Mama Rossa agar menjaga jarak dengan Salma.
“Di makan sayang jangan hanya di lihatin saja , atau perlu aku suapi,” goda Yasmin.
“Tidak perlu, aku makan sendiri,” tolak Kavin, sesungguhnya perut pria itu lapar tapi selera makannya sedang hilang, padahal istrinya sengaja membawa makanan kesukaannya. Pria itu tidak terlalu lahap makannya.
Sesuai dengan ucapan Yasmin jika dia hanya sebentar menemani Kavin makan siang, dua puluh menit kemudian Yasmin pamit kembali ke kantornya, dan tiba-tiba ada perasaan lega di hati pria itu....aneh.
Pria itu menyibak jasnya lalu meninggalkan ruangannya, langkah kakinya terlihat tergesa-gesa menuju ruangan Direksi, ruangan Mama Rossa.
Romi sekretaris mama Rossa terlihat masih ada di mejanya. “Romi, mama ada di ruangan?” tanya Kavin sebelum masuk ke ruangan.
“Ada di dalam sedang makan siang,” jawab Romi.
“Makan sama asistennya?” agak tenang hati pria itu setelah mengetahui mama nya ada di dalam, berarti Salma ada di ruangannya juga.
“Nyonya sendiri di dalam, kalau Salma katanya sudah janjian sama temannya, makan siang di kantin,” ujar Romi.
“Temannya cewek atau cowok?” mulai naik tensi Kavin.
“Tadi yang jemput ke sini sih cowok Pak,” jawab jujur Romi.
“Kurang ajar!!” umpat pria itu, lalu bergegas melangkahkan kakinya, tidak jadi masuk ke dalam ruangan Mama Rossa. Romi agak heran setelah mendengar kata umpatan Kavin, dan wajah yang sudah memerah....ngeri lihatnya.
*bersambung....
Kakak Readers yang cantik dan ganteng jangan lupa tinggalin jejaknya ya. Makasih
love you sekebon 🌻🌻🌻🌻🌻*
__ADS_1