Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Nabilla Inggrid Pratama & Shaka Abhirath Thalib


__ADS_3

SMU International


“Hei, loe mau kemana?” ujar seorang gadis berseragam putih abu-abu ditemani oleh kedua temannya.


Gadis itu yang baru saja mau  keluar dari gerbang sekolah, langsung menoleh ke belakang.


“Ooh gue gak percaya ternyata loe  mengikuti gue. Kenapa gue harus bertemu dengan pengecut seperti loe,” tukas gadis cantik yang bernama Nabilla, dengan memutar malas bola matanya.


Gadis yang memanggil Nabilla, bergegas menghampirinya.


“Dasar sih mulut kotor,” ujar gadis itu sambil mendorong bahu Nabilla.


“Baiklah!” geram Nabilla kepada gadis itu. Di taruhnya tas ranselnya ke lantai, lalu di dorongnya bahu gadis itu.


“Hei...,” kedua teman gadis itu langsung melempar tas ranselnya ke arah Nabilla.


“Oh jadi kalian menginginkannya ya, kalian main keroyokan ya!!” seru Nabilla langsung menghajar teman sebayanya.


“Pegang Nabilla,” perintah salah satu.


“Ayo tampar Nabilla!” seru salah satu teman yang lain.


Gadis cantik itu berusaha menangkis pukulan dari ketiga cewek tersebut. Sedangkan siswa yang lewat hanya melihat dan ada pula yang merekam perkelahian mereka berempat. Satu lawan tiga orang.


“Hei....hei...ada apa dengan kalian berempat,” ujar pria tampan yang bergegas mendekat. Lalu langsung meraih lengan Nabilla.


“Nabilla, stop,” pinta pria itu.


“Menyingkirlah, Kak Shaka!!” teriak Nabilla sambil menyentak lengan Shaka tapi masih saja di cengkram oleh tangan besar Shaka.


“Hei....gue ingetin lagi ya sama loe, jangan sesekali mendekati pacar gue!” ujar gadis yang telah mengeroyok Nabilla.


“Nabilla, apa kamu ribut karena merebut cowok lagi!!” seru Shaka.


“Diamlah Kak Shaka, tidak perlu ikut campur,” Nabilla menyentak kembali lengan Shaka.


“Awas ya gue bales lo nanti,” ancam Nabilla ke lawan bertarungnya.


“Cukup Nabilla, lebih baik aku antar kamu ke ruangan guru BK,” gertak Shaka.

__ADS_1


“Ck...,” Nabilla berdecak kesal dengan ancaman Shaka. Gadis cantik itu mengambil tas ranselnya, lalu berlalu dari pria yang berwajah tampan itu.


Nabilla Inggrid Pratama anak bungsu dari pasangan Erick Triyudha Pratama dan Alya Zafrina Sadekh, masih duduk di bangku sekolah kelas 12.



Shaka langsung menarik tangan Nabilla yang sudah duluan jalan mendahului pria itu.


“Mau ke mana lagi kamu?” tanya Shaka.


“Mau kemana kek, terserah Billa...urusan Billa...bukan urusan Kak Shaka!”


Pria tampan itu hanya bisa mendengus kesal sambil membuka pintu mobilnya.


“Cepat masuk!!” perintah Shaka dengan tegasnya.


Shaka Abirath Thalib, putra kembar dari pasangan Edward Thalib dan Ghina Farahditya, sekarang bekerja sebagai wakil CEO perusahaan Grup Thalib.



“Ogah,” tolak Nabilla, lalu melanjutkan melangkah, menjauh dari mobil mewah milik Shaka Abhirath Thalib  putra pertama dari Edward Thalib dan Ghina Farahdhitya.


Gadis cantik itu mendengus kesal dan marah kepada pria yang berusia 26 tahun itu.


“Kalau bukan karena pesan dari Daddy Erick, aku juga malas mengawasi kamu. Lebih baik mengurusi pekerjaanku di kantor,” tukas Shaka, yang sama kesalnya dengan Nabilla.


Pria tampan itu mulai mengemudikan mobil sportnya, tanpa melirik wajahnya gadis yang sudah cemberut.


“Kalau Kak Shaka gak mau, ya tolak permintaan daddy. Aku juga gak mau kok di awasin sama Kak Shaka, memangnya aku anak kecil. Lagian aku juga sudah dewasa, sudah punya KTP,” imbuh Nabilla.


“Iya memang sudah punya KTP, tapi kelakuan masih kayak bocah,” sahut Shaka yang masih kesal.


Bibir Nabilla mulai mengerucut dan mencebik tak suka dirinya di bilangan bocah sama pria tampan itu.


Pandangan kedua netra gadis itu mulai ke arah jalanan, dan merasa heran dengan arah jalanan yang di tuju Shaka.


“Kak Shaka, kita mau ke mana?” tanya Nabilla.


“Makan, memangnya kamu gak lapar. Gara-gara kamu, aku jadi telat janjian makan siang dengan Hani,” balas Shaka.

__ADS_1


“Oo....,” bibir Nabilla ber O ria.


“Aah....bakal jadi nyamuk lagi deh kalau begini. Billa turun di depan aja deh Kak Shaka, nanti Billa lanjut naik taxi,” pinta Nabilla.


“Enak aja, apa kata daddy Erick kalau tahu anak gadis nya di turunin di pinggir jalan. Yang ada wajah tampanku babak belur di hajar daddy Erick,” tolak Shaka.


“Iishh.....gak bakal kok, nanti Billa bilang sama daddy kalau Billa yang minta,” sahut Nabilla.


Pria itu tidak sama sekali menghentikan laju mobilnya, tetap berjalan, menolak untuk berhenti.


“Gak usah cari perkara kamu, ikut makan aja...lagian Hani pasti senang kalau kamu ikut makan bareng.”


 Kembali lagi wajah Nabilla tertekuk, pasrah sudah. Gak mungkin dia membuka pintu ketika mobil masih berada di tengah jalan, yang ada cari celaka sendiri namanya.


Shaka sudah mengenal Nabilla sejak gadis itu lahir ke dunia, bayi yang imut dan menggemaskan kalau kata Shaka di saat melihat Nabilla pertama kali. Kedua orang tua Shaka dan Nabilla adalah teman dekat, rekan bisnis juga, dan kedua mansion mereka satu komplek. Hingga kedua keluarga ini sudah bagaikan saudara yang sangat dekat.


Kakak kembar Nabilla, Arsal dan Arash teman sekolah dan teman bermain bersama dengan Shaka dan Syifa. Di antara anak-anak dari Erick dan Edward tidak ada bahasa memanggil Om dan Tante, semuanya memanggil Daddy dan Mommy, karena sudah di anggap orang tua juga oleh anak dari kedua pasangan ini.


Keakraban kedua keluarga Erick dan Edward salah satunya seperti ini, berhubung Arsal dan Arash mengurus perusahaan Erick di Singapura, Shaka lah yang kebagian tugas mengawasi Nabilla si bungsu selama jadwal Erick dan Alya padat di perusahaan. Padahal Shaka juga punya pekerjaan sendiri, namun masih sempat meluangkan waktu untuk sekedar jemput si bungsu Erick.


“Nabilla, lain kali minta sama Daddy Erick di jemput sama sopir,” ujar Shaka.


“Billa gak mau, kalau pulang enakkan naik busway, bisa mampir-mampir. Kalau di jemput pasti langsung pulang,” balas Nabilla.


“Kelayapan aja terus ke mana-mana, di culik baru tahu rasa kamu,” ujar ketus Shaka.


“Billa mau kok di culik, apalagi kalau yang nyulik orangnya ganteng, badannya tinggi,  sispex....oouutss...pasti hangat banget kalau di peluk,” Nabilla mulai berkhayal, dengan wajah yang berseri-seri.


Tangan kiri Shaka mulai menoyor kepala Nabilla. “Eh..masih kecil...udah mengkhayal yang jorok aja!” tukas Shaka, gak suka melihatnya.


“Apa apaan sih Kak, kepala Billa pakai di toyor....iih,” merenggut wajah Nabilla.


“Makanya jangan mengkhayal, aku gak suka lihatnya.”


Nabilla berdecih.”Cih...bilang gak suka, emangnya Billa gak tahu kalau Kak Shaka juga suka mengkhayalin Kak Hani,” balas Nabilla tak mau kalah.


🌻🌻


Bab ini khusus yang kangen sama keluarga Erick dan Edward, jujur novel kisah anak mereka agak bingung mau di terbitkan ke..... 😞😞.

__ADS_1


Mungkin saja Kakak Readers mau kasih usulan, siapa tahu bisa buat pencerahaan buat saya pribadi. Yukk tinggalkan komentarnya buat Nabilla dan Shaka.


__ADS_2