Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
S2 : Kebahagian Paman Didit dan Bibi Tia


__ADS_3

“Jika tidak ada halangan, selain pernikahan Salma dan Kavin, akan di selenggarakan pernikahan Retno dan Ari,” ucap Opa Braymanto, memberikan pengumuman.


Bibir Retno langsung menganga karena terkejut, tidak menyangka dia akan menikah secepat itu.


“Hal yang baik tidak boleh di tunda, lagi pula tidak ada larangan di agama, menikahkan dua saudara dalam hari yang sama,” lanjut Opa Braymanto, agar Retno bisa memahaminya.


“Kami kedua orang tua Retno, setuju Opa,” balas Paman Didit.


Sebenarnya jika dituruti kebiasaan di suatu daerah, Paman Didit harus menghitung weton si calon pengantin untuk mencari hari yang terbaik untuk melangsungkan pernikahan. Tapi sebenarnya semua hari baik, tradisi bisa di pakai atau tidak. Lagi pula mereka berada di Belanda bukan di pulau Jawa. Yang penting ketentuan dalam agama sudah ada semuanya.


Salma menyenggol bahu Retno yang masih bengong. “Bukannya dulu kamu waktu kecil pernah bilang, kalau kita bisa nanti nikah barengan ya,” celetuk Salma.


Retno langsung nyegir kuda, dan memeluk saudara sepupunya. “Ternyata celotehan kita masih kecil terkabulkan ya, Salma,” sahut Retno, dibalik pelukannya.


“Untungnya yang terkabulkan doa yang baik, bukan perkataan buruk,” timpal Salma.


“Ho’oh,” gumam Retno.


Makanya kata orang tua dulu, kalau berkata yang baik-baik, takut malaikat lewat. Apalagi kalau sudah emosi, pasti suka berkata buruk, kalau sampai kejadian nanti akan menyesal.


Setelah selesai acara makan malam, mereka berkumpul bersama-sama di ruang santai dan langsung mendiskusikan untuk acara pernikahan Salma dan Retno. Opa Braymanto langsung membentuk panitia kecil, walau nanti ada wedding organizer yang di tunjuk.


Dua pasangan calon suami istri terlihat bahagia dalam diskusi tersebut. Tanpa di sadari yang lain, Paman Didit dan Bibi Tia menitikkan air mata bahagia, tak terhingga rasanya, jalan hidupnya dari orang yang bukan apa-apa, bisa di terima oleh Opa Braymanto, mertua kakaknya sendiri, kemudian memiliki menantu keponakan Kavin Ardana Putra, orang kaya di Indonesia. Kehidupan keluarga Paman Didit telah di kelilingi oleh orang-orang hebat, dan orang tersebut merangkul keluarga nya juga.


Andaikan mas Yudo dan mbak Chintya masih hidup, anakmu sudah bahagia Mas, hidupnya sudah sukses sekarang. Dan memiliki suami yang sangat menyayanginya. Kalian memiliki cucu yang sangat tampan dan menggemaskan.


 Kamu bisa melihatnya kan di sana....


Mas Yudo, maafkan atas kesalahan ku yang dulu, terima kasih atas segala nasehatmu Mas Yudo, kini aku mengerti kenapa kamu selalu mengingatkan hal-hal kebaikan. Ternyata segala kebaikan yang kita lakukan akan mendapatkan balasan kebaikan pula, di waktu yang tak di sangka.


Rezeki bukan hanya harta saja, tapi di kelilingi oleh keluarga besar ternyata itu salah satu rezeki yang  tak bisa di nilai oleh uang.


Terima kasih mas Yudo, segala nasehatmu selalu aku jalani.


Terima kasih mas Yudo, melalui berkatmu aku memiliki keluarga baru yang menganggap aku anaknya juga, dan menerima keluargaku dengan baik.

__ADS_1


Dibalik senda gurau yang terdengar di ruang santai, apalagi baby Rayyan jadi pusat perhatian semua orang. Paman Didit menyeka matanya yang mulai basah, lalu tersenyum mengharu biru. Begitu pula Bibi Tia, dirinya selalu memperbaiki diri dari kesalahan serta keserakahan di masa lalunya, cepat kembali di jalan yang lurus. Alhasil Bibi Tia di hargai oleh semua kerabat Opa Braymanto yang ada di Belanda dan Bibi Tia bisa memantaskan dirinya tanpa harus menjadi sombong, dan selalu ingat jati dirinya berasal dari mana.


Paman Didit dan Bibi Tia tak sengaja saling bersitatap dengan kedua netra yang sudah basah, dan sama-sama tersenyum simpul. Inilah jalan hidup mereka yang semakin indah, namun tidak pernah diimpikan oleh mereka dari dulu. Rasa bersyukur selalu mereka panjatkan, atas anugerah yang selalu mereka terima.


Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan.


Keburukan akan dibalas dengan keburukan.


🌻🌻


Jam 10 malam waktu Belanda.


Para tamu sudah pulang dari mansion Opa, Salma sudah mengganti bajunya dengan dress rumahan lalu menidurkan baby Rayyan di kamarnya.


Sedangkan Kavin dan Ari sedang berdiskusi serius di ruang santai yang ada di lantai dua.


“Pak Bob, tolong buatkan kami kopi espresso dua ya,” pinta Kavin, ketika Pak Bob naik ke lantai dua mengantarkan beberapa kue untuk Salma.


“Baik Tuan Kavin.”


Sedangkan di dapur bersih, Lia dan Ningsih sedang menyisihkan beberapa makanan yang tidak habis. Yang nantinya akan di makan bersama oleh para maid di paviliun belakang.


“Ningsih, ini bawa beberapa kotak ini ke paviliun. Aku mau selesaikan piring kotor ini,” pinta Lia.


“Oke, aku bawa ke belakang dulu ya. Nanti aku balik buat bantu kamu,” jawab Ningsih, langsung mengangkat beberapa kotak makanan yang telah terisi.


Tinggallah Lia sendirian di dapur bersih, namun tak lama datanglah Emy. Sepintas Lia meliriknya, namun tidak menegurnya.


Duh ada sih pengganggu lagi...batin Emy.


Emy langsung mendekati wastafel cuci piring. “Biar gue yang cuci piring, loe bisa istirahat,” ucap Emy agak ketus, berusaha menyingkirkan Lia dari dapur bersih.


Lia mengerutkan keningnya. “tumben loe punya hati mau bantuin, kena angin apa loe!” sindir Lia.


Tanpa banyak bicara, Emy langsung mencuci piring yang ada di wastafel.

__ADS_1


“Bagus deh kalau loe tahu diri,” lanjut Lia, kedua tangannya memasukkan beberapa sisa kue ke dalam lemari pendingin. Setelahnya akan menyusul Ningsih ke paviliun.


Belum Lia meninggalkan dapur bersih, datang lah Pak Bob.


“Lia, tolong ambilkan dua cangkir kopi, saya mau bikin kopi buat Tuan Kavin,” titah Pak Bob.


DEG!


Refleks Lia melirik Emy yang sibuk mencuci piring.


Sepertinya ada udang di balik bakwan nih!...batin Lia. Curiga!


“Baik Pak Bob, saya ambilkan dulu.” Lia bergegas membuka laci penyimpanan bagian bawah, dan mengambil dua set cangkir kopi. Emy masih terlihat tenang walau hatinya mulai gusar.


Lia langsung menaruh set cangkir kopi dekat mesin kopi. Pak Bob segera memasukkan cup kopi exspresso di mesin kopi.


“Pak Bob, ikut saya sebentar,” bisik Lia sambil mencolek lengan Pak Bob, agar tidak terdengar oleh Emy.


Pak Bob agak heran dengan ajakkan Lia, tapi Lia membuat mimik wajah yang serius agar Pak Bob mau mengikuti permintaannya.


“Emy tolong lihatin mesin kopinya dulu, saya sama Lia mau ke paviliun sebentar,” pinta Pak Bob.


Hati yang gusar tiba-tiba menjadi tenang. Emy tersenyum tipis. “Baik Pak Bob.”


Lia dan Pak Bob meninggalkan dapur bersih, setelah agak menjauh dari dapur bersih, Lia berhenti dan menarik lengan Pak Bob, lalu menggiringnya ke pilar yang tak jauh dari dapur bersih.


“Pak Bob sebenarnya aku mencurigai sesuatu,” bisik Lia, sembari menunjuk ke arah dapur.


Lia yang banyak akal segera mengeluarkan handphonenya dan mengON kan kamera videonya. Sedangkan Pak Bob ikutan memperhatikan Emy dengan seksama. Mereka berdua sembunyi di balik pilar besar.


bersambung......kira-kira Emy mau kasih apa ya buat Kavin? Stay tune ya Kakak Readers sampai tamat 😊😊


 


__ADS_1


__ADS_2