
Perusahaan Indo Prakarsa
Salma sengaja berangkat ke kantor duluan dengan mengendarai motornya dan tidak berpamitan dengan Mama Rossa, gadis itu sangat malas untuk bertemu dan berbasa basi dengan keluarga Adiputra.
“Salma,” sapa pria yang sengaja mengejar gadis itu yang sudah masuk terlebih dahulu ke lobby perusahaan.
Merasa namanya di panggil gadis itu lantas menoleh ke belakang.
“Kak Bima...,” sapa Salma.
“Sepertinya kita satu kantor tapi susah bertemu ya,” celetuk Bima.
“Mmm...tidak juga, mungkin karena kesibukkan masing-masing jadi sampai tidak bisa bertemu,” jawabnya. Salma dan Bima melangkah bersama menuju lift.
“Kamu di tempatkan di bagian apa?” tanya Bima.
“Jadi asisten Direksi Kak Bima, kalau Kak Bima sendiri di bagian apa?”
“Bagian marketing.”
“Oo.....,” bibir Salma membulat.
“Salma, nanti siang bisa ikut makan siang bareng sama yang lain?” tanya Bima.
Gadis itu agak meragu untuk menjawab ajakan Bima. ”Aku sudah bawa bekal, Kak Bima,” tolak Salma secara halus.
“Gak masalah bawa saja bekal kamu, yang penting kita bisa makan bareng bersama,” imbuh Bima, sebenarnya memaksa gadis cantik itu untuk ikut makan siang bareng.
“Baiklah nanti aku usahakan biar bisa gabung makan bersama, tapi aku tidak janji ya, soalnya tergantung atasanku,” ujar Salma.
“Ok kalau bisa di usahakan ya, nanti kabarin lewat wa,” pinta Bima.
“Iya Kak Bima, nanti pasti akan aku kabari.”
Ting....pintu lift terbuka. Lantas Bima sesaat menyentuh bahu Salma, agar turut masuk ke dalam lift.
Pria yang lumayan berwajah tampan itu sengaja menatap wajah gadis itu yang sedang menatap pintu lift. Gadis yang sudah lama disukainya, sedangkan yang di tatap terlihat biasa saja.
Ting....pintu lift terbuka di lantai 7.
“Salma, aku keluar dulu ya. Jangan lupa kabari ya...,” pamit Bima yang sudah di lantai tujuannya, sedangkan tempat Salma ada di lantai 12.
__ADS_1
“Oh iya Kak Bima,” jawab Salma sambil manggut-manggut. Pria itu mengulas senyum di wajah tampannya, sambil melambaikan tangannya ketika keluar dari lift. Gadis itu hanya menatap datar tanpa membalasnya, seperti biasanya.
Kenapa dari dulu Salma selalu dingin, ada apa ya?...pasti ada sesuatu. Atau dia tidak suka denganku...batin Bima suka bertanya-tanya dengan sikap Salma dari awal mengenal gadis itu, cukup lama....hampir 4 tahun, selama masa kuliah.
🌻🌻
Setibanya di ruang Direksi lebih tepatnya ruangan Mama Rossa, gadis itu langsung meletakkan tasnya, kemudian segera mendaratkan bokongnya ke kursinya, kemudian menyalakan laptop yang sudah tersedia di atas meja kerjanya.
“Bismillah.... Semangat bekerja,” gumam Salma sendiri, menyemangati dirinya sendiri, dan mulai melanjutkan pekerjaan kemarin yang belum selesai.
Jam 9. 30 wib
Mama Rossa dan Kavin sampai di perusahaan berbarengan dengan mobil yang berbeda.
“Mama mampir ke ruangan kamu dulu, ada yang ingin mama bicarakan sama kamu,” ujar Mama Rossa.
“Mmm.....” gumam malas Kavin.
Kavin dan Mama Rossa sama-sama menuju ke ruangan CEO.
“Selamat pagi Tuan Kavin, Nyonya Rossa,” sapa Merry lembut dengan mengulas senyum terindah di wajahnya ketika kedua orang penting itu melewati meja kerjanya. Namun sayang tidak ada sapaan balik untuk Merry.
Merry wajahnya langsung berubah menjadi masam, tidak sesuai dengan harapannya jika sang pujaan hati akan membalas sapaannya, wajahnya saja tak memandang dirinya.
“Apa yang ingin mama bicarakan?”
“Ini tentang Salma.”
“Ck...masih pagi sudah membicarakan wanita itu,” hati pria itu sedang dongkol dengan gadis itu.
“Entah apa yang telah kamu perbuat dengan Salma semalam! Yang jelas sekarang kamu harus jaga jarak dengannya baik di kantor maupun di mansion,” titah Mama Rossa.
“Gara-gara kamu semalam, Salma minta kembali ke rumahnya. Dan untuk saat ini Mama belum mau dia pindah dari mansion karena mama masih memerlukannya,” lanjut kata Mama Rossa.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, dan terlihat tidak semangat.
Cih...dia minta kembali ke rumahnya, gara-gara kejadian semalam...batin Kavin.
Mau menjawab apa pria itu, sedangkan pria itu sedang pusing, kepalanya penat. Di tambah lagi tadi pagi dia sangat menikmati masakan dari gadis yang semalam di lecehkan olehnya. Lidahnya serasa di manjakan oleh masakan buatan seorang istri. Jujur sangat nikmat masakannya. Tapi kecewa juga dengan dirinya, kenapa bisa menikmati masakan wanita yang selalu dihinanya.
“Mama hanya minta dia bertahan tinggal di mansion kita selama dua bulan, setelahnya Salma bisa kembali ke rumahnya.”
__ADS_1
“Tidak satu tahun Mam, sesuai surat kontrak kerjanya?”
“Mama hanya merayunya selama dua bulan, dari pada semalam dia benar-benar pergi dari mansion. Jadi mama harap untuk saat ini jaga jarak dan jaga sikap kamu dengan Salma. Ini demi kebaikan kamu sendiri,” tutur Mama Rossa.
“Demi aku, mama bilang! Memangnya ada apa dengan aku dan Salma,” curiga Kavin.
“I-iya demi kamu, agar tidak di laporkan ke polisi gara-gara kamu melecehkan Salma tadi malam. Memangnya kamu mau,” agak gelagapan Mama Rossa menjawabnya.
Pria itu memijat pangkal hidungnya. “Di kirain ada apa, ternyata masalah itu saja, baiklah aku akan menjauhinya,” jawab Kavin.
“Bagus, kalau begitu mama ke ruangan.”
“Mmm.......” gumam Kavin, selepas Mama Rossa keluar dari ruangannya, pria itu menyandarkan kepalanya lalu mencoba memejamkan matanya. Bayangan wajah Salma muncul di pelupuk matanya, kemudian wangi tubuh gadis itu seakan-akan dekat dan tercium di hidungnya. Entah kenapa tubuh pria itu kembali meremang, seakan masih terasa kejadian semalam.
“Hufh.......,” menarik napas dalam-dalam, lalu pria itu langsung mengerjap kelopak matanya, lalu menyugar rambutnya berulang kali, frustasi.
Salma......batin Kavin memanggil nama gadis itu.
Sementara di ruang Direksi.
Gadis itu berdiri di hadapan Nyonya Rossa dengan wajah tertunduk, yang sudah duduk di meja kebesarannya.
“Lain kali kalau berangkat kerja jangan duluan, kamu harus bareng dengan ibu. Ingat itu,” Mama Rossa menegurnya.
“Maaf Nyonya jika saya berangkat ke kantor duluan, karena ingin menyelesaikan pekerjaan yang kemarin, harus selesai hari ini. Karena akan di bawa rapat oleh Nyonya nanti siang,” jawab Salma apa adanya.
“Bukan karena menghindari Kavin, jadinya kamu berangkat ke kantor duluan!”
Salma langsung bungkam.
“Jika iya bilang saja, Ibu sudah menegurnya dan meminta untuk menjauhimu. Dan Ibu harap kamu memaafkan Kavin atas tindakan semalam.”
Salma masih membungkam bibirnya, memang kenyataannya dia sangat membenci Kavin.
“Kembali lah ke meja,” perintah Mama Rossa tanpa menunggu jawaban dari Salma.
“Baik Nyonya.”
Suasana ruangan Direksi terasa tegang, seperti ada pemisah antara mertua dan menantu. Setelah gadis itu di tegur oleh Mama Rossa, Salma semakin diam, tak bertanya, jika berbicara hanya sebatas mengenai pekerjaan, dan itu pun hanya sebentar, selebihnya Salma koordinasi dengan sekretaris Mama Rossa yaitu Romi.
bersambung..........Kavin tidak tahan??
__ADS_1
Terima kasih Kakak Readers buat vote Salma dan Kavin 🙏