Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
S2 : Teguran Salma


__ADS_3

Jam 13.30 waktu Belanda


Ruang kerja Opa Braymanto.


Kavin sudah berada di ruang kerja Opa Braymanto. Setelah tadi siang sempat makan siang bersama, Opa Braymanto minta Kavin untuk menghadapnya, ada hal yang ingin dibicarakan.


“Opa salut dengan kegigihan kamu, mendengar Salma sakit langsung datang ke Belanda.”


“Maaf Opa, jika dalam sebulan ini tidak menghubungi Salma atau Opa untuk menanyai kabarnya.”


“Oh pantas saja selama sebulan ini wajah Salma berbeda.”


“Berbeda, maksud opa?”


Opa Braymanto menceritakan segala perubahan yang terjadi pada cucunya, mulai hilang senyumnya, lebih banyak diam, tidak terlihat ceria cenderung lesu. Walau masih menjalankan segala aktivitasnya, hingga jatuh sakit. Mimik wajah Kavin terlihat serius menyimaknya, namun hatinya agak senang, mendengar perubahan Salma ketika dia kembali ke Indonesia.


Mungkinkah Salma sudah ada perasaan untukku?


“Seharusnya kalau kamu berjuang untuk mendapatkan hatinya, seharusnya kamu bisa memanage waktu, di setiap kesibukan mengurus perusahaan sempatkanlah menghubunginya, menanyakan kabarnya, seringlah memberikan perhatian. Nanti semakin lama Salma akan luluh juga. Wanita itu sangat sederhana, cukup perhatikan hal yang kecil tapi intens dan sering,” tutur Opa Braymanto.


“Iya Opa, aku juga sudah minta maaf dengan Salma, karena kesibukkan bekerja aku tidak sempat menghubungi nya.”


“Berarti Salma sakit karena merindukan kamu, tadi Opa lihat wajah Salma mulai ceria kembali.”


“Benarkah, Opa,” hati Kavin bahagia sekali.


“Memangnya kamu tidak bisa merasakannya, udah tua masih aja kurang peka. Kavin, Salma itu usianya masih 24 tahun...jiwanya masih muda. Belajarlah lebih peka, jika kamu menginginkan Salma menjadi istrimu kembali. Ikutilah iramanya.”


“Baik Opa, tapi kira-kira bisakah Salma pegang perusahaan Opa di Jakarta saja. Biar aku bisa lebih dekat dengan Salma, lagi pula aku tidak bisa berlama-lama tinggal di Belanda, Opa?”


“Jangan di pikirkan hal itu dulu Kavin, intinya kamu luluh kan hati Salma terlebih dahulu, biarkan hal seperti itu dari kemauan Salma. Jika Opa yang memaksakan dia pindah ke Indonesia, tapi hubungan kalian tidak jelas, buat apa. Lebih baik Salma bersama Opa tinggal di Belanda.”

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Opa Braymanto, ada benarnya, masalah pindah itu hal kecil. Yang lebih utama sampai di mana hubungan Kavin dan Salma, ada kemajuan atau malah tidak ada tanda untuk rujuk.


“Baik Opa, aku akan segera tancap gas kalau begitu,” jawabnya penuh keyakinan.


“Bagus.”


Tiba-tiba saja pintu ruang kerja Opa Braymanto terketuk, lalu masuklah Emy dengan membawa nampan. Opa Braymanto langsung mengernyitkan kening keriputnya, ingin menegur Emy, tapi penasaran dengan maksud kedatangannya.


“Maaf Tuan besar, saya mau mengantarkan teh beserta cemilannya,” ucap Emy sopan, sambil tersenyum tipis ke Kavin.


“Mmm...,” gumam Opa Braymanto.


Ketika Emy menghidangkan teh di atas meja, Emy sengaja membungkukkan badannya dan lebih mencondongkan dirinya ke hadapan Kavin , hingga kemeja yang di kenakan Emy menampakkan buah dadanya yang di balut bra berwarna merah dari balik kancing kemeja yang terbuka. Kavin hanya tersenyum kecut, mau sebesar buah melon, tetap aja pria itu tak bernafsu ketika melihatnya.


“Opa sejak kapan baby sister menyuguhkan minum ya?” tanya Kavin dengan santainya, sembari melirik Opa.


“Anu...maaf Tuan muda, saya hanya membantu maid yang lain. Kebetulan Rayyan sama Bibi Tia,” Emy langsung memberikan penjelasan, padahal Kavin tidak bertanya dengannya.


“Sepertinya kamu sengaja tidak mengancingkan kemeja kamu, atau memang sengaja agar buah dada mu agar terlihat oleh seluruh penghuni mansion ini, terutama ke pemilik mansion ataua keluarganya!” tegur keras Kavin.


“Eh...,” Emy langsung melirik ke arah kemejanya, kemudian memegang kemeja bagian atasnya, seolah-olah dia tak tahu.


“Maaf Tuan muda, saya gak geh kalau kancingnya terbuka. Kalau begitu saya permisi,” buru buru Emy keluar dari ruang kerja Opa Braymanto.


“Sepertinya Opa, harus lebih menyeleksi karyawan yang bekerja di mansion ini.”


Opa Braymanto tersenyum tipis. “Kadang wanita bertingkah karena hadirnya seseorang. Jika kamu benar-benar mencintai Salma, kamu bisa menghadapi nya dengan tenang, dan tak perlu gegabah. Karena setiap perbuatan pasti akan ada balasannya. Biarkanlah dia berusaha, jika dia tidak cepat menyadarinya, maka sudah pasti tidak ada kata ampun buat orang yang telah berbuat jahat! Sederhanakan,” tutur Opa Braymanto sembari menyesap teh hangatnya.


Opa Braymanto juga ingin tahu sampai di mana keimanan seorang Kavin, yang selalu menyatakan cinta dengan Salma, cucunya. Benarkah cinta atau hanya sekedar di mulut saja!


🌻🌻

__ADS_1


Ketika keluar dari ruang kerja Opa Braymanto, terlihat Emy sedang mengerutu. “Kenapa harus bilang kancing kemeja aku terbuka sih, padahal cukup diam dan lihat saat buah dadaku yang montok ini. Punyaku lebih besar dari pada punya Non Salma, yang hanya sekecil buah apel, bukankah pria lebih suka dada yang sebesar punyaku," gumam Emy sendiri.


“Apa yang sekecil apel, Emy,” sahut seseorang dari balik tembok.


Emy terkesiap melihat kedatangan Salma seorang diri dari balik tembok pemisah.


“Anu... Non, bukan apa-apa kok. Hanya ngedumel sendiri, komentari drakor yang sedang saya tonton,” ucap Emy berusaha tenang.


“Benarkah? Bukannya sedang mengomentari buah dada ku yang sebesar buah apel?” tunjuk Salma ke bagian dadanya.


DEG!


“Ooh Non Salma salah dengar kayaknya, kalau begitu saya ke dapur dulu Non, mau taruh nampan ini,” balas Emy, berusaha tenang.


Sebelum Emy melangkah lebih maju, Salma langsung mencekal lengan Emy.


“Kamu, habis ngapain?”


“Saya habis antar teh dan cemilan buat Tuan Besar dan Tuan Muda, di ruang kerja, Non,” jawab Emy.


Salma menyeringai tipis. “Saya baru tahu kalau kamu menjalankan tugas seperti ini, selama ini yang masuk ke ruang kerja Opa, hanyalah Kepala Pelayan, dan tidak sekali pun maid yang masuk ke dalam!” Nada bicarakan Salma, mulai terdengar tegas, bukan lembut lagi.


Emy mulai gelagapan, “Itu Non, tadi Kepala Pelayan sendiri yang minta tolong dengan saya untuk antar minuman nya,” berkelit lidah Emy.


Salma menatap lekat-lekat wajah Emy, wajah yang tidak ada kata cantiknya alias yaa wajah papasan, hanya menang di buah dada yang sebesar buah melon, serta bokong yang bulat, kulit gelap, rambut lurus seperti habis di catok. Wanita kampung yang naik kelas karena menjadi TKI bekerja di Belanda sebagai baby sister baby Rayyan. Emy juga masih muda usia nya baru 22 tahun, namun terlihat tua karena dandanannya.


“Emy, jangan buat kebohongan yang nantinya akan membuatmu menyesal nantinya. Saya bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi, ingatlah hal yang busuk akan tercium juga! Semenjak pagi saya sudah membaca gelagatmu yang aneh, dari sorot matamu semuanya terlihat jelas! Sungguh di sayangkan sekali kamu sudah beberapa bulan kerja di sini dengan kinerja yang baik, tapi sekarang sepertinya kamu sedang mengotori dirimu sendiri. Ingatlah ini peringatanku! Terserah mau di dengar atau tidak,” ucap Salma dengan nada tegasnya, dan cengkeramannya semakin kuat.


Emy tampak meringis kesakitan, tapi membalas tatapan Salma dengan rasa kesal.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2