Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Rayyan Abizar Adiputra


__ADS_3

Mansion Opa Braymanto


 Jam 13.00 waktu Belanda


Ruang makan tampak ramai dengan gelak tawa baby Rayyan, yang turut makan siang mpsi berbarengan dengan Opa Braymanto yang menyantap makan siangnya.


Biasanya di jam makan siang Salma akan menyempatkan pulang untuk menyuapi anaknya makan siang, tapi berhubung meeting nya belum selesai, terpaksa tidak bisa pulang. Dan menitip ke baby sister nya untuk menyuapi makan siangnya.


Rayyan Abizar Adiputra adalah cicit pertama Opa Braymanto, kebanggaan Opa, apalagi cicit pertama nya laki-laki dan secara garis keturunan daddy-nya masih keluarga sederajat dengan Opa, dan nilai plusnya masih kerabat dekat.


Di sela-sela makan siangnya, Opa Braymanto menatap lekat-lekat cicitnya, ada rasa sedih yang terselip di hati pria tua itu. Opa Braymanto memang tidak terlalu tahu apa yang terjadi dengan jelas antara Salma dan Kavin, hanya tahu awal terjadinya pernikahan tersebut dari Paman Didit dan Bibi Tia, sedangkan masalah sikap kasar Kavin, hampir Salma tidak menceritakan, hanya kejadian yang Keanu ketahui jika Kavin pria pencemburu, karena mereka pernah berkelahi. Dan tragedi pelecehan yang dilakukan Yasmin dkk.


Mengapa Salma tidak menceritakan semua keburukan Kavin ke Opa Braymanto? Buat Salma untuk apa dia mengumbar keburukan orang lain, cukup Mama Rossa dan Ari yang menjadi saksi hidupnya, semakin dia mengumbar keburukan orang, bertambah dosa dirinya.


Jika boleh Opa Braymanto berkehendak, pria itu ingin pernikahan cucunya langgeng dengan Kavin, namun hal itu tidak bisa dipaksakan, seakan ada trauma. Pria tua itu hanya akan membantu yang di inginkan Salma, ya...bercerai!


“Permisi Tuan Besar, di luar ada tamu dari Indonesia bernama Rossa dan Kavin, katanya mereka saudara Tuan. Mereka ingin bertemu dengan Tuan,” lapor sang kepala pelayan.


Opa Braymanto langsung tersedak makanannya sendiri, mendengar tamu yang datang. Tamu yang tak di undang, dan tamu yang baru saja terbenak di hatinya. Setelah sekian lama tidak ada komunikasi, tiba-tiba saja keponakannya Rossa datang mengunjunginya, bersama anaknya.


“Ada apa ini, apa mereka tahu!” gumam Opa Braymanto sendiri, sembari menatap Baby Rayyan yang sedang nyengir menatap Opa Braymanto.


“Emy, kalau sudah selesai suapi Rayyan, langsung bawa ke kamarnya,” pinta Opa Braymanto.


“Baik Tuan.”


Opa Braymanto menoleh ke sang kepala pelayan. “Antarkan mereka ke ruang tamu, dan suguhkan mereka minuman dan makanan,” perintah Opa Braymanto.


“Baik Tuan.”


Sebelum menemui Mama Rossa dan Kavin, Opa Braymanto terlebih dahulu menghubungi Keanu dan Paman Didit, memberitahukan kedatangan Mama Rossa dan Kavin. Opa meminta mereka semua jangan balik ke mansion terlebih dahulu. Dan meminta untuk menjaga Salma, sedangkan untuk urusan baby Rayyan biar pria tua itu yang mengurusinya. Untungnya stock asi untuk baby Rayyan aman.


🌻🌻


Ruang Tamu


Mama Rossa dan Kavin sudah di antar ke ruang tamu dan di minta untuk menunggu sebentar. Kavin mulai terlihat gugup dan gelisah dalam duduknya, sedangkan Mama Rossa terlihat tenang dan sesaat melirik Kavin.

__ADS_1


Beberapa maid sudah menyajikan minuman dan beberapa makanan, serta mempersilahkan untuk di cicip, sambil menunggu Tuannya datang.


Lima belas menit kemudian...


Dari kejauhan Mama Rossa melihat kedatangan Opa Braymanto, Mama Rossa langsung beranjak dari duduknya begitu juga Kavin.


“Assalamualaikum Om Bray,” sapa Mama Rossa, langsung menghampiri pria tua itu kemudian meraih tangannya, dan salam takzim.


“Waalaikumsalam Rossa, sudah lama kita tidak bertemu,” Opa Braymanto menyambut hangat kedatangan Mama Rossa.


Kavin turut memberi salam ke Opa Braymanto dengan salam takzim.


“Om Bray, masih ingat ini Kavin....anakku, dulu Om ketemunya waktu usia nya sekitar tubuh belas tahun waktu di Jakarta,” ujar Mama Rossa.


Opa Braymanto menatap ke arah Kavin lalu menepuk bahu Kavin. “Sekarang sudah tua ya,” celetuk Opa Braymanto. Kavin hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya, dirinya dibilang sudah tua, walau ya memang sudah tua.


“Ayo....duduk, kaki Om sudah gak kuat berdiri lama,” pinta Opa Braymanto sambil terkekeh dengan Mama Rossa. Mereka bertiga kembali duduk bersama.


Mama Rossa memulai pembicaraan dengan santainya bersama Opa Braymanto, apalagi mereka sudah lama tidak bertemu, pasti banyak cerita yang telah terlewatkan. Setelah hal yang ringan di obrolkan, kini lah saatnya Mama Rossa berbicara mengenai anak Chintya, Salma. Mama Rossa mengeluarkan handphone milik Salma, dan membuka galeri fotonya, terlihat foto Chintya, Salma dan Yudo.


Opa Braymanto tertegun melihat foto anaknya, tanpa di sadari nya kedua netranya berembun. Hatinya kembali tercabik-cabik teringat akan masa lalunya, keegoisan dirinya yang tidak merestui putri bungsunya. Sungguh teganya mengusir putri cantiknya karena menolak dijodohkan dan lebih memilih karyawan rendahan di perusahaannya di Jakarta.


Kavin yang sedari tadi hanya menyimak obrolan antara om dan keponakan, sekarang pria itu menceritakan dari awal semua kejadian hingga akhir kejadian. Sepanjang Kavin bercerita, Opa Braymanto menjadi pendengar yang baik, tidak sedikit pun menyela.


Disela-sela berbicara Opa Braymanto sangat memperhatikan raut wajah Kavin, yang terlihat sendu dan terdengar ada nada kesedihan di suara baritonnya. Dan bisa menangkap jika Kavin sangat kehilangan Salma selama 1,5 tahun ini.


Kavin mengatur napasnya sebelum melanjutkan ucapannya. “Opa Braymanto, dari hati yang paling dalam...aku minta maaf atas segala perbuatan selama Salma masih hidup. Aku sangat bersalah dan menyesalinya....,” pria itu menyeka air matanya yang mulai keluar dari ujung ekor matanya.


“Aku benar-benar menyesal, dan tak sanggup kehilangan Salma,” suara Kavin terdengar berat dan sedikit serak, seperti menahan untuk tidak menangis kembali. Mama Rossa langsung mengelus lembut punggung putranya.


“Semua manusia pasti tak luput dari kesalahan walau di sengaja maupun tidak di sengaja. Begitupun juga Opa punya kesalahan di masa lalu. Kita baru menyadari jika orangnya telah tiada.” Opa Braymanto mendesah.


Kavin terlihat menundukkan wajahnya, dan sesekali mengusap hidungnya yang mulai memerah, lalu matanya.


Opa Braymanto masih menahan diri untuk tidak membongkar keadaan Salma yang sebenarnya, dan membiarkan Kavin berlarut dengan penyesalannya.


“Ooooeee.......oooeee.....,” suara tangisan baby Rayyan terdengar nyaring dari kamarnya yang berada di lantai dua. Kedua netra Opa langsung menatap lantai dua, begitu pula Mama Rossa dan Kavin.

__ADS_1


“Om.....suara baby siapa?” tanya Mama Rossa, ingin tahu.


“Ooooeee......ooeee....,” suara baby Rayyan semakin mendekat ke ruang tamu. Ternyata baby sister membawa baby Rayyan ke ruang tamu.


“Maaf Tuan Besar, baby Rayyan tiba-tiba rewel...sepertinya_” Emi sang baby sister tak bisa melanjutkan ucapannya setelah dapat tatapan tajam dari Opa Braymanto.


Mama Rossa dan Kavin melihat baby Rayyan langsung terpesona dengan wajah tampan baby Rayyan. Membuat wanita tua itu beranjak dari duduknya dan mendekati sang baby sister.


“Gantengnya....anak siapa ini. Kenapa menangis. Boleh saya mengendongnya?” pinta Mama Rossa. Opa Braymanto sesaat terdiam kemudian menganggukkan kepalanya.


Baby Rayyan yang masih menangis diberikan ke Mama Rossa oleh Emy, baby Rayyan masih menangis tapi menatap wajah Mama Rossa.


“Ini baby siapa, Om?” kembali bertanya Mama Rossa.


“Keluarga besan membawa saudaranya dari Indonesia sedang liburan ke sini, mereka sedang jalan-jalan keluar. Tapi babynya dan baby sisternya tidak dia ajak, cuaca lagi kurang bersahabat,” dusta Opa Braymanto.


“Ooo...,” bibir Mama Rossa membulat.


Mama Rossa menimang baby Rayyan, dan menatap lekat-lekat wajah tampan baby Rayyan. Lalu menatap wajah Kavin.


Kenapa baby ini wajahnya mirip Kavin??


 



 bersambung.......mungkinkah Mama Rossa dan Kavin mencurigai sesuatu, setelah melihat baby Rayyan?


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2