Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Panggil Mama


__ADS_3

“Kamu seperti pernah menikah saja, Salma?” balas Mama Rossa.


Sesaat gadis itu mengingat pernikahan paksanya, memang sudah menikah tapi belum merasakan arti dari pernikahan itu.


“Kehilangan orang yang di cintai bukan hanyalah suami, Nyonya. Tapi bisa orang tua atau teman yang selalu ada di hati kita,” jawab Salma dengan lembutnya.


Andaikan saja Mama Rossa bisa membongkar pernikahan anaknya dengan Salma, entah apa yang akan terjadi?


“Iya.. bukan hanya pasangan hidup saja. Salma pernahkah kamu jatuh cinta dengan seseorang, apalagi kamu cantik begini, pasti ada pria yang kamu sukai?” tanya Mama Rossa.


Sejenak gadis itu mengulas senyum tipis. “Banyak pria yang mendekati dan menyatakan cintanya, tapi saya yakin mereka mencintaiku karena wajah cantik ku, Nyonya, bukan karena hati yang tulus mencintaiku.”


“Bukankah wajah cantik bisa pudar di makan usia, atau terjadi sesuatu hingga kecantikan itu menghilang, sedangkan hati dan kepribadian tidak bisa pudar. Tapi yang jelas saya tidak berani untuk jatuh cinta karena sesuatu hal, tapi jika sudah selesai sesuatu halnya mungkin saya akan membuka hati untuk pria yang akan menjadi suami saya kelak,” imbuh Salma.


Sesuatu hal itu apakah status kamu yang telah menikah....batin Mama Rossa.


 Mama Rossa menggenggam tangan gadis itu.”Semoga kelak kamu menemukan pria yang sangat mencintaimu bukan karena wajah cantik nya tapi hatimu.”


Kesalahan pertama yang pernah tertanam di hati Mama Rossa adalah menerima anaknya menikah dengan wanita yang tidak berada\tidak sederajat dengannya hanya bentuk pertanggung jawaban, bukan berarti menyetujui sepenuhnya menjadi menantunya. Namun siapa yang mengira setelah mengenal lebih dekat, perlahan-lahan kepribadian menantu keduanya terbuka. Boleh jadi gadis itu terlahir di sebuah desa, tapi entah kenapa Mama Rossa merasa gadis itu bukan dari keturunan orang biasa saja, mulai dari wajah cantiknya yang agak bule, tutur kata nya sekelas orang yang berpendidikan walau kenyataannya memang Salma menempuh pendidikan strata S1, semua yang berada di diri gadis itu mencerminkan orang berkelas. Siapa sesungguhnya Salma?


“Aamiin semoga terkabul, Nyonya. Dan sekarang Nyonya jangan bersedih lagi, harus banyak tersenyum. Supaya relax bagaimana kalau saya pijitin Nyonya, pasti badannya pegal-pegal setelah kelilingi mall tadi?” tawar Salma.


Sedari di Mall, Salma sering melihat Mama Rossa suka memijat betis kakinya ketika duduk di bangku pengunjung, feeling Salma pasti wanita tua itu merasa pegal kakinya.


“Memangnya kamu bisa pijit?”


“Kalau kata bapak saya sih, enak pijitan saya bikin tidur,” tutur Salma.


Awal Mama Rossa agak meragu dan tidak enak, namun melihat Salma dengan sopannya menaikkan kedua kakinya agar bisa di selonjor di sofa, akhirnya manut aja. Gadis itu sebelumnya mengambil minyak zaitun yang sering di bawanya di dalam tas.


“Kalau pijitannya agak kekencangan kasih tahu ya Nyonya, bisa saya kurangi kekuatan tangan saya,” pinta Salma.


Mama Rossa mulai menikmati sentuh tangan gadis itu di salah satu kakinya. Enaknya pijitannya....

__ADS_1


Di balik pijitan gadis itu, Mama Rossa semakin menyesali rencana awal pada gadis itu. Hanya menginginkan untuk kepentingan putranya tanpa memikirkan perasaan gadis itu. Wanita tua itu bisa melihat ketulusan gadis itu yang begitu menghargai dirinya dan merasakan dirinya di anggap orang tua.


“Bagaimana Nyonya, pijitan saya agak kekencangan gak?”


“Salma jangan panggil Ibu Nyonya lagi, coba panggil Mama seperti Kavin?” permintaan tulus Mama Rossa dalam hatinya.


Kedua tangan Salma berhenti memijat kaki Mama Rossa, lalu menatap teduh wanita tua itu.


“Nyonya jangan bercanda masa asisten panggilnya Mama,” balas Salma.


“Mama gak bercanda kok, selama ini mama pengen punya anak perempuan, kalau kamu memperbolehkan Mama pengen anggap kamu sebagai anak Mama?” tanya Mama Rossa dengan lembutnya tanpa ada nada terpaksa.


Kepala gadis itu sedikit tertunduk, dan kedua netranya mulai tergenang air, gara-gara mendengar permintaan Mama Rossa.


“Nyonya tidak bercanda kan? Sejujurnya saya tidak enak, saya hanya gadis dari kampung bukan orang yang berada?” tanya Salma.


“Eets kok malah nangis, Mama serius kok, mama pengen menganggap kamu sebagai anak mama sendiri,” pinta Mama Rossa, wanita itu mengangkat wajah gadis itu lalu mengusap air matanya.


Sebenarnya Wajah nyonya....agak mirip dengan wajah ibuku...batin Salma merindu.


Mama Rossa merentangkan kedua tangan, lalu gadis itu langsung masuk kepelukan Mama Rossa.


“Makasih nak, sudah panggil Mama,” ujar Mama Rossa sembari mengelus lembut punggung gadis itu, beriringan ada perasaan lega di hati Mama Rossa.


Walau ke depan kalian tidak berjodoh panjang, kamu tetap menjadi anak saya, Salma.


“Terima kasih Mah, sekarang balik pijat lagi...tukang pijatnya belum selesai kerjaannya...,” imbuh Salma ketika mengurai pelukan hangat Mama Rossa, gadis itu tersenyum lebar.


“Lanjutkan..., “ balas Mama Rossa sambil terkekeh, sambil kembali ke posisi semula. Sembari memijat, mereka berdua sambil berbagi cerita...tak terasa kedekatan mereka sudah semakin dekat.


🌻🌻


Perusahaan Indo Prakarsa.

__ADS_1


Pria arogan itu tampak berdiri tegak di hadapan beberapa orang yang sudah tertunduk, takut.


“Kalian semua ini kerja gak becus! Makan gaji buta di sini. Kalian itu manajer harusnya bisa memanage staffnya. Laporan apa yang kalian berikan kepada saya!!” Pria itu melemparkan lembaran laporan  tersebut ke wajah mereka yang masih tertunduk.


“Memangnya saya anak SD yang gampang di bodohi sama kalian semua!!” suara pria itu semakin meninggi. Pria itu langsung teringat pesan dari Salma yang di suruh balik ke SD.


“Ma-maaf Tuan Kavin, kami akan segera memperbaiki laporan ini,” agak gemetar pria yang kena teguran keras dari sang CEO perusahaan.


“Jika dalam dua jam belum selesai memperbaiki laporan kalian semua, maka saya tunggu surat pengunduran kalian berempat!!” ancam Kavin tidak main-main, kalau sudah menyangkut masalah pekerjaan tidak ada ampun buat siapa pun. Keempat pria itu yang menjabat sebagai manajer divisi, mengendikan bahu nya setelah mendengar kan ancaman CEO nya.


 “B-baik Tuan Kavin,” mereka menjawab secara bergantian.


“Keluar kalian semua!!” seru Kavin sambil mengibaskan salah satu tangannya. Tanpa menjawab, dan hanya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, mereka berempat keluar dari ruangan CEO, dengan langkah secepat mungkin.


Ari hanya bisa menghela napas panjang, melihat sikap Tuannya kayak perempuan lagi PMS, belum ada sehari di tinggalin sama Salma ke Bali, Tuannya kerjaannya ngamuk terus, di tambah lagi Yasmin tidak datang waktu jam istirahat dengan alasan sedang makan siang dengan rekan bisnisnya.


“Wah sepertinya waktunya tidak tepat kita datang menghadapi Tuan Kavin, apa atasan kita lagi ada masalah sama istri cantik nya itu?” tanya salah satu manajer.


“Bisa jadi ada masalah sama istrinya, imbasnya ke kerajaan kita. Padahal kesalahannya sedikit tidak banyak,” jawab salah satunya.


“Dia yang punya masalah sama istrinya, ujung-ujungnya kita yang kena ancaman,” mendengus kesal salah satunya.


“Sudah jangan di permasalahkan lagi, sebaiknya di perbaiki dulu laporannya, dari pada di suruh menaruh surat pengunduran diri,” ajak salah satu.


“Iya, selamat berjuang buat kita semua.” Mereka berempat kembali ke divisi masing-masing.


*bersambung....


Kakak Reader jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, di kasih Vote juga mau...biar tambah semangat. Terima Kasih sebelumnya.


Love you sekebon 🌻🌻🌻🌻🌻*


Si Tuan Kavin lagi uring-uringan, ngimana kalau di tinggalin selamanya sama Salma ya 🤔🤔

__ADS_1



__ADS_2