Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
S2 : Retno dan Ari


__ADS_3

Bab ini khusus buat Kakak Readers yang request mau ngintip MP nya Retno dan Ari. Jadi yang masih bocil harap minggir ya, tidak bertanggung jawab kalau ikutan panas 🤧🤧


🌻🌻


Mansion Opa Braymanto.


Jika Salma dan Kavin bulan madu di hotel mewah, berbeda dengan Ari sang asisten Kavin dan saudara sepupu Salma, mereka tidak menginap di hotel tapi hanya di mansion Opa Braymanto.


Bibi Tia sudah memberikan sedikit wejangan buat putri pertamanya, perihal rumah tangga dan mewanti-wanti menjadi istri yang baik buat suami yang baik pula.


Wanita yang usianya sama dengan Salma sekarang sudah berada di kamar yang biasa di tempatinya, kebetulan kamarnya dihiasi dengan bunga oleh wedding organizer, hingga kamarnya tercium aroma wangi dari bunga tersebut.


Jantung wanita itu jelas berdegup kencang, ketika mendengar pintu kamarnya terbuka. Sudah bisa dipastikan pria yang telah menikahinya tadi pagi akan masuk ke kamar wanita itu.


Benar saja pria itu masuk ke kamar dengan membawa tampan berisikan dua gelas orang jus beserta cemilannya, pria itu meletakkannya di atas nakas.


“Retno,” panggil Ari.


“Eh ... iya Pak Ari,” jawab Retno agak gugup.


Pria itu menghampiri Retno yang sudah duduk di pinggir ranjang. Sesaat pandangannya wanita itu tertunduk, dan menatap lantai marmer kamarnya, perasaannya sedang campur aduk


“Kok sama suami panggilnya Pak, panggil mas dong atau panggil hubby atau sayang, juga boleh,” seloroh Ari, sambil meraih tangan Retno yang berpangku di atas pahanya.


DEG


Jantungnya Retno mulai berlari-larian, dan semburat merah jambu muncul di kedua pipi nya. Ari tersenyum tipis melihat wajah istrinya yang nampak seperti kucing anggora kecil, malu-malu.


“Retno, terima kasih ya mau menjadi istriku, semoga kelak kita menua bersama bersama anak-anak kita.”


Duh hangat sekali hati Retno mendengar ucapan Ari. “Iya Pak Ari.”


“Eh....kok Pak Ari lagi.”


Pria itu mengecup pipi Retno. “Panggil aku, mas atau hubby.”


Blush


Semakin memerahlah pipi Retno setelah di kecup Ari. “Iya Mas,” jawab Retno malu-malu. Ari tersenyum hangat ketika di panggil mas, rasanya melambung tinggi ke langit.


“Aku juga minta pengertian mas Ari, kalau nanti ada sikapku yang kurang mengenakan ya mas, mohon di maklumi. Kita belum lama kenal nya, malah langsung di ajak nikah sama mas,”


Pria itu merangkul pinggang istrinya, dan Retno rela di sentuhnya, wanita mana yang tidak mau di sentuh sama pria yang lumayan memiliki wajah enak di pandang, tubuh besar dan tinggi, dan satu lagi wangi yang menguar dari tubuh pria itu sungguh membuat siapapun yang berada di dekatnya, pasti akan betah.


“Mari kita saling mengenali, saling menerima segala kelebihan dan ke kurang kita masing-masing. Kita pacaran setelah menikah, tanpa ada rasa takut dan was was jika bersentuhan,” tutur Ari.

__ADS_1


“Iya Mas.” Retno menyetujuinya.


“Eh...aku tadi bikin orang jus, kamu mau?” Pria itu mengurai rangkulannya, kemudian beranjak dari duduknya untuk mengambil jelas yang di bawanya.


“Terima kasih, ya mas,” sahut Retno, ketika menerima gelas jusnya, lalu meneguknya pelan-pelan. Begitu juga dengan Ari.


“Aku boleh tidur di sini sama kamu, kan?”


Pertanyaan bodoh apa ini, pikir Retno. “Aku sengaja bertanya dulu, takutnya kamu belum siap menerima kehadiran aku di sini,” lanjut kata Ari pelan.


Retno yang masih duduk di tepi ranjang, langsung mendongakkan wajahnya dan menatap pria yang kini berdiri persis di hadapannya.


“Apakah Mas Ari mau langsung pisah ranjang?” tanya Retno dengan nada kesalnya.


Pria itu meraih gelas yang ada di tangan Retno, lalu meletakkan kembali di atas nakas, begitu pula dengan gelas miliknya sendiri. Kemudian kembali berhadapan dengan istrinya, lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Retno.


“Jangan salah paham Retno, aku hanya bertanya saja. Minta izin dulu, masa habis nikah langsung pisah ranjang,” balas Ari dengan tutur penuh kelembutan.


Retno menautkan kedua tangannya, entah kenapa dirinya kesal mendapat pertanyaan tersebut. “Aku kan kesal mas, masa mas bertanya seperti itu. Kalau sudah suami istri itu harusnya tidur seranjang, lagian pertanyaan mas ada-ada aja,” cerocos Retno.


“Mmpphht.......,” bibir Retno sudah dibungkam oleh bibir Ari, membuat wanita itu yang belum siap menerima serangan dadakan, langsung kedua netranya membulat. Ari mengikuti naluri kelaki-lakiannya mencium bibir Retno penuh kelembutan, mulai dari lipatan bawah dilummatnya pelan-pelan.


Retno yang belum pernah dicium oleh pria, sesaat terpaku ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Ari, ada rasa hangat, basah...dan percikan yang aneh.


“Mas.....,” deru napas berat terdengar jelas di bibir Retno, ketika Ari melepaskan pagutannya.


“Ambil napas dulu, istriku,” ucap lirih Ari, sama-sama bernapas berat.


Mereka berdua saling bersitatap dan tersenyum malu, dan baru menyadari jika mereka berdua sudah ada di atas ranjang, dan Ari sudah mengungkung istrinya.


“Bersediakah kamu menyempurnakan ibadah kita bersama sebagai suami istri?” tanya Ari, dengan tatapan penuh damba.


Jika sudah menikah, maka hal yang wajar jika pasangan halal meminta haknya sebagai suami atau istri.


“Bersedia mas, aku istri mu....dengan dinikahi berarti aku milikmu sekarang.”


Pria itu mengulas senyum tipis nya. “Terima kasih, istriku.”


Ari membelai rambut yang ada di kening Retno, lalu mengecup nya dengan lembut sambil mengucapkan doa sebelum berhubungan.


Retno mulai terasa nyaman dan hangat di bawah kungkungan suaminya. Sentuhan hangat dari suaminya mulai terasa di pipi nya, kemudian ujung hidungnya, lalu kembali turun ke bibirnya. Mereka berdua kembali saling memagut, membagi rasa manis, menyesap dengan rasa yang tak bisa di gambarkan.


Kedua tangan mereka mulai bergerilya, saling membuka pakaian yang melekat di pasangan masing-masing. Hingga keduanya sama-sama polos di atas ranjang.


Ari mencumbui seluruh tubuh Retno setiap incinya, tidak ada yang terlewatkan. Sedangkan Retno terus meliukkan tubuhnya, dan sesekali menggelinjang tak karuan, apalagi ketika suaminya menyentuh pucuk gunung kembarnya, memilinnya lalu menyesapnya dengan bibirnya.

__ADS_1


Sentuhan yang tak pernah di rasakan oleh pasangan itu, membuat mereka berdua hanyut dalam api asmara. Perjaka dan perawan sama-sama mengikuti naluri hasrat yang datang di antara mereka, tak perlu belajar pada siapapun, cukup ikuti insting mereka.


“Retno, kalau sakit bilang ya,” pinta Ari ketika ingin menyatukan dirinya dengan istrinya.


Retno hanya bisa menganggukkan pelan, karena dirinya baru saja merasakan gelombang kenikmatan yang belum pernah dirasakannya, akibat ulah Ari.


Pria itu kembali mencium bibir Retno yang sudah terlihat bengkak, kemudian mendorong keperkasaannya ke bagian feminim istrinya.


Kedua tangan Retno langsung memeluk tubuh besar suaminya, lalu mencakar punggung Ari ketika pria itu menghentakkan dan berusaha menerobos tubuhnya.


Ari yang melihat wajah Retno meringis, menghentikan pinggulnya. “Sakit ya?” ada rasa tak tega.


“Lanjut aja mas, sudah terlanjur sakit,” jawab Retno.


“Peluk aku yang erat ya, jika sakit...cakar saja punggungku,” pinta Ari.


“Iya mas.”


Dan benar saja ketika Ari kembali menerobos bagian feminim Retno, wanita itu berteriak sesaat, namun memeluk suaminya dengan erat. Suara robekan pun terdengar, ketika tubuh Ari sempurna berada di tubuh Retno.


Ari menghentikan hentakannya, agar istrinya bisa menyesuaikan keadaan. Lalu tak lama Ari kembali memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo lambat, agar rasa sakit istrinya tidak terlalu berasa.


Akan tetapi tèmpo hentakan semakin menanjak, rasa sakit yang di rasa kan oleh Retno mulai tergantikan rasa nikmati walau masih ada rasa sedikit sakit.


Ari dan Retno sama-sama mengeluarkan suara merdunya, erangannya pun terdengar jelas dalam kamar Retno. Kedua tubuh mereka pun sudah bermandikan keringat, padahal suhu AC terasa dingin.


“Mas....aku.” Puncak kenikmatan mulai menghinggap di ubun-ubun Retno.


“Kita....bareng sayang.” Ari semakin mempercepat hentakannya. Hingga akhirnya pria itu menengadah wajahnya ke atas, dan mengerang kencang ketika benih nya keluar dari sarangnya. Begitu juga dengan Retno, kedua kakinya melenting serta tubuhnya menegang ketika pelepasannya datang bersamaan dengan semburan hangat di rahimnya.


Tanpa melepaskan keperkasaannya, Ari langsung memeluk erat tubuh istrinya. “Terima kasih istriku, kamu seutuhnya menjadi milikku. I love you, Retno.


Retno tersenyum bahagia. “I love you to, mamasku yang ganteng.”


Malam pertama yang indah buat Retno dan Ari, mereka melepaskan status lajang mereka dengan sempurna dan tentu saja dengan sebuah ikutan pernikahan. Ibadah suami istri yang indah dan dapat pahala.


 bersambung.....


semoga bisa bikin malam ini panas, saya melipir dulu ya mau cari suami 😁😁


 


Kakak Readers jangan lupa mampir dong di kisah Tania dan Albert....Dijual Ayahku Dibeli Ibuku....


sedih eey masih sepi 😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2