Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci

Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci
Ini kah takdir ku!


__ADS_3

Tiga hari berlalu....


Pencarian keberadaan Salma telah di hentikan setelah pencarian yang begitu maksimal, menurunkan banyak orang baik di laut dan di pesisir pantai. Akan tetapi sudah tidak ada tanda-tanda wanita itu muncul ke permukaan laut. Hati Kavin benar-benar nelangsa dibuat nya, sudah tiga malam pria arogan itu bagaikan orang tak waras, kadang tertawa kadang menangis dan teriak histeris memanggil nama Salma. Untungnya Ari sang asisten sigap, hingga memanggil Dokter pribadi untuk mendampingi keadaan Kavin, agar kejiwaannya tidak terlalu terganggu.


Pagi ini Kavin dan Mama Rossa mengenakan baju berwarna hitam tanda berkabung. Sekarang mereka sudah berada di atas kapal dan sudah berada di tengah laut. Di pimpin pemuka agama, mereka berdoa bersama untuk kepergian Salma, untuk selama-lamanya.


Rasa penyesalan, rasa sedih, rasa kehilangan tersirat di wajah Kavin. Di balik kaca mata hitamnya, pria itu mengeluarkan air matanya kembali. Andaikan bisa memutar waktu ke empat tahun lalu, dia ingin kembali ke sana dan hidup berbahagia dengan Salma, namun garis takdir berkata lain. Mereka tak berjodoh panjang.


Maafkan aku yang baru tahu jika kamu istriku keduaku, Salma Hadeeqa. Ternyata dulu kita juga sudah bertemu saat di rumah sakit, gadis cantik berkepang dua.


Maafkan atas kekejaman ku yang selalu menyakitimu semenjak kita bertemu kembali, aku pria yang bodoh tidak menyadari perasaanku sendiri.


Aku terima jika dirimu sangat membenciku, aku memang patut di benci olehmu. Tapi tidak begini caranya, Salma. Kamu meninggalkanku untuk selamanya.


Kavin masih menatap luasnya lautan biru, sungguh sesak menerima kenyataan yang pahit.


Bahagiakah kamu telah mengakhiri semuanya, Salma? Aku tersiksa Salma, hatiku sakit!


Aku sakit karena mencintaimu, aku sakit karena tidak bisa memilikimu untuk selamanya.


Mama Rossa memberikan keranjang berisi bunga, Kavin mengambil segenggam bunga dan menaburnya kelautan.


“Aku sangat mencintaimu, ISTRIKU Salma,” gumam Kavin, tangannya bergetar ketika menabur bunga.


“Hatiku hancur, Salma. Kamu berhasil menghancurkan diriku.”


Mama Rossa mengusap punggung putranya. Sudah tak kuasa lagi pria itu menahan gemuruh di dadanya, akhirnya memeluk Mama Rossa.


“Maafkan aku mam, aku banyak salah dengannya. Aku tak sanggup menerima kenyataan ini....hiks...hiks,” Kavin sudah mulai teriak dalam pelukan Mama Rossa.


“Bukan hanya kamu yang kehilangan, mama juga kehilangan anak gadis mama. Kita berdua harus kuat menerima takdir ini, Kavin,” balas Mama Rossa.


Ini kah takdir hidup ku?


Team penyelamat menyimpulkan jika Salma sudah terbawa ombak dan tenggelam di lautan, kemungkinan sepuluh persen untuk di temukan jasadnya.

__ADS_1


🌻🌻


Kedua orang tua Yasmin menyusul ke Bali untuk menemui Kavin. Dan seperti dugaan Kavin, jika kedua orang tua Yasmin tidak terima jika anaknya di ceraikan. Namun Kavin terlihat tenang, dan meminta Dimas menceritakan kelakuan istrinya selama ini, yang sering terjadi di belakang dirinya.


Yasmin yang kelihatan amburadul hanya bisa menangis dan tak bisa menyanggah semuanya, ketika Dimas menceritakan semua kelakuan Yasmin, yang sering membookingnya untuk memuaskan hasratnya.


Susi yang awalnya mencaci maki Mama Rossa dan Kavin, tertunduk malu, sudah tidak bisa berkutik lagi.


“Tuan Kavin, polisi sudah datang?” ucap Tomi.


Kavin sudah membuat laporan BAP ke pihak polisi, untuk kasus yang terjadi pada Salma di Beach club, di tambah lagi masalah perzinaan mantan istrinya.


“Suruh masuk,” balas Kavin.


“Kak, tolong maafkan aku. Aku tidak mau di penjara,” Yasmin memohon, sampai bersimpuh di kaki Kavin.


“Jika kamu tidak mau di penjara, apakah kamu mau mengorbankan nyawamu seperti Salma!” geram Kavin.


“Ti-tidak...,” jawab lemah Yasmin.


“Nak....tolong...jangan lakukan pada Yasmin,” Susi tidak rela melihat anaknya di bawa oleh polisi.


“Anak anda telah melecehkan istri saya, Salma. Dan istri saya telah tiada, masih untung saya tidak membunuh Yasmin!” ujar sarkas Kavin menunjukkan wajah garangnya.


“Sudah Mam, anak kita memang sudah berbuat salah,” Herman sudah pasrah melihat anaknya.


“Tapi gak begini Pah, mau di taruh ke mana muka kita sama orang-orang di luar sana, rekan bisnis dan karyawan kita,” sahut Susi.


Susi yang gila akan dihormati oleh orang lain, Herman yang sedang membutuhkan dana besar untuk perusahaan, dan berharap besar kepada menantu nya akhirnya sekejap hilang begitu saja. Setiap hal yang busuk pasti suatu hari akan tercium juga kebusukannya. Ini lah hasil dari perbuatan Yasmin, berani berbuat harus siap bertanggung jawab. Ternyata Allah masih menyayangi Kavin, dengan hadirnya Salma...pria itu akhirnya tahu tentang Yasmin yang sesungguhnya.


🌻🌻


Waktu dari waktu terus berjalan, tak bisa berhenti pada jam tertentu. Kavin masih tenggelam dalam kesedihannya, namun berusaha menyelesaikan masalahnya satu persatu. Setelah urusan di Bali sudah selesai. Sekarang pria itu dengan Mama Rossa menuju desa yang ada di Surabaya, mengunjungi tempat tinggal Salma beserta pamannya.


Kavin, Ari dan Mama Rossa sekarang sudah berdiri di depan rumah kecil, rumah yang di tempati Salma.

__ADS_1


Rumah itu terlihat sepi, begitu juga dengan rumah yang ada di setelahnya terlihat sepi, seperti tidak ada orang.


“Permisi Bapak, Ibu....mau cari siapa ya?” tanya Pak RT yang kebetulan lewat, dan memperhatikan orang yang keluar dari mobil mewah.


Ari maju selangkah. “Begini Pak, kami datang mau menemui Pak Didit, kira-kira ada di rumah tidak ya?” tanya Ari dengan sopannya.


“Oh Pak Didit, sudah beberapa hari memang tidak ada di rumah. Sekeluarga pergi, katanya ada urusan penting,” jawab Pak RT.


“Kira-kira Pak Didit kapan kembali nya ya?” tanya Ari.


“Kurang tahu Pak, katanya sih lama balik nya....perginya saja terburu-buru, kayaknya memang kelihatan penting,” balas Pak RT.


“Kalau begitu makasih banyak, Pak,” ujar Ari.


“Sama-sama,” jawab Pak RT.


Kavin hanya bisa menatap rumah kecil itu, rumah yang pernah di datanginya satu kali, hanya untuk menikahi Salma. Pilu rasanya mengingat pernikahannya yang terpaksa dilakukannya saat itu, setelah akad, dia langsung meninggalkan rumah ini tanpa melihat wajah istrinya.


Mama Rossa hanya bisa menyeka matanya yang sudah berkaca-kaca melihat tempat tinggal Chintya, jauh dari kata mewah.


Maafkan aku Chintya, andaikan aku tahu Salma anakmu.....aku pasti lebih menjaga lagi. Dan kamu tahu Chintya ternyata candaan kita waktu masih muda terkabulkan juga, anak kita berdua sudah menikah walau berawal dan berakhir tidak indah.


Mama Rossa berusaha menahan tangisannya agak tidak pecah, Kavin yang melihat kesedihan Mama Rossa langsung merangkul bahunya, dan mencoba saling menguatkan.


Salma andaikan waktu bisa berjalan mundur, aku ingin kembali ke waktu pernikahan kita, aku akan melihat wajahmu walau kita berdua saling membenci.


Salma sampai kapan pun hanya kamu wanita yang ada di hati ku, wanita yang kucintai sampai akhir hayatku. Tunggu lah aku di alam keabadian. Kita akan bersama kembali.


bersambung....


"Salma, ada yang cariin tuh..!" 



 

__ADS_1


 


__ADS_2