
Masih di ruang makan, Mama Rossa dan Kavin mulai menyantap makan malam yang telah di siapkan, akan tetapi kedua netra pria itu seperti sedang menelisik ke setiap sudut. Suara dentingan sendok dan garpu mulai terdengar.
“Asisten mama tidak ikut makan bersama?” akhirnya terlontar juga pertanyaan itu, dari pada ngebatin penasaran.
“Katanya agak capek badannya, lagi pula jika dia ikut makan di sini, kamu selalu berkata kasar dengannya, seperti tadi pagi dan siang!” jawab ketus Mama Rossa.
“Ada apa sebenarnya dengan kamu tadi siang. Mama baru kali ini melihat kamu bertengkar dengan seorang wanita, selama ini kamu sama Yasmin tidak pernah bertengkar?”
“Ya bedalah mam, kalau Yasmin istriku yang aku cintai. Kalau Salma hanya seorang karyawan, jika dia berbuat salah, wajarlah aku tegur keras.”
“Menegurnya, lalu kamu di lempar dengan sepatunya begitu. Sampai kepala kamu bocor! Jangan-jangan kamu menegurnya dengan cara yang tak wajar. Pasti ada sesuatu sebenarnya!”
Kavin kembali menyuap makanannya sebelum melanjutkan pembicaraannya dengan Mama Rossa.
“Masih wajar kok, dia nya saja yang emosian,” jawab Kavin.
“Kamu kali yang emosian, memangnya tadi pagi kamu tidak emosian di ruang kerja, sampai banting vas. Untung mama minta Salma jadi asisten mama, jika masih jadi sekretaris kamu, kamu akan emosian terus,” imbuh Mama Rossa.
“Sepertinya kamu harus lanjut berobat ke Australia atau Singapura kembali, biar kamu otaknya normal kembali. Semenjak kamu impoten, bawaannya selalu marah-marah saja!!” celetuk Mama Rossa.
“Tolong jangan di ungkit lagi mam. Mama kan tahu jika aku tidak bi—,” putus asa rasanya ketika mau melanjutkan ucapannya
.
“Tapi dokter di sana sudah bilang kan kalau kemungkinan 10% ada harapan untuk kembali normal,” sela Mama Rossa.
“Iya Mam 10%...dan entah kapan 10% itu akan muncul. Ini sudah mau empat tahun...tapi tetap tidak ada hasilnya,” di letaknya alat makan yang di pegangnya ke atas piring.
Kalau sudah membicarakan hal yang pribadi begini, pria itu mulai pusing. Di usia mau menjelang 39 tahun, keperkasaannya impoten dan belum memiliki keturunan dari istrinya, lengkap sudah kehidupan pria itu. Kavin menghembuskan napas penuh dengan kekecewaan.
Sementara itu di kamar Salma.
Salah satu tangan gadis itu menyelusuri sisi ranjang yang terlihat empuk dan nyaman, kemudian berlanjut ke sofa yang ada di dalam kamar yang di tempati.
Mengagumi hal yang indah dan mewah dalam kamar tersebut, tidak bisa di pungkiri ini untuk pertama kalinya gadis itu berada di kamar yang sangat berbeda dengan kamarnya yang ada di rumahnya di desa serta di rumah kontrakannya, kamar yang begitu istimewa.
“Nikmati dengan baik walau hanya untuk sementara, anggap saja kamar ini rezeki buat anak yatim piatu seperti diriku,” gumam Salma sendiri.
Setelah puas berkeliling dari sudut ke sudut kamarnya, gadis itu memutuskan untuk membersihkan badannya agar lebih segar.
__ADS_1
Kurang lebih dalam lima belas menit, gadis itu mandi dan mengganti bajunya dengan daster lusuh miliknya, walau sudah lusuh tapi daster itu sangat nyaman jika di pakai saat tidur.
TOK...TOK...TOK
Pintu kamarnya terketuk.
“Mungkin pelayan yang mengantar makan malam,” gumam Salma, buru-buru membuka pintu kamarnya.
Ceklek!
“Permisi Non, saya mau mengantarkan makan malam,” ujar pelayan yang membawa nampan di tangannya.
“Terima kasih mbak, sini biar saya yang bawa,” pinta Salma, gadis itu mengambil alih nampan yang berisi makanan dari tangan pelayan.
Baru saja mengambil alih nampan tiba-tiba ada pria yang menyelonong masuk ke dalam kamarnya.
“Loh....loh....loh...,” Salma terkesiap melihat pria itu, lantas gadis itu dengan memegang nampan turut masuk ke dalam kamarnya, lalu meletakkan nampan tersebut ke atas meja.
“Ada keperluan apa Tuan Kavin masuk ke dalam kamar saya?” tanya Salma kepada pria sudah duduk di sofa dengan kedua lengannya terlipat di dada.
“Ck.....kamar kamu. Memangnya kamu gak ingat kalau ini mansion saya. Dan saya berhak masuk ke ruangan mana saja, termasuk kamar ini!” berdecak kesal Kavin.
“Ooh...iya saya lupa jika ini mansion Tuan Kavin,” gadis itu memutar bola mata malasnya, enek melihat pria itu.
Gadis itu mendesah sebal, lalu duduk tak jauh dari tempat Kavin duduk.
“Makan makanannya keburu dingin,” kata Kavin kembali.
“Udah tahu makanan memang harus di makan, bukannya di lihatin...kayak pajangan,” celetuk Salma kesal, gadis itu menggeser nampan makanan agar lebih dekat dengan dirinya, lalu langsung menyantap tanpa menawarkan kepada pria yang masih menatapnya.
Kedua netra pria itu menatap lekat-lekat gadis cantik yang mulai menyantap makan malamnya.
“Kamu berasal dari desa x?” Kavin mulai menyelidik.
“Iya...,”
“Kapan kamu datang ke Jakarta?”
“Empat tahun yang lalu,”
__ADS_1
“Ooo....."
“Apakah Tuan sedang menyelidiki saya?”
“Wajar kalau saya menyelidiki kamu, siapa tahu kamu salah satu penjahat atau mungkin saja kamu seorang maling!!”
TING
Gadis itu sengaja membanting sendok garpunya di atas meja. Gadis itu menyudahi makan malamnya yang baru beberapa suap, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
“Apa yang ingin Tuan Kavin tahu tentang saya? Bukannya Tuan sudah tahu tentang saya. Saya seorang penggoda, yang sedang mengincar pria kaya. Bukankah itu sudah cukup jelas. Oh ya satu lagi yang perlu Tuan Kavin ketahui saya gadis dari desa, dari keluarga yang miskin, yang tidak punya apa-apa, jadi sekarang sedang mencari pria yang sangat kaya, yang bisa memberikan saya kemewahan,” sarkas Salma, tak gentar berucap.
“Nah itu yang sudah saya duga, ternyata akhirnya kamu mengakuinya.”
“Jika Tuan sudah tahu, sebaiknya keluar dari kamar ini sekarang dengan segala hormat. Tidak pantas seorang pria beristri berada di kamar wanita lain!” seru Salma.
“Bukannya kamu seorang penggoda, kenapa tidak menggoda saya. Mumpung saya ada di kamar ini!!” balas Kavin dengan sorot mata tajamnya.
“Cih...bukannya Tuan tidak akan tertarik dengan saya!! Dan buat apa saya menggoda Tuan. Tuan sudah terlalu tua buat saya. Yang saya cari bukan tipe seperti Tuan, saya pilih yang masih muda dan tentu saja masih lajang,” cemooh Salma.
Hati Kavin mulai mengeram, tidak terima dengan ucapan Salma, pria itu langsung beranjak dari duduknya, kemudian....
BRAK !!
Di bantingnya pintu kamar Salma yang masih terbuka lebar yang lalu di kunci oleh Kavin dari dalam, dan di lemparnya kunci kamar tersebut dengan asalnya.
Kedua netra Salma terbelalak melihatnya, hingga dia berdiri terpaku.
“Kenapa kamu heran, saya kunci pintu kamar dan membuang kuncinya....huh!!” geram Kavin.
“Apa maksudnya ini Tuan Kavin!!” kondisi kedua netra Salma masih melotot.
“Cih...pura-pura polos kamu, bukannya kamu wanita murahan, yang biasa melayani para pria. Kamu sendiri sudah mengakuinya tadi!”
GLEK
Tenggorokan Salma tercekat, susah menelan salivanya sendiri, dan dirinya pula terjebak dengan omongannya sendiri.
bersambung.......apa yang terjadi di kamar ya 🤔
__ADS_1
Padahal Salma tidak pakai baju tidur seperti ini loh, hanya pakai daster lusuh....kenapa ya si Kavin kok pakai di kunci kamarnya 🤔