
Esok hari...
Merry sepertinya tebal muka dan tak tahu malu, setelah di usir dari kamar Bosnya tanpa memakai busana. Dengan tatapan santainya wanita itu memakai bajunya di hadapan Ari dan Tomi, namun buat kedua pria itu menganggap tontonan gratis aja, tanpa harus memalingkan wajah mereka.
Pagi ini, sekretaris yang sudah di pecat oleh Kavin masih berada di resort. Dengan santainya tanpa merasa bersalah masih menikmati segala fasilitas resort yang ada, namun pagi ini dia tidak sendiri tapi sedang dengan Yasmin, temannya. Mereka berdua sedang menikmati sarapan pagi di pinggir kolam senang.
“Nyonya Yasmin, please tolong aku agar bisa kembali bekerja. Semalam tidak ada apa-apa tahu-tahunya aku di pecat begitu aja. Nyonya kan tahu kalau keberadaan aku di kantor, untuk memantu Tuan Kavin dari para wanita nakal di kantor,” ujar Merry dengan nada memelasnya.
Merry lanjut mengarang ceritanya, jika dirinya tidak punya kesalahan apapun dan tidak terjadi sesuatu hal yang besar dengan rasa penuh percaya dirinya kepada Yasmin.
“Aneh kok Kak Kavin tiba-tiba pecat kamu, padahal kamu sudah lama bekerja sebagai sekretarisnya. Ya sudah nanti aku bujuk Kak Kavin untuk tidak jadi memecatmu,” jawab Yasmin tanpa ada rasa curiga, sambil menyesap orange juice nya.
Bagus, Yasmin tidak curiga kenapa gue sampai di pecat. Yang jelas gue harus bisa balik kerja jadi sekretaris Kavin.
“Merry, kamu jangan pikirkan masalah pemecatannya. Anggap saja sekarang kamu lagi liburan,” lanjut Yasmin.
Aku sedang membutuhkanmu Merry, jadi terpaksa aku harus menahan mu dulu di sini, sampai rencana ku berhasil.
“Thanks ya Nyonya. Nyonya Yasmin memang bisa di handalkan dan yang terbaik,” balas Merry, dengan mengulas senyum tipisnya.
Mantan sekretaris itu merasa yakin jika Yasmin bisa membujuk suaminya untuk menerimanya kembali, padahal praduga itu sangatlah salah besar. Secara prosedur kepegawaian, Ari sudah memberitahukan divisi HRD untuk membuat surat pemecatan untuk Merry, dan sudah di tanda tangani secara elektronik oleh Kavin. Dan surat tersebut siap di kirim by email ke Merry.
Selamat menikmati khayalan mu Merry!
🌻🌻
Sementara itu di kamar Kavin...
Suami Yasmin masih menutup matanya dan tampak pulas dalam tidurnya di jam 8 pagi ini, rupanya pria itu baru saja bisa memejamkan matanya setelah menunaikan sholat shubuhnya, setelah sepanjang malam pria itu tidak bisa menutup matanya sedikit pun. Matanya selalu saja menatap layar handphone, memandang wajah sendu Salma yang terpotret oleh Tomi.
__ADS_1
“Salma.....,” racau Kavin dalam tidurnya.
“Ja-jangan.....Salma....please...Salma,” racau Kavin kembali, kening pria itu sudah penuh dengan keringat, dada bidangnya tampak seperti orang habis berlarian, iramanya naik turun.
“TIDAK.....SALMA..,” teriak Kavin, kedua netranya langsung terbuka seketika itu juga.
Pria itu mengatur napasnya yang sudah kembang kempis tak beraturan. “Ya Allah...semoga itu hanya mimpi,” gumam pria itu sendiri, salah satu lengannya di angkatnya dan bertumpu menutupi kedua netranya, karena bayang mimpinya masih terlihat jelas.
Sesaat kemudian terdengar isak tangis yang tertahan di bibir pria itu, entah mimpi apa yang hadir dalam tidurnya. Sepertinya sangat menyesakkan jiwa pria arogan itu, namun yang jelas sudah merobohkan pertahanan dirinya sendiri.
🌻🌻
Rumah Sakit..
Jadwal pagi kunjungan Dokter Usman untuk mengecek keadaan pasien cantiknya, Salma. Mulai dari tensi, suhu tubuh, ganti perban semuanya di lakukan oleh Dokter Usman bersama perawat.
Di antara Mama Rossa dan Salma tidak ada pembicaraan yang begitu dalam, Mama Rossa tidak berani ternyata, ada apa? Tapi cukup memberikan semangat. Walau sedikit waktu Mama Rossa meyakini jika Salma sudah tahu jika dia adalah mama mertuanya.
Begitu pula dengan Salma, walau sebenarnya gadis itu agak kikuk jika kenyataannya Mama Rossa adalah mama mertuanya. Tapi gadis itu mencoba untuk bersikap seperti biasanya, dan seolah-olah tidak tahu.
“Jahitannya masih bagus ya, jangan sampai kena air dulu lukanya, biar cepat sembuh. Suhu badan dan tensi normal, sekarang bagaimana suasana hatinya sudah agak membaikkah?” tanya Dokter Usman dengan lembutnya.
Setelah semalam Dokter Usman kembali datang berkunjung dengan teman psikologinya, pikiran Salma mulai cukup terbuka tentang menata hati, bagaimana menghadapi kenyataan yang pahit serta mengolah emosi sendiri. Walau tidak secepat itu berubah, semua butuh proses.
Gadis itu memperlihat kan senyum terindahnya di wajah cantiknya. “Sudah lebih baikkan daripada kemarin, Dokter,” balas Salma.
“Alhamdulillah kalau sudah ada kemajuan.”
“Dokter, kira-kira kapan saya bisa keluar dari rumah sakit. Jujur saya gak betah berlama-lama di rumah sakit?” tanya Salma dengan suara lembutnya.
__ADS_1
“Kalau secara fisik keadaan kamu sudah membaik, nanti siang bisa keluar dari rumah sakit. Tapi perlu di ingat, kesehatan mental kamu haruslah di jaga dengan baik-baik. Jika ada sesuatu yang ingin kamu curahkan atau di tanyakan seputar mental, kamu bisa telepon saya,” pinta Dokter Usman, sembari memberikan kartu namanya.
Gadis itu mengulurkan salah satu tangannya lalu menerima kartu nama tersebut. “Maaf Dokter, kalau konsultasi via phone kena biayaa kah. Lalu biasanya berapa?” pertanyaan yang sangat lugu dari Salma.
Dokter yang berparas rupawan itu terkekeh kecil, melihat wajah cantik Salma yang berubah bak gadis lugu. “Khusus buat kamu, tidak di kenakan biaya. Saya hanya ingin membantu kamu saja,” jawab tulus Dokter Usman.
“Masya Allah, terima kasih Dokter Usman. Semoga Dokter rezekinya semakin berlimpah dan penuh keberkahan,” tutur Salma dari hati yang paling dalam.
Mama Rossa yang berada di antara mereka berdua, hanya bisa tersenyum tipis melihat interaksi mereka berdua.
“Terima kasih Dokter Usman, atas bantu nya selama anak saya di rumah sakit,” sambung Mama Rossa.
“Sama-sama Bu, sudah tugas nya seorang Dokter membantu proses penyembuhan pasiennya,” balas Dokter Usman, sembari mengulas senyum hangatnya.
Setiap masalah yang terjadi harus di hadapi bukan untuk di hindari, jika belum siap menghadapinya maka kamu bisa menundanya sesaat, bukan berarti lari dari masalah. Karena masalah itu akan selalu menghampirimu karena belum terselesaikan.
Untuk saat ini Salma memilih menunda untuk menghadapinya. Setelah sudah siap mentalnya, dia akan menghadapinya. Namun yang jelas gadis itu ingin bertemu dengan Paman Didit dan Bibi Tia terlebih dahulu, kemudian melanjutkan pengajuan surat perceraian nya dengan Kavin secara resmi, tanpa Kavin perlu mengetahui jika dia adalah gadis kampung yang di nikahi nya. Lagi pula sepulangnya dia dari Bali, gadis itu sudah berhenti bekerja di perusahaan Indo Prakarsa, dan tentu saja tidak tinggal di Mansion Adiputra.
*bersambung........terwujudkah keinginan Salma untuk bercerai dengan Kavin.
Kakak Readers yang cantik dan ganteng jangan lupa tinggal kan jejaknya.....like, komen nya ya. Makasih sebelumnya.
Love you sekebon 🌻🌻🌻🌻
__ADS_1